KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Jalan Nanas Nomor 13

 

Seruni dan Opi duduk–duduk di kantin sekolah. Mereka berencana untuk be-chatting ria di dunia maya. Tak hanya mereka berdua, Tari dan Vino juga.”Uni, kapan lo mau ke warnet Gambreng Lalala?” tanya Tari antusias.

”Nggak tahu, tuh. Paling juga besok,” jawab Seruni santai.

”Ah, Uni.. Jangan besok. Nanti saja, dong,” sela Vino.

”Vino, gue jadi curiga, deh. Lo mau cari gebetan baru lagi, ya? Ayo, ngaku!” tuduh Tari, pacar Vino, sambil mengaduk–aduk es kopyor favoritnya. Dia melirik tajam, seakan–akan memberi ultimatum keras kepada Vino.

”Ya…. ketahuan deh,” sindir Seruni, ” kalo lo mau selingkuh, jangan bilang – bilang dong.”

”Pokoknya gue marah sama lo sekarang!” tegas Tari.

”Ah Tari, masak gitu aja, lo ngambek? Jangan ngambek dong,” rayu Vino.

Seruni dan Opi hanya tertawa kecil mendengar mereka.

”Jadi, kapan kita ke warnet itu?” tanya Opi setelah menghirup milkshake-nya.

”Kalo ntar abis sekolah. Soalnya kita nggak ada ulangan besok,” jawab Seruni.

”KITA?? LO AJA KALE, GUE IYA!!!!!!!!!!” timpal Vino dan Opi.

Seruni cuma geleng – geleng aja.

”Dasar,” gerutunya pelan.

”Eh, udah bel tuh. Ayo, masuk ke kelas. Ntar gurunya keburu dateng lho,” kata Tari kepada teman–temannya.

”Oh iya, nanti kan ada ulangan Fisika!” ujar Vino.

Seruni dan teman–temannya buru–buru masuk ke kelasnya. Untung masih sempat. Telat lima menit, pasti bakal kena omel guru Fisika paling killer di sekolahnya. Tapi, sayangnya, mereka harus berjuang demi ulangan yang mencekik leher mereka.

*****

 

”Gila tuh, ulangan. Untung aja gue belajar semalem,” gerutu Vino saat di warnet ”Gambreng Lalala” dekat sekolahnya itu.

”Ah, berisik lo! Diem aja dong. Polusi suara tahu!” ujar Opi, teman satu komputer di warnet, ketus. ”Jangan ganggu gue nih, gue lagi chatting nih. Gebetan gue mana cakep lagi. Ntar dia marah lagi kalo gue cuekin, gue yang ajak dia chatting sekarang nih.”

”Lha, emang apa hubungannya sama gue?”

”Lo jadi cowok jangan kelewat bego dong. Pantes lo dapet Tari.”

”Eh, lo tuh ngomong sembarangan. Kalo Tari denger gimana?”

”Gue heran, Tari mau ama lo yang begonya nomor satu di sekolah kita.”

”BERISIK!” seru Tari sambil membuka tirai pembatas antar komputer. Dia melotot ke arah Vino.

”Iya deh,” jawab Vino pelan.

Sementara itu, Seruni senyum – senyum sendiri di hadapan komputer. Nggak gila kok. Nggak gila juga kayak mereka. Cuma sedikit ke-geer-an sama teman chatting-nya yang bernama Hanung itu.

HAI GADIS, BOLEH KENALAN, NGGAK?

boleh, kok.

ASL PLS?

seruni, 15 f jkt

NAMA YANG BAGUS, YA? JARANG LHO ORANG YANG NAMANYA SERUNI SEKARANG. SEKARANG, SEMUA ORANG LEBIH SUKA NAMA KEBARAT – BARATAN.

eh, heh. kakak bisa saja. kalo kakak, asl pls dong.

HANUNG PRASETYO, PANGGIL SAJA HANUNG. 17 M JKT.

wah, sma, ya? Kalo boleh tanya, kok, kakak pake huruf besar semua?

NGGAK APA – APA, KOK. OH, YA, BOLEH TAHU NOMOR HAPE KAMU NGGAK?

kakak dulu deh.

PEPATAH KUNO: LADY’ S FIRST

animal’s behind?

HAHAHAHA

kok ketawa?

LUCU AJA. YA, SUDAH. INI NOMOR KAKAK : 085697XXXXXX

makasih ya kak. Nomor seruni : 085688xxxxx

WAH, TERIMA KASIH YA, GADIS CANTIK.

sama – sama kok, kak.

OH, YA, KAMU SKUL DI MANA?

Smp Pelita Hati. Kakak?

WAH, MASIH KECIL, SUDAH CHATTING, YA?

kakak sendiri juga, kan?

Bla, bla, bla. Seruni asyik dengan teman chatting yang satu ini sampai–sampai mereka harus pulang sore gara–gara menunggu Seruni dan malamnya dia asyik ber–sms ria dengan Hanung

 *****

 

Seruni berjalan malas ke kelasnya. Siswi kelas 3D SMP Pelita Hati itu melemparkan tas Alpen ke atas mejanya. Dia duduk, lalu menyandarkan kepalanya di atas mejanya di sudut kanan belakang.

”Uni, tumben lo loyo? Lo kan biasanya pecicilan?” tanya Opi, teman duduknya, kepada Seruni. ”Kenapa? Ada masalah?”

”Yeah, gue lagi ada masalah. Huh!” jawab Seruni.

”Masalah apa? Cerita dong. Kalo lo nggak cerita, gue nggak ada gunanya dong jadi sobat lo?”

”Ini masalah Hanung, Pi.”

”Hanung teman chatting lo? Emang dia kenapa?”

”Ya ini…..”

Seruni mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, lalu memberikannya kepada Opi. Opi manggut-manggut ketika membacanya.

”Lo yakin Hanung yang sms?” tanya Opi setelah membaca sms itu. ”Trus, lo simpen sms ini biar gue bisa baca?”

”Ya, Opi,” jawab Seruni singkat.

”Aneh ya?”

”Ya. Benar–benar aneh.”

Tak lama kemudian, teman-teman mereka datang menyapa.

”Halo Seruni. Halo Opi,” sapa Tari kepada mereka dari depan.

”Oh hai, Nona Ganjen,” balas Opi.

”Tumben lo pada loyo. Belum sarapan ya?” ledek Tari.

”Udah tuh,” jawab Opi. ”Ngomong – ngomong, mana Vino?”

”Vino? Paling dia ke kantin,” jawab Tari sambil memainkan rambut ikal sebahunya.

”Memangnya lo pada ngomongin apa sih?” tanya Tari bernada centil.

”Uni dapat SMS tuh, dari Hanung. Lo tahu Hanung, kan?” jawab Opi.

”Oh, Hanung teman chatting Uni ya? Isi SMSnya apa?”

”Baca sendiri aja deh.”

Opi menyodorkan ponsel itu kepada Tari.

”Coba gue baca. Oh…Ini…. APA???”

”DHUAR!!!!!!!!!”

”AAAAAA!!!!!!!!”

”Hahahahahaha,” gelak Vino saat melihat ekspresi teman–temannya saat dikejutkan dari belakang.

”KAGET TAHU!!!!!!!!!” teriak Opi saat dia berbalik ke arah Vino. Vino hanya tertawa terpingkal–pingkal.

”Vino rese nih,” protes Tari. “Uh, sebal.”

“Sst… Lo pada berisik banget. Tuh, si Maya melirik sadis ke kita,” bisik Vino sambil mendekatkan telunjuknya pada mulutnya dan menunjuk ke arah Maya.

”Apa ini?” tanyanya sambil merebut ponsel Seruni dari tangan Tari, lalu membacanya.

”Oh ini. Dia sudah gila ya?” komentarnya setelah membaca kertas itu.

TEMUI GUE DI JALAN NANAS NO. 13, YA! JANGAN LUPA, NANTI MALAM JAM SEMBILAN. JANGAN TELAT. GUE HARAP LO DATANG TEPAT WAKTU.

”Hahahahaha,” komentar Vino setelah membacanya, ” gue sih, bisa buat yang lebih greget dari ini. Sayangnya, gue lebih gengsi. Eh Uni, lumayan nih, buat jadi gebetan lo.”

”Maksudnya???? Lo aja kale, Vin. Mending cakep. Oh, ya, lo sok bisa buat yang lebih dari ini, lebih gila, maksud gue. Kirim SMS selamat malam isinya kuntilanak aja lo forward dari SMS gue,” sela Opi.

”Kan buat nakut–nakutin Tari, Pi,” balas Vino.

”Eh sudah, Vino, Opi. Tuh lihat, Pak Prapto sudah datang,” lerai Seruni kepada mereka yang nyaris adu jotos.

Seruni menunjuk ke depan kelas. Pak Prapto sudah berkacak pinggang.

”VINO!!! SOPHIE!!! MAJU KE DEPAN. CEPAT!!!”

Suara Pak Prapto menggelegar, sehingga membuat Vino dan Opi terpaksa menutup telinga mereka dengan telunjuk mereka.

Busyet deh, ini guru. Bakalan kena hukum dan ceramah panjang lebar,nih, pikir Vino.

Semua ini gara–gara SMS Hanung, pikir Opi.

ANGKAT KAKI KANAN DAN PEGANG KUPING KALIAN!!! CEPAT!!!” perintah Pak Prapto.

Siap atau tidak, hadapilah hukumanmu, hibur mereka dalam hati.

Sekian lama waktu berlalu. Bel istirahat berbunyi dan aura panas keluar dari dalam badan Vino. Dia kesal setelah diceramahi panjang lebar oleh guru yang super galak itu kedua setelah guru Fisika mereka.

”Sumpah deh, sebel gue!!!” gerutunya saat merebut dan mencekik boneka Teddy Bear milik Tari. Kontan saja Tari menjerit–jerit dan meminta Vino untuk berhenti mencekik boneka keramatnya. Tari berusaha merebutnya dan berhasil.

” Kalo sebel, jangan sama Sweety dong,” ujarnya sambil merebut boneka itu dari tangan Vino dan bersungut–sungut, ”Kamu tidak apa – apa, kan, Sayang?”

”Mulai deh, keganggu pikirannya gara–gara pacaran sama Vino,” celetuk Opi saat melihat Tari menimang–nimang bonekanya. ”Mulai deh, jadi Mama Boneka alias MABOK.”

”Opi!!!”

”Hey, hey, Udah ah,” lerai Seruni, “ ribut melulu.”

“ Ayo kita susun rencana untuk nanti malam jadi penyelidik kebenaran SMS Hanung gitu,” ajak Vino kepada dua jomblowati ( Opi dan Seruni ) itu. ”Begini…..”

Vino memberikan strategi yang tepat kepada teman–temannya. Vino memang handal dalam hal ini. Secara dia sudah pernah mengalaminya.

”Udah ngerti?” tanya Vino.

Tari, Seruni, dan Opi mengangguk setuju mendengar rencana itu.

****************

 

 

Mereka berjalan beriringan dengan Vino sebagai pimpinan. Mereka mengendap–endap menuju ke Jalan Nanas No.13. Vino, Tari, Seruni, dan Opi mengintip Jalan Nanas No.13 dari kejauhan.

”Jam berapa, Pi?” tanya Seruni kepada Opi.

”Jam sembilan malam kurang satu menit,” jawabnya saat melirik arloji di tangan kanannya.

”Pi, aku ke sana dulu ya,” ujar Seruni sambil melangkah pergi. Dia yakin bahwa geng LSM ( Love Sea Monkey ) – nya tak akan meninggalkan dia sendiri.

Seruni pergi ke Jalan Nanas No.13, sedangkan Vino dan kawan-kawan mengawasinya dari kejauhan.

Sudah jam sembilan nih. Sial, tidak ada apa – apa, gerutu Vino dalam hati. Jangan–jangan , ulah orang iseng yang ngaku Hanung!

Seruni memandangi sekelilingnya, tidak ada apa–apa. Dia melihat ke depan. Hanya sebuah rumah kosong. Rumah besar bercat hijau pupus dan berlumut itu sepertinya sudah terlantar belasan tahun.

”Cari siapa, Non?” tanya seseorang dari belakang Seruni.

Seruni kaget, lalu berbalik ke arah orang itu

Om-om nih, tanya Seruni dalam hati. Kayaknya gue kenal, tapi siapa?

”Cari yang namanya Hanung,” jawab Seruni sambil cengengesan.

”Hanung Prasetyo ya?”

”Ya Om.”

”Itu saya, Non.”

“Ah masa? Dia kan masih 17 tahun.”

”Ya, 17 tahun setelah mati.”

”Jangan bohong, Om!”

”Saya serius kok.”

”Om nggak menakut–nakuti saya kan?”

Dalam hati Seruni, dia sudah sangat ketakutan dan berharap itu tidak benar. Kalo bener, trus gimana? Ini kan udah malem.

”Buktinya?”

”Ini.”

Belum sempat orang itu menunjukkkan buktinya, Seruni minta diri, lalu meninggalkan orang itu sendiri. Dia kembali ke tempat teman–temannya. Teman- temannya mengerubungi Seruni.

”Uni, tadi ngomong sama siapa?” tanya Opi penuh selidik kepada Seruni.

”Sama orang yang ngaku Hanung. Katanya, dia sudah meninggal 17 tahun yang lalu. Aneh banget kan?” jawab Seruni santai.

”Lo tadi bicara sendiri tahu,” sela Vino.

”Eh, masa?”

”Iya.”

Teman – temannya mengiyakan ucapan Vino tadi. Tiba–tiba, bulu kuduk mereka berdiri.

”Mbak…..Mas…..”

Seseorang memanggil mereka dari belakang mereka. Mereka menoleh dan yang memanggil mereka adalah……………POCONG!

”PO…PO…POCONG!!!!!!!” jerit mereka bersamaan.

Kontan saja mereka lari tunggang–langgang meninggalkan tempat itu. Rupanya mereka belum tahu kalau tempat itu adalah tempat angker. Tempat penemuan seorang mayat yang konon identitasnya adalah Hanung Prasetyo. Dia ditemukan di rumah tua itu 17 tahun yang lalu dan kematiannya masih menjadi misteri sampai sekarang.

Memang isu itu benar, tapi mereka nggak tahu kalo yang jadi pocong itu teman sekelas mereka, Bram.

”Hahahaha!!!! Makanya jangan cepet percaya sama orang yang baru dikenal, ” tawa Bram terpingkal–pingkal.

Maya yang ada di sampingnya juga ikut–ikutan tertawa. Mereka nggak sadar kalo ada kuntilanak di belakang mereka.

”Jangan iseng sama temen sendiri dong,” tegur Kuntilanak itu.

Mereka berdua menoleh ke belakang, tepatnya ke arah pohon beringin besar.

Glek!

”Ku….. Ku…. Kuntilanak!!!!!!” jerit Maya dan Bram sambil menunjuk ke arah kuntilanak itu, lalu lari tunggang–langgang.

”Ih…ih….ih……,” tawaKkuntilanak itu.

Maya dan Bram lari maraton. Maya sudah jauh di depan, sedangkan Bram tertinggal jauh di belakang. Dia terhalangi oleh kafan yang dia pakai untuk cosplay jadi pocong.

Bruuk!!!!!

Bram jatuh terjermbab. Saat dia bangkit, di hadapannya ada……..Hanung! Hanung jadi pocong!

” POCONG!!!!!!!!!!!”

 

2 Responses to “Jalan Nanas Nomor 13”

  1. on 05 Jul 2008 at 13:47pensi_jambi

    hohoho…. ucul-ucul……..

  2. on 06 Aug 2008 at 09:28layla

    ceritanya menarik……………
    cm klo bs di tmbh byar jadi lbh seru…………..

Tinggalkan Komentar