KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Puisi Cinta untuk Rena

Kata puitis ini takkan pernah cukup tuk wakili harapku

Begitu juga berjuta kata yang mungkin akan terangkai untukmu

Cinta…

Bukanlah sekedar mimpi semu

Juga bukanlah hanya angan belaka

Denganmu…

Kata – kata itu terhenti begitu saja, tak terselesaikan. Tergantung dalam angan. Meski ingin namun entahlah sulit rasanya untuk menggerakkan lagi tangan ini. Sulit dan entahlah aku tak mengerti. Mereka selalu mendesakku, memaksa bahkan memojokkan aku untuk membuktikan cintaku pada Rena melalui goresan puisi. Memang menciptakan puisi cinta bukanlah hal yang asing untukku, bahkan mungkin itu merupakan makananku setiap hari. Seperti kemarin…

”Arna, lagi sibuk nggak?” tanya Doni menghampiriku.

”Nggak, emang kenapa?” ujarku seraya mengalihkan wajah dari laptop yang setia menemaniku siang ini.

”Bikinin aku puisi dong. Aku lagi PDKT nih sama anak sebelah.”

”Maksudmu Tasya, primadona SMEA sebelah itu?”

”Yup and jangan lupa about love tentunya. Sebagai imbalannya anything that you want di kantin free,” tambahnya lagi dan tak sampai 15 menit ”abra kedabra”, jadilah sebuah puisi cinta untuk sang primadona dan pergilah Doni dengan wajah bahagia.

Arna tak pernah tahu mengapa sulit sekali baginya menuliskan kata cinta untuk Rena dalam sebuah puisi. Baginya tindakan dan kebersamaan mereka saat ini lebih bermakna dari bait–bait puisi yang ditulis Arna untuk siapapun, juga lebih bermakna jika dibandingkan dengan puisinya yang di nobatkan sebagai Juara Umum lomba puisi tingkat SMU se Jawa Tengah itu.

Memang Rena tak pernah memintanya untuk menulis puisi cinta, juga tak pernah memaksanya untuk mencipta bait–bait penuh kasih itu sebagai pembuktian cintanya. Meski seringkali Rena menjadi orang pertama yang Arna minta untuk membaca karyanya dan seringkali pula Rena menjadi kritikus pertama bagi puisi-puisi Arna. Rena juga selalu tersenyum manis mendengar cerita Arna bila ada teman–temannya yang minta dibuatkan puisi untuk pasangan mereka, tapi entahlah Arna tidak ingin kekhawatirannya selama ini jadi kenyataan.

”Hei Ar, thanks ya puisi lo kemaren. Adi suka banget, apalagi pas temen–temennya baca tu puisi di Mading and dia sampe pengen ketemu lo gitu deh. Dia bilang yang nulis pasti cantik. Jelas aja gue sewot he he,” ujar Dona yang asli Jakarta siang itu di kantin sekolah menceritakan kekasih barunya dan puisi Arna yang dimintanya untuk mengisi Mading sekolahnya itu.

”Terus kenapa nggak ajak kesini aja Don? Kan sekalian kita-kita bisa ketemu,” sahut Fiona yang di amini oleh Tia dan Lily sementara Arna hanya tersenyum.

”Tenang aja kapan–kapan pasti gue kenalin sama kalian. Tapi inget dilarang naksir he he. Btw, gimana Ar puisi lo buat Rena? Udah jadi?” tanyanya lagi pada Arna.

”Iya Ar, gimana tuh puisi yang dulu mau buat Rena itu? Pasti udah diselesain? Ya kan?” tambah Lily.

”Ehm…sebenarnya sih belum sama sekali. Yah, masih seperti yang dulu deh,” sahut Arna pelan, tak menyangka teman–temannya masih ingat puisi yang pernah dibuatnya berbulan–bulan lalu itu.

”Apa?? Belum jadi? Serius deh Ar, masa sih nulis puisi buat pacar sendiri malah lebih susah. Mestinya kan malah lebih gampang,” timpal Tia kali ini. ”Apalagi Rena itu bukan sosok biasa tapi sosok istimewa buat kamu Ar. Masa iya segitu susahnya?”

”Giliran kalau temen–temen yang minta nggak sampai 10 menit selesai, padahal kamu cuma tahu sosok dan kisah mereka lewat cerita. Aduh plizz deh Ar, kalau aku yang jadi Rena wah nggak terima banget deh. Masak pacar sendiri nggak penah dibuatin,” sahut Lily.

Tapi Arna sudah tak lagi mendengar apapun yang mereka katakan. Arna semakin tersiksa dengan pikiran dan bayangan yang berkecamuk di benaknya. Bagaimana jadinya bila Rena meninggalkannya. Entah, Arna belum sanggup membayangkannya. Rena adalah sosok yang teramat sangat baik dan pengertian.

Tiba–tiba saja satu ide hebat berkelebat dalam benak Arna. Dia harus berbicara dengan Rena, apapun resiko yang akan diterimanya nanti. Meski Arna harus berani menanggung kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Arna harus meyakinkan diri dan hati bila tak ingin terus merasa khawatir seperti ini. Senyum terkembang di wajah Arna, sementara para sahabatnya masih saja terus membahas kejamnya Arna.

Akhirnya tibalah hari yang ditunggu Arna. Siang itu ia diminta untuk menemani Rena berbelanja buku. Yah, Rena memang kutu buku sejati. Setiap bulan ia pasti menyisihkan uang untuk membeli buku dan itu menambah nilai plus untuknya. Rena yang tampan, baik, ramah, pintar dan juga berpengetahuan. Tidak, Arna tak bisa membayangkan sanggup melepasnya.

”Ehm.. Ren, boleh nggak aku ngomong sesuatu?” tanya Arna saat mereka menikmati sore itu di sebuah kafe.

”Lho setiap saat kan kita ngomong? Tumben pake ijin segala? Ngomong aja.”

”Ehm..tapi tolong ya Ren, jawab pertanyaannku nanti dengan jujur,” pinta Arna memelas.

”Aku janji bakal jujur hunny, swear.”

“Sebenarnya kamu marah nggak sih kalau selama ini aku nggak pernah mengutarakan perasaan ku lewat puisi?”

“Tunggu, tunggu… kok tiba–tiba kamu tanya ini? Ada apa memang?” sahutnya memotong ucapan Arna

“Ehm.. Teman–teman bilang kalau jadi kamu mereka akan kecewa banget, masa iya aku yang selalu dengan mudah membuat puisi untuk orang nggak bisa membuatkan puisi untuk pacar sendiri,” ujar Arna pelan.

What?!! Oh no, trus kamu kepikiran gitu dengan apa yang mereka katakan?” sahut Rena seraya tergelak terbahak–bahak membuat Arna tak mengerti.

”Ren, serius dong!!”

”Ok, sorry sorry. Ar, kita tu udah jalan bareng hampir 2 tahun dan aku yakin tiap detik yang kita lewati akan membuat kita saling mengerti dan memahami. Puisi itu nggak penting buatku. Sorry, bukannya aku tidak mengagumi puisimu. I’m your big fans from the first time tapi Ar, buatku kebersamaan kita itu lebih dari segalanya dan aku teramat sangat percaya pada hubungan ini. Jauh lebih berarti jika dibandingkan dengan semua puisi–puisimu and asal kamu tahu ya Ar, selama ini aku selalu menganggap semua puisi–puisi cintamu itu kau buat khusus untukku Ar,” ucapnya tulus.

Arna membalas senyum manis Rena dan dalam hitungan detik ia sudah melayang jauh, jauh sekali bersama gelembung kebahagiaan yang tak terucap.

Terimakasih Tuhan, karena t’lah menghadirkan sosok Rena untuknya ucap Arna penuh syukur.

Tinggalkan Komentar