Dua Kata
Juni 13th, 2008 by aan_intjelawara
Di sebuah lampu merah yang bisingnya luar biasa di kota metropolitan, ada empat anak yang dari tadi sibuk menoleh kiri dan kanan. Ada satu anak perempuan bertampang imut dan berperawakan paling kecil di antara lainnya. Anak itu duduk dengan polosnya di tiang lampu merah. Ketiga temennya, si cewek paling jangkung dengan wajah terpeta jelas di wajahnya “jangan ganggu kecuali mau kasih duit”, satu anak laki-laki yang sepertinya paling lemah di antara yang lainnya, agak gempal dengan kaos superman yang sayap belakangnya jahitannya sudah sobek, dan satu anak laki-laki lagi merupakan dedengkot dari perkumpulan anak jalanan tersebut. Mereka berempat tak henti-hentinya menahan angkot yang berhenti di lampu merah dan menyanyikan lagu yang pasti mereka pun tak mengerti arti lagu tersebut. Hanya saja lagu tersebut diputar dimanapun. Di pasar, di angkot, di tempat cukur rambut, dimanapun mereka berjalan.
“Kau hancurkan aku dengan sikapmu..”
Si anak gempal dengan kaos superman sobek segera berlari saat angkot biru berhenti di lampu merah tersebut. Si anak bernyanyi sekenanya. Ketiga temennya tetap di tempat, menertawakan si anak gempal karena kegigihannya tetap mengamen walau dicuekkin para penumpang di angkot tersebut. Jangankan diberi duit, menoleh pun tak ada. Akhirnya, dengan wajah polos si anak gempal meninggalkan angkot yang sudah melaju tersebut. Hari itu tak banyak yang memberi mereka uang. Uang yang terkumpul hanya seribu tiga ratus rupiah. Biasanya mereka dalam sehari bisa menghasilkan uang sampai sepuluh ribu rupiah. Karena tak mendapatkan uang lagi, si cewek perkasa dan yang paling jangkung berdiri dan membubarkan komplotan ngamen mereka.
Anak perempuan, berjilbab dan berperawakan paling kecil pulang dengan hati begitu riang sekaligus berat. Berat karena dengan teman-temannya inilah dia bisa tersenyum kembali walaupun dia tak pernah mengeluarkan sepatah katapun dan perasaannya senang karena dia bisa cepat pulang dan menanyakan pada sang paman tentang arti air pasang 3 meter. Karena hari itu dimana-mana dia mendengar dua kata itu “air pasang”. Entah kenapa dia benci dengan kata air. Si anak memperbaiki jilbabnya karena sang paman pasti ingin dia tetap terlihat bersih dan rapi walau pekerjaan sehari-harinya cuma mengamen di lampu merah. Sesampai di rumah yang menurutnya hanya seperti besarnya WC umum pria dan wanita, si anak mencari sang paman. Dengan lincahnya dia segera berlari ke tempat pamannya beristirahat. Ini sudah sore, dia mengerti pamannya yang hanya kuli bangunan pasti akan merasa capek sekali. Si anak segera duduk dan memijit-mijit kaki pamannya. Si anak tersenyum polos saat sang anak kedapatan sedang memijit-mijit kaki sang paman.
“Azizah…” pamannya hanya berkata lemah. Dia tahu sang paman tahu namanya dari kalung yang dipegangnya saat sang paman menemukannya. Saat itu, sang paman menggendongnya erat-erat dan memanggilnya “Azizah” karena kalung itu. Berkali-kali dia menggeleng tiap sang paman memanggilnya dengan nama itu. Betapa dia ingin berteriak dan mengatakan itu bukan namanya, itu nama ibunya.
“Namaku Sukma, Paman, Azizah nama ibuku.” Itulah yang ingin diucapkannya, tetapi tertelan begitu saja karena si anak tahu pada detik itu dia kehilangan suaranya. Si anak terbayang kembali peristiwa yang memporak porandakan kota lahirnya pada tahun 2004, saat Tsunami menenggelamkan kota Aceh. Empat tahun yang silam, saat sang anak kehilangan ayah ibunya. Si anak masih mengingat bagaimana sang ibu terseret air, bagaimana sang ayah menitipkannya pada sang tetangga, dan bagaimana si ayah tak pulang-pulang mencari ibunya, dan bagaimana tetangga yang menjaganya menghembuskan nafas terakhir di depan matanya, bagaimana saat semuanya sudah selesai sang anak mendapatkan jasad ayah ibunya yang tak terkenali bersama puluhan orang lainnya. Hanya dari kalung ibunya yang sudah tertutup lumpur dengan tulisan “Azizah” dia mengenali ibunya. Si anak terdiam lagi bagaimana saat sang paman yang waktu itu sebagai penjual sate menggendongnya saat dia berusaha meraung keras dan ingin mengangkat ayahnya dan membawanya pulang ke rumah dan tentu saja itu tak mungkin.
Sekarang tahun 2008. Itu yang dia tau dari kalender tua milik pamannya. Dan di warung depan juga ada kalender bertuliskan 2008. Si anak berhenti memijit dan ingat dengan tujuan sebenarnya. Di ambilnya kertas koran yang lusuh dan pena kemudian dituliskannya pelan-pelan, ” Air pasang”. Setelah susah payah menulis akhirnya dia berhasil menuliskan dua kata tersebut. Azizah hanya mengecap bangku sekolah hanya sampai kelas 1 SD. Tentu saja masalah klise, biaya. Dengan susah payah diperlihatkannya tulisan itu ke pamannya. Tak lupa ada tanda tanya besar, sang paman mengerutkan dahi dan tersenyum.
“Kamu termakan sama kata-kata orang pintar itu ya? Mereka bukan Tuhan. Tidak boleh meramal seenaknya.” Sang paman hanya berusaha menghibur saja. Sang paman tahu, orang-orang pintar itu tidak sembarangan meramal. Di tempatnya bekerja tadi siang, dia sempat mendengarkan obrolan cerdas antara dua arsitek yang memperdebatkan air pasang tersebut.
“Ya, katanya Jakarta bagian utara,” kata arsitek yang lebih senior.
“Iya, 18 tahun sekali terjadi, sudah terbukti,” sambung sang arsitek junior. “Pemerintah sudah kasih bantuan perahu karet buat jaga-jaga, dan karung-karung pasir itu…”
“….meramalkan lebih parah dari Aceh..”
DEG!!
Ini yang ditakutkan sang paman. Sang paman juga trauma dengan kejadian itu. Sang paman yang berumur 30-an itu tersenyum kecut. Betapa dia ingat peristiwa menggenaskan itu. Bagaimana dia terpontang-panting mencari nafkah untuknya dan Azizah. Karena panggilan hati dia akhirnya memutuskan untuk merawat Azizah dan karena terpikat janji-janji hidup enak di Jakarta, maka disinilah dia dan Azizah berada. Di gubuk reyot ini.
” Azizah..,” kali ini dia mengajak Azizah untuk duduk disebelahnya. Sampai sekarang sang paman tak pernah mengerti Azizah bukanlah nama anak itu. Saat Azizah sudah bisa menulis, dia tetap membiarkan sang paman memanggilnya dengan nama itu. Dan membiarkan semua orang tahu namanya dengan nama itu. Biarlah dia mengenang ibunya dengan namanya. Azizah bernapas cepat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Azizah selalu bisa menebak pemikiran pamannya. Dia tahu dari ekspresi pamannya saat si paman tak mampu lagi menyekolahkan dia dan nasibnya berakhir sama dengan anak jalanan yang lain. Dia tahu saat sang paman membelikan boneka barbie bekas, dan dia tau saat sang paman tak punya uang untuk membelikan mereka makan malam. Dan hari ini dia tahu sang paman menimbang-nimbang untuk memberitahunya bahwa itu mungkin terjadi. Bahwa dua kata itu, ” Air Pasang”, artinya memang ada kemungkinan akan menenggelamkan kota tempat tinggalnya lagi. Berarti benar yang dia pikirkan tentang makna dua kata itu.
Kali ini wajah Azizah memerah. Dia mencari kalender. Dengan wajah berurai airmata dia menoleh ke pamannya dan memandang ke pamannya dengan tanya “Kapan?”. Sang paman tidak tahu harus bagaimana. Dirinya sendiri trauma dengan kejadian Aceh tersebut. Terlebih dari isu yang beredar, Jakarta Utara sasarannya. Entahlah. Dia tidak begitu mengerti kata-kata orang berdasi itu.
Dia tahu Azizah masih trauma. Walaupun saat itu umurnya baru empat tahun tapi dia mengerti yang terjadi. Arti yang begitu mendalam bagi dirinya, sekaligus luka sayatan yang tak pernah kering. Dilihatnya Azizah dengan jilbab putih bercampur noda-noda coklat, diperhatikannya Azizah yang tampak 3 tahun lebih muda dari usia sebenarnya karena pertumbuhan Azizah yang terhambat, karena ” kurang gizi”, istilah orang-orang pintar itu dan bagaimana Azizah memegang kalender itu, dan bagaimana ekspresi wajahnya saat berusaha mengucapkan kata “kapan”. Sang paman hanya meremas koran lusuh bekas tulisan dua kata Azizah ” Air Pasang “. Seperti ada bongkahan benda padat memenuhi dadanya. Sesak. Betapa dua kata itu mampu mengguncangkan batin seorang anak yang tak berdosa. Seorang anak yang tak pernah meminta hidup luar biasa susah seperti ini. Seorang anak yang mendapatkan cobaan kehidupan yang jauh dari lampauan umurnya.
Sang paman mendekati Azizah. Perlahan-lahan diambilnya kalender itu. Tak tau harus berucap apa, dia bukan ustad, bukan pakar pendidikan, bukan siapa-siapa yang bisa mengucapkan kalimat cerdas yang bisa menenangkan pergolakan batin trauma yang dirasakan seorang anak umur 8 tahun, korban Aceh menangis. Dan sang paman cuma bisa berkata.
“Azizah.. Paman sudah menyiapkan pelampung jika itu benar terjadi.”
Bagus, saya cukup tersentuh