Suatu Hari di Ruang Kelas
Juni 23rd, 2008 by dedeawan
Kembali kami dikagetkan oleh gebrakan penghapus yang dipukulkan di atas meja. Bapak Guru kami sepertinya tidak kuat lagi menghadapi kami, anak didiknya, yang tidak lekas mengerti atas apa yang disampaikannya. Kali ini kesabaran beliau sudah melewati ambang batasnya Sekali lagi kami tertegun oleh suara beliau yang semakin meninggi dalam berucap, menyampaikan pertanyaan yang seharusnya kami jawab itu, tapi di antara kami tak ada satu pun yang bersuara. Aku sebenarnya tahu jawaban atas pertanyaan beliau. Tapi entah kenapa lidahku kelu. Mulutku terkunci. Tak ada kekuatan leherku untuk sekedar menggerakkan kepalaku yang pegal karena terlalu lama menunduk. Hilang seluruh keberanianku yang terkenal sebagai anak paling badung di kelasku. Seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Dan pikiranku semakin tak menentu, berharap agar saat-saat seperti ini segera berlalu.
Suasana kelas hening senyap. Semut pun sepertinya takut untuk bersuara. Yang kudengar kini hanyalah suara detak jantungku, gemeretak gigiku. Yang dapat kurasa saat ini adalah aliran darahku, desahan nafasku yang memburu, kembang kempis tak beraturan. Dengan masih menundukkan kepalaku, kulirikkan mataku ke sekelilingku, teman-temanku pun sepertinya merasakan hal yang sama denganku. Bagaimana ini, siapa yang akan kuajak untuk keluar kelas sebentar, dan yang akan meminta izin kepada bapak guru kami untuk hanya sekedar matur ‘pak guru, kulo ajeng seni’. Ataukah aku harus keluar kelas sendiri dan untuk mengucapkan kata itu di hadapan beliau. Iya kalau beliau langsung mengizinkanku, kalau tidak? Kalau aku nanti disuruh untuk mengerjakan soal dulu sebelum aku diperbolehkan keluar. Bukannya aku tak bisa mengerjakan soal di papan tulis itu, tapi bagaimana aku bisa berfikir untuk mengerjakan soal dengan harus menahan pipis seperti ini. Aku semakin tersiksa, berharap, berdoa, agar segera terbebas dari keadaan ini.
Dengan sedikit menurunkan nada, mengatur tempo, kembali menghimpun kesabaran, Bapak Guru kami menerangkan dengan dipaksakan senyum agar ada sedikit keteduhan pada raut mukanya. Aku sedikit bersyukur karena terbebas dari bebanku yang pertama, yaitu menahan pegal leherku yang tertunduk. Ini dikarenakan Bapak Guru kami menyuruh kami untuk menatap beliau, memperhatikan beliau yang mencoba kembali menerangkan. Dengan tersiksa kembali aku harus menahan bebanku yang lain, yaitu menahan pipisku. Aku tidak konsentrasi dengan yang diterangkannya. Tiba-tiba bapak guru kami menunjuk aku untuk menjawab pertanyaan beliau yang sama sekali tak tercerna dalam fikiranku. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku menunduk. Bercampur aduk perasaanku. Hembusan angin dingin dari luar kelas yang sedang hujan gerimis ditambah dengan dinginnya lantai keramik karena sepatuku kulepas mengingat ini adalah kelas baru kami yang baru seminggu ditempati.
Kembali kami harus menerima gertakan bapak guru kami. Kali ini disertai dengan suara hentakan kecil kapur tulis di papan tulis hitam di depan kami yang masih tercium bau catnya itu. Kapur tulis itupun berhamburan di bawah lantai dekat papan tulis. Keringat dinginku seketika bercucuran di atas pelipisku. Seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Aku semakin tertunduk. Dalam tunduk heningku dan terpejamnya kedua mataku, kurasakan beliau, Bapak Guru kami mendekatiku, dekat, dekat dan semakin lama semakin mendekat, tiba tiba………….
‘tok.. tok.. tok’
Suara pintu kelas kami yang hening itu diketuk dari luar. Bapak Guru kami segera menuju ke pintu itu untuk segera membukanya.
Dari pintu itu muncul Bapak Penjaga Sekolah kami yang menyampaikan bahwa Bapak Guru kami ditunggu seseorang yang mencarinya di ruang guru.
“Onten tamu sing madosi jenengan, kulo ken nenggo ten ruang guru!”
Sebelum meninggalkan kelas, Bapak Guru kami berpesan agar soal yang ada di papan tulis itu dikerjakan semua dan nanti sebelum istirahat harus segera dikumpulkan dan meminta kami untuk tenang dan tidak gaduh tanpa kehadiran beliau di kelas.
Setelah Bapak Guru kami meninggalkan ruangan kelas, hampir setengah penghuni kelas berhamburan keluar kelas termasuk diriku. Aku dan beberapa temanku yang laki-laki segera berlari ke belakang bangunan sekolah dan menuju semak-semak untuk segera mengeluarkan beban yang telah lama ditahan. Percuma berlari ke toilet sekolah yang terletak di ujung bangunan sekolah dekat ruang guru itu. Setelah selesai menuntaskan beban kami, kami pun segera berlari kembali menuju kelas sebelum Bapak Guru kami mengetahui keberadaan kami.
Bel tanda istirahat berbunyi. Tanpa dikomando, segera kami mengumpulkan pekerjaan kami. Aku ditunjuk oleh sang Ketua Kelas untuk mengantarkan buku pekerjaan ke ruang guru, tepatnya ke meja kerja Bapak Guru kami. Aku sempat menolak untuk melakukan itu, tapi karena ku yang dikenal paling berani dan sok jagoan di kelas, aku pun dengan langkah berani menuju ruang guru. Aku tak mau kehilangan jati diriku sebagai orang paling berani di kelas.
Ku ketuk pintu ruang guru. Setelah mengutarakan maksud kedatanganku pada Pak Kepala Sekolah yang kebetulan sedang berada paling dekat dari pintu itu, beliau mempersilahkanku masuk. Segera kutuju meja kerja Bapak Guru kami, beliau kulihat duduk diam termangu sambil sesekali menghisap mantap lintingan mbako yang disulutnya. Kasihan beliau, di usianya yang hampir setengah abad, masih menghadapi kemelut rumah tangga dengan istri mudanya.
Kami tidak menyalahkan Bapak Guru kami yang sering uring-uringan di kelas ketika mengajar. Mungkin itu merupakan dampak dari persoalannya. Juga karena kemampuan kami, anak didiknya, anak orang desa yang makan hanya sekedar untuk mengganjal perut, tidak memperhatikan gizi yang menunjang daya kerja otak kami yang pas-pasan, harus menerima bertubi-tubi pelajaran yang sedang ngetren dari kurikulum terkini.
Tak terasa bel tanda masuk kembali berbunyi. Kami segera berlarian menuju ruang kelas kami. Bapak guru kami sudah siap kembali dengan pelajaran kedua. Kami di suruh mengeluarkan buku paket yang dipinjamkan sekolah kepada kami. Kulihat teman sebangkuku kebingungan karena di tegur Pak Guru mengapa tidak membawa buku paket pelajaran.
“Bukumu nangndi?”
Dia terdiam membisu. Karena terus menerus didesak, akhirnya keluar juga kalimat dari mulutnya,
“Kobar, Pak Guru,” dia menjawab dengan makin menundukkan kepala.
“Kok iso ngasi kobar, keprige?” Pak Guru kami bertanya dengan nada tinggi.
Dengan terbata-bata dia menceritakan, bahwa kemarin ketika pulang sekolah tiba-tiba hujan lebat sementara tidak ada tempat untuk berteduh. Sampailah di rumah dalam keadaan basah kuyup, termasuk tas dan seluruh buku di dalamnya. Paginya, buku paket pelajaran yang hari ini akan dibawa kemudian digarang dekat api. Karena terlalu dekat, tanpa disadari sebagian dari buku tersebut tersulut api.
Diambilnya buku yang geseng sebagian itu dari laci mejanya. Sontak Bapak Guru kami tersenyum. Senyum tulus yang baru pertama kali ini kami lihat setelah hampir satu tahun berada di kelas empat ini. Dan kami berharap, senyum beliau yang mengembang tulus itu akan kami saksikan kembali esok, lusa, dan seterusnya. Agar kami nyaman berada di kelas kami sendiri.
06-07 maret 2008
menyentuh ceritanya, serasa kembali kemasa SD dulu.
karena aq juga wong ndeso.
nice story
penggambaran yang asik
good job…. teringt wkt aq SMP dl
Guru aq galak banget……… gemuk item serem… tp ketika senyum
aq merskn kedamaianny..
baguzz…
alur ceritanya bikin penasaran buat baca sampai akhir..
Bagus banget.Thanks to ceritanya.cerita ini aku copy buat tugas bikin cerpen di kelasku
Hmm. . . keren2..
SUksEs yo^^
bagbang! bagus banget! terus berkarya !!!!!!!!!
Bagus skali bos… karena cerpen ini, aku dapat nilai A di tugas aku..
cerpen yg sangat simpel tetapi mempunyai arti yg mendalam
dua jempol eh nggak deh empat jempol (kayaknya sih sepuluh juga masih kurang)……
benar - benar based on fact
crita ini hampir sama dengan yang ku alami sekarang! dan itu menurutku sangat bagus.kuacungkan jempol untuk si Pengarang………….