Jihaddul Nafsy’
Juni 26th, 2008 by goldwinner
Apapun yang terjadi di dunia ini adalah tidak lepas dari pengawasan Allah, Sang Khalik yang tidak pernah tidur dan berat menjaga langit dan Bumi beserta segala isinya.
Adalah kesia-siaan jika manusia, sang khalifah di muka bumi ini menganggap bahwa perbuatannya yang merusak dan menganiaya alam selama ini tidak mendapatkan balasan-Nya. Adalah Muhammad, Rasul dan Nabi besar umat manusia-lah yang memohon kepada Raabnya agar perbuatan jahat dan dosa-dosa yang dilakukan umatnya tidak ditampakkan di atas dunia ini, tapi ditunda sampai kiamat nanti datang. Jadi jika pun perbuatan maksiat yang kita lakukan tidak berefek langsung dalam kehidupan kita, ingatlah bahwa kesemuanya sudah tercatat dalam timbangan amal kita. Dan 4JJI tidak pernah ingkar janji..
Perbuatan manusia yang semakin menganiaya alam tidak lepas dari sifat dasar manusia yang serakah, tidak pernah puas dan durhaka kepada 4JJI. Rasulullah Muhammad datang untuk menyempurnakan ajaran untuk menyeru semata hanya kepada 4JJI, Tuhan Semesta Alam.
Jihaddul nafsy’ merupakan suatu bentuk pengendalian diri, memerangi hawa nafsunya sendiri. Nabiullah Muhammad SAW berkata bahwa perang yang sangat besar pada diri seorang manusia adalah berperang terhadap hawa nafsunya sendiri. Ketika seseorang tidak lagi mementingkan nafsunya niscaya segala sesuatu akan berakhir dengan baik. Untuk itu, salah satu media pengendalian diri sekaligus pembersihan diri manusia terhadap dosa-dosa adalah dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Kesungguhan dalam menahan dan mengendalikan diri (baca: hawa nafsu) di bulan Ramadhan ini diyakini akan membersihkan hati dari titik-titik noda kejahatan yang pernah dilakukan. Percayalah, hitamnya hati adalah awal sebab kenapa manusia berbuat durhaka terhadap 4JJI, penciptanya dan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Jihaddul nafsy’ juga diyakini dapat mencegah tipu daya syaitan, iblis, jin dan sebangsanya untuk meniupkan api kejahatan ke dalam hati manusia. Dia merupakan firewall terhadap niat jahat sang jahannam. Penyakit-penyakit dunia seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang, maksiat, dan lain sebagainya merupakan hasil piaraan dari penyakit-penyakit hati seperti kikir, durhaka, zalim, dan lain-lain.
Paling tidak, jihaddul nafsy’ terus menerus yang dilakukan oleh individu-individu sedikit demi sedikit akan menghapus keburukan-keburukan yang dilakukan orang lain di sekitarnya. Lingkaran baik ini akan terus membesar dan membesar mewarnai dunia, mengalir ke dalam urat nadi kita yang membawanya kepada peredaran darah dan seluruh tubuh. So, dengan begitu besarnya manfaat Jihaddul nafsy’ ini, kenapa kita masih menunda dan enggan untuk memulainya? Setidaknya kepada diri kita sendiri dan kepada orang-orang terkasih dan yang mengasihi kita.