Nania, Suatu Ketika
Juni 16th, 2008 by muth3
Di balik kacamata minusnya, Nania tengah asyik mengamati ciptaan Tuhan yang sempurna. Makhluk itu bermain dengan bola basketnya, sesekali melemparkannya ke ring dan tersenyum. Dan senyum itu, buat Nania harus ikut tersenyum. Mata hitamnya masih terus mengikuti langkah makhluk itu. Akh, pemandangan pagi yang indah. Sesekali makhluk itu mendrible bola, mengopernya dan dengan langkah riang berlari ke arah ring. Tampaknya makhluk itu sangat larut di permaianannya tanpa tahu sepasang mata teduh tengah mengamatinya dengan seksama dan dalam tempo yang lumayan lama.
“Bug!!!”
Nania mengelus kepalanya yang baru saya kejatuhan benda asing. Dia berbalik ke arah datangnya benda itu dan wajahnya berubah kesal.
“Kurang kerjaan banget sih Ka!!!” protesnya sambil mengelus kepalanya yang lumayan perih. Nih orang, kiranya pala aku tembok apa, nggak punya rasa, dengusnya dalam hati. Cowok jangkung dengan potongan rambut crewcutnya itu cuma tersenyum lalu berlalu meninggalkan Nania, masih dengan memegang buku yang tadi sempat nyasar alias sengaja dinyasarkan ke kepala Nania.
“Tunggu!, dasar monyet! Apa alasan lo pake ngenganggu gue? Kurang kerjaan banget!” kejarnya.
“Yang kurang kerjaan tuh kamu! Tiap pagi plototin dia terus. Itu yang namanya nggak ada kerjaan!” sergah cowok itu setelah Nania berhasil menjajari langkahnya.
“Eh Ka, apa urusan lo. Ato lo cemburu yah?” tembak Nania. Cowok itu berhenti, lalu menatap Nania tajam dan kemudian tertawa! Lama dan keras, cukup membuat semua makhluk yang berada di sekitar mereka berbalik untuk kemudian saling bertanya tanpa mau tahu jawabannya.
“Lo nggak punya cermin yah, lo ngerasa cantik ampe pantas gue cemburuin?” Masih sambil tertawa ia meninggalkan Nania yang kini ingin meledak.
“Iya gue tahu gue jelek! Napa lo marah juga. Tapi lo nggak ada hak ngeganggu gue!!!!” teriaknya dengan seluruh kekuatannya dan juga kesedihannya. Bukan cuma Raka yang bilang seperti itu, semua orang juga bilang. Nania itu nggak ada manis-manisnya, udah gitu judesnya minta ampun, belum lagi keminusan lainnya. Tapi di balik semua minusnya itu dia juga punya plus. Supel, gampang bergaul lumayan ceriwis, cewek terpintar di sekolah, kesayangan bapak dan bu guru, selalu menang dalam tiap kompetisi pelajaran jenis apapun, dan lagi nih bocah juga jago taekwondo, lengkaplah sudah… tak seorangpun kaum adam yang sudi padanya.
Melihat semburat pelangi itu, Raka akhirnya berbalik.
“Sori Na, gue nggak ada maksud kok ngatain lo jelek.”
“Nggak papa! Gue emang jelek, bahkan nggak pantas walo cuma mimpiin Dani,” desisnya, Raka garuk kepala. Wuih..kalo nih makhluk dah melankolis kayak gini artinya dia down banget. Mana tega dia liat teman baiknya itu kayak gini.
“Siapa bilang lo jelek, nggak jelek amat kok. Lumayan, apalagi kalo di kaca mata di lepas. Pasti nambah manis deh.” Raka menarik kacamata Nania, kemudian menghapus bulir bening di sana.
“Sok tahu lo. Udah nggak usah mikirin yang tadi. Dasar monyet, ngerusak pagi aja!” Nania mengambil kacamatanya kembali dan melangkah pergi. Nah lo, kalo judesnya dah balik itu berarti dunia kembali aman.
***
Kembali pagi itu. Dunia berubah, benar benar berubah. Semua makhluk di SMU nol tujuh pada ribut. Di sana, di lapangan basket, dua jawara lagi asyik drible kiri, drible kanan sesekali saling menyerang, dan itu membuat suasana pagi riuh. Nania yang kali itu harus rela mentari mendahuluinya terbangun, ikut heran, rame amat sepagi ini. Dan akhirnya , matanya tertumbuk pada dua sosok yang amat dikenalnya. Dani dan Raka. Ngapain pagi-pagi gencar kayak gitu, kayaknya keduanya serius banget! Masa bodo. Kali aja mereka berdua lagi latihan! Akhirnya Nania memutuskan ke kelas, yap mulai saat ini dia ingin mengubur mimpi tentang Dani.
***
“Lo mau nggak jalan ma gue?” Nania sampai eksolftalmus, adrenalin sudah berdesir, wajahnya bagai tersiram saus tomat. Merah…
“Lo sakit ato lo mo mainin gue?” selidiknya setelah keterkejutannya sirna.
“Gue serius Na,” suara berat Dani membuat Nania makin tak percaya. “Lo keberatan? Atau ada orang lain yang lo suka?”
Spontan Nania menggeleng, mimpi jadi nyata siapa yang sanggup menolak. Dan akhirnya berita itu terdengar juga ke seluruh pelosok sekolah, Dani dan Nania jadian. Seseorang tersenyum puas untuk semua itu. Tapi banyak juga yang geleng-geleng kepala, ada yang histeris, ada yang sampe pingsan, ada yang mencibir tapi ada juga yang cuek bebek. Pokoknya semua cewek jadi sirik bin iri. Nania jelas keki.
“Gimana dong Ka, gue emang seneng cuman gue ngerasa nggak pantas aja,” adunya siang itu. Raka menatap sobatnya itu sesaat lalu tersenyum
“Eh, ngak usah minder gitu dong. Nanti siang lo ada janji nggak ama si Dani?” Nania mengegeleng. “Yah udah, siang nanti ikut gue!”
Demi satu perubahan, Nania rela mengikuti semua nasehat Raka. Dan satu lagi kehebohan yang terjadi…..
“Na, lo cantik banget.” Dani tak kalah takjubnya dengan ukiran Maha Sempurna itu.
Tentu saja, baru kali ini Nania menyadari kebaikan Tuhan padanya. Nania yang sekarang benar-benar berbeda, tak ada lagi kacamata minus yang bertengger di hidungnya berganti softlens yang makin memperindah mutiara hitamnya. Semuanya benar-benar sempurna dan kini ia merasa pantas untuk dia yang sempurna. Semuanya bagai rollercoaster, secepat ia turun, secepat itu pula ia naik. Bagi Nania, tiap saat seakan hidup dalam dunia dongeng. Cantik, pintar, punya cowok cakep, apalagi? Semua yang diinginkan perempuan ada padanya.
Seperti biasa, Nania menunggui Dani latihan basket. Masih sama, debaran yang ada di dadanya masih sama. Matanya masih asyik memandangi sosok itu dengan takjub, asyik dengan dunia basketnya, sesekali melemparkan senyum pada Nania.
“Ka, lo bener. Tuh cewek emang istimewa.”
Dani masih asyik mendrible bolanya sambil menatap Raka yang cuma mengulum senyum. Raka melemparkan bolanya ke ring, mendriblenya lagi.
“Tapi lo bilang dia judes. Nggak Ka, dia manis banget. Awalnya seh gue nggak serius tapi kali ini gue benar-benar suka ma dia Ka.”
Dani kembali mengadu. Sesaat Raka terdiam.
“Bagus deh, setidaknya lo nggak usah ngebohongin dia. Gue juga ngerasa bersalah udah ngebohongin dia.”
“Ka, emang lo nggak ada rasa sama Nania?”
Dani menghentikan driblenya, menatap Raka. Raka terdiam sesaat lalu tertawa.
“Nggak lah, dia cuman sobat gue. Jaga dia baik-baik!”
“Beres Bos.” Keduanya tertawa
***
“Ka, lo kok sekarang ngejauhin gue sih,” Nania menjajari langkah Raka.
“Perasaan lo aja kali Na! Gue tetap temen lo kok! Kalo ada masalah dateng aja, gue siap kok. Asalkan nggak sampai buat Dani cemburu lho.”
“Tapi Ka…,” Nania menggantung kalimatnya. Raka memandangnya kemudian mengacak rambut Nania.
“Udah sana, lo di tungguin Dani.”
Nania membalas senyumnya dan berlalu, tapi….
***
“Ada masalah Na?”
Dani melihat awan mendung di wajah Nania. Hari ini tidak seperti biasanya. Nania yang ceria yang selalu membuat Dani harus menahan perutnya untuk tertawa terpingkal. Pokoknya gadis ini sangat menyenangkan, tapi kenapa kali ini…
“Kayaknya kita bubaran aja kali yah Dan!”
Dani sampai tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
“Gue udah tahu, kalo lo deket ma gue karena kalah taruhan ma Raka, iya kan!”
“Iya sih Na, tapi itu kan dulu. Sekarang gue sayang ma lo!”
“Kenapa lo sayang ama gue?”
“Yah, karena lo menyenangkan, cantik, pinter dan… Plis deh Na, apa harus ada alasannya!” Dani kini garuk kepala.
“Lo nyadar nggak sih, masih banyak cewek yang lebih segala-galanya dari gue!”
“Apa lo nggak suka ma gue Na? Gue buat salah ma lo atau ada yang kurang ma gue?”
Dani makin tak ingin melepaskan gadis itu. Semula memang Nania tak pernah masuk hitungannya, gadis pintar tapi tidak menarik. Hanya saja itu dulu, kini gadis yang berdiri di hadapannya terlalu menarik untuk dilepaskan. Banyak yang tersembunyi dari gadis ini dan dia masih ingin bersamanya.
“Justru karena lo nggak ada kurangnya, gue ngerasa hubungan kita harus sampai di sini aja!” Dentuman itu bikin Nania sesak nafas, susah sekali mengeluarkan semua keberaniannya untuk sekedar jujur.
“Lo terlalu sempurna Dan, dan gue harus pura-pura sempurna buat ngerasa pantas berada di dekat lo. Gue nggak seperti yang lo liat selama ini Dan, gue dah banyak bohong. Gue ngerasa gue nggak bisa jadi diri gue sendiri di dekat lo!”
Darimana datangnya kata-kata itu, kata-kata yang jelas-jelas bisa membuyarkan mimpi-mimpinya.
“Apa ada orang lain Na?”
Hah… Nania sampai mundur beberapa langkah saking kagetnya dengan pertanyaan itu. Apa iya ada orang lain di hatinya?
“Gue nggak tahu Dan, cuman kalo deket ma dia gue bisa jadi diri gue sendiri. Sori Dan!”
“Udah nggak usah kayak gitu Na, gue juga seneng selama ini bisa jalan ma lo. Banyak yang gue pelajarin dari lo. Tapi kita masih tetap temen kan!”
Dani tersenyum simpul sambil mengacungkan tangannya. Nania menyambutnya, kedua tersenyum.
***
Taman itu sudah cukup lengang, sebentar senja juga akan beranjak. Siluet itu sedang asyik dibawah ring basket. Meloncat dengan semangatnya, sesekali mengusap peluhnya dan kembali mendribel bola.
“Ka!” seruan itu menghentikannya
“Na, ngapain lo sore-sore begini ada disini?” tatapnya heran.
Gimana nggak heran kini Nania seperti Nania yang dulu lengkap dengan kacamata minusnya. Nania menggapai bola basket dari tangan Raka, mendriblenya beberapa kali lalu melemparnya ke arah ring.
“Gue dah putus ma Dani.”
Kini Raka eksoftalmus, bola matanya membulat penuh saking kagetnya.
“Dia kurang ajar yah ma lo?” Nania langsung mengeleng. “Trus?”
“Gue ngerasa dia bukan orang yang benar-benar gue sayangin,” akunya.
Raka geleng-geleng kepala.
“Ka, gue suka orang lain.”
“APA!!!” Raka setengah menjerit. “Dasar cewek, ngampang banget lo pindah hati,” protesnya, lalu mengambil alih bola dari tangan Nania, satu lay up manis..dan masuk.
Tanpa sengaja Nania bertepuk tangan, abisnya keren banget. Kesadarannya kembali.
“Bukan gitu Ka, gue baru nyadar aja kalo yang gue tuh cuman kagum ma Dani, dia cakep sih. Tapi pas jalan ama dia, gue nggak nyambung. Dan dari situ gue sadar kalo ternyata dari dulu ada orang lain yang paling gue sayang.”
“Tuh cowok jago basket nggak Na?”
Nania menatapnya heran untuk kemudian tertawa melihat tampang nelangsanya Raka.
“Ka lain kali lo nggak usah pake taruhan basket ma cowok yang gue taksir, kali ini biar gue sendiri yang usaha. Lo nggak usah repot-repot.”
“Emang tanpa bantuan gue lo bisa?” ucapnya sombong
“Liat aja.”
“Sial banget tuh cowok,” desisnya.
Nania menatapnya kesal, “Eh Nyet, nggak usah gitu deh!”
Raka tertawa puas
“Ka,” hening, “lo nggak pernah yah suka ma cewek?”
Nania memberanikan diri. Raka terlihat berpikir, sementara di sana, di dalam tubuh Nania, darah berdesir hebat.
“Yah ada lah, malah gue sayang banget ma dia.”
“Teman lo, gue kenal nggak?”
Nah lo, kok Nania jadi nafsu banget. Malu juga seh, tapi ini soal masa depan, kalo beneran Raka punya cewek habislah dia, nggak mungkinlah temenan akrab ma pacar orang, bisa-bisa ceweknya ngamuk.
“Nyokap! Ya cuman nyokap, cewek yang paling gue sayang,” jawabnya cuek kemudian kembali bermain dengan teman bulatnya. Nania sampai memerah. Nania jadi keki abis…
“Na, napa lo nanya gitu? Jangan-jangan cowok yang lo taksir gue lagi,” ucapnya pede sambil tersenyum penuh kemenangan.
OK, sekarang Nania terkena serangan telak
“Geer banget lo Nyet!” Nania berbalik dan meninggalkan Raka yang kini tawanya sudah meledak. Andai kau tahu, tawanya Raka bikin Nania benar-benar nelangsa, rasanya ia ingin menyusup ke bawah tanah.
“Woiiii, jangan pergi dong.” Raka mengejarnya. “Jadi?” tanyanya lagi pada Nania.
“Jadi apa?” Nania balik bertanya. “Udah deh Ka, lo nggak lucu. Lagian lo kan bilang cowok yang gue suka tuh sial banget.”
Nania sudah cukup malu dengan semua ini, masa sih harus ngaku kalah duluan ma monyet ini.
“Gue mau kok jadi cowok sial itu,” kata-kata Raka barusan menghentikan langkah Nania, nembak nih! Selanjutnya hening lama, dan akhirnya….
“Lo serius banget, gue kan cuma….,” Nania tahu lanjutannya. Sori Na, gue cuman becanda, nih monyet kan nggak bakal pernah serius. Semua dianggapnya candaan, bahan tertawaan, sama seperti ketololannya.
“Gue serius bangetttttt!” teriaknya tepat di telinga Nania.
Nania spontan menghujaninya dengan bogem mentah. Norak banget yah, but by the way kita nggak mesti berubah untuk dapetin orang yang pas buat kita karena apapun. Kita selalu ada puzzle yang pas buat kita dimanapun dia, suatu saat pasti datang, tanpa mesti dikejar, tanpa mesti bermimpi, dan tanpa disadari…..
bagus banget, alami. masa indah remaja
bagus banget…!!! pokoke T.O.P dah
thanks for your comment… kpn2 ngasih koment lagi yah…biar sy jadi smngat nulisnya.
keren abeeeeeeeeeeeeeezzzzzzzzzzzzzzz!!!!!!!!!!!
bnr tuh,,, xl sk sm or6 jgn sampe bwt qt ngglin jati diri qt dunk………
“Kita selalu ada puzzle yang pas buat kita dimanapun dia, suatu saat pasti datang, tanpa mesti dikejar, tanpa mesti bermimpi, dan tanpa disadari…..”
I WISH…
THANKS
thx for your comment, baca juga cerpenku yang lain yah, aku makin smangat nih nulisnya. puzzle..yuppi kadang mencari orang yang kita cintai layaknya mencari potongan puzzle, harus pas, sesuai, tapat di potongan yang hilang. cuma kadang kurasa kita menuntut gambar utuh, lengkap, sempurna padahal yang kita butuh hanya potongan puzzle yang menyempurnakan… di tunggu comment slanjutnya langsung aja email ke aira_1909@yahoo.co.id
Bagus! Alami bgt! aku bacanya enjoy… ;D
wuihh ceRita’a keRen .
Jd pgn kya NaNia . hheu
Smangadh ia muth3, biKin ceRpen yg LbiH LbiH LbiH baguSs ky gni iahh .
^^
fuii…h..
ga sia-sia aq baca klo sebaguz in3..
great story…