Bandung Got Me Crazy!
Juni 13th, 2008 by rhiex
Di salah satu titik kota Bandung, kucermati beberapa kejanggalan yang pernah datang dari masa laluku. Seorang bapak-bapak menjajakan hasil dagangannya kepada semua penumpang bus kota. Sedangkan aku hanya mengamati dari jauh, masih teringat segar di dalam kepalaku bahwa aku juga pernah melakukan hal yang serupa dengan beliau.
Tak jauh dari sana ada beberapa pengamen yang mulai mengantri mencuri perhatian setiap penumpang bus terminal untuk bisa mendapatkan sedikit rasa pelepas kepenatan dengan didendangkannya alat musik gitar dan kendang. Seorang pengemis menjulurkan kedua tangannya sambil meronta-ronta, menjadi mediator penyampaian dari perut mereka yang merasa lapar. Dan semua itu, juga pernah aku lakukan sebelumnya.
Namun, sekarang aku bermetamorfosis menjadi orang yang tidak berguna. Aku hanyalah sampah yang patut dikasihani. Di mana-mana orang tidak menganggapku pernah ada. Aku terperosok ke dalam jurang keputusasaan. Ikhtiar dalam mencari hidup tidaklah mudah. Orang tuaku, saudaraku, kekasihku, hilang dalam sekejap. Hidup sebatang kara dengan harapan yang pupus menjadi pekerjaanku.
Di sudut kota Bandung inilah, aku dilahirkan dan dibesarkan. Dan disudut kota Bandung ini juga aku ditelantarkan dan dikebumikan ke dalam sikap acuh setiap orang yang lewat. Bahkan sebagian besar dari mereka takut padaku. Aku hanyalah orang yang putus asa. Jalan ke sana ke mari tak bertujuan. Mengais-ngais sampah dan memakan remahan sisa-sisa makanan adalah pekerjaan sehari-hariku. Untuk yang kesekian kalinya aku berkata, “Aku adalah orang yang putus asa.”
Dunia sudah tak punya rasa kasihan, dan Tuhan sudah tak melirikku sekejap saja. Aku kehilangan pekerjaan, aku bernasib sial, tapi aku tahu bahwa diriku orang yang pintar. Aku tahu seluk beluk kota Bandung melebihi orang kota sekalipun. Jajaran factory outlet di sepanjang jalan Dago pernah kukunjungi, kafe-kafe yang bertebaran di puncak Dago Atas dan Parongpong, Parijs van Java yang gemerlap di malam hari, kawasan Saritem yang masih hidup dengan para biduanita malamnya, keagungan Lembang dan Ciwidey sebagai pemasok terbesar hasil kebun teh yang memiliki citarasa eksotis. Aku tahu semuanya, aku betul-betul mengenal tempat ini.
Tapi sekarang aku benar-benar putus asa. Hidupku terenggut bagaikan angin yang menerbangkan debu dalam sekejap saja. Sampai-sampai aku tak sadarkan diri bahwa aku masih hidup di dunia realis. Aku sudah melanglang kota ini tanpa tujuan yang jelas, kadang-kadang aku berjalan telanjang di sepanjang gang perumahan, sampai ada orang yang berani memberiku seuntai pakaian untuk dikenakan. Itu pun aku tidak pernah mengucapkan rasa terima kasih, yang aku berikan sebagai balas jasa hanyalah suara cekikikan yang tiba-tiba saja ingin kulakukan. Aku tak tahu kenapa. Ketika orang-orang ingin tersenyum padaku, aku balas dengan muka geram. Dan ketika aku ditakuti oleh semua orang, aku balas dengan tawa lepas yang sangat menyenangkan.
Otakku yang pintar membunuh perasaanku sendiri. Aku terlalu putus asa dan sekarang menjelma menjadi … ORANG GILA!!!
Cerpen yang bagus. Begitu kontemporer.
Jarang-jarang ada cerpen yang mengisahkan kehidupan orang gila seperti ini.
Good job, Bro!
rik rik…
itu bukan kamu kan???
ah…
pendek amat
(ya iyalah, kan cerpen)
bagus kan komennya?
Lumayan,,org gila y?
eriek, coba lo liat cerpen2 karyanya arfah. mirip kayak begini juga…
Ha…ha…sama kayak aku, tpi aku bda dlam 1 hal, aku yakin klo tuhan masih dan akan trus memberikan yg trbaik buatku.
ehehehe siapa yang gila riek? kurang kelam…
waw…jarang ada cerpen yg tokohnya “ga biasa” kaya gini…
kamu makin kreatif ajah,,,hehe…
smangat yak!!!!
aku slalu menantikan cerita2 kamu selanjutnya…
hahaha,, meski aku belum baca,, tapi gila !!! kalo ada lagi add FS aku yahh…: jangantanyanama@yahoo.co.id
KoTa BanDunG MeMaNg GeULis, SaIa SuKa dI BanDunG waLaU buKaN oRg banDunG.
KuMaHa DaManG?
bagus banget loh…………
cuma agak pendek jalan ceritanya…………………
maju truz yah………
success!!!