Masih Ada Waktu
Juni 11th, 2008 by t2fat
Siapa yang mengira diteriknya panas matahari yang begitu menyengat, seorang sopir truk yang membawa muatan buah tengah mabuk ketika sedang mengemudi. Siapa pula yang mengira ia ngebut dan menerobos lampu merah. Saat itu ketika seorang pria setengah baya sedang menyeberang, ia tidak melihat lagi truk itu hadir di sebelahnya. Meninggalkannya dalam kondisi koma ditengah jalan.
Herman, pria setengah baya tadi, seorang salesman sebuah perusahaan asuransi setelah satu minggu yang lalu dipecat dari pekerjaan lamanya sebagai pegawai disalah satu toko elektronik, mendapati dirinya sedang berbaring di jalan raya. Ia bangkit dengan panik. Duduk dengan kedua kaki terlentang dan detak jantung yang berdegup kencang. Dug. Dug. Dug. Kedua tangannya dengan cepat merabah tubuhnya lalu kepala. Pikirnya cuma halusinasi bahwa barusan ia baru saja dihantam sesuatu yang besar dan sangat cepat. Fiuh, Herman bernafas lega. Ia baik-baik saja. Ia pun bangkit berdiri dan meraih tas tentengnya kemudian berhenti sebelum memulai langkahnya yang pertama. Aih, dimana ini? Herman mencermati sekitarnya. Jalan dan bangunannya. Rumah-rumah disekitarnya. Semua belum pernah sekalipun ia jumpa. Dan kemana pula semua orang? Sepanjang jalanan itu sepi. Dari titik dimana ia berdiri ke titik kemana matanya bisa mencari sunyi. Tidak ada suara sebab biasa suara kendaraanlah yang buat bising. Mungkin adalah suara angin tapi itu pun cuma pelan saja. Herman pun mulai berjalan kemana yang ia sungguh tidak tahu. Tapi kalaupun ia cuma diam hasilnya juga tidak akan bagus.
Herman berpikir dimana sekarang ia berada, mungkin seseorang didalam salah satu rumah bisa memberitahunya. Ia memilih sebuah rumah menengah keatas. Bukan mewah, tapi tentu buka sederhana. Rumah itu dua tingkat, dan pintunya dari besi yang digeser ke samping. Terasnya berhadapan dengan taman. Dan ada sebuah kolam ikan pula. Ada ikannya pula! Herman merasa aneh ia girang. Makhluk hidup pertama yang ia jumpai. Ia menekan bel disamping pintu. Berkali-kali. Aneh, yang punya tidak juga keluar. Ia memutuskan menggunakan suaranya. Berteriak kata ‘permisi’ hingga tenggorokkannya lelah. Tapi tetap juga yang punya tidak keluar. Herman menyerah pada rumah itu. Berpaling pada rumah yang lain. Lalu yang lain. Lalu yang lainnya lagi. Tapi hasilnya juga sama. Kemana semua orang? Pikirnya. Apa ada festival atau apa saja kemana mereka pergi. Ia pun kembali ke jalan. Berjalan ke arah yang ia sendiri tidak tahu. Lalu, oh iya?! Telepon genggam. Kenapa dari tadi tidak kepikiran.
Herman pun langsung meraih handphonenya, dan membuka contact list. Orang pertama yang dicarinya adalah sang istri, Rohana. Ia menunggu nada sambung dengan menempelkan handphonennya di daun telinga kanan. Tapi kecewa begitu suara operator yang didengarnya menyampaikan bahwa nomor istrinya berada di luar batas area. Herman pun tidak putus asa. Ia mencoba beberapa nomor kerabatnya lalu rekan kerjanya, dari toko elektronik dulu ataupun sesama sales. Tapi semua sama saja. “Nomor yang Anda tuju berada duluar batas area,” begitu pesan operator selalu. Ia pun lalu dengan harapan yang sangat redup hendak mencoba nomor telepon rumah guru SMA-nya yang kebetulan masih ia simpan. Namun hasilnya juga tetap sama. Suara operator itu yang selalu menjawab setiap penggilannya. Herman menjatuhkan handphonenya. Ia terduduk. Bagaimana ini? Bagaimana-bagaimana? Aku mau pulang. Ia menggigiti bibirnya dan hampir saja menetes air dari matanya begitu handphonenya tiba-tiba berbunyi. Meski kebingungan Herman menerima panggilan itu.
“Halo?”
“Maaf. Nomor yang Anda tuju berada diluar batas area.”-Klik.
Aneh. Pasti operatornya bermasalah, pikir Herman. Ia pun kembali menjatuhkan handphonenya. Mengambil dompet dari saku belakang dan mencermati wajah istrinya, Rohana, dan putrinya yang baru berusia satu tahun, Putri. Lalu HP-nya kembali berdering, ia menjawab panggilan itu.
“Halo?”
“Maaf. Nomor yang Anda tuju berada di luar batas area.”
“Tapi saya tidak menelepon.”
“Maaf.”-Klik.
Kali ini Herman menatapi layar HP-nya dulu sebelum menyimpannya ke dalam saku bersama dompet dan foto istri dan anaknya. Tidak ada nomor tertera disitu. Tidak ada nama atau tulisan private number. Cuma kosong seolah-olah tidak pernah ada yang menelepon sebelumnya. Aneh sekali, pikir Herman. Tapi berada disini pun sudah aneh. Apa anehnya bertambah satu lagi hal aneh. Ia pun segera bangkit, memikirkan kemana ia akan berjalan pada arah yang ia sendiri tidak tahu. Lalu tiba-tiba HP didalam sakunya kembali berdering lagi. Herman pun menjawab panggilan itu lagi.
“Halo?”
“Maaf.” Herman tahu itu suara operator tadi.
“Ya?”
“Apa Anda tadi menelepon?” tanya operator itu ragu-ragu.
Herman merasa lucu dengan pertanyaan itu. Ia tergelitik untuk mengatakan iya yang ia ucapkan juga pada si operator. Dan betul saja, operator itu langsung menyampaikan pesannya, “Maaf. Telepon yang anda tuju berada di lu-”
“Saya tidak menelepon,” potong Herman jadinya dengan kesal.
“Tapi tadi Anda bilang…”
“Iya, tadi saya berbohong. Mau mengetes Anda. Ow, rupanya begitu layanan masyarakat perusahaan Anda. Cuma ‘Maaf, telepon yang Anda tuju berada di luar batas area.’”
“Maaf,” operator tadi meminta maaf, “soalnya sudah lama sekali tidak ada yang menelepon.”
Herman jelas kesal sekali pada si operator. Padahal yang ia butuh adalah menghubungi seseorang yang bisa membantunya keluar dari sini. Eit, tunggu dulu, kenapa tidak si operator ini saja. Akhirnya Herman pun baru kepikiran.
“Halo? Halo, Non Operator?” panggil Herman.
“Ya, Pak.”
“Tanya ya, sekarang dimana ya?”
“Lho? Kok tanya saya?”
“Maksud saya kita. Kita ini sebenarnya dimana ya?”
“Kalau saya sih di kantor, Pak. Kalau Bapak saya tidak tahu.”
“Bukan! Bukan itu maksud saya, Non. Aduuh, maksudnya ini tuh tempat apa? Kota, negara, atau dunia. Dunia apa ini? Ini-kota-apa?”
“Kota? Wah, Bapak orang baru ya?”
“Baru?” Herman pun gantian jadi yang bingung.
“Iya. Bapak baru meninggal kan?” pertanyaan itu seolah-olah sebuah geledek buat Herman. Ia terdiam. Mencerna perkataan si operator tadi dan tidak percaya.
“Itu-itu t-tidak mungkin, N-non. Kalau saya meninggal, kenapa sekarang saya masih disini?” tanya Herman dengan perasaan yang membadai.
“Justru itu, Pak. Bapak disini karena Bapak sudah meninggal,” jelas si operator.
Herman pun mulai paham kenapa ia bisa berada di tempat yang ia sama sekali tidak tahu di mana ini.
“Jadi kalau begitu -tempat ini…,” tanya Herman berusaha lebih yakin.
“Ya, Pak. Bapak berada di akhirat. Harusnya Bapak melapor ke petugas akhirat 3 jam setelah kedatangan Bapak. Bapak sudah berapa lama di akhirat?” tanya si operator akhirat. Herman mulai mengira-ngira berapa lama ia tadi kebingungan kesana kemari.
“Waduh, Non. Kayaknya sudah 2 jam lebih deh. Memangnya di mana petugas akhirat itu berada?”
“Di Kantor Petugas Akhirat.”
“Iya, Kantor Petugas Akhirat itu di mana?”
Tampaknya sudah terlalu lama operator ini tidak menerima telepon, pikir Herman. Jadinya agak sedikit oon.
“Kantor petugas akhirat punya menara dengan simbol berlambang centang, Pak. Harusnya Bapak bisa melihatnya dimanapun Bapak berada.”
“Oh iya. Saya melihatnya. Terima kasih ya, Non.” Herman melihat menara yang dimaksud.
“Sama-sama. Maaf Pak, kalau boleh saya tahu nama dan nomor KTP Bapak?”
“Boleh saja. Untuk apa?”
“Saya akan mengecek waktu kematian Bapak. Dan sekalian saya akan memberitahu petugas akhirat kalau Bapak akan telat melapor. Bagaimana?”
“Wah, terima kasih sekali Non. Anda ternyata cekatan juga.”
“Sudah merupakan tugas saya, Pak. Dan Pak…”
“Ya?”
“Selamat datang di akhirat.”-Klik.
Err, entah mesti dijawab apa. Kata sambutan itu hangat sekaligus menghantui. Sekarang ia sudah meninggal. Herman melanjutkan meneteskan air mata dan kembali mengeluarkan foto keluarganya. Tidak ada ucapan selamat tinggal. Tidak sempat, sayang. Padahal kontrakan rumah saja belum selesai. Entah bagaimana istrinya nanti. Mau mencari nafkah dan sekalian merawat putri mereka. Menikah saja lagi, Rohana. Tidak mengapa. Asal kamu tidak susah, batin Herman. Pedih memang saat mengatakan itu. Namun ia tidak habis pikir bagaimana istrinya dan anaknya akan menjalankan hidup nanti. Belum lagi biaya pemakaman dirinya. Ah, ia tidak punya banyak waktu lagi. Ia harus segera melapor ke petugas akhirat.
Aih, jauh benar itu menara. Memang kalau dilihat sepertinya dekat. Namun seberapa cepatnya Herman melangkahkan kaki ia tidak juga sampai ke kantor petugas akhirat. Kalau terus begini tidak mungkin ia bisa sampai tepat waktu. Tiba di persimpangan Herman melihat sebuah truk buah hendak melintas.
“Oi!” teriak Herman, “oi, stop!” Herman berusaha berlari mengejar truk itu. “Tolong berhenti. Tolong.”
Truk itu melambatkan lajunya dan berhenti beberapa meter didepan Herman. Fiuh, Herman bernafas lega. Syukurlah. Ia mendekati truk tersebut. Kepalanya melongok mengintip kedalam kemudi truk. Seorang pria sekitar 40-tahunan dengan tampang agak lusuh dan mengenakan kaos oblong putih yang sudah pantas dibuang sedang duduk di belakang setir. Herman berusaha membuat suaranya sesopan mungkin (ia sebenarnya sedikit takut dengan profil laki-laki sopir truk itu).
“Maaf Pak, Nama saya Herman. Saya mau ke Kantor Petugas Akhirat. Mungkin Bapak bisa membantu saya? Er…, mungkin kita sejalan? Atau- mungkin tidak, tapi Bapak berkenan mengantar saya? Soalnya kantornya masih jauh, dan waktu saya cuma kurang dari satu jam. Jadi, bisakah Bapak menolong saya?”
Herman menunggu jawaban dari si sopir tapi jawabannya cuma diam, jadi Herman berpikir mungkin ia tidak bersedia membantu. Herman menjauhi truk itu dengan sakit hati. Apa salahnya sih membantu orang yang sedang susah? Lagipula Herman juga sudah sopan sekali bertanya. Paling tidak bilang saja kalau tidak mau membantu, tapi balasannya juga harus dengan sopan. Meskipun Herman cuma tamatan SMEA, tapi sopan santun itu selalu dipegangnya. Ia percaya menegur kesalahan orang dengan sopan lebih bisa menyadarkan orang tersebut daripada memarahinya. Dan tindakan mengacuhkan orang yang sedang berbicara sama sekali tidak sopan. Herman menunggu truk itu berlalu, tapi truk itu pun cuma diam. Aneh. Tidak mau memberi tumpangan tapi juga tidak mau pergi. Ya, sudah, saya saja yang pergi, batin Herman.
Klik. Pintu truk tiba-tiba terbuka. Hal itu membuat Herman terkejut. Ia maju mendekati truk itu. Dan dengan ragu-ragu mengintip dari tempat duduk penumpang dimana pintu tadi terbuka.
“Pak?” tanya Herman ragu-ragu. Si sopir masih juga diam dengan pandangan lurus ke depan.
“Masuklah,” kata si sopir. Herman terkejut bahwa akhirnya si sopir bisa bicara. Tapi ia juga senang setidaknya tidak perlu berjalan kaki karena tujuannya sangatlah jauh. Ia pun naik dan membenamkan dirinya di atas kursi truk. Pintu truk pun ditariknya keras-keras hingga menutup dan menghasilkan bunyi gedebum yang keras.
“Ups, maaf,” Herman meminta maaf. Tapi sopir itu tidak menunjukkan reaksi. Herman pun memilih diam dan tidak ingin mengganggunya lagi. Siapa tahu kalau si sopir malah akan menuruninya ditengah jalan karena terlalu banyak bicara. Ah, baiknya diam saja. Toh, sudah untung dapat tumpangan. Kalau tidak ia pasti terlambat melapor.
Kring-. Bunyi telepon genggam. Herman buru-buru mengeluarkannya dari kantong celana.
“Maaf. Punya saya.” Ia meminta maaf pada si sopir. “Halo?”
“Halo. Pak Herman?” dari si operator.
“Oh, Non Operator. Ada apa? Saya sedang dalam perjalanan nih,” kata Herman dengan batin sedikit was-was bahwa telepon dari si operator ini menyampaikan kalau ia sudah terlambat melapor. Kalau terlambat kenapa, ya? Apa diusir dari akhirat? Kalau diusir dia mau kemana?
Seolah-olah tahu dirinya sedang sangat terburu-buru, Herman merasa truk tersebut menambah kecepatan lajunya. Herman pun tersenyum, dalam hati berterima kasih pada si sopir. Ternyata bapak ini baik hati juga. Tampangnya saja yang seram, tapi hatinya sungguh besar. Memang benar ternyata menilai orang itu bukan dari luarnya tapi dari dalamnya. Lalu seperti halusinasi saja Herman melihat sopir itu seperti memiliki sayap putih bak seorang malaikat.
“Pak? Pak Herman? Bapak masih disitu?”
“Oh ya, Nona Operator?”
“Bapak mendengar yang saya katakan?”
“Iya Non, iya. Saya dengar. Saya sedang menuju kantor petugas akhirat sekarang. Saya tidak telat kan?”
“Tidak Pak, tidak . Bapak tidak telat. Malahan Bapak seharusnya tidak perlu ke Kantor Petugas Akhirat.”
Herman pun jadi heran.
“Lho? Tapi Anda bilang-”
“Saya tahu Pak. Maaf. Saya yang salah. Tadi saya mengecek data Bapak di komputer, dan ternyata, Bapak tahu tidak?”
Herman memutar bola matanya dan mendengus kesal.
“Tidak tahu, Non. Kenapa?”
“Ternyata Bapak belum meninggal.”
Herman langsung bangkit dari tempat duduknya dan kakinya membentur dashboard. Ia meringis kesakitan lalu segera minta maaf lagi pada si sopir yang masih melajukan truknya dengan kencang.
“Saya belum mati?” tanya Herman senang.
“Belum Pak. Bapak hanya koma,” jawab si operator.
“Terus saya harus bagaimana sekarang?” tanya Herman lagi.
Si nona operator pun kembali memberikan petunjuk.
“Bapak saya sarankan segera kembali ke tempat di mana Bapak pertama kali berada. Saya yakin disana seharusnya sudah menunggu seorang petugas sensus akhirat yang akan membawa Bapak kembali ke dunia Bapak.”
“Ow. Petugas itu menunggu saya?”
“Hanya sebelum 3 jam dari keberadaan Bapak di akhirat.”
“Apa?”
“Iya, Pak. Setelah 3 jam di akhirat dan Bapak belum juga kembali ke dunia maka secara otomatis Bapak akan diterima sebagai WNA, Warga Negara Akhirat. Dan Bapak tidak bisa kembali ke dunia lagi.”
“APA?”
“Iya, Pak. Setelah manjadi WNA, Bapak tidak perlu repot-repot mengurus paspor dan kartu penduduk. Semuanya biar saya yang urus. Kebetulan, jadi saya ada kesibukan, gitu.”
“APAA?”
“Iya Pak…”
“Tidak perlu iya, Pak-iya, Pak lagi! Kamu memang operator lelet,” ketus Herman karena ia sudah terlalu kesal.
“Pak, saya mohon ditolong sekali lagi saja. Tolong antar saya ke tempat semula dimana saya naik tadi ya Pak,” pinta Herman pada si sopir.
“Pak, Bapak bicara dengan siapa?” tanya operator tadi karena HP belum juga dimatikan Herman.
“Bukan dengan kamu!” jawab Herman ketus.
Tapi ia pun tidak segera memutuskan hubungan karena suara nona operator tadi terdengar sedang khawatir. Herman pun jadi sedikit menyesal. Kalau dipikir-pikir, nona operator sudah banyak membantunya. Menemaninya mengobrol. Mengkhawatirkannya. Tidak pantas ia membalas kebaikan orang seperti ini. Herman pun akhirnya meminta maaf.
“Maaf, Non. Saya lupa diri. Saya-…cuma rindu pada istri dan putri saya. Maaf,” kata Herman.
“Bukan, bukan itu Pak. Saya cuma mau tahu, dengan siapa Bapak sekarang berada?” tanya nona operator lagi.
“Er..dengan seorang bapak. Saya menumpang truk bapak ini untuk mengantar saya sampai ke kantor petugas akhirat,” jawab Herman yang menyadari bahwa truk belum juga memutar.
“Eh, Pak. Saya tidak jadi ke kantor petugas akhirat. Tolong antar saya kembali ke tempat semula. Tolong ya, Pak.”
“Pak Herman?” panggil nona operator.
“Ya, Non?” Jawab Herman yang merasa sedikit gelisah karena si sopir tidak juga memutar truknya. Atau jangan-jangan dia budek, ya?!
“Apa kendaraan yang Bapak tumpangi itu truk buah?”
“Iya benar. Bagaimana Nona…”Herman jadi merasakan komplikasi antara perasaan bingung, gelisah, dan takut.
“Oh, Tuhan Yang Maha Esa!” seru si operator yang membuat Herman jadi gelagapan saking takutnya.
“A-ada apa? K-kenapa, Non?”
“Tadi saya membaca data Bapak, Bapak didunia ditabrak oleh sebuah truk buah yang kabur begitu menabrak Bapak, sehingga roh Bapak datang ke akhirat antara mati dan tidak mati.”
“Jadi- maksud anda truk ini yang sudah membunuh saya?”
“Kurang lebih begitulah, Pak,” jawab nona operator.
“Jadi? Apa yang terjadi?” tanya Herman sambil melihat si sopir yang terus saja melajukan truknya dengan kencang.
“Bapak seharusnya tidak bisa bertemu dengan roh mana pun kecuali dengan para petugas akhirat.”
Herman merasa Nona Operator sengaja (atau tidak berani) melanjutkan kalimatnya.
“Dan…, selain petugas akhirat, siapa lagi yang bisa saya temui disini?” tanya Herman sambil merinding. Ia melihat si sopir sekarang tengah tersenyum lebar. Malah samar-samar terdengar suara tawanya yang kecil mengikik-ngikik. Suara Nona Operator menjadi sangat jauh dan hampir saja tidak terdengar. Tapi Herman masih bisa menangkap suaranya.
“Bapak bisa saja, maksud saya, mungkin bertemu dengan…setan.”
“HAA….” Herman berteriak histeris. Wajahnya pucat. Lututnya lemas. Dan tangannya gemetar hebat. Laki-laki di sebelahnya sekarang tidak malu-malu tertawa terkikik-kikik. Malahan sekali-kali ia melihati Herman dengan ujung matanya. Seolah-olah ia itu makanan atau wanita cantik yang baru saja diculik.
“Bagaimana ini? Bagaimana ini? Saya mau dibawa kemana?” Herman tanpa sadar mengucurkan air mata dan keringat dingin.
Si Nona Operator pun berusaha menenangkan kliennya.
“Tenang, Pak. Tenang. Bila tidak segera keluar dari situ, Bapak bukan saja tidak bisa kembali ke dunia, tapi juga akan dibawa ke neraka. Wah, saya tidak bisa bayangkan ada yang tahan berada di neraka. Panasnya itu lho, Pak?!”
“Itu sih bukan tenang namanya!” gerutu Herman. “Pak. Pak setan yang baik. Eh, pak sopir yang baik. Tolong, ampuni saya.”
Herman membuat pose bersujud dengan merapatkan kedua telapak tangannya seperti orang sedang menyembah.
“Saya mau kembali ke anak-istri saya. Pak, tolonglah, lepaskan saya.” Herman mulai menangis.
Sedikit dipengaruhi oleh faktor sedih karena akan masuk neraka, lebih banyak karena ketakutan yang sangat melihat laki-laki sopir truk itu melotot melihatnya dengan ujung matanya dan cekikikan sangat keras seperti mau memakannya. Tidak bisa. Ia tidak bisa ke neraka. Ia harus kembali ke dunia. Mencari nafkah buat istri dan anaknya. Melihat Putri tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang cantik. Bersama-sama dengan istrinya menjadi tua dan menimang cucu. Tidak. Ia tidak boleh mati. Tidak sekarang. setidaknya tidak sampai uang kontrakan rumah selesai dibayar. Herman menghimpun keberaniannya. mengumpulkan sekeping demi sekeping nyalinya yang berantakan oleh cekikikan si sopir. Tangannya meraih gagang pintu dan dengan usaha yang sangat keras menggesernya hingga bunyi kilk. Sekuat tenaga ia dorong pintu itu dan meloncat keluar meski truk sedang melaju kencang. Saat itu terdengar tawa si sopir yang membahana dan lalu perlahan-lahan hilang di kejauhan.
Herman jatuh terguling-guling di jalan aspal. Ia berpikir pastilah lecet disana-sini dan mungkin beberapa tulang ada yang patah. Tapi karena ia berada di dunia akhirat, tidak mungkin ia bisa mati dua kali, kan?! Ia bangkit, mengecek tubuhnya dan mengibas-ngibaskan kotoran yang menempel di bajunya. Eit, aneh, sedikitpun ia tidak terluka. Tidak ada lecet. Tidak ada patah tulang. Ia mengecek kepalanya dengan meletakkan kedua telapak tangan disitu. Juga tidak gegar otak. Wah, sebuah mujizat. Eh, ngomong-ngomong soal mujizat, tinggal berapa menit lagi nih? Argh!!! Harus buru-buru. Herman pun bersiap mengangkat kakinya dan hendak berlari.
“Ke tempat semula!” teriaknya penuh semangat.
“Dengkulmu! Ke tempat semula-ke tempat semula.” Seorang pria mengenakan jas hitam dengan buku ditangan memanggilnya dari belakang.
“Hah?” Herman keheranan dan menoleh ke arah suara tadi.
“Ini tempat semula-mu. Herman kan?” tanya pria tadi sedikit tidak sabaran.
“I-iya,” jawab Herman, bingung. Ia melihat sekitar dan mendapati sebuah rumah berlantai 2 dengan pintu besi yang digeser ke samping dan ia tahu, didalamnya ada sebuah kolam ikan, berdiri dihadapannya. Ini tempatku semula, katanya dalam hati. Aneh, kok bisa tiba-tiba sudah sampai disini.
“Itu karena aku menyuruh temanku menjemputmu,” kata si pria tadi tiba-tiba.
“Eh?”
“Iya- temanku. Yang bawa truk buah tadi.”
“Hah? Itu temanmu? Bukannya setan?” tanya Herman.
“Setan?” Pria itu menggosok dagunya dan berpikir. “Yang aku tahu orang menyebutnya malaikat atau apalah. Kayaknya ada sangkut pautnya dengan maut. Tapi entah ya kalau sekarang dia dipanggil setan.”
Ia memberi kode ‘tidak tahu’ dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
“Ah, sudahlah. Kamu sudah sangat telat. Mau balik ke dunia tidak?”
“Mau. Mau Pak, mau.” jawab Herman langsung.
“Ah, lama sekali saya tunggu tadi. Kayak anak kecil saja berlari kesana kesini. Bikin saya repot saja. Ini. Ditekan. Kamu bisa langsung pulang ke dunia fana.”
Herman mengambil sebuah remote control berwarna biru dengan wajah memerah karena malu.
“Terima kasih,” katanya. Tapi begitu ia melihat lagi, pria itu sudah hilang.
Kring- telepon genggam Herman berbunyi.
“Halo?”
“Halo? Pak Herman? Bagaimana, Pak? Bapak OK?” suara si Nona Operator.
“Oh, Nona. Iya, saya OK. Saya sudah bertemu dengan petugas sensus akhirat.”
“Oh, benarkah? Bapak bisa segera kembali ke dunia Bapak kalau begitu?”
“Ya, begitulah. Saya mau ucapkan terima kasih banyak, Nona Operator, atas semua bantuan dan susah yang sudah Nona berikan,” ucap Herman.
“Ah, sudah jadi kewajiban saya Pak. Semoga Bapak enjoy berada di dunia kami.”
“Wah, enjoy sekali saya, Nona Operator.”
“Wah, syukurlah. Senang bicara dengan Bapak. Kalau boleh, sebelum Bapak pulang, kita habiskan dulu waktu yang tersisa untuk mengobrol. Saya soalnya sudah lama sekali tidak mengobrol. Mau kan, Pak?”
“Mau sekali, Non. Meski tidak bertemu muka, dari suara Nona, saya rasa Nona sangat cantik,” puji Herman.
“Ah Bapak, bisa saja,” tawa si Nona Operator begitu lepas. Tampaknya ia memang sudah sangat lama tidak mendapat teman bicara. Herman merasa senang bisa menyenangkan hati nona ini. Tapi ia juga penasaran akan waktunya di dunia akhirat.
“Eh, Non, kalau boleh tahu waktu saya disini masih berapa menit lagi, ya?” tanya Herman.
Terdengar diam sebentar dan nona operator kembali bicara, “Ah, tidak sampai satu menit kok, Pak. Masih 2 detik lagi.”
Panas kembali menyala di kepala Herman. Semua keleletan si Nona Operator berbenturan di kepalanya dan ingin sekali memarahinya habis-habisan. Tapi hal itu tidak dilakukan Herman. Ia malah langsung menekan tombol remote itu seketika begitu si nona operator selesai mengucapkan kata ‘2 detik’. Dan seketika itu pula suasana disekitarnya berubah jadi putih.
*****************************************************************
“Dasar bodoh.”
“Bego.”
“Dodol.”
“Lelet.”
“Pak?”
“Bodoh.”
“Pak, sadar Pak.”
“Dodol kamu.”
“Pak, Bapak sudah sadar?”
“Bego!”
PLAK!
Herman terbangun. Suasana sekitarnya masih putih, tapi samar-samar bayangan sang istri muncul dihadapannya.
“Rohana?” Herman memicingkan matanya.
“Herman? Oh akhirnya,” sang istri menangis di dada Herman.
“Sudah Rohana. Aku tidak mati,” kata Herman seraya menahan air matanya sendiri.
“Tapi aku khawatir, Man,” ucap Rohana dengan terisak-isak. ” Kamu sudah 3 hari tidak sadarkan diri.”
“Tiga hari? Bukannya cuma 3 jam? Dimana ini?” Herman melihat sekelilingnya berwarna putih. Seorang suster di sebelahnya tengah mengutak-atik alat infus.
“Di rumah sakit. Cepatlah sembuh. Entah mau bayar pakai apa biaya rumah sakit ini,” ucap Rohana sambil duduk disebelah suaminya dan mengelus-elus tangannya.
“Ow, sekarang saja. Aku sudah sehat kok. Lihat!” Herman menunjukkan ototnya dan memutar tubuhnya ke kiri ke kanan.
“Aduh, Man. Kamu baru saja sadar. Nanti kalau ada apa-apa…”
“Tenang. Benar kok, sudah sembuh,” potong Herman. “Ayo, pulang. Ada banyak yang mau aku ceritain ke kamu.”
“Apa?” tanya Rohana.
“Banyak. Makanya kita pulang dulu.”
“Biaya rumah sakit?” Rohana mengingatkan.
“Eh iya. Tenang, aku punya asuransi kesehatan di perusahaan baruku ini, perusahaan asuransi. Tunggu, biar aku telepon.”
Herman menelepon perusahaannya dan menunggu nada sambung dari telepon genggamnya. Seorang wanita yang menjawab dari seberang berkata dengan suara halus.
“Maaf. Nomor yang Anda tuju berada di luar area. Silahkan mencoba beberapa saat lagi. Terima kasih.”
“Ah, dasar operator!” tukas Herman seraya membanting handphonenya ke atas ranjang. Sedangkan sang istri cuma bisa bengong dibuatnya.
ide nya bagus, lucu dan segar!
wah, ceritanya bagus. haha. unik ^^
operator sama penulis sama begonya…. hi hi hi ……..
ahahahahahahah . !
koccak . !
bkiin llg doms doms
Gokil bgt!
Tapi kreatif…
Selamat atas cerpen ini!