KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Juni 2008

Perkataan seorang insan
bagai petir yang bergetar
setiap kata yang keluar
adalah ungkapan isi jiwa
menerawang ke sudut awan
walau tak ada tapi terucap

mungkin ada satu kelana
dimana jiwa meronta
tak ingin acuhkan cinta
karena dirundu nestapa
kesunyian menyelimuti nadi
kegelapan merangkap sepi
tak berawal dari hati
tapi hati yang tersakiti
kejadian ironi bagai suratan yang berkelut tak jauh dari hati

Aku memang kalah dari siapapun, apalagi dari Kang Mastur. Dia santri tulen, mengenyam pondok pesantren sejak dari kecil. Pembawaannya yang tenang dan tidak pernah mengekspos diri sendiri membuat kagum banyak teman. Tiga tahun di pesantren tak pernah naik kelas itulah aku. Anak-anak kecil yang dulunya yunior kemudian di tahun kemarin ada satu kelas bersamaku dan tahun ini harus aku relakan menjadi seniorku. Mereka kini menjadi kakak kelasku di Madrasah Diniyah Al Anwar Semarang.

Satu,
awalnya aku jatuh hati padanya
Kemudian aku mulai ada rasa
Aku tidak tahu itu apa namanya
Apakah itu CINTA?
Ataukah sakadar rasa suka?
Ah…
Yang jelas aku bingung mengatakannya..

Apapun yang terjadi di dunia ini adalah tidak lepas dari pengawasan Allah, Sang Khalik yang tidak pernah tidur dan berat menjaga langit dan Bumi beserta segala isinya.

Catatan penuh coretan ini

Takut buat bersuara

Disambangi penjepit dan pulpen karatan

Hurufhuruf jatuh

Melesak, bareng keluhkesah yang mendengus pasi

Catatan penuh coretan ini

Enggan menafikan ramai yang melengang

Mewakilkan anganku pada secoret lalang

Dan serapah bukan pada keacuhan

Sudah lama aku hidup dengan Logika. Bagiku ia sahabat terbaik sepanjang masa. Bahkan saat aku masih di kandungan ibuku pun barangkali ia sudah berbaring turut melengkung di sebelahku. Ikut menendang-nendang perut ibuku, kadang malah iseng menyenggol-nyenggol bahuku.

“Eh, coba lihat,” katanya kepadaku.Aku membuka mataku pelan. Sinar matahari seketika menusuk korneaku. Kukerjap-kerjap mata mengumpulkan sedikit cairan untuk membasahi kedua bola mataku yang pedih. Aku memejam sebentar, lalu kubuka lagi mataku. Sambil memicingkan mata, aku berusaha untuk menangkap citraan yang terpampang di depanku.

“Indah, kan?” tanyanya, tanpa menoleh ke arahku.

Menghirup angka dalam-dalam
Layaknya pecandu ganja di bilik suram
Sendiri, khusuk menekuni seribu rumus
Mencoba variasikan soal
Tak kenal makan, diminum nyamuk
Diserang kantuk! Menusuk bungkuk rusuk

Ibu, do’akanlah Ananda
Untuk olimpiade esok
Yang mudah dan lancar menapaki
Setiap diagram sampai di podium tunggal

Wajah gadis manis selalu terbayang
Kemanapun mata memandang
Suara gadis manis selalu terngiang
Kemanapun jiwa merasa keheningan
Sentuhan gadis manis selalu terasa
Disetiap tangan ini terbentang

Namun kini….
Aku melangkah sendirian
Bingung, linglung, tanpa tawa, tanpa belaian
Hanya ada awan hitam di angkasa
Hanya embun yang menetes di hening malam
Dan hanya bayu yang membelai tubuhku

cinta…
ku ikuti jalanmu
ku ikuti bimbinganmu
menuju kebahagiaan yang sempurna

cinta…
ku hilang tanpamu
ku hancur ditinggal olehmu

cinta…
karenamu aku bisa bersanding dengannya
karenamu aku di beri cinta olehnya

cinta…
kenapa kau hanya memberi dua jalan
pada para insan yang bercinta
yang mana salah satu dari dua jalan itu
lulus menuju kebahagiaan yang sempurna
dan mendapat medali cinta tulus ikhlas

« Prev - Next »