KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Permisi Bapak-bapak, Ibu-ibu. Maaf bila kehadiran saya mengganggu Bapak – Ibu dan Penumpang sekalian. Berikut akan saya bawakan lagu terbaru dari Mulan Jamilah dengan “Wonder Woman” ucap Ani mengucapkan nama salah satu penyanyi terkenal itu.Aku bukan wonder womanmu

Yang bisa terus menahan rasa sakit karena mencintaimu….

Suara Ani mengalun pelan diiringi petikan gitar bututnya, tak sedap didengar memang tapi apa daya dia tidak mungkin mampu membeli gitar baru.

Tak lama sesampainya di lampu merah, turunlah Ani dari bis itu.

Diusapnya peluh yang menetes di dahinya, tangannya dengan cekatan menghitung tiap receh yang terkumpul di kantung bekas bungkus permen itu.

Lumayan sudah terkumpul Rp.25.000 batinnya. Beruntung haru ini sekolahnya libur, jadi Ani bisa ngamen seharian. Matanya menatap langit dan menyadari bahwa waktu telah beranjak sore. Setelah kembali memasukkan kantung itu ke saku celananya, Ani bergegas pulang. Dia harus segera menyerahkan uang itu untuk Emak.

“Assalamua’alaikum, Mak..Mak!!” ucapnya sesampainya di rumah. Ani heran melihat rumahnya yang sepi. Setahunya Emak tidak ada pekerjaan sore ini. Udin adiknya pun tak terdengar suaranya. Biasanya jam segini dia bermain–main saja di rumah.

Tangannya merogoh kusen di atas pintu. Diraihnya kunci gembok yang terbuat dari kuningan itu. Begitu pintu terbuka Ani meletakkan gitar tuanya di kursi lusuh yang sudah tak karuan bentuk dan warnanya itu. Ani bergegas mandi dan sholat Ashar.

“Assalamu’alaikum, sudah pulang kau, An,” suara emak terdengar di pintu depan.

“Ya Mak, baru saja”

“Sudah solat? Jangan lupa makan. Tadi Emak hanya masak nasi dan sambal. Minyak kita habis.”

“Sudah Mak, tadi juga sudah makan di terminal. Emak dari mana?” tanyanya seraya menyusul Emak yang duduk di kursi lusuh tempat Reni menyandarkan gitarnya.

Mak dari warungnya Pak Slamet. Tadi mau beli minyak tanah tapi habis. Padahal minyak di rumah kita juga sudah habis.”

“Ya Mak, tadi juga orang–orang di bis cerita tentang langkanya minyak tanah. Bahkan ada yang harus pakai kayu bakar Mak. Nggak cuma ibu–ibu, bapak–bapak juga pada stress, gitu katanya Mak, yang Ani denger.”

“Memang sekarang serba susah. Kata ibu – ibu komplek, pemerintah nggak mau ngasih subsidi lagi. Jadi minyak tanah naik harganya. Eh sudah naik malah langka barangnya.”

“Kenapa Mak nggak pakai kompor gas saja Mak? Seperti Emaknya Putri itu Mak. Kan Mak juga sudah dapat kompor gas?”

“Mak nggak berani An, takut meledak. Kemarin Pak Abdul cerita, udah ada kebakaran karena kompor gas yang meledak. Mak takut kejadian ah,” sahut emaknya bergidik.

“Sayang Mak kompor gasnya kalau nggak di pakai”

“Yah nantilah, biar Mak belajar dulu dari Maknya Putri itu. Tapi besok bagaimana Mak mau masak. Minyak tanah habis dimana–mana. Di warung dekat rumah kita juga tidak ada yang jual.”

“Bagaimana kalau untuk besok beli makan saja di warteg Mak, besok kan Mak juga harus mencuci.”

“Yah terpaksa seperti itu An.”

“Oh ya Mak, ini uang hasil hari ini, tadi dapat Rp. 30.000 yang Rp. 5000 Ani buat makan Mak,” ujarnya menyerahkan uang recehan hasilnya mengamen. Uang itulah yang digunakan Emak untuk kebutuhan sehari – hari.

“Andai saja Bapakmu masih ada tentu kamu nggak harus bekerja seperti ini An. Mak suka nggak tega,” sahut Mak dengan mimik sedih.

“Mak, kan Ani sendiri yang mau. Nggak apa–apa, lagian Ani kan ngamen setelah pulang sekolah. Mak nggak usah khawatir ya.”

Memang sepeninggal ayahnya, Mak harus berjuang menyekolahkan Ani dan Udin. Emak menjadi tukang cuci di perumahan sebelah. Hasilnya tak seberapa, bahkan terkadang uang itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Belum lagi untuk jajan Udin yang memang belum mengerti apa–apa. Hal itulah yang membuat Ani nekat menjadi pengamen untuk membantunya.

“Assalamu’alaikum!” teriak sebuah suara saat pintu rumah mereka terbuka.

“Dari mana saja Din? Kok baru pulang?” tanya Emak kemudian.

“Itu Mak, tadi Udin di ajak Supri ke pangkalan minyak tanah dekat rumah Pak RW. Ramai sekali mak, banyak orang antri minyak tanah. Kata Supri minyak tanah di situ lebih murah Mak,” sahut adiknya yang baru kelas 5 SD itu polos. Banyak orang mengira adiknya sudah kelas 1 SMP. Selain badannya yang memang tinggi, Udin juga doyan makan. Nasi dan kecap pun akan dia lahap dengan senang hati.

“Mak nggak coba beli disana?” tanya Ani menggeser posisi duduknya untuk Udin.

“Ya, besok Mak coba. Tadi Mak sudah mau kesana tapi antrinya panjang, lagipula sudah sore. Besok setelah mencuci di komplek Mak coba langsung kesana saja.”

“Mak, jangan lupa besok Udin harus bayar iuran rekreasi ke kebun binatang. Teman–teman sudah bayar semua Mak, Udin malu ditagih terus,” sahut Udin tiba–tiba.

“Iya nanti Mak kasih. Mak sudah ada Rp. 40.000, nanti yang Rp.10 .000 nyusul ya Din. Bilang sama Bu Guru,” Mak menyerahkan uang hasil mengamen yang diberikan Ani dan uang yang disimpannya di dompet kecil yang selalu dibawanya.

“Ini masih ada Rp. 5000 untuk sarapan kalian besok, jangan lupa tukar dulu uang itu di warung,” lanjutnya kemudian.

Rumah kecil itu masih semarak oleh celoteh Emak dan kedua anaknya. Rumah sederhana yang mulai tua dan lapuk, selapuk jiwa manusia yang semakin terhimpit oleh beban hidup yang kian berat.

Tak lama adzan Mahgrib berkumandang dari masjid sederhana di tengah kampung itu. Mengingatkan para manusia untuk sejenak berhenti memikirkan duniawi, untuk sejenak mensucikan diri menghadap sang Pencipta. Bergegas pula Ani menuju kamar mandi untuk berwudhu diikuti Emak. Sementara Udin berlari menuju masjid bersama kawan–kawannya.

Pagi itu Ani bersiap–siap untuk kembali mengamen. Gitar butut yang dibelinya di pasar loak pun telah siap dipundaknya.

“Mak, Ani pergi dulu. Jangan lupa, Mak juga harus makan, nanti kan mau antri minyak tanah,” Ani mencium tangan Emak.

“Ya, Mak pasti ingat. Hati–hatilah di jalan An.”

Semoga saja hari ini bisa dapat lebih dari kemarin harap Ani, tapi entahlah sekarang jaman semakin susah. Jarang sekali ada orang yang dengan ikhlas memberinya selembar uang ribuan seperti dulu. Tapi apapun keadaannya Ani harus tetap bersyukur. Berapapun lebih baik daripada tidak sama sekali, begitu kata emak.

Ani menuju terminal tempat ia dan beberapa teman pengamennya mangkal. Jarak rumahnya dengan terminal tidak terlalu jauh. Hanya 10 menit berjalan kaki.

Terminal masih sepi, dilihatnya jam di ruang tunggu menunjukkan pukul 8.00. Ani bergegas menghampiri sebuah bis antar kota untuk kemudian mendendangkan lagu demi tiap rupiah yang akan diraihnya.

Adzan dzuhur telah berkumandang, mengingatkan Ani akan kewajibannya untuk sejenak berserah diri. Ani segera menjejakkan kaki di trotoar yang kotor dan berdebu. Ani sengaja turun di depan jalan yang menuju rumahnya. Entah mengapa Ani ingin sekali sholat di rumah.

Ani memutar jalan, ia memutuskan untuk melewati pangkalan minyak tanah dekat rumah pak RW. Siapa tahu mak masih di sana pikirnya.

Sesampainya di sana dilihatnya banyak orang mengerumuni sesuatu, tidak antri berderet seperti biasanya.

“Ada apa ya?” batin Ani menghampiri kerumunan itu sekaligus mencari Maknya.

Tiba–tiba saja sebuah hentakan mengagetkan Ani.

“Ani, untung kau lewat sini. Itu Makmu pingsan, entah kenapa,” ujar sebuah suara yang dikenalnya. Ahh Maknya Putri rupanya ucap Ani masih setengah tak mengerti apa yang terjadi.

“An, kenapa kau diam saja? Itu Makmu pingsan!!”

Ani tersentak

“Makk!! Apa yang terjadi?! Mana Mak?!!” tanyanya bertubi–tubi tersadar dari lamunannya. Ani menyeruak kerumunan itu. Dilihatnya mak tergolek lemas, beberapa ibu–ibu tengah memijitnya.

“Ohh Tuhan apalagi yang akan terjadi?” batin Ani sedih memandang Mak dan tumpukan dirigen–dirigen minyak tanah yang sampai siang ini masih kosong.

One Response to “Keringat dan Minyak Tanah”

  1. on 10 Jul 2008 at 16:45silva

    sisi positifnya: ceritanya realistis banget, ga drama queen yah cocok lah buat ngambarin susahnya keadaan Indonesia yang membingungkan dan kadang menjengkelkan.

    sisi: negatipnya:bahasanya terlalu biasa jadi kurang berkesan gitu.. tapi dari udah ketutup plotnya yang realistis itu.

    kalo dinilai: 80 lah!!!

Tinggalkan Komentar