KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Jalang Terlentang

Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu. Memasang wajah sinisnya padaku. Bibirnya berkedut-kedut setiap waktu ketika memerintahku merampungkan pekerjaan presentasinya yang selalu saja terburu-buru. Alisnya terangkat beberapa senti, matanya melebar melihat beberapa klien yang memasang wajah heran. Raut mukanya sungguh tak nyaman. Jelas sudah bagiku, itu petunjuk gamblang yang berarti setelah ini aku dipanggil ke kantornya. Untuk diceramahi, dicaci-maki, bahkan bisa saja langsung dipotong gaji. Aku benci ini.

“APA-APAAN SIH KAU INI! KERJA BEGITU SAJA NGGAK BECUS! PUIH!!” bentaknya seraya meludahi mukaku.

Aku tidak pernah tahu kenapa dia seperti itu. Memperlihatkan senyuman terindah yang pernah kutemui seumur hidupku. Bibirnya menyudut melengkung manis menusuk pipi yang membuat lesung pipit muncul di kanan-kiri. Alisnya terangkat beberapa senti, matanya menyipit diiringi tawa kecil yang begitu anggun terlihat. Jelas sudah bagiku, itu petunjuk gamblang yang berarti setelah itu dia akan pulang bersama lelaki itu. Bergandeng tangan, berpelukan mesra, berpagutan bibir di mobil yang dibeli dengan uang proyek hasil kerja kerasku. Aku benci. Aku benci itu. Sial!

“Ah, geli sayang.. udah. Aduh! Hahahaha..,” tawanya gatal menggelinjang riang.

- - o - -

Entah sejak kapan dia berlaku begitu. Sadarku pun tidak. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak kami tak pernah lagi tidur di ranjang yang sekarang cat di kerangkanya sudah mengerak. Sudah berapa minggu kami tak pernah lagi berpagutan bibir dengan begitu mesra di atas sofa yang sekarang kulitnya sudah terkoyak-koyak. Sudah berapa bulan. Berapa tahun. Entah sadarku entah tidak. Aku benci. Aku benci ini. Aku benci itu. Binal!

“Sayang, malam ini kita dinner di Peepoo yah,” ujarnya manja.

Bila saja ajakan manja dan genit itu ditujukannya padaku. Aku tidak akan lagi perduli dengan rasa malu atas lemparan wajah sinisnya, kedut bibirnya, dan caci-makinya di kantor. Aku tidak akan pernah lagi mau perduli dengan rasa malu dan terhina atas bentakannya yang menyuruhku terbungkuk-bungkuk memanggul koper lelaki kotor itu. Aku tidak akan pernah lagi mau ambil perduli dengan rasa malu, terhina, dan terlecehkan atas air ludah yang disemprotkannya padaku ketika aku mengganggunya bergumul mesra dengan lelaki bajingan dan menjijikkan itu. Aku tidak perduli. Bangsat!

“Sayangku, kamu kenapa? Sakit ya? Kamu sih, disuruh makan yang teratur tapi nggak mau nurut,” ujarnya iba.

Andai saja ungkapan perhatian yang tulus itu diberikannya padaku. Aku pasti akan rela dicaci-maki lagi. Aku pasti akan rela dipotong gaji. Aku pasti akan rela dibentak-bentak dan diludahi. Aku pasti akan rela seumur hidup terbungkuk-bungkuk memanggul koper lelaki kotor itu. Aku pasti, pasti akan rela mencucikan celana kolor lelaki menjijikkan itu. Lelaki itu begitu menjijikkan. Bahkan lebih menjijikkan dari celana kolornya yang bau apek dan seperti berjamur-yang dibeli dengan uang proyek hasil kerja kerasku. Aku tidak perduli. Aku tidak perduli itu. Bajingan!

- - o - -

Aah.. nafasku sesak lagi. Barangkali jantungku semakin mengkerut. Paru-paruku cuma bisa berkedut-kedut. Mungkin hatiku sudah semakin berlumut. Ah.. sesaknya. Sakit sekali. Mataku mengerjap-ngerjap cepat. Mencoba mengait oksigen yang sekarang sudah begitu susah aku tarik dengan nafas dari hidungku yang tersumbat.

Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Memasang wajah ramah ke lelaki brengsek itu. Alisku terangkat, mataku menyipit diiringi tawa secukupnya menyambut kedatangan lelaki itu di ruangan kantornya. Jelas sudah bagiku, itu petunjuk gamblang yang berarti setelah itu mereka akan bercinta di sana. Bercinta seperti binatang. Berpelukan mesra, berpagutan bibir dan bertelanjang ria di ruang kantor yang dekorasinya dibeli dengan uang proyek hasil kerja kerasku. Aku tidak perduli itu. Binatang!

Aku tidak pernah tahu kenapa aku seperti ini. Aku punya wajah yang menarik hati. Aku punya postur tubuh yang membuat iri. Aku pandai berbicara kepada setiap orang. Karena itulah proyek yang kutangani nyaris selalu sukses tanpa ada terhalang. Tapi aku tak pernah mengerti kenapa aku seperti ini. Kenapa aku bertahan terbaring di atas ranjang reot sendiri dalam segunung sunyi. Kenapa aku selalu mengalah dari muncratan demi muncratan air ludah yang menghantam tidak sopan di muka pipi. Dahi. Segala yang mereka bisa datangi. Kenapa. Kenapa aku bertahan. Aku tidak perduli. Aku tidak perduli itu.

“Aduh sayangku, apa yang terjadi denganmu..? Aku berbuat salah ya? Maafkan aku..,” mohonnya memelas.

Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Lama-lama aku jijik pada diriku sendiri. Aku tidak lagi jijik padanya. Aku tidak lagi jijik pada lelaki yang selalu digandengnya kemanapun dia pergi. Aku tidak lagi jijik pada adegan menjijikkan yang masih saja berlangsung rutin setiap hari. Berpagutan bibir, bertelanjang ria, bercinta dengan liarnya di dalam ruang kantor menjijikkan yang segala isinya dibeli dengan uang proyek hasil kerja kerasku sendiri. Aku tidak perduli. Muak!

Aku letih. Aku tidak mengerti. Aku tidak mau ambil mengerti. Tidak ambil perduli lagi dengan segala sumpah serapah dan caci-maki. Aku tidak lagi ambil perduli dengan berliter-liter air ludah yang ditumpahkan di mukaku setiap hari. Aku lagi tidak ambil perduli. Aku tidak ambil perduli. Aku tidak perduli. Tidak perduli lagi. Perduli setan! SETAN!

“APA-APAAN SIH KAU INI! MENCUCI CELANA DALAM SAJA NGGAK BECUS! DASAR PEREMPUAN JALANG! LESBIAN MURAHAN! MATI SAJA KAU SANA! PUIH!!” bentaknya seraya menendangku, tentu sambil meludahi mukaku. Meludahi lagi. Lagi dan lagi. Terus dia meludahi pipi, dahi, di manapun dia bisa meludah.

Aku benci. Ah, aku tidak perduli lagi. Biar ludahnya itu kering sementara aku membebaskan diriku ke hamparan kesenangan yang hilang terbawa angin yang bising. Ya, wanita itu benar. Memang sebaiknya aku mati saja. Mencari lesbian lain yang mau menemani. Tentu yang tidak pernah meludahi aku. Entah di mana kutemukan. Entah di sunyinya surga di sana. Atau di gegap gempitanya neraka. Semoga saja.

(Djogdjakarta. 2008. 22 Juni)

Tinggalkan Komentar