Grasse Arini 2
Juni 7th, 2008 by Fauzan Masri. Z
Ayo Pak, kita turun,” kata orang yang lebih muda sambil berteriak memanggil Arini. Tanpa mereka duga Arini langsung kaget mendengar namanya dipanggil, senyum kegirangannya terhenti seketika, wajahnya pucat pasi dalam posisi bersiap untuk kabur. Ternyata peristiwa tadi malam masih menyisakan trauma bagi Arini. Trauma dengan suara orang dewasa yang memanggil namanya.
Matanya mengawasi, mencari-cari asal suara itu. Terlihat oleh Arini dua orang dewasa sedang melambaikan tangan dan Arini pun membalas lambaian tangan orang itu lalu berteriak, “Alo…,” sambil tersenyum.
Dua orang itu masing-masingnya mengikat golok di pinggang sambil memegang tongkat panjang. Merupakan penampilan buruh perkebunan kelapa sawit yang sudah tidak asing lagi di mata Arini.
Rusa jantan tanpa tanduk. Binatang seperti inilah yang menyebabkan dua orang itu berada dipinggir hutan, hendak masuk ke dalam hutan untuk melihat perangkap-perangkap yang mereka pasang di dalam hutan, tapi malah bertemu dengan Arini. Selain bertugas mengumpulkan sawit mereka berdua juga sekaligus sebagai supir truk yang mengantarkan sawit hingga ke pelabuhan. Mereka berburu rusa jantan tanpa tanduk karena harganya sangat mahal di pelabuhan.
Dari pelabuhan, rusa itu akan dieksport ke kota Grasse di Prancis untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan parfum. Layaknya seorang pria tanpa pedang yang memakai parfum kualitas nomor satu dari kota Grasse, hendak menggoda wanita idaman Achiles seorang pria perkasa pemimpin perang. Sama misalnya dengan rusa jantan tanpa tanduk yang tak punya tanduk untuk berkelahi, tak punya pedang untuk memenangkan laga, tapi dia punya aroma jantan yang sanggup membuai birahi para betina hingga jatuh hati padanya dan siap untuk dikawini.
Sepasang kekasih sedang asik bercumbu di atas sebatang ranting pohon, salah satu menindih yang lainnya, berdempetan lalu berhamburan terbang ketika pohon tempat burung-burung itu bertengger diguncang oleh Arini. Arini melihat sebuah nangka hutan yang sudah matang dan harumya sangat menyengat hidung, tepat berada di atas pohon ringkuh yang sedang diguncangnya.
Pohon ringkuh itu diguncang Arini berulang-ulang kali, namun nangka yang diharap tak kunjung jatuh.
Ternyata Arini salah mengira pohon. Yang diguncangnya bukanlah pohon nangka, melainkan hanya pohon yang berdempettan dahan dengan pohon nangka.
Dua orang dewasa tadi hanya tertawa melihat tingkah Arini, mereka terkesan hanya seperti menonton. Setelah selesai mencuci baju Arini yang kotor karena bercak merah buah arbei, lalu salah satu dari mereka menjulurkan tongkat panjangnya, mengais nangka bulat lonjong itu, dan nangka hutan itupun jatuh tepat di depan Arini,
“Asik, makan lagi,” kata Arini senang, tapi wajahnya jadi kebingungan begitu melihat nangka bulat lonjong itu dimasukkan ke dalam tas, bukannya diserahkan ke Arini.
“Arin nggak boleh makan buah lagi nanti perutnya sakit,” kata orang itu sambil mengeluarkan sebungkus nasi dari dalam tas dan menyerahkannya pada Arini.
Arini pun hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya dan menyambut sebungkus nasi itu, “Makasih Kak Uli,” katanya berbasa-basi.
Seseorang yang lebih muda itu bernama Ruly, tapi Arini lebih suka memanggilnya Uli. Yang lebih tua adalah Pak Mamat. Mereka duduk bersama Arini di atas batu di tengah sungai yang dangkal di suatu pagi yang cerah.
“Nama lengkapnya Grasse Arini, bapaknya orang Prancis, menikahi anak Pak Malak atau ibu Arini ketika mereka sama-sama bekerja di Irak,” kata Pak Mamat sambil mengusap-usap kepala Arini yang duduk sambil makan di sampingnya tanpa baju.
“Pantas saja kulitnya beda sendiri dari anak-anak yang lain di kampung ini. Arin kenapa bisa sampai ke sini?” tanya Ruly pada Arini.
“Takut, di rumah ada orang jahat,” jawab Arini sambil mengunyah sepotong ayam goreng dan menyuap nasi bungkusan daun pisang.
“Arin kenal orang jahat itu?” Pak Mamat mencoba menyelidiki, tapi Arini hanya menatap diam sambil menggelengkan kepalanya.
Hampir semua orang di kampung itu mengetahui bahwa Arini tinggal seorang diri setelah kematian kakek dan ibunya yang juga meninggalkan Arini semasa dalam susuan. Tapi tidak untuk Pak Mamat, dia tahu betul bahwa yang menjadi penadah rusa jantan tanpa tanduk yang dijualnya di pelabuhan adalah orang-orang suruhan ayah Arini dari kota Grasse di Prancis.
Mas…ato siapa lah!? kenapa nggak diterusin? baguuuuusss lageeee. terusin aja, biar saya baca lageeeeeeeeee. heeeeeeeeeeeheeeeeeeeeeeeeeeheeeeeeeeee
Buat para peracik dan penyeduh secangkir cerita di Kolomkita yang ingin menikmati seutuhnya seduhan cerita Grasse Arini silahkan klick nama pengarang. Jika banyak yang memesan, Insaallah cerita ini akan ditambah secangkir lagi.
waw,lage dunx.. !
bagoes lg..
ms g dtrzin ceh..
bsk dpnjgn crtN YUA..
wah………….. iya nih… mask cerita cuman di tenggorokan aja. kan gak kenyang
wah, mo lanjut ke nomor 3 dulu ya
hhehehe
jadi tahu asal-usul Grasse deh
btw, ada something menarik dg kota ini, Zan?
Saya iri deh! Kok bisa nulis sebagus ini …….
cool banget mas, kalo leh tahu apa mas Fauzan dah pernah ke prancis? trus kanapa ceritanya ga dibukuin aja kan bagus tuh ceritanya klo dibuat novel abis itu dibukuin, siapa tahu laku dipasaran n mas fauzan bisa terkenal deh, terkenalnya ga cuma dikolom kita aja iya kan. nanti klo dah terkenal jangan lupa sama aku ya