KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kematian Hati

Hari ini Hati disemayamkan. Tak akan ada lagi gadis cantik berambut ikal yang menghabiskan sorenya dengan memandangi langit senja di bibir pantai. Sayap mungilnya tak lagi bisa menerbangkan sepuluh orang ke langit, hanya demi membuktikan bahwa awan lebih halus dan lembut ketimbang kapas dan gulali.

Mata indahnya yang selalu bersinar ceria kini telah terpejam selamanya. Bibir mungil yang biasanya mengeluarkan tawa merdu yang berderai-derai sudah membisu. Dan lengan mungil berkulit halus yang selalu bersemu kemerahan, lengan yang selalu siap memelukmu kapan saja, kini tinggallah sepasang lengan dingin yang kaku.

Semua orang di pemakaman meratapi kepergiannya. Terus-menerus mereka mengulang-ulang ucapan, “Hati sudah pergi, Hati sudah pergi, Hati sudah pergi.” Seolah-olah itu adalah mantra yang dirapal untuk menampar kepala mereka, bahwa sosok yang terbujur kaku di hadapan mereka adalah sungguhan Hati. Seberapapun pahitnya, kenyataan ini tetap harus ditelan.
Saya menatap Kepala. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya sejak kami tiba di rumah Hati. Sedari pagi, saya hanya mendengarnya berujar singkat di telpon. “Hati bunuh diri semalam. Pagi ini ia akan dimakamkan. Kalau mau kesana, saya akan jemput kamu dalam 10 menit.” Begitu saja.

Ia bahkan tidak bicara di sepanjang perjalanan tadi. Dengan tangan memainkan rokok di jemari dan bibir yang tanpa henti mengepulkan asap rokok, mata Kepala tak lepas menatap keluar jendela mobil. Beberapa kali saya coba mengajaknya bicara, tapi semua pertanyaan saya dijawabnya dengan pendek-pendek.

Aneh. Karena Kepala selalu suka bicara. Ia self centered, dan sangat yakin akan tingkat kecerdasannya. Begitu yakinnya, sampai-sampai salah satu kegiatan pengisi waktu luang favoritnya adalah menyusun banyak teori konspirasi, yang kemudian akan dibuktikannya—atau lebih tepatnya, dipamerkannya—pada setiap orang.
Tidak terkecuali Hati dan saya.

****

Sikap aneh Kepala ini masih tak terjawab saat kami tiba di pemakaman. Masih banyak saja orang yang bermata sebengkak katak betung dan menangis terisak-isak. Entah kenapa, beberapa di antara mereka menatap Kepala dengan penuh kebencian. Sebagian lagi malah tak sungkan menuding-nudingkan telunjuknya di depan wajah Kepala dengan tak sopan. Saat rombongan bubar, sejumlah orang menghampiri Kepala. Mereka memakinya bujang lapuk yang menyedihkan, lalu mulai meludahi wajahnya.

Anehnya, Kepala diam saja. Dengan wajah datar, ia mengusap wajahnya dengan sepotong sapu tangan. Lalu berujar tenang “Sudah puas? Kalau sudah, saya minta maaf untuk ketidaknyamanan ini.” Tentu saja, ucapan itu justru membuat sejumlah orang makin berang. Mereka mulai memukulinya, menendangi tulang keringnya, mematahkan hidung dan kakinya. Tapi Kepala tetap saja tidak melawan. Sedikitpun ia tak mengerang kesakitan. Ia hanya diam dan menggigit bibirnya, menerima semua pukulan, injakan, cakaran, sayatan, dan luapan kebencian orang-orang terhadapnya.

Setelah puas memukuli Kepala, sambil mengusap keringat dan napas terengah-engah, orang-orang ini kemudian pergi. Meninggalkan Kepala yang berlumuran darah dan kaki patah, sampai-sampai saya dan dua orang lain harus memapahnya kembali ke rumah Hati.

“Apa kamu gila??? Kenapa kamu tadi tidak melawan sedikit pun?,” teriak saya di kupingnya.

Kepala tak menjawab. Jemarinya yang gemetaran mencoba mengambil sebatang rokok dari saku jasnya, lalu menyulutnya. Setelah tiga hisapan, ia menghela napas. “Saya mau melihat kamar tidur Hati,” ujarnya pelan.

Sementara saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ada kalanya Kepala menjadi kelewat sulit untuk dipahami, memang.

Dan disinilah kami berdua, di kamar Hati. Luka-luka di tubuh Kepala sudah dibersihkan dan diberikan antiseptik. Kakinya juga sudah di gips. Jemari Kepala mulai meraih sebatang rokok lagi dari bungkus rokok. Bungkus rokok ke tiganya hari ini. Kepala baru saja akan menyalakan pemantik, saat ia teringat sesuatu, lalu mematikan pemantik dan kembali menyimpan bungkus rokoknya di saku jas.

“Hati pasti tak suka kalau saya merokok di kamarnya,” ujar Kepala lebih seperti kepada dirinya sendiri. Lalu ia pun mulai menuang segelas whisky.

Saya hanya tersenyum, dan mulai mengamati kamar Hati. Ini kali pertama saya masuk ke kamar Hati. Berbeda dengan kamar Kepala yang sangat simetris, rapih dan teratur, kamar Hati sangatlah hangat. Tampak jelas, betapa Hati sangat mencintai kamar dan kehidupannya. Saya pernah dengar, Hati paling hobi mendekorasi ulang interior kamarnya. Ia pernah memasang wall paper pantai, ladang bunga musim semi, hutan pinus, ataupun tumpukan salju.

Hanya saja, kali ini tak ada wall paper. Keempat dinding kamarnya penuh tertutup oleh foto seorang pria, dalam berbagai pose dan ukuran. Ada si pria sedang makan setangkup hamburger dengan mayonnaise mengotori bibirnya, si pria sedang terlelap di kursi, si pria sedang sikat gigi sementara busa menciprati wajahnya, si pria sedang menguap, si pria sedang tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata, si pria sedang jogging bersama seekor anjing, si pria sedang memasak di dapur mengenakan celemek, si pria sedang bercukur, si pria sedang bersepeda, si pria tengah termenung, si pria kehujanan dan rambutnya basah kuyup, si pria sedang bersiap-siap melompat ke kolam renang, si pria sedang membaca buku dengan kacamata bertengger di hidungnya, dan puluhan ribu foto si pria dalam pose berbeda lainnya.

Dulu saya juga pernah mendengar dari Kepala bahwa Hati memasang wall paper bercorak langit malam dengan sejuta bintang yang akan bersinar di kegelapan. “Ia paling suka langit-langit itu. Katanya seperti tidur sambil memeluk langit malam, tanpa perlu kuatir akan kehujanan,” begitu dulu cerita Kepala pada saya.

Tapi kini, sebagai gantinya, di langit-langit terpasang satu foto super besar wajah si pria yang sedang tersenyum dan menatap sayang. “Dia baru bisa tidur setelah menatap mata itu. Mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta,” ujar Kepala tiba-tiba, seolah-olah membaca pikiran saya.

Mengamati kamar ini, mendadak saya tersadar satu hal sederhana. Hati sedang jatuh cinta.

“Kamu tahu? Siapa? Kapan? Dimana? Kenapa? Bagaimana?” tanya saya terputus-putus pada Kepala.

Kepala terdiam. Lama. Seolah-olah tak mendengarkan satu pun juga pertanyaan saya. Sementara saya mulai mengamati foto-foto tadi dengan lebih teliti. Pria itu tidak tampan. Sama sekali tidak. Ia berambut lurus, mengenakan kacamata, dan berkulit agak gelap. Tapi pria ini punya lesung pipit yang manis, dan sepasang mata ramah yang punya efek meneduhkan.

Saya sedang mencoba mengingat-ingat apakah pria ini menjadi salah satu tamu yang datang di pemakaman pagi ini, ketika Kepala tiba-tiba menjawab, “Pria itu tidak datang tadi.”

Saya tersentak. “Apa? Kenapa?”

Kepala menghela napas panjang. Dan mulai menjelaskan.

Hati bertemu pria itu beberapa bulan yang lalu di sebuah toko buku. Kebetulan mereka mencari buku yang sama, yang saat itu stoknya habis. Lalu mereka berjanji untuk datang lagi saat buku itu sudah tersedia. Keluar dari toko, pria itu mengajak Hati untuk minum kopi, dan mereka mulai mengobrol berjam-jam. Obrolan yang kemudian akan berlanjut sampai 6 bulan berikutnya di berbagai tempat. Mulai dari bibir pantai, teras rumah Hati, perpustakaan, supermarket, trotoar yang sepi, sampai ranjang yang kusut usai mereka bercinta.

Kepala tidak menyukai pria itu. Menurutnya pria itu bodoh, egois, pengecut dan kekanakan. Ia juga merasa bahwa pria ini bisa berubah menjadi sangat kejam dan dingin saat bertengkar dengan Hati. Kepala selalu berpikir, bahwa pria itu tak cukup baik bagi Hati yang cantik.

Tapi Hati yang sedang mabuk kepayang tak peduli. Ia abaikan semua peringatan Kepala, dan terus saja bertemu dengan si pria. Meski saat bertengkar dengan kekasihnya, Hati akan selalu datang berurai air mata pada Kepala. Saat-saat seperti itu, Kepala akan mengelus rambut ikal Hati, dan membujuknya untuk putus. Tapi Hati selalu saja kembali pada si pria.

Pernah juga Kepala menemani Hati untuk bertemu dengan si pria. Menggantikan Hati yang hanya sanggup terduduk diam dengan mata sembab, Kepala pun bicara pada si pria untuk mengakhiri hubungan mereka. Tapi pria itu memang selalu punya kejutan. Si pria menangis, memeluk Hati, bersujud menciumi kaki Hati, minta maaf atas segalanya, dan berjanji untuk memperbaiki diri. Ia bahkan melamar Hati, meminta Hati menjadi ibu bagi anak-anaknya nanti. Hati pun luluh. Sementara Kepala hanya terdiam menatap mereka berdua, dan berpikir betapa licik dan bajingannya si pria.

Sampai pada suatu malam.

Malam itu, Hati lagi-lagi datang dengan mata sembab. Si pria mengkhianatinya. Hati menemukan pria itu bersama wanita lain di atas ranjangnya. Begitu kacaunya Hati sampai-sampai ia tak bisa bicara. Ia hanya terus-menerus berbisik “Tidak cukup baik, tidak cukup baik, tidak cukup baik untuk saya.” Lalu menangis sampai pelipisnya berdenyut-denyut. Sampai Kepala memberinya seperempat butir obat tidur dan segelas air minum. Setelah Hati tidur, Kepala menelpon si pria. Entah apa yang dikatakannya, yang jelas sejak saat itu si pria tak lagi berani menelpon atau bahkan meng-SMS Hati.
Keesokan paginya, Hati pulang. Setelah memeluk Kepala untuk mengucap terima kasih, Kepala memberikannya sebotol obat tidur yang diberikannya pada Hati semalam. “Kata dokter, obat ini sangat manjur kalau kamu sedang sulit tidur,” begitu pesan Kepala saat itu.

Seminggu berlalu.

Hati pun mulai keluar rumah. Setiap akhir minggu ia kembali pergi berbelanja dan menyapa setiap orang yang ditemuinya. Sesekali, ia masih suka menghabiskan senjanya di bibir pantai. Ia masih suka menerbangkan orang-orang ke langit, hanya sekedar bermain-main di awan. Ia bersenandung, mengobrol dan bercerita dengan teman-temannya, memeluk setiap orang yang sedang berduka, dan menertawakan setiap lelucon yang didengarnya.

Tapi matanya tidak tertawa. Sejak malam itu, Hati tak pernah benar-benar tertawa.

*******

Pernah Kepala mencoba mengajaknya bicara pada suatu pagi.
Tapi sambil tersenyum murung, Hati hanya menjawab, “Sudahlah Kepala, sudahlah. Saya lelah.”

Itulah percakapan terakhir mereka.

Malamnya, Hati bunuh diri. Ia menelan segenggam obat tidur dari Kepala.

******

Kepala menghela napas, lalu menyesap segelas whisky di tangannya. Sementara saya cuma tercenung mendengarkan ceritanya.

 

“Bagaimanapun ada satu hal yang belum saya ceritakan pada kamu,” ujar Kepala membuyarkan lamunan saya.

 

Sambil menatap lekat-lekat mata saya, Kepala berujar “Saya tahu ini akan terjadi. Saya tahu bahwa Hati akan bunuh diri.”

 

Saya menatapnya tak percaya. Kepala sudah mulai mabuk rupanya.

 

“Memang sulit dipercaya. Tapi kalau hubungan itu diteruskan, hanya akan membuat Hati menderita. Maka saya berikan satu botol obat tidur dosis tinggi. Saya tahu dia akan meminum obat itu, cepat atau lambat. Lebih cepat lebih baik, agar dia segera terbebas dari penderitaannya. Maka pagi itu, saya menemuinya, mencoba mengajaknya bicara, mencari pemicu agar Hati minum obatnya,” ujar Kepala seperti meracau.

 

“Dan saya benar. Hati minum obatnya, dan kini dia terbebas. Dia sudah tidur dengan damai,” lanjut Kepala lagi, sambil mengusap air mata yang menggenangi pelupuk matanya.

 

“Jadi begitulah saya membunuhnya,” ujar Kepala akhirnya menatap lekat-lekat mata saya.

 

Dan satu hal tampak begitu terang di kepala saya. Ya Tuhan, Kepala sudah gila.

 

*****

2 Responses to “Kematian Hati”

  1. on 11 Jul 2008 at 00:02Rina

    Keren deh, ,,,,, penulisan dan bahasanya ringan, enak banget dibacanya tp g ngebosenin hehe…

  2. on 16 Jul 2008 at 16:33Yasha

    Aku suka ceritanya..
    Keren!!

Tinggalkan Komentar