KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Juli 2008

16.50.
Aku menghela napas panjang. Kenapa waktu seakan berhenti jika kita sedang menunggu sesuatu. Kenapa jarum jam seakan malas untuk beranjak dari tempatnya sehingga membuat detik demi detik berlalu dengan enggannya. Masih 10 menit lagi menjelang jam 5 sore.

Selama kita hidup di dunia ini,
masalah demi masalah datang menghampiri.
Tiap-tiap hari datang silih berganti,
hati sedih, menangis itu mungkin terjadi.

Telah kita sadari,
hidup tak semanis gulali,
namun tetaplah percaya
akan bahagia.

Ingatlah akan ini,
Hidup kita sangat berarti,
maka, jangan pernah katakan
bahwa kita akan berhenti.

Malam

kedipan bintang nan jauh

sapaan hewan yang aneh

kegelapan yang menjadi

tanpa ada petunjuk untuk melangkah

hanya secercah cahaya yang indah

yang akan hilang ketika hari terang

tanpa tanda

tanpa bertanya

lalu hilang seketika tanpa bekas noda

dan lenyap.

Jenuh

Hilang di kegelapan dunia
dengan rasa yang amat sangat tidak mengenakkan
rasa enggan ,
rasa tidak mau ,
dan bosan dengan semuanya
dengan hidupnya

jenuh
apakah itu ?
aku tak mengerti
tiba tiba saja
aku enggan untuk itu
tanpa sadar
tanpa fikiran

jenuh
dan hilang

Kehangatan hati meninggi
Darah mendidih deras berlari
Panas, melumat nadi-nadi

Kau,
yang tersemai di ladang hati

Kau,
bersemi di hati tak mau lagi

Jauh engkau pergi
sejuk hati sulit kembali
Malah, panas bertambah
semua gerah

Lama engkau pergi
Darah mengalir tak terkendali

Kau,
bersemayam di mana kini!?

Semula
dianggap biasa

Bila tak terlepas
merasa lebih bebas

Bila pergi
selalu diratapi

Bila kembali
semakin lupa diri

Bila ada
membuat lupa

Bila hilang
sibuk mencari, nangis meradang

Bila didapat
bersuka ria hingga tak ingat

Sleman, 2007

Assalamu’alaikum Sahabat,

aku ingin menyampaikan sebuah kisah tentang malam yang terasa sangat menakutkan, hingga aku tak bisa berbicara karena ketakutan.

Biasanya, di tempat pembuangan sampah seperti ini, dimana bungkus kemasan dan sisa makanan menggunung disertai bau yang menyengat, suara-suara yang terdengar hanyalah suara hewan liar seperti anjing yang sedang mengeruk makananannya yang terkubur. Ada pula suara kaleng-kaleng yang bergemerincing dan bergelindingan karena tertiup angin malam. Dan tak jarang pula kepakan sayap kelelawar yang melintas dengan gesitnya memecah kesunyian yang kental. Tapi malam ini lain, karena di antara lautan sampah ini sayup-sayup terdengar suara tangis seseorang. Bukan seperti suara manusia yang telah akrab di telinga para hewan liar itu, tapi ini adalah suara tangisan yang nyaring, tanpa daya, dan tersendat-sendat, persis seperti bayi yang sedang menangis. Karena memang malam ini, di tempat pembuangan sampah ada seorang bayi yang merengek kehausan.

Aku Bisa

Kulihat hari sangat kelam
Kunyalakan lampu biar terang
Kurasa dunia ini kejam sekali
Kucoba hancurkan dengan percaya diri

Kurangkai kata dalam sebuah cita
Sehingga kurasa hidup menjadi nyata
Dan kurangkai satu per satu
Agar dia bisa saling bersatu

Begitu melihat koran yang Ayah beli hari ini tergeletak atas meja, aku tertarik untuk membacanya. Itu karena tulisan itu begitu besar tercetak. Tulisan yang menggugahku untuk membacanya.

Kuambil koran itu lalu dengan seksama kubaca perlahan. Ehm, aku mengguman dengan sebelah alis terangkat. Makin edan saja dunia. Begitu pikir singkatku tanpa memandangnya dengan pikiran positif. Kuseruput teh buatan Bunda. Kemudian kulanjutkan membaca koran.

Next »