Sekeping Uang Logam
Juni 11th, 2008 by ubr
“Sate kambing sama nasinya dua bungkus ya Bu,” kataku kepada ibu yang berjualan sate di pinggir jalan dekat kost.
Ia tersenyum mengiyakan dan segera mengambil beberapa tusuk sate kambing yang tertata rapi di gerobaknya untuk diberi bumbu lalu diserahkan ke seorang pemuda (mungkin anaknya) yang segera menempatkannya di pembakaran sementara rekannya (anaknya yang lain?) sedang sibuk mengipasi sate-sate lain yang telah lama ada disitu. Bau sate yang khas langsung berhambur ke sekitar seiring dengan kipasan yang lambat tapi bertenaga. Secara alami bau ini merangsang rasa lapar yang telah kutahan sejak pagi, karena banyak warung yang tutup sewaktu musim liburan dan buka adanya cuma malam hari. Diriku sendiri tidak becus memasak, bisanya cuma makan.
Kulihat bangku yang ada dibelakang ibu penjual sate hanya ditempati seorang ibu beserta anaknya yang bermain-main dengan pistol mainan dan tersisa bagian yang cukup untuk dua orang duduk sedangkan bangku yang berlawanan arahnya ditempati bapak-bapak yang asyik makan sambil ngobrol dengan keempat rekannya. Kelihatan kalau mereka baru pulang dari kantor.
Aku segera duduk di bangku tersebut. Anak yang duduk di sebelahku memandangku dengan tatapan yang polos. Aku menoleh dan tersenyum padanya. Si bocah ikut tersenyum juga dan menodongkan pistolnya ke arahku. Hmm, kucoba untuk berinteraksi dengan si bocah dengan berpura-pura ketakutan lalu bergaya menghindari bidikannya. Si bocah langsung sibuk mengarahkan pistolnya dan tanpa sengaja, eh, dengan sengaja menarik picu dan proyektil pistol pun meluncur.
Dengan ketajaman mata yang telah terlatih waktu bermain mesin arcade tiap minggu aku berhasil mengantisipasi serangan dan menghindarinya dengan membungkuk. Proyektil luput mengenai jidatku, mengenai tiang tenda warung sate, memantul, dan mengenai isi piring bapak-bapak di hadapan si bocah hingga berhamburan ke mana-mana radius satu penggaris pendek. Titik-titik noda bumbu sate membentuk peta kepulauan seribu di baju si bapak-bapak yang langsung melototi si bocah dengan marah. Kudengar sang ibu langsung mengomeli anaknya, yang-tentu saja-langsung menangis, dan minta maaf ke bapak-bapak tersebut. Kenapa aku hanya mendengar sang ibu tapi tidak melihatnya? Karena sewaktu membungkuk tadi terlihat sekilas kilauan suatu benda di tanah dan sekarang mataku sedang tertuju pada sesosok benda umum yang ada di dunia ini, sekeping uang logam 500 rupiah.
Ah, cuma uang logam lima ratusan, pikirku. Mana cukup buat bayar sate dan nasi yang kupesan. Aku menegakkan kembali tubuhku dan mengawasi mobil yang lewat dijalan. Tapi lama-lama mata ini melirik si keping logam yang ada di dekat kaki. Pasti keping ini milik pembeli sate yang jatuh. Heran, kenapa aku jadi tertarik untuk mengambilnya. Jangan salah, aku tidak mata duitan, hanya sedang kekurangan hihihi, pikirku merasionalkan alasan untuk memungutnya. Tapi kalau ketahuan orang lain rasanya memalukan. Ambil, tidak, ambil, tidak, ambil? Heh, siapa takut! Toleh kanan toleh kiri, status lokasi? Clear, aman, orang-orang disekitar tidak memperhatikanku. Kebanyakan mereka sedang sibuk makan, melihat peta kepulauan seribu di baju si bapak yang pulaunya mulai hilang satu persatu karena ia sapu dengan sapu tangan, melihat si bocah yang sedang menangis atau sate-sate terbakar kecoklatan yang harum dan menggiurkan.
Sedikit demi sedikit kugeserkan kaki kanan untuk menutupi si keping yang ada di tanah. Aku berpura-pura merogoh uang di saku baju dan kukeluarkan untuk menghitungnya walaupun aku tahu kalau uang yang ada di genggamanku sekarang uang kertas tujuh belas ribu rupiah terdiri dari satu sepuluh ribuan, satu lima ribuan dan dua seribuan rupiah. Kugerakkan sedikit tubuhku cepat dengan gerakan orang kaget menjatuhkan sesuatu, tergesa-gesa memasukkan kembali uang kedalam saku lalu membungkuk. Kualihkan kaki kananku dan si keping terlihat kembali, hai apa kabar! Aku tersenyum puas karena aktingku sekelas Oscar dan sangat natural sementara tanganku bergerak meraih si keping 500. Agak deg-degan juga karena sukses-puas-gagal-malu. Yak, si keping telah tersentuh oleh jari telunjuk tangan. Tinggal sedikit lagi…
Tiba-tiba saja suatu benda tak dikenal menghalangi pandangan, menekan tanganku dengan kuat dan impulse sakit menjalar dari saraf tangan tanpa melewati otak tapi langsung ke pengendali otot seluruh muka, mulut dan leher. Kontraksi otot diwilayah tersebut jadi tak terkendali.
”UWAAAAAAAAA!” jeritku dengan lancar dan keras sambil meringis kesakitan.
Aduh, rasanya semua orang mengawasi dan punggungku serasa ditusuk-tusuk seperti sate. Aku segera mendongak dan melihat si ibu penjual sate yang memegang kantong plastik berisi sate pesananku tadi terheran-heran sebelum akhirnya ia mengangkat kakinya yang menginjak tanganku. Bukannya minta maaf, ia malah bertanya, ”Ngapain Mas?”