Grasse Arini 3
Juni 20th, 2008 by Fauzan Masri. Z
Beberapa orang berseragam berada di rumah Arini, mereka dari aparat kepolisian yang tengah sibuk menyelidiki keadaan di sekitar rumah. Dan rumah Arini juga telah dikelilingi pita-pita berwarna kuning milik Kepolisian.
Tak ubahnya seperti semut yang merubungi tumpahan teh manis, orang-orang ramai berada di sekitar rumah. Tak jarang di antara mereka bertanya-tanya apa yang telah terjadi, kaca jendela rumah pecah berantakan, sedangkan di halaman rumah terparkir sebuah mobil berwarna biru tua, posisi mobil itupun sudah tidak karuan. Bagian belakang mobil sukses menabrak rubuh pagar pekarangan dalam kondisi dipenuhi lubang-lubang bekas tembakan timah panas.
“Tadi malam terjadi baku tembak antara polisi dengan beberapa orang tak dikenal,” suara itu muncul dari kerumunan orang-orang di sekitar rumah, mencoba menjelaskan pada orang yang baru hinggap di pinggir jalan.
Nyamuk-nyamuk pencari beritapun bertebaran di sekitar rumah, kilatan-kilatan lampu kamera mereka ikut meramaikan keadaan sekitar rumah.
“Apa yang telah terjadi ?”, “Ada apa ini?”, “Arini ke mana ?”, “Kemalangan apa lagi yang menimpa gadis kecil itu ?” Seperti itu suara-suara yang bermunculan pada orang-orang yang merubungi rumah. “Kasihan Arini,” seseorang lagi menimpali tak menjawab.
“Malam tadi dua orang petugas ronda mendapati sekumpulan orang-orang sedang menuruni lereng bukit di perbatasan kampung,” kata Bu Lurah yang sedang diwawancara oleh beberapa orang wartawan.
“Jumlah mereka ada berapa Bu ?”
“Jumlah mereka ada enam orang, dan keenamnya wajah-wajah asing bagi petugas ronda di kampung kami. Di saat itulah warga kami yang mendapat giliran ronda malam itu langsung menghubungi polisi, karena dari kejadian-kejadian pembunuhan sebelumya membuat warga kami semakin siaga dan lebih sigap menghadapi segala sesuatu yang mencurigakan.”
“Tapi kenapa mereka sampai di rumah ini Bu ?”
“Siapa keenam orang itu Bu ?” Seseorang lagi menyerobot bertanya.
“Dari keterangan sementara pihak kepolisian mereka adalah komplotan sindikat perdagangan orang dan mereka berada di rumah ini bisa dipastikan hendak menculik Arini, tapi Arini berhasil melarikan diri dan lepas dari pengejaran mereka. Diperkirakan sepulangnya mereka dari mengejar Arini saat itulah keenamnya berpapasan dengan petugas ronda. Dalam waktu yang bersamaan Mak Tinur yang sering berjualan kacang rebus hingga larut malam datang melapor ke rumah saya, bahwa Beliau melihat kaca jendela rumah ini sudah pecah berantakan. Ketika itu Mak Tinur ingin memberi sebungkus kacang untuk Arini. Setelah mendapat laporan warga, saya dan beberapa orang polisipun langsung menuju rumah ini. Polisi datang lebih cepat sebelum ke enam orang itu kembali dari usahanya mengejar Arini. Disaat itulah terjadi perlawanan dari kelompok mereka yang ternyata juga melengkapi diri dengan senjata api.”
“Ada yang terluka atau korban jiwa Bu ?”
“Dari enam orang itu ada empat yang terpaksa dilumpuhkan hingga tewas, karena perlawanan mereka sangat gigih ingin melarikan diri, sedang dua lagi masih dalam perawatan medis,” jawab Bu Lurah.
Bu Lurah berusaha menjawab sejelas dan sebijaksana mungkin setiap pertanyaan, tapi tersentak, terdiam beberapa saat dengan mata berkaca-kaca hendak menumpahkan air mata saat mendapati pertanyaan,
“Arini di mana Bu ?” Tak disangkanya pertanyaan itu akan terlontar juga dari moncong wartawan itu. Dengan berlinang air mata dia berlalu pergi meninggalkan kerumunan orang-orang, tanpa ada jawaban untuk pertanyaan terakhir.
Terbayang olehnya bagaimana ketakutan Arini ketika dikejar oleh komplotan itu hingga si kecil itu memberanikan diri menjamah hutan. Penyesalan perlahan-lahan mulai merasuki pikirannya, membasahi perasaannya dengan air mata.
“Jika tahu seperti ini kejadiannya pastilah aku tidak akan meninggalkan Arini sendiri di rumah,” gumam Bu Lurah dalam hati.
Ambisinya untuk mengetahui siapa pelaku pembunuhan kakek Arini, juragan sawit, dan suaminya sendiri telah membuat Bu Lurah berfikir untuk menjadikan Arini sebagai umpan di rumah tua itu. Namun kenyataan berlainan faham dengan rencananya, ikannya didapat namun umpan beserta kailnya hilang entah kemana.
Teringat lagi olehnya perkataan komplotan itu, yang mengatakan mereka kehilangan jejak Arini saat akan memasuki pinggir hutan, tepatnya di atas sebuah bukit di perbatasan kampung.
“Arin… di mana kamu Nak?” ucapan Bu Lurah lirih dalam isak tangis tersedu-sedu. Mengiang dalam ingatannya hutan tropis yang dipenuhi binatan-binatang buas, bagaimana kondisi Arini yang belum makan, sanggupkah Arini bertahan hidup atau sudah…
Ingatan-ingatan akan kenangannya bersama Arini selalu membayang-bayangi perasaannya, membuat air matanya semakin deras mengucur, berkecamuk mendera naluri keibuannya, tatapan mata mungil Arini yang centil, decak tawa kegirangan Arini, sapaan Arini memangil mama pada dirinya.
“Ya Rahim, selamatkanlah Arini, lindungilah dia dalam segenap kasih dan sayangMu,” doa Bu Lurah dalam hati yang secara halus telah menyindir ambisinya sendiri.
Naluri keibuannya menuntut akan sebuah penyesalan yang teramat sangat menyesak di dada. Dan hanya dapat di jawabnya dalam erangan tangisan pilu penuh harap dan doa.
Seluruh laki-laki dewasa di kampung itu dikerahkan secara estafet untuk menyusuri hutan mencari Arini. Hingga sore itu datang belum ada satu orangpun yang berhasil menemukan Arini.
***
Sore hari dilintasan jalan beraspal, sebuah truk Fuso berisikan penuh muatan buah sawit tengah melaju menyusuri arah jalan ke pelabuhan. Di dalamnya Ruly bersama Arini, dan Pak Mamat yang berada di belakang kemudi.
Perjalanan mereka kali ini berbeda dari hari-hari sebelumnya, suasana hati mereka lebih cerah, lebih riang, bukan hanya karena Arini hadir di tengah-tengah mereka, melainkan karena mereka berhasil menjerat seekor rusa jantan tanpa tanduk yang dapat mereka jual sesampainya nanti di pelabuhan.
Pak Mamat bersiul-siul mendendangkan sebaris tembang, tembang kemenangan jaman bahelak. Lekat membayang dalam otak Pak Mamat lembaran jutaan rupiah yang akan diterimanya nanti di pelabuhan. Akibatnya mereka lupa dengan asal muasal kemunculan Arini yang hadir di antara mereka berdua. Tidak dipikirkannya orang-orang kampung yang sudah letih mencari Arini dan Bu Lurah yang menangis, yang penting otaknya sekarang sedang berkecimpung dalam lembaran jutaan rupiah. Dan dari awal pun Pak Mamat sudah berencana memperkenalkan Arini pada orang yang akan membeli rusanya.
“Sakit Kak Uly… Udah…,” Arini meraung menahan perih.
“Satu lagi tahan sedikit, tinggal satu lagi kok,” Ruly mencoba membujuk Arini. Sedang Pak Mamat yang mengemudi hanya tersenyum geli melihat wajah Arini yang merungut menahan perih.
“Dari tadi bilangnya tinggal satu terus, kapan habisnya?” sanggah Arini tak kalah sengitnya ingin menyudahi kegiatan Ruly yang berusaha mengeluarkan duri-duri putri malu dari telapak kaki Arini.
Duri-duri putri malu itu dicongkelnya dengan duri dari batang jeruk citrum. Hasilnya lebih dari cukup untuk membuat Arini meringis menahat perih. Cara seperti ini memang lebih baik dari pada mencongkelnya dengan jarum peniti atau benda logam lainnya yang bisa menyebabkan si kecil itu terinfeksi lebih parah.
Hampir sepanjang perjalanan mereka hanya melewati hamparan luas perkebunan sawit. Pohon-pohon sawit yang telah menukar hutan rimba yang kian hari kian menipis luasnya. Pemandangan yang membosankan. Akhirnya Arini lelap dalam tidurnya di atas pangkuan Ruly, tidak ada lagi pemandangan baru yang perlu dilihat Arini, matanya sudah jenuh melihat ke kiri ataupun ke kanan hanya mendapati hamparan pohon-pohon Palem.
Keanekaragaman hayati dan ekosistim hutan di kepulauan Andalas itu telah terkikis besar-besaran akibat ambisi manusia yang hanya karena dibujuk umbi budi merangkak, hanya karena dendangan syair perekonomian yang ragam nyata sungguh telah ditukar dengan yang sejenis.
Entah itu rakyat ataupun pemerintah-pemerintah setempat, mereka berlomba-lomba mendirikan perkebunan sawit, berburu para investor di rimba raya dalam hukum lumpuh tak bertuan.
Berlimpangan alasan mereka kemukakan, untuk kepentingan rakyat, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, minyak fosil yang melambung tinggi setinggi bintang-gemintang di langit tertinggi, mengakibatkan kebutuhan bahan bakar pengganti seperti CPO (*Crude Palm Oil) yang berbahan baku buah sawit sangat dibutuhkan di pasar global. Dan satu lagi yang tak kalah pentingnya adalah untuk acara goreng-menggoreng di dapur.
Raja Buaya pun mengamuk mendapati singgasana tahta kerajaanya kering kerontang disulam akar-akar sawit. Sulaman akar-akar sawit sungguh-sungguh telah membuat haus Bumi Persada di tanah Andalas. Bahkan perairan-perairan alami yang semakin mengering mengakibatkan perserikatan berang-berang makin giat melancarkan perang geriliyanya, dan mensosialisasikan posko-posko maling di kolam-kolam ikan milik warga.
Memasuki bakda isa perjalanan mereka sampai di kaki pegunungan Si Tinjau Laut, suatu tempat tertinggi dalam perjalanan mereka. Hamparan laut luas membentang, sejauh mata memandang seakan langit berkaki menginjak laut dalam balutan cahaya bulan purnama.
Di depan sebuah bangunan kecil yang sering digunakan orang lalu untuk tempat persinggahan sementara, truk Fuso itu berhenti menukik turun, melepas angin rem. Sejenak Arini, Ruly, dan Pak Mamat beristirahat melepas lelah dan jenuh.
“Wah… indahnya,” ungkapan perasaan seorang anak kecil yang baru berumur empat tahun menyikapi ketakjuban matanya, kala malam menjamah purnama menyapa di kaki langit fatamorgana.
Kelap-kelip lampu kota dari ketinggian terlihat seperti serakan kunang-kunang di malam bulan purnama itu. Sedangkan nun jauh di tengah lautan juga terlihat lampion kapal-kapal besar yang antri untuk melempar sauh.
Saat truk berhenti tanpa dikomando lagi Arini langsung melompat dari pangkuan Ruly, menuruni anak tangga di pintu truk Fuso, lalu berlari menuju sebuah dangau permanen di pinggir jalan, memanjat tempat duduk dangau dan berdiri melihat keadaan alam di bawahnya dengan lanskap pemandangan malam hari dari ketinggian. Kali pertamanya Arini melihat pemandangan di luar kampungnya yang membuat bibir mungilnya tergugah untuk menyunggingkan senyum. Sambil membekap ke dua belah pipinya dengan telapak tangan untuk menahan hawa dingin, Arini menatap jauh ke tengah lautan.
“Itu pulau apa Kak Uli ?” setengah berteriak Arini bertanya saat melihat pulau terdekat dalam jarak pandangnya.
“Itu pulau Pandan,” jawab Ruli, yang sedang sibuk memperbaiki tali pengikat terpal di atas truk Fuso.
“Kalau yang ada lampunya itu, pulau juga?
“Bukan, kalau yang itu kapal laut …!” jawab Ruly sambil tersenyum menatap maklum pada Arini.
“Kapal siapa Kak Uli ?” lagi-lagi bocah kecil itu nyinyir (*terus-terusan sampai jengkel) bertanya.
“Kapal kita,” jawab Ruly yang sudah malas berpikir sambil melanjutkan pekerjaannya membetulkan posisi terpal.
“Itu kapal punya Arini,” Pak Mamat datang menjawab dengan tangan mesranya membelai rambut Arini.
“Kapal Arin… ? Wajahnya melongo seakan tak percaya menatap Pak Mamat. “Kok Arin punya kapal ? Siapa yang ngasih Arin kapal ?”
“Nanti kita ke sana, trus kita lihat siapa yang ngasih Arin kapal,” Pak Mamat tidak melanjutkan menjawab pertanyaan Arini, dan langsung menggendong Arini mengajaknya makan malam di bangku dangau itu.
Perut yang lapar, dan serantang nasi serta rendang di depan mata, menjadikan Arini lupa akan rasa penasaraanya. Mereka makan disusul Ruly yang sedikit terlambat menuntaskan rasa laparnya.
wah
emang musti lanjut, Zan
harus sampai Grasse ya? musti bener-bener tahu lho
sori ga bisa bantu, aka sama sekali ga tau Perancis dan kota2nya
ato mungkin bisa menyeberang ke mana?
arini mungkin bisa lebih besar, ato emang dibikin kecil terus begitu?
hehehe
mungkin bisa diceritain tentang orangtua arini
asal-usulnya
pasti bisa deh
semangat!
^_^
aDuH….
kudu baYar pajak!!dirimyu memakai namakyu…
hohohoho
ayo mas nulis terus bikin arini biar bisa sampai prancis, abis itu aku tunggu cerita lainnya. kayak kata mas Fauzan, penulis itu kan pemandu wisata jadi ajak aku keliling dunia lewat tulisannya mas Fauzan ok. ditunggu
thanx ya buat komen buat cerpenku. N komen buatmu…….. “Arini gue musti ngajak kamu nggak cuma ke perancis, tapi juga Venezia. Di mana kau bisa mengerti tentang kearifan cinta. Jangan bilang pernah ke eropa kalau belum ke Venezia. And u’ll say, Ciao Venezia”.
N lanjutannya…….. salam kenal dech
ceritanya bagus, chang. coba kirim ke email, biar bisa saya kritik..
WAAAAA….mana sambungannya nih?bikin penasaran aja…..bagus sekali cerpennya..atau cerbung ya?^_^