KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pembangkang

Aku memang kalah dari siapapun, apalagi dari Kang Mastur. Dia santri tulen, mengenyam pondok pesantren sejak dari kecil. Pembawaannya yang tenang dan tidak pernah mengekspos diri sendiri membuat kagum banyak teman. Tiga tahun di pesantren tak pernah naik kelas itulah aku. Anak-anak kecil yang dulunya yunior kemudian di tahun kemarin ada satu kelas bersamaku dan tahun ini harus aku relakan menjadi seniorku. Mereka kini menjadi kakak kelasku di Madrasah Diniyah Al Anwar Semarang.

 

Di pesantren ini banyak orang populer baik karena wajahnya atau karena keilmuanya. Dan lagi lagi Kang Mastur adalah sosok Arjuna yang didamba para santriwati. Tapi dia bukanlah saingan siapa-siapa, karena perjodohannya yang sudah jelas dengan anak seorang kyai di kotanya menjadikan dia hanya seperti laki laki dewasa yang layaknya sudah menikah dan hanya patut untuk diberikan rasa hormat bukanya untuk didambakan.

 

Sedang aku hanya seorang santri pemalas. Setiap hari mengharap berkah dari kuburan para sesepuh, berharap suatu hari mereka datang padaku dan menganugerahkan sesuatu, untuk kemudian cukup menjadikan aku terkenal dan terhormat di antara kang-kang pondok dan mbak- mbak itu, yang kemudian aku bebas memilih perempuan perempuan itu satu untuk aku jadikan pendampingku. Dan pulanglah aku ke kampung halaman dengan membawa kebesaran nama seorang kyai, atau minimal ustad, sebuah sebutan yang indah di telinga.

 

Seperti biasa aku ke kuburan Mbah Sholeh tengah malam. Saat santri yang lain tidur menikmati pulasnya ruhani mereka yang tertambat dalam peristirahatan yang damai, aku terjaga setelah sebelumnya mengawali tidur saat yang lain sibuk diniyah.

“Assalamualaikum ya sadaati,”  aku menyalami pusara itu dengan keyakinanku bahwa mereka menjawab dan mendoakan aku.

 

Meniti butiran tasbih satu demi satu, hembusan nafas disertai “Allah, Allah” sampai ribuan dan tak terhingga dan tenggelam dalam kantuk yang nggak bisa aku kuasai dan sadarlah aku bahwa hari telah pagi dan aku belum sholat shubuh.

 

“Innalillahi,” celaka aku.

 

Gus Mad memanggilku kali ini. Dia menanyakan kenapa aku sering bolos. Dan diberikannya aku dua pilihan apakah ikuti aturan yaitu mengaji Diniyah atau enyah dari pondok karena akan menularkan virus malas kepada yang lain. Aku mengerti, aku memahami keberadaanku, bahwa saya hanya santri biasa. Tak ada kelebihan apa apa dalam diri pemalas ini. Tapi untuk kembali ke madrasah diniyah dengan ustadz atau ustazah yang kurang fasih, sangat membuat aku tambah enggan untuk kembali ke kelas. Mereka bukan kyai hanya ustad yang ilmunya tidak lebih baik dari aku. Sedang aku tiga tahun mengaji dengan kitab yang sama karena tidak naik kelas. Alasannya karena aku tidak setuju menghafal bait bait Imrithi, yaitu bait tentang garamatikal bahasa arab. Ilmu grammar kok di buat syair dinyanyikan dan disuruh hafalan. Aneh!

 

Aku tidak buat keputusan apa-apa. Pokoknya aku tetap mau ngaji kitab kuning di luar madrasah. Tetapi aku tetap di pondok sampai ada tangan yang mengusirku. Tapi apakah itu mungkin. Seorang pengasuh pesantren mengusir santrinya gara-gara tidak mau mengaji, tidak mungkin!

 

Drama pengucilan aku rasakan. Sakit sekali rasanya berpapasan dengan Gus Mad di jalan tapi tak sedikitpun menunjukkan bahwa aku ada di depannya. Aku seperti batu yang tak dihiraukan. Aku seperti desir angin yang berlalu melintasi ruang kosong, tak seorangpun merasakan hadirku. Aku tidak ada di tengah semangat mereka yang bergelora dan menikmati hari-hari dalam asuhan kyai. Inilah pengusiran yang amat kejam dan aku terpaksa harus pamit keluar pesantren dan minta doa restu agar aku diberikan jalan baik.  Sangat tidak mungkin aku kembali ke diniyah karena semakin tidak mungkin aku kembali dengan teman-teman yang lebih kecil lagi.

 

Aku lalui hariku di kos tidak jauh dari pondok. Berangkat kuliah dari kos tak seperti biasa ketika aku lakukan di pondok. Kebersamaan mandi dengan kamar mandi yang berjajar dengan dinding sebatas dada memungkinkan kami mandi dengan banyak cerita satu sama lain. Belum lagi kita puas membilas badan, di luar sudah teriak cepetan kang! Setelah mandi berpakain dan hamparkan sajadah,  niat sholat Dhuha dan Allahuakbar. Semua itu sudah menjadi ritmik gerak hati, akal, dan fisik yang tanpa rencana seperti nafas sehari hari. Mujahadah sehabis sholat, sholawatan tiap malam Jum’at, Istighotsah berjamaah tengah malam, jelas semua itu aku tak dapat temukan lagi. Rindu hati ini. Iri aku pada yang lain. Kenapa aku sekaku ini. Kenapa aku sehebat ini menjadi seorang pembangkang.

 

Aku menahan malu di depan Gus Mad dan beliau menerimaku lagi dengan syarat aku harus ikuti aturan. Aku belajar jadi orang kecil. Tak pernah terbayangkan aku mesti satu kelas dengan adikku sendiri yang jauh umur denganku. Seorang calon sarjana harus ngaji di kelas Diniyah berbaur dengan anak-anak Aliyah. Pelajaran yang paling berharga betapa susahnya jadi orang biasa.

2 Responses to “Pembangkang”

  1. on 17 Jul 2008 at 08:17Aul

    ceritanya bagus, namun terlalu datar, tidak ada pelajaran lebih yang bisa diambil dari cerita ini padahal cerita ini termasuk ke dalam kategori cerita kehidupan
    nevertheless it’s a good story…. terus berkarya…

  2. on 28 Aug 2008 at 19:22faris

    bagus juga….. terus tambah lagi lika-liku nya!! biar labih seru!

Tinggalkan Komentar