Memang tidaklah mudah untuk bisa mengendalikan Diaz yang terlahir sebagai bocah indigo. Menurut para ilmuwan, manusia diklasifikasikan berdasarkan warna energi atau cakra yang merupakan pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Sedangkan pada manusia indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna yang berhubungan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Dengan keunggulan di cakra Ajna inilah yang membuat manusia indigo memiliki indra keenam.
Tak jarang pula Diaz bercengkerama sendiri mengeja rumus-rumus relativitas Einstein dan persamaan Euclid yang rumit itu. Usianya yang masih lima tahun tak bisa membuat orang-orang percaya bahwa dia mampu menghafal semua rumus fisika tingkat universitas sekalipun. Dia tidak butuh teknik heuristik maupun paradigma mnemonic dalam mengingat semuanya. Fenomena ini menjadikannya sebagai bocah yang pintar sekaligus menjadi bocah yang mengerikan.
“Diaz nggak pengen sekolah, Diaz pengen main,” rengeknya ketika dibujuk oleh kedua orang tuanya bahwa di sekolah akan punya banyak teman bermain.
“Apa yang bisa kami lakukan untuk bisa membuatnya tidak lagi menyendiri seperti ini, Dok?” Ibunya berkonsultasi pada pakar psikologi anak yang menangani kasus indigo.
“Anak indigo memang susah diatur. Dia menganggap sekolah tidak berarti apa-apa baginya. Dan dia merasa bahwa dia telah dikirim ke dunia untuk mengemban misi Tuhan,” jelas si dokter.
“Maksud dokter apa???” beliau hanya bisa mengernyitkan kening.
“Mereka yang terlahir indigo kadang-kadang berpikir demikian. Mereka mempunyai insting yang kuat, mempunyai daya ingat yang tinggi, memiliki sebuah keyakinan yang berlebihan di mana mereka akan mengaku bahwa Tuhan yang telah mengirim mereka ke dunia untuk mengemban sebuah tugas penting. Sejauh ini kami belum menghasilkan hipotesis apa-apa, selain mengklasifikasi hal yang demikian sebagai tindakan di bawah alam sadar, alias kegilaan.”
“Anak saya tidak gila, Dok! Hanya saja dia memang sulit berkomunikasi dengan orang lain,” bantah beliau.
Hari demi hari masih tak lekang usaha orang tuanya untuk membujuk Diaz bersekolah. Dia begitu pintar, akan sayang kalau dia mengabaikan sekolah yang harusnya bisa memberikan beberapa penghargaan atas prestasi yang dia raih nanti. Sampai suatu saat, akhirnya Diaz menuruti keinginan orang tuanya.
Masalah tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu Diaz menginjak masa taman kanak-kanak, Diaz menjelma menjadi sosok yang dikagumi para guru sekaligus menjadi sosok yang ditakuti oleh teman-temannya. Di satu sisi, dia bisa menunjukkan bakatnya dalam menyanyi, bahkan dia sudah bisa menguasai tangga nada dan mengetahui apa itu legato, vibrato, timbre, dan crescendo. Sedangkan di sisi lain, meskipun tak punya maksud apa-apa, Diaz sudah menakut-nakuti semua temannya dengan menceritakan beberapa pengalamannya melihat hantu yang sering dijumpainya. Bahkan di TK itu ada beberapa macam hantu yang hinggap di kelas mereka. Pada mulanya mereka menganggap Diaz bergurau, tetapi setelah melihat air mukanya yang serius, membuat mereka bergidik ngeri, lebih-lebih pada saat Diaz berkata, “Sekarang kuntilanak itu ada di belakang kalian, tapi jangan takut. Dia adalah hantu yang baik.”
Kejadian berulang kembali ketika Diaz menginjak bangku SD. Untuk ukuran anak kelas satu SD, dia sudah terbilang sangat jenius dalam berargumen, menganalisis sesuatu, bahkan pelajaran-pelajaran astronomi. Namun tak lama kemudian, kepintarannya membunuh logikanya sendiri ketika dia berseru kepada gurunya, “Saya sudah pintar, buat apa lagi saya harus sekolah?”
Semua guru memaklumi pendapat Diaz yang begitu jenius, tetapi setelah itu mereka hanya melayangkan tanda tanya besar di atas kepala mereka ketika mendengar kalimat Diaz selanjutnya, “Saya tidak perlu sekolah. Saya hidup bukan untuk sekolah, tapi untuk mengemban misi penting dari Tuhan.”
Orang tuanya pun tak menyangka bahwa perkataan dokter itu akan menjadi absah setelah menunggu tiga tahun Diaz dipaksa berkembang mengikuti kehidupan anak-anak normal lain yang seumuran dengannya. Entah setan apa yang sedang hinggap di kepala Diaz sampai-sampai bisa meluncurkan kalimat yang bisa menghebohkan dunia sekalipun.
Beberapa dokter kejiwaan dan bahkan beberapa paranormal dimintai pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Diaz adalah seperti anak indigo lainnya yang dihibahi kemampuan khusus, ada yang mengatakan karena Diaz lahir pada tanggal 6 bulan 6 pada pukul 6 maghrib yang menandakan adanya kebangkitan dunia gelap dari kerajaan setan. Tapi ada yang berpendapat bahwa Diaz terlahir sebagai utusan dari Tuhan yang berlaku sebagai mediator antara manusia dengan Tuhan setelah hancurnya keyakinan umat manusia pada utusan-utusan-Nya yang terdahulu. Orang tua Diaz hanya bisa menggigit jari merasakan kegetiran yang mendalam karena sebagian besar pendapat para pakar psikologi dan spiritual itu justru menjadi boomerang yang membuat telinga mereka tidak ingin mendengarkan lagi.
Tepat pada tanggal 1 bulan 1 tahun 1998, Diaz dinyatakan hilang tanpa ada jejak. Berita itu segera tersebar seantero kota karena mau tak mau orangtuanya melibatkan polisi dalam melakukan pencarian. Namun, dua hari kemudian, Diaz telah kembali ke rumahnya, bukan karena dia ditemukan di suatu tempat, tetapi karena dia datang sendiri ke rumahnya, seolah-olah pada saat menghilang bumi telah menelannya dan dua hari kemudian, bumi memuntahkannya kembali ke dunia.
Kebahagiaan orang tuanya sebanding dengan rasa kekhawatirannya pada waktu itu. Beberapa pertanyaan dilontarkan namun Diaz hanya menjawab sebuah pernyataan sederhana, “Diaz cuman ingin main dan nggak ingin sekolah.”
Setelah menghilang, Diaz kembali bersikap aneh. Kadang-kadang dia mulai meracau menggumamkan sesuatu yang tak pernah dikenal orang tuanya. Mirip-mirip seperti bahasa Perancis, tapi berdialek Timur Tengah. Fenomena yang terjadi pada Diaz seolah-olah menjadi sebuah enigma berantai yang harus diselidiki.
Atas bujukan kedua orang tuanya, akhirnya Diaz bersedia kembali ke sekolah. Namun sekarang mereka harus ekstra hati-hati menjaga, mengantar, dan menjemputnya karena Diaz adalah orang yang labil jiwanya tapi terlihat tenang di luar. Bisa-bisa dia akan menghilang lagi kalau tidak diperhatikan sejenak saja. Semua guru pun bisa menjadi pagar betis atas anak luar biasa itu apabila dia telah lancang untuk berencana kabur dan menghilang lagi.
Di balik itu semua, segurat rasa sedih terlontar dari air muka orang tuanya. Seperti yang dikatakan pakar psikologi, bisa jadi Diaz mengidap kelainan jiwa atau penyakit yang bernama Attention Deficit Disorder. Mereka tergugah untuk mencari tahu perihal indigo melalui internet. Sungguh banyak sekali apa yang didapat. Tapi sampai saat ini indigo menjadi pertanyaan besar atas eksistensi manusia super.
Fenomena itu tereinkarnasi ke dalam bentuk nyata. Diaz hanyalah sama dengan Akiane yang mendapat penglihatan bertemu dengan Tuhan pada waktu berumur empat tahun. Ia mendapat inspirasi dari Tuhan untuk menggambar dan menulis puisi. Diaz juga tak begitu berbeda dengan Joshua yang baru berumur tiga tahun dan tiba-tiba bertanya mengenai Michael Angelo, mengatakan bahwa pelukis ternama itu pernah melukis langit. Dan juga Diaz hanyalah seorang anak yang mirip dengan Boriska, seorang anak laki-laki dari kota Volzhsky, Rusia, yang mampu mengingat dan menceritakan kehidupan di planet Mars. Selain itu, dia juga mampu berbicara dengan kata-kata dan kalimat yang jelas ketika ia baru berumur delapan bulan.
Rentetan manusia indigo satu per satu bermunculan di muka bumi dengan keahlian masing-masing sekaligus mengerikan. Mungkin inilah apa yang telah diramalkan oleh Edgar Cayce yang mampu melihat aura manusia. Ketika dia masih hidup, dia sempat mengatakan bahwa kelompok-kelompok individu yang luar biasa dan amat mengagumkan akan mulai turun berinkarnasi ke Bumi selambat-lambatnya pada abad ke 20 dan seterusnya. Dan Diaz adalah salah satu hasil inkarnasi dari alam yang membuatnya menjadi anak indigo.
“Aku bermimpi semalam, bahwa orang tua temanku berdiri di sebuah pemakaman yang terletak tepat di bawah pohon Kamboja,” beritahu Diaz pada ibunya.
“Mimpi itu adalah bunga tidur, semua orang pernah mengalaminya,” demikian penjelasan ibunya, wajahnya dihiasi sebingkai senyuman hangat. “Apa kamu nggak mimpiin Mama semalam?”
Dengan rasa kecewa, Diaz hanya menggeleng lugu.
Ketika burung gereja ramai-ramai dikejar oleh sekawanan burung gagak keesokan harinya, Diaz mendapatkan firasat buruk. Formasi pengejaran yang tidak beraturan tapi terfokus ke arah tenggara, memaksanya untuk menganalisis firasat itu. Tidak sampai satu menit, Diaz berteriak-teriak histeris mencari ibunya lalu menangis-nangis keras sambil memeluk beliau.
“Diaz, apa yang sedang terjadi?” reaksi ibunya juga hampir sama dengannya, terkejut bukan kepalang, lalu bergidik ngeri karena ketakutan. “Kamu nggak papa kan?”
Wajah Diaz masih berlindung di bawah ketiak ibunya sambil terisak-isak, “Diaz melihat malaikat maut terbang di atas rumah kita, tapi dia terbang ke arah tenggara diikuti burung gagak.”
Memang benar! Setelah kejadian itu terdengar berita bahwa tetangga jauh mereka telah meninggal dunia. Tetangga jauh itu tak lain adalah ayah dari teman sekelas Diaz yang sempat singgah di dalam mimpi semalam. Dalam hipotesis ini, orang tua Diaz menganggap bahwa anaknya memiliki penglihatan visual pada masa depan.
Mulai saat itu, mereka menganggap serius apa yang ada di dalam mimpi Diaz. Begitu juga sebaliknya, dengan senang hati Diaz menceritakan apa yang dimimpikannya setiap malam, “Diaz tadi malam bermimpi pada bulan Mei nanti akan ada banyak orang keluar rumah dan berkelahi di jalanan, banyak korban kebakaran, dan jalanan penuh lantak dengan orang-orang yang saling berteriak. Tidak ada yang mendengarkan saat itu. Yang ada hanya orang-orang yang saling berteriak.”
Mendengar pernyataan mengerikan itu, membuat keluarga Diaz mengungsi ke rumah saudara di Bandung sebelum bulan Mei. Dan tak lama kemudian, pecahlah perlawanan reformasi Orde Baru pada tanggal 22 Mei di jembatan Semanggi yang saat itu jatuh banyak korban jiwa. Dengan demikian, Diaz menyelamatkan keluarganya dari hiruk pikuk kerusuhan Mei 1998.
Tak sampai di situ, Diaz mulai memimpikan suatu peristiwa besar yang menghebohkan dunia. Dengan penuh keyakinan dia berkata, “Akan roboh dua buah ikon kekuasaan pada bulan September, tapi tidak perlu khawatir. Kita berada jauh dari bencana itu. Namun pada bulan Oktober salah satu aset kita akan menjadi surut karena ledakan yang sangat luar biasa di dekat pantai, diteruskan dengan getaran bumi yang marah serta air bah yang membabi buta meratakan serambi Mekah, kekuasaan Hindu, dan pesisir Afrika.”
Memang benar! Beberapa tahun kemudian penglihatan Diaz terakumulasi menjadi suatu kenyataan, menjadikan alam mengamuk dan kemanusiaan menjadi beringas lalu menciptakan katastropia yang tak punya kesudahan. Sebuah eclipse politik melahirkan suatu peristiwa besar World Trade Center 11 September, lalu Tuhan menyemburatkan takdir yang eclectic ke dalam katastropia Tsunami Aceh dan bom Bali di Kuta. Penglihatan itu menjadi sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Begitulah seterusnya sampai Diaz menginjak masa remajanya di penghujung tahun 2007. Sekarang dia sedang menatap matahari terbenam di atas genting rumahnya. Sambil merebahkan diri, dia merasakan angin sejuk yang lamat-lamat menerpanya dengan sopan. Langit yang berwarna keemasan di atasnya, dipandangnya dengan penuh rasa syukur.
Diaz masih sering mendapat penglihatan Tuhan mengenai masa depan. Kejayaan Indigo seharusnya sudah berakhir, namun Tuhan masih ingin bersenda gurau dengan kepintaran dan mukjizatnya. Sampai suatu hari, Diaz memutuskan untuk hidup secara normal. Tidak ada lagi cerita mengerikan setelah bangun tidur, tidak ada lagi cerita mengenai hantu, tidak ada lagi cerita mengenai malaikat maut yang sering berterbangan di atas rumahnya, dan tidak ada lagi cerita mengenai kejeniusan yang seringkali membuatnya terasing.
Di antara suara senyap senja yang memasuki maghrib, Diaz berkata lirih kepada langit, “Biarkan aku hidup normal, Tuhan! Aku tak menginginkan keagungan mata-Mu yang penuh rahasia sebelum manusia tahu. Biarkan takdir-Mu terpelihara di dalam Lauh Mahfudz, dimana aku adalah salah satu dari guratan-Mu.”
Keren:-D azli bikin kita tambah banyak pengetahuan btw penuliznya pazti wawazannya luaz
bagus bgt ceritanya.. tapi bnyak istilah yg ga` tahu artinya
eh saya jadi ngeri, soalnya adik bungsu saya juga mirip-mirip begitu. gak mau sekolah gak mau main keluar rumah tapi cerdas. gak seperti saya dulu, susah disuruh sekolah tapi main mulu…. he he he…
btw ceritanya ok. tapi kali lain kasih terjemahan kata-kata sukarnya ya!
keren banget ceritanya, jadi nambah wawasan tentang apa itu indigo.
rik rik…
kok aku jadi krik krik…
keren banget…
kamu kok sempet2nya bikin…
urus itu problem2nya…
ntar ga selese lho, kau tinggal nulis terus seh…..
wauw,,,,ternyata indigo yg kaya gitu toh…
mmm,,kayanya ramalan2 itupernah aq denger deh ada kisah nyatanya,,,,kayanya lhooo…
bagus2,,,,kamu bener2 luas yah wawasannya,,,ga nyangka..
hehe….
well dude…this one is truly short story with so many possibilities bout wot happen next 2 diaz…makes me curious, tapi kalo in details jdnya bkn cerpen lg yak?most of all one thumb up..walo cuma satu jempol, tapi byk ksh info,smart implisit story…kalo mut2an nulis novel, mending nulis yg beginian aja…ga ngebosenin n tiap ide baru bs tertuang…jd ga beku di otak…go go rik! keep up a good work yak?percaya deh, nulis bikin kita makin manis (eh maksudnya makin eksis)…indigo?hmmmm…truly mistery on earth
aaargghh.. lanjutin ceritanyaaa… jadiin noveeeeeel!
ni km bikin cerita emg berdasarkan pengetahuan yah? bukan cm mengarang indah :p
huehehe, ternyata eriek ebaad.. bagus ceritanya ^^ bikin tambah pengetahuan
sebelum kejadian tsunami dan peawat jatuh, gw udh dikasi mimpi kedua musibah tersebut. seminggu setelah gue mimpi terjadi tsunami diaceh. gw rasa ini kebetulan aja hahahhha. dan gue ga bisa menafsir apa arti mimpi gue. gue juga ga pintar. biasa aja. sukur deh gue bukan termasuk mansia indigo. serem juga. sementara ini tau sifat2 org yg baru dikenal saja udh membuat gue takut dan gue pernah melihat hal2 yg aneh itu hy beberapakali. hiiiii sereeeeem…