Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
16.50.
Aku menghela napas panjang. Kenapa waktu seakan berhenti jika kita sedang menunggu sesuatu. Kenapa jarum jam seakan malas untuk beranjak dari tempatnya sehingga membuat detik demi detik berlalu dengan enggannya. Masih 10 menit lagi menjelang jam 5 sore.
Selama kita hidup di dunia ini,
masalah demi masalah datang menghampiri.
Tiap-tiap hari datang silih berganti,
hati sedih, menangis itu mungkin terjadi.
Telah kita sadari,
hidup tak semanis gulali,
namun tetaplah percaya
akan bahagia.
Ingatlah akan ini,
Hidup kita sangat berarti,
maka, jangan pernah katakan
bahwa kita akan berhenti.
Posted in Puisi, Sunyi dan Sepi on Juli 30th, 2008 1 Comment »
kedipan bintang nan jauh
sapaan hewan yang aneh
kegelapan yang menjadi
tanpa ada petunjuk untuk melangkah
hanya secercah cahaya yang indah
yang akan hilang ketika hari terang
tanpa tanda
tanpa bertanya
lalu hilang seketika tanpa bekas noda
dan lenyap.
Permanent link to this post (40 words, estimated 10 secs reading time)
Hilang di kegelapan dunia
dengan rasa yang amat sangat tidak mengenakkan
rasa enggan ,
rasa tidak mau ,
dan bosan dengan semuanya
dengan hidupnya
jenuh
apakah itu ?
aku tak mengerti
tiba tiba saja
aku enggan untuk itu
tanpa sadar
tanpa fikiran
jenuh
dan hilang
Permanent link to this post (46 words, estimated 11 secs reading time)
Kehangatan hati meninggi
Darah mendidih deras berlari
Panas, melumat nadi-nadi
Kau,
yang tersemai di ladang hati
Kau,
bersemi di hati tak mau lagi
Jauh engkau pergi
sejuk hati sulit kembali
Malah, panas bertambah
semua gerah
Lama engkau pergi
Darah mengalir tak terkendali
Kau,
bersemayam di mana kini!?
Semula
dianggap biasa
Bila tak terlepas
merasa lebih bebas
Bila pergi
selalu diratapi
Bila kembali
semakin lupa diri
Bila ada
membuat lupa
Bila hilang
sibuk mencari, nangis meradang
Bila didapat
bersuka ria hingga tak ingat
Sleman, 2007
Permanent link to this post (38 words, estimated 9 secs reading time)
Assalamu’alaikum Sahabat,
aku ingin menyampaikan sebuah kisah tentang malam yang terasa sangat menakutkan, hingga aku tak bisa berbicara karena ketakutan.
Biasanya, di tempat pembuangan sampah seperti ini, dimana bungkus kemasan dan sisa makanan menggunung disertai bau yang menyengat, suara-suara yang terdengar hanyalah suara hewan liar seperti anjing yang sedang mengeruk makananannya yang terkubur. Ada pula suara kaleng-kaleng yang bergemerincing dan bergelindingan karena tertiup angin malam. Dan tak jarang pula kepakan sayap kelelawar yang melintas dengan gesitnya memecah kesunyian yang kental. Tapi malam ini lain, karena di antara lautan sampah ini sayup-sayup terdengar suara tangis seseorang. Bukan seperti suara manusia yang telah akrab di telinga para hewan liar itu, tapi ini adalah suara tangisan yang nyaring, tanpa daya, dan tersendat-sendat, persis seperti bayi yang sedang menangis. Karena memang malam ini, di tempat pembuangan sampah ada seorang bayi yang merengek kehausan.
Posted in Puisi, Asa, Motivasi Diri on Juli 23rd, 2008 No Comments »
Kulihat hari sangat kelam
Kunyalakan lampu biar terang
Kurasa dunia ini kejam sekali
Kucoba hancurkan dengan percaya diri
Kurangkai kata dalam sebuah cita
Sehingga kurasa hidup menjadi nyata
Dan kurangkai satu per satu
Agar dia bisa saling bersatu
Begitu melihat koran yang Ayah beli hari ini tergeletak atas meja, aku tertarik untuk membacanya. Itu karena tulisan itu begitu besar tercetak. Tulisan yang menggugahku untuk membacanya.
Kuambil koran itu lalu dengan seksama kubaca perlahan. Ehm, aku mengguman dengan sebelah alis terangkat. Makin edan saja dunia. Begitu pikir singkatku tanpa memandangnya dengan pikiran positif. Kuseruput teh buatan Bunda. Kemudian kulanjutkan membaca koran.