KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Melodrama Sepasang Mata

“Eh, coba lihat,” katanya kepadaku.Aku membuka mataku pelan. Sinar matahari seketika menusuk korneaku. Kukerjap-kerjap mata mengumpulkan sedikit cairan untuk membasahi kedua bola mataku yang pedih. Aku memejam sebentar, lalu kubuka lagi mataku. Sambil memicingkan mata, aku berusaha untuk menangkap citraan yang terpampang di depanku.

“Indah, kan?” tanyanya, tanpa menoleh ke arahku.

“Iya,” aku menjawab seperlunya.

Langit sungguh terang sore ini. Ya, padahal sudah sore, tapi sinar matahari masih terasa sangat menusuk mataku, seperti saat siang hari saja. Segalanya juga terasa masih begitu cerah untuk kedua mataku. Terlalu cerah, malah. Silau. Membuatku harus mengerjapkan mata beberapa kali.

“Kamu lihat itu? Awan di sana,” ia berkata seraya menunjuk langit.

Dengan posisi rebahan seperti ini, segala yang ada di langit terasa begitu dekat dengan wajahku. Segerombolan awan putih susu itu berarak, seolah melintas hanya lima senti di depan mata. Aku menjulurkan tangan kananku, seakan mencoba menjumput sedikit dari tebalnya awan itu. Tapi nihil, menyentuh secuil dari ekornya pun tidak.

Seperti itulah cinta, setidaknya buatku. Sungguh berasa dekat ia di pelupuk mata. Membuai dengan putihnya yang seperti susu. Berarak pelan seakan mau menunggu. Tapi sebenar-benarnya ia tidak dapat digapai, pun dicapai. Jangankan mendekapnya dalam dada, menyentuhnya dengan nafas pun tidak akan pernah bisa.

“Matahari, sudah hampir petang. Kita pulang yuk.”

Ia membantuku berdiri dari rebahku. Kami beranjak dari pantai itu. Dipapahnya aku dengan tangannya yang kokoh. Sejenak aku menoleh ke wajahnya. Wajah dengan alis tebal yang telah lama kukenal. Rahangnya yang tegas menyiratkan kedewasaan. Dagunya yang berbelah di bawah bibirnya yang tipis menawarkan keramahan. Bahunya yang lebar dan dadanya yang lapang memberikan rasa aman dan nyaman.

Dan matanya, tentu saja, mata yang teduh. Mata yang selama ini ingin aku rengkuh. Mata yang nyaris tujuh tahun ke belakang ini menatap mataku tanpa keruh. Yang sampai saat ini masih menjadi tontonan kedua mataku yang buram. Menjadi siraman cahaya yang lembut dan sejuk untuk mataku yang kelam.

- - o - -

Langit

Di mana matamu

Sepasang mata untukku

Setetes sinar oleh tatapmu

Dijemput sorot kelamku yang sayu

Langit

Mataku suram

Seperti karam terendam

Tersesat mencari matamu di luas alam

Di mana matamu

Sepasang mata untukku

“LANGIIIT!” aku memanggilnya sambil melambaikan tangan dengan semangat.

Ia menoleh ke arahku sembari membalas sapaanku dengan lambaian tangan pula. Dari kejauhan terlihat jelas matanya yang teduh. Meneduhkan hatiku dari teriknya cuaca siang ini.

“Hai Matahari, tepat waktu ya,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Aku selalu menyukai saat-saat ini, saat bisa menatap matanya dari dekat. Saat bisa menatap matanya lekat-lekat.

“Oh ya, kenalin, ini Senja.” Ia menoleh ke arah wanita di sebelahnya.

Mataku refleks memicingkan dirinya sendiri. Dalam waktu yang singkat dan cukup cepat kedua mataku menelanjanginya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita yang cantik, aku membatin. Hidungnya bangir, wajahnya putih bersih dan agak bulat, dinaungi oleh rambut hitamnya yang bergelombang sepanjang pinggang. Matanya biru seperti langit, dihiasi bulu mata yang sangat tebal dan lentik, merenda di kelopak matanya yang dalam.

“Hai, aku Senja,” ia menjulurkan tangan kanannya ke arahku.

“Ha? Oh, iya. Aku Matahari,” aku tergagap, kaget. Tersentak dalam lamunanku yang tengah terkagum-kagum melihat kemolekan tubuh dan keanggunan caranya berpakaian.

“Uhm, Senja. Kami duluan ya. Aku ada janji dengan Matahari.”

Wanita itu hanya tersenyum simpul pada Langit. Ia juga tersenyum manis padaku. Matanya yang biru itu tertutup oleh bulu matanya yang lentik, membuatnya semakin terlihat cantik.

“Ayo Matahari, kita harus check-up mata kamu lagi kan,” ujarnya seraya menggandeng tanganku.

- - o - -

Malam itu aku dan Langit terdiam di heningnya suara-suara alam yang terbungkus gemuruh debur ombak di laut.

“Tumben, kamu ngajakin aku ke pantai malem-malem gini. Ada apa, Matahari?”

Aku menarik nafasku yang tertahan sedari tadi. Aku mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan suara dari bibirku yang kelu.

“Langit, kamu nggak bakal ninggalin aku kan? Iya kan?!” aku menarik-narik kemeja putihnya dengan gusar.

Tiba-tiba saja aku mulai menangis. Entah kenapa aku secepat ini menangis. Padahal tadinya aku hanya ingin bertanya. Bertanya apa dia mencintaiku. Seperti aku mencintainya. Seperti aku mencintai kedua matanya, yang aku takut akan berpaling dari mataku. Yang kurasa sebentar lagi akan pergi terbawa oleh sepasang mata yang cerah dan biru seperti warna dirinya. Seperti warna langit.

“Kamu kok ngomong gitu sih,”  ia menahan kedua tanganku sembari mencoba menenangkanku.

“Aku takut.”

“Takut kenapa?”

“TAKUT SAJA! UDAH!”

Dia menatapku, semakin khawatir sepertinya.

“Matahari, kamu kenapa?”

“AKU TAKUT KAMU PERGI! AKU TAKUT KAMU HILANG DARI PANDANGANKU! AKU TAKUT.. AKU CINTA SAMA KAMU!”

Aku memeluk Langit sekuat tenaga. Kubenamkan wajahku di dadanya yang lapang. Kuremas punggungnya yang lebar dengan tangan kecilku. Kutumpahkan air mata di kemejanya yang sudah kusut. Aku ingin meraung, meraung dalam bisunya rasa takut.

“Kamu tahu Matahari, aku juga cinta sama kamu,” ia mendekapku.

Aku terhenyak. Rasanya ini seperti detik terindah dalam hidupku. Dalam butanya hariku. Langit mengucapkan kalimat itu. Beberapa detik kami hanya berpelukan dalam diam. Hingga setelah itu aku larut dalam indahnya gelap malam. Terbawa teduhnya kedua mata Langit, yang membiarkan aku melepaskan segala yang ada pada diriku.

- - o - -

Ini hari yang indah. Aku pergi ke apartemen Langit yang letaknya tidak jauh dari klinik tempatku biasa dirawat. Sebelum tiba di sana, aku menyempatkan untuk membeli beberapa buah segar untuk kami nikmati bersama.

Aku melangkah masuk ke dalam apartemennya. Terlihat sepi seperti biasa. Aku tahu, dia pasti sedang duduk menungguku di balkon sambil minum teh. Aku pun melangkahkan kaki lagi.

“Halah, dia itu bekas orang buta. Sok-sok usaha buat sembuh total. Mana bisa. Percuma aja.”

Aku memekik tertahan. Nafasku tersangkut di tenggorokan. Dadaku serasa dihantam dengan godam. Hatiku longsor mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Langit, yang setelah itu menghisap rokoknya sembari menghembuskan asapnya dengan santai. Ada Senja duduk di sebelahnya. Mereka tidak menyadari kehadiranku.

“Tapi kamu cinta dia kan? Buktinya mau-maunya kamu nemenin dia sampai selama itu. Kamu juga jadian dengan dia.”

“Cinta sama cewek buta? Oh, please.. Nggak masuk dalam kamus aku, pacaran sama orang cacat. Puih!” ujar Langit. “Dia itu temen aku udah lama, karena nggak enak dan kasian aja aku mau bilang cinta ke dia. Lagian udah buta gitu. Ya udahlah kasih aja apa yang dia mau, hitung-hitung ngurangin dosa. Ya nggak?”

Langit tertawa-tawa. Ia menenggak botol birnya. Dirangkulnya Senja dan dikecupnya matanya. Seperti saat itu dia mendekap hangat dan mengecup kelopak mataku. Ia mengecup bibir merah Senja yang sedikit membuka. Seperti saat itu dia mengecup bibirku yang menutup dan kering tanpa rona.

“Langit,” aku mengucap terbata, bungkusan plastik berisi buah terlepas dari genggamanku menghempas di lantai.

Langit terperanjat. Seketika ia melepaskan rangkulannya dari Senja. Tak beda dengan Langit, Senja pun terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku.

“Ma, Matahari?”

Mataku yang suram menjadi semakin kelam. Aku gelap mata. Aku bergegas ke arah mereka dan kulempari dua orang itu dengan apapun yang ada di dekatku. Kuraih botol bir yang terlihat olehku dan langsung kuhantamkan ke kepala Langit. Botol itu pecah. Darah mengucur dari kepala Langit. Mataku tak lagi melihat apa yang kulakukan. Langit mencoba menahanku tapi aku tak berhenti menghantamkan botol bir itu ke kepala Langit. Terus kuhantamkan hingga ia tergeletak tak berdaya di bawah sofa.

“Matahari, kau gila ya!? Kau bunuh Langit?!!” Senja berteriak histeris.

Aku mengalihkan pandanganku ke Senja. Serta-merta dia berlari ketakutan.

Nafasku masih memburu, tersengal letih. Kulepaskan genggamanku dari botol bir yang kupakai untuk membunuh. Membunuh sepasang mata yang telah lama ingin kurengkuh. Melenyapkan keteduhan yang selama ini kukira bisa kusentuh.

- - o - -

Aku mau menangis. Ingin sekali menangis sejadi-jadinya. Tapi tidak bisa. Tidak ada setetespun air mata. Tidak ada lagi siraman cahaya yang lembut dan sejuk untuk mataku yang kelam.

Langit

Di mana matamu

Sepasang mata untukku

“Halo, sendirian saja?”

Aku terhenyak dalam lamunanku. Kulihat sesosok laki-laki dengan wajah agak gelap tersenyum lebar padaku.

“Namamu Matahari?” tanyanya. “Kenalin, aku Surya.”

“Iya, aku Matahari.” Aku membalas senyumannya. “Bagaimana kamu bisa tau namaku?”

“Ah, entahlah. Aku selalu saja tahu nama orang yang ingin kuajak berkenalan. Bahkan sebelum aku berkenalan dengannya,” jawabnya sambil tersenyum semakin lebar diiringi tawa ringan. “Atau mungkin kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya, barangkali. Hahaha..”

Aku ikut tersenyum mendengar ucapannya. Ya, di kehidupan sebelumnya. Sepertinya sekarang aku tidak lagi butuh mata Langit yang teduh. Melainkan sepasang mata Surya yang cerah. Karena tidak lama setelah itu kami larut dalam tawa riang, yang bercampur dengan suara debur ombak yang tenang. Aku tersenyum, oleh kedua mataku dan matanya yang bergandeng, meniti di tepian pantai dengan aroma laut yang harum.

Surya

Di sini rupanya matamu

Sepasang mata yang cerah untukku

(Djogdjakarta.2008.24 Juni)

Tinggalkan Komentar