KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Lelaki itu berdiri di altar menatapku. Tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat. Matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Dan aku disini, berjalan dengan lambat, mencoba menenangkan degup jantungku. Keraguan itu kembali datang, haruskah aku terus berjalan, ataukah aku berhenti dan lari meninggalkan tempat ini. Bepergian kemana angin membawaku. Semua terlintas kembali di hadapanku.

* * *

Sudah hari yang ketujuh semenjak aku duduk di sudut toko buku ini. Tiap kali memandang sudut yang sama, dimana dia duduk bersama sekelompok orang yang terpesona mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya. Aku pun berpikir dia pasti adalah pembohong terbesar yang pernah kukenal. Lelaki yang hidup di dunia khayalan, yang tak sanggup menahan beban itu sendiri, sehingga dengan rela membaginya kepada orang lain. Matanya berbinar tiap kali dia menceritakan kisah-kisahnya, perjalanannya mengelilingi dunia, bertemu orang-orang yang hanya bisa ditemui di buku-buku fiksi, dibumbui dengan humor-humor nakal dan kisah sedih, serta sedikit pengalaman moral. Para pendengarnya seperti tersihir tiap kali dia bercerita. Mata mereka memancarkan sinar harapan saat dia bercerita tentang cinta, atau luapan kegembiraan yang terdengar dari tawa mereka saat dia menceritakan kisah lucu.

Aku, entah kenapa sepertinya juga tersihir untuk terus mencuri dengar kisah-kisahnya, walaupun aku menyadari, dia tidak lebih dari lelaki yang mencoba untuk keluar dari dunia nyata yang menjemukan di dalam hidupnya sebagai seorang penjual buku. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, saat kurasakan kehadiran seseorang di sampingku. Aku menoleh, dan dia berdiri disana, tersenyum menatapku.

“Aku perhatikan kau terus memandangku dari sudut ini,” ujarnya membuka percakapan.

“Lalu..?” jawabku tak acuh.

“Ini sudah hari yang ketujuh.”

“Lalu..?”

“Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan ?”

“Benarkah aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan?”

Dan kami berdua pun tertawa.

“Kenapa kau hanya melihat dan mendengar dari jauh dan tidak duduk bersama kami?” lanjutnya.

“Karena aku tidak ingin menjadi seperti mereka.”

“Maksudmu?”

“Iya, mereka. Para pendengar setiamu. Yang terpesona tiap kali mendengar kebohongan dari mulutmu. Dan menjadikanmu candu untuk telinga mereka.”

“Kenapa kau berpikir apa yang kuceritakan adalah kebohongan?”

“Karena lelaki penjual buku di kota kecil berusia tidak lebih dari dua puluh lima tahun tidak mungkin mengelilingi dunia dan mengumpulkan cerita-cerita yang hanya bisa kaubaca di buku-buku khayalan.”

“Pemikiranmu terdengar sinis. Aku bertaruh kau banyak mengalami kepahitan hidup, yang membuatmu berpikir terlalu serius akan dunia ini. Terkadang kita harus lari dari kenyataan, agar kita tetap berpijak pada kenyataan itu sendiri. Kita harus menciptakan dunia kecil yang kita kenal dengan baik sebagai oase kehidupan di tengah-tengah dunia yang tidak kita kenal ini. Karena dunia nyata terlalu rumit untuk dimengerti.”

“Aku setuju dengan pemikiranmu. Itu tepat seperti yang aku pikirkan. Tapi mungkin aku tidak terlalu mahir untuk melakukan apa yang kau lakukan.”

“Kalau begitu, aku memaksamu untuk menemaniku, dan aku akan menunjukkan padamu bagaimana caranya.”

* * *

Ini bukanlah cara berkenalan yang lazim, dan pertemuan-pertemuan kecil kami bukanlah yang kuharapkan. Entah kenapa ini seperti ketertarikan kosmik. Dimana ada dia disitu aku berada, dan sebaliknya.

Aku tetap pendengar setianya dari jauh di sudut toko, dan setelah itu biasanya kami memutuskan untuk berjalan-jalan dan mungkin menikmati secangkir kopi.
Dia selalu menceritakan hal-hal baru di tiap pertemuan kami, dan aku selalu mendengarkan dengan setia, walaupun jauh di pemikiranku yang super rasional ini, kisahnya adalah bualan belakan. Tapi seperti yang kubilang, ini seperti ketertarikan kosmik, suaranya adalah candu bagi telingaku, dan kata-katanya adalah pelipur laraku. Kisahnya adalah tempatku berlindung dari hidup yang sesungguhnya. Dia adalah obsesiku akan mimpi.

Mimpiku menjadi seorang penulis terkenal, mimpiku mengelilingi kota Paris, mimpiku mengelilingi dunia dan bertemu orang-orang dengan budaya yang berbeda, mimpiku akan cinta dan kehidupan. Dia memberiku harapan.

“Kita sudah berjalan sejauh ini,” ujarnya. Saat itu kami sedang menikmati secangkir cappuccino di kafe langganan kami.
“Apa maksudmu? Jarak dari toko ke sini hanya 300 meter.”

“Bukan itu yang kumaksud.” Raut mukanya berubah serius.
“Lalu apa yang kaumaksud dengan kita sudah berjalan sejauh ini?.”

“Kita sudah berjalan sejauh ini, dan aku mulai merasakan sesuatu tentangmu. Sesuatu yang indah.”

“Sesuatu yang indah? Aku tak mengerti maksud perkataanmu..”

“Kurasa aku mulai menyayangimu lebih dari sekedar teman berbagi cerita. Dan ku pikir kau juga merasakan hal yang sama.”

“Mengapa kau berpikir seperti itu?”

“Berpikir bahwa kau mempunyai perasaan yang sama denganku?”

“Bukan. Berpikir bahwa kau menyayangiku.”

“Aku tak tahu. Aku terbangun pagi ini, dan tiba-tiba yang kuingat hanya dirimu.”

“Dan kau mengartikan hal itu sebagai ‘kau mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar teman berbagi cerita kepadaku?’. ”
“Emm, bukan sesederhana itu kurasa. Ku pikir hal yang seperti itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.”

“Tapi kau begitu pandai bermain dengan kata-kata.”

“Hal ini berbeda. Seorang pembohong pun bisa kehilangan kata-kata jika berhubungan dengan hal yang satu ini.”

“Hal yang satu ini?” tanyaku heran, “maksudmu?”

“Cinta.”

Aku terhenyak, cinta bukanlah topik yang ingin kusentuh saat ini. Dan seandainya bisa, aku memilih untuk tidak membicarakannya.

“Kau sepertinya tidak suka aku membicarakan hal ini.”

“Ya, begitulah. Aku hanya berpikir pembicaraan kita hari ini bukanlah pembicaraan yang menarik.”

“Apa yang tidak menarik dari cinta?”

“Semuanya.”

“Semuanya katamu? Tapi cinta adalah sesuatu yang menakjubkan.”

“Bukan sesuatu yang indah bila kau memandang dari posisiku.”

“Bisakah kau, sekali saja, melihat segalanya dari sisi yang positif? Semua pemikiranmu kurasakan terlalu sarkastis untuk perempuan berusia dua puluh tahun. Seharusnya kau baru dan masih akan terus merasakan manisnya kehidupan. Kau harus meninggalkan masa lalumu di belakang, dan menatap masa depan yang cerah.”

“Kau bilang terlalu sarkastis?! Jika ayahmu meninggalkanmu saat usiamu belumlah 5 tahun, dan ibumu harus bekerja membanting tulang demi menghidupi keluargamu, kemudian seseorang yang berjanji akan selalu setia kepadamu mengkhianatimu demi seorang pelacur murahan, itu yang kau bilang terlalu sarkastis?!” ujarku agak emosi.
“Kurasa kau tidak perlu membuang energimu secara berlebihan seperti itu,” jawabnya tenang.

“Maaf, tapi perkataanmu menyinggungku. Dan jika kau mengatakan cinta adalah sesuatu yang menakjubkan, ini adalah pernyataanku tentang cinta. Ia tak lebih dari perasaan palsu, sebilah pisau yang siap menikammu saat kau lengah. Merenggut jantungmu disaat kau masih ingin bernapas. Neraka berbalutkan kenikmatan surga.”

“Itu konyol. Kau selalu memandang segala sesuatunya dari kacamatamu. Dan masa lalumu membutakanmu.”

“Aku hanya berpikir realistis.”

“Dan aku pernah berkata, terkadang kau harus menciptakan surgamu sendiri.”

“Dan kau terlalu naïf.”

“Kurasa pembicaraan ini takkan pernah berakhir dengan satu keputusan bulat.”

“Mungkin.”

“Lalu, bagaimana tanggapanmu dengan pernyataanku tadi?”

“Pernyataanmu yang mana?”

“Bahwa aku mencintaimu.”

“Aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa.”

“Aku juga tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, karena aku takut takkan bisa menepatinya. Kau hanya perlu melihat kesungguhanku, dan bukan dengan kata-kata yang tidak akan pernah kau percayai. Yang kau lakukan hanyalah memberi kesempatan kepadaku untuk mencintaimu, dan kesempatan pada dirimu untuk merasakan kehidupan. Bahkan kau tidak perlu mencintaiku, cukup aku saja, karena aku yakin suatu saat cinta itu akan datang padamu tanpa ku meminta.”

“Kata-katamu begitu manis terdengar. Rayuan yang setiap gadis inginkan.”

“Dan kata-katamu begitu sinis,” ujarnya sambil meringis.

“Hmm,” aku tersenyum, “apa benar hal itu yang kau inginkan?”

“Ya.”

“Kau takkan menyesal?.”

“Tidak.”

“Dan apa yang akan kau lakukan seandainya di kemudian hari kau tidak sanggup membuktikan semua hal-hal yang kau katakan tadi?.”

“Apa saja yang kau ingin aku lakukan, bahkan aku rela memberikan hidupku.”

“Dan meninggalkan semua tanggung jawab?”

“Baiklah, kalau begitu aku akan terus hidup dengan dihantui perasaan bersalah bahwa aku tidak bisa membuktikan perasaanku pada gadis yang kucintai.”

“Dan sekali lagi ku katakan, aku tidak bisa menjanjikan apapun. Baiklah, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada diri kita berdua.”

“Terima kasih.”

 * * *

Dan di sinilah aku. Berjalan menuju altar. Lelaki itu berdiri di sana menatapku. Tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat. Matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Dan aku disini, berjalan dengan lambat, mencoba menenangkan degup jantungku. Keraguan itu kembali datang, haruskah aku terus berjalan, ataukah aku berhenti dan lari meninggalkan tempat ini. Bepergian kemana angin membawaku. Lalu aku melihat cahaya putih, tubuhku serasa melayang, aku menatap kubah gereja. Aku mendengar teriakan-teriakan, suara siapa yang begitu bising? Aku hanya ingin beristirahat sebentar sebelum aku menuju altar. Dan semua mendadak gelap.

***

 “Kami turut berdukacita, Hans.”

“Terima kasih. Lidya pasti sangat senang melihat kalian semua disini, mencintai dia hingga akhir perjalanannya.”

“Dia sungguh wanita yang baik dan tegar.”

“Aku tahu. Dibalik kesinisannya dia begitu murni dan tulus. Yang dia inginkan hanyalah merasakan cinta.”

“Dan dia sudah merasakannya lewat ketulusanmu.”

***
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Cintamu adalah cintaku. Kesedihanmu adalah kesedihanku. Dengan penuh luka, kugoreskan ode terakhirku untukmu.

5 Responses to “Ode Untukmu, Lelaki..”

  1. on 10 Jul 2008 at 22:55Umi luthfi

    Bagus

  2. on 17 Jul 2008 at 04:04irfan

    cukup membuatku terharu…gimana pembaca yg lain?

  3. on 19 Jul 2008 at 10:23maylan st john

    Kisah cinta yang unik. Endingnya sangat mengejutkan, tapi tetap menarik. Saya suka dengan permainan kata-katanya.

  4. on 21 Jul 2008 at 14:41penuhtandatanya

    emang aga tragis y… T_T

  5. on 09 Aug 2008 at 00:00pangki

    keren!

Tinggalkan Komentar