KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mati Gaya Anjing

“Karto… Sakit… Rasanya sakit sekali…”

Napas Supri terdengar semakin berat. Namun, di tengah desingan peluru senapan musuh, Karto tetap berlutut di samping sahabatnya.

“Tenang, Supri. Tenang. Jangan banyak bicara. Kita pasti dapat keluar dari sini dengan selamat,” kata Karto mencoba menenangkan. Tak sampai sepuluh meter dari mereka, sebuah granat meledak. Pasir dan batu beterbangan dan berjatuhan di atas pelindung kepala mereka.

“Karto…”
“Sudah, Supri. Sudah. Jangan bicara lagi…”

“Karto, aku tahu waktuku hampir tiba,” kata Supri. Sesaat wajahnya tertekuk menahan sakit. Pandangannya tertuju ke belakang bahu Karto. Di mana-mana, pasukan mereka berlarian. Mungkin komandan telah memberikan perintah untuk mundur.

“Karto, kamu masih ingat perbincangan kita?”

“Masih, kawan. Waktu itu kita…”

******

“Karto, kalau kamu mati nanti, kamu mau mati seperti apa?” tanya Supri.

“Hah? Ngawur kamu. Malam-malam begini kok ngomong soal mati,” ujar Karto kaget.

“Ayolah… Daripada kita bengong saja,” desak Supri.

“Hmm… Entahlah. Mungkin mati sebagai pahlawan yah?” jawab Karto.

“Pahlawan? Pahlawan yang bagaimana?” tanya Supri lagi.

“Pahlawan… ya… Pahlawan perang kali. Kau pikir kita ini sedang apa? Pahlawan perang kan pasti diingat banyak orang,” tegas Karto.

“Ya. Aku tak bisa membayangkan. Sepuluh tahun setelah kau meninggal, rakyat di jalan berteriak-teriak ‘Hidup Karto!! Hidup Karto!!!’ Pasti lucu,” kata Supri tergelitik.

“Hus! Ngawur! Kamu sendiri inign mati seperti apa?” tanya Karto balik.

“Aku? Hmm… Kalau aku, aku cukup puas kalau ketika aku mati, aku masih dicintai, walaupun hanya satu orang,” jawab Supri.

“Memangnya Inah, pacarmu, kau bawa ke sini?” kata Karto menggoda Supri.

“Kamu juga mulai ngawur!! Hahaha. Yah… Bagaimanapun nantinya, aku tak ingin mati seperti anjing,” kata Supri. Ia bangkit dari duduknya untuk meluruskan kaki yang pegal-pegal setelah tiga jam duduk menunggui pos.

“Mati seperti anjing?” tanya Karto bingung.

“Ya. Lihat saja anjing-anjing di kota. Mati tertabrak mobil, sesudah itu didiamkan saja. Dilupakan di pinggir tumpukan sampah sampai berbau busuk,” ujar Supri.

“Sudahlah… Kau tak akan mati. Tenang saja. Kan ada aku,” kata Karto.

“Tapi kan kamu bawa sial,” canda Supri. Dan kedua prajurit itu melewati malam yang tenang itu dengan penuh canda dan tawa.

******

“Lihatlah teman-teman kita. Semuanya lari menyelamatkan masing-masing. Tidak ada lagi ‘satu untuk semua, semua untuk satu’ yang digembar-gemborkan komandan. Kemana pasukan medis yang seharusnya menolong korban-korban lain? Kemana komandan, pemimpin kita yang hebat itu?” kata Supri penuh sarkasme.

“Aku akan mati seperti anjing. Ditinggalkan teman-temanku sepasukan. Diinjak-injak pasukan musuh.”

Karto tidak dapat berkata apa-apa mendengar omongannya itu. Matanya sibuk menoleh kesana kemari mencari jalan. Di belakang gundukan pasir tempat mereka bersembunyi, Karto melihat kendaraan baja mendekat ke arah mereka.

“Supri, ayo. Kita harus segera pergi. Jangan bicara lagi. Simpan kekuatanmu untuk…”

“Tak usah, Karto. Aku tahu aku akan mati sebentar lagi,” sela Supri. Kemudian ia berkata, “kamu masih punya granat yang kita racik bersama-sama? Berikan padaku.”

“Yang bahannya kita curi itu? Supri, kamu mau apa? Kita sudah tidak punya waktu lagi.”

“Berikan padaku! Setelah itu, pergilah kamu! Lari! Kamu tidak boleh mati di sini bersamaku. Kamu masih dapat membantu pasukan kita,” desak Supri.

“Supri…”

“Pergilah, Karto. Terima kasih telah menemaniku selama ini. Kamu memang sahabatku,” kata Supri lemah.

Di tengah air mata deras, Karto memberikan granat yang diminta Supri. Ia juga sebenarnya tahu. Waktu Supri tidak lama lagi. Setelah memeluk sahabatnya itu sekali lagi, ia berguling ke sebelah dan dengan kepala tertunduk, berlari menjauh dari tembakan pasukan musuh.
Supri memperhatikan punggung Karto yang semakin menjauh. Dengan sisa tenaganya, ia menarik diri ke atas gundukan pasir untuk melihat keberadaan kendaraan baja itu. Kemudian, ia menarik pin pengaman granat itu.

Di ujung sana, Karto telah bergabung dengan sisa pasukannya. Ia menoleh ke arah tempat Supri terbaring. Hatinya melonjak melihat kendaraan baja telah ada di atas tempat itu. Dan tak lama kemudian, kendaraan baja itu terbungkus amukan api. Api ledakan granat special yang mereka buat.

“Mungkin matimu seperti anjing, Teman. Tapi anjing pahlawan,” kata Karto dalam hati.

Mei 25, 2008
00:03

2 Responses to “Mati Gaya Anjing”

  1. on 16 Jul 2008 at 09:37razi

    bagus2………..
    LAnjotttttttttttttttttt

  2. on 13 Aug 2008 at 19:37adied'

    keren!!!!!!!!!

Tinggalkan Komentar