KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Aku pagi ini bangun dari tidurku. Kulihat adikku masih terlelap tidur di sampingku. Hawa dingin pagi hari sangat terasa sekali menempel disekujur tubuhku. Aku pun bangun dan membuka daun pintu jendela yang terbuat dari dus bekas minuman mineral. Kulihat Ibu sedang memasak sebungkus mie instan di tungku api yang dibuatnya sendiri dari tumpukan batu bata.

“Pagi bu….!”

“Oh ya,  pagi, kamu sudah bangun to. Ayo ini sarapan mie lagi, sisakan untuk adikmu juga ya,”jawab Ibu dengan wajah cerianya.

Aku pun lalu menuju ke kali di sebelah gubukku untuk cuci muka dan akhirnya mandi. Setelah kurasakan dinginnya air yang menerpa tubuhku aku pun merasa sedikit segar, matahari pun mulai menampakkan sinarnya. Mie instan yang telah matang dan agak dingin kumakan sedikit, sisanya untuk dimakan adikku. Sambil duduk di teras gubukku, aku melihat anak-anak sebayaku memakai seragam berjalan sambil bersenda gurau menuju sekolahnya. Ahhhh, pedih rasanya melihat mereka dapat bersekolah sedangkan aku tinggal terdiam di rumah.

Bapakku telah meninggal 5 tahun yang lalu karena terjatuh dari gedung yang tinggi saat dia bekerja sebagai buruh. Ibuku saat ini hanya bisa mengais sampah dan menjualnya untuk makan kami sehari-hari. Aku menunggu dan mengajak bermain adikku di rumah yang sebetulnya lebih pantas disebut gubuk. Ketika hari mulai petang ibu pun pulang ke rumah sambil membawa makanan sebungkus nasi dengan lauk tempe, kami pun akhirnya makan bersama. Malam mulai datang, daun pintu jendela yang terbuat dari dus minuman mineral pun kututup. Aku terbaring disamping adikku dan ibuku. “Ahhhhh…..”

Itulah rutinitas kehidupanku yang harus kujalani setiap hari. Meskipun begitu, setiap hari sebelum aku tertidur di malam hari, selalu dan selalu kulontarkan secara lirih, “Tuhan, terima kasih atas karuniamu hari ini dan kupercayakan hidupku selalu di tangan Mu.”

9 Responses to “Rintihan Hati Seorang Anak”

  1. on 10 Jun 2008 at 07:58hary

    KEPANJANGAN!!

  2. on 10 Jun 2008 at 20:25robin

    Abraham bagus banget ceritanya. oya aku pengen angkat cerita ini menjadi film indie. hubungi gue di no. ini 03177678319. boleh ga cerita ini gue angkat menjadi film indie

  3. on 11 Jun 2008 at 11:02Eva ANDRIANI

    Aduhhhh……….ceritanya membuat kita yg baca jadi terharu.walaupun singkat kita udah bisa mengerti maksud dari cerita itu……. terus berkarya ya …aq tunggu cerpen yg lain ny dr kamu………..cerpen kamu aq ceritain sama dosen dan temen2 aq…

  4. on 11 Jun 2008 at 11:04Eva ANDRIANI

    ceritanya sedih banget!!!!!!!!

  5. on 04 Aug 2008 at 15:09zia

    ITU CONTOH YANG BAGUS UNTUK DITIRU KITA HARUS TETAP BERSYUKUR KEPADA SANG PEMBERI REZEKI APAPUN YANG KITA PUNYA

  6. on 15 Aug 2008 at 13:14abraham

    Terima kasih atas komentar, saran beserta kritikan yang telah anda sampaikan disini. Saya memang bukan penulis handal, tetapi saya mencoba belajar untuk bisa menulis sebuah cerita.
    Buat robin , kalau memang cerita diatas mau dibuat film indie, silakan lho….gratis….kok….he he he.

  7. on 24 Oct 2008 at 00:10awe

    kau tabah
    kau kuat

  8. on 24 Oct 2008 at 00:30awe

    cerita mu menguatkan aku dalam hidup ini

  9. on 13 Dec 2008 at 20:38ARYNDA

    CERITANYA bagus. cuma, kurang panjang doang. sebaiknya, akhirannya tuh. dia bahagia donk. karena, nggak sepenuhnya juga kan, dia hidup kayak gitu2 aja.

Tinggalkan Komentar