Udara dingin lautan Atlantik tercium sampai ke tempat di mana kuberdiri saat ini. Hawanya sungguh berbeda ketika aku masih berada di dalam pelukan negeri nenek moyang asliku, Indonesia. Aku masih ingin beradu dengan alam untuk mencari di mana titik pertemuan antara angin utara Atlantik yang dingin dan angin hangat yang berhembus dari Laut Mediterania di atas bekas tanah kekuasaan Romawi itu. Dan di sanalah, aku bertemu dengannya. Kota demi kota kami lalui bersama dengan senandung lagu yang seirama mengikuti gontai langkah kami. Bunga daffodil dan raspberry mengiringi perjalanan sampai suatu hari aku kehilangan dia. Di negeri inilah, kami juga berpisah.
“Nunca olvidaré (Aku tidak akan pernah melupakanmu),” bisik gadis itu lirih sesaat sebelum dia pergi jauh ke suatu tempat yang memaksanya pergi ke sana. Air mataku sempat tertahan tapi hatiku menyuruh untuk ikhlas. Aku tak kuasa menahan seorang gadis yang memutuskan untuk pindah karena orang tuanya menjodohkannya pada seorang lelaki yang lebih baik dariku. Dan aku tahu bahwa perasaannya bertolak belakang dengan keinginan orang tuanya. Lalu kami berpisah, dan dia tidak mengatakan ke mana akan pergi.
Sekarang aku masih berdiri di tepi sungai Guadalquivir yang membelah negeri Spanyol. Sudah berabad-abad lamanya sungai itu menjadi saksi sejarah peradaban bangsa Basque, Catalan, and Galician. Namun kini gilirannya menjadi saksi bisu cinta dua orang insan berbeda bangsa yang ditakdirkan bersama sebelumnya. Kudengar gemericiknya yang mengalir seirama dengan detak jantungku. Aku yakin bahwa tidak jauh dari sana adalah pertemuan titik udara hangat yang menghubungkan pantai utara Huelva Cadiz dan selat Gibraltar. Dan di sanalah, kami bertemu.
Pohon Agatis damara berumur hampir satu abad bertengger menghadap sungai menjadi penunggu abadi dan sekaligus sebagai prasasti dari cinta kami. Di atas kulit batangnya terukir dua buah nama yang menandakan bahwa cinta kami akan abadi. Namun kini cinta itu terkikis seperti Ruinas de Itálica yang dimakan usia.
Pikiranku merayap menjelajahi dimensi dua tahun yang lalu, di mana aku dan dia berpetualang bersama. Di Seville, Granada, Cordoba, Andalusia, semuanya pernah kami kunjungi. Aku masih ingat ketika kami berpegangan tangan di depan Iglesia de la Caridad dan beberapa katedral tua di Seville. Menuju Cordoba, kita mengadukan semua petualangan ini kepada Sang Khalik di Mesjid La Mezquita. Lalu menelusuri bangkai bangunan Medina-Azahara yang sudah tak beratap.
“Te quiero, siempre y cuando el río llevar el agua (Aku mencintaimu sejauh sungai itu membawa airnya),” kalimat itu meluncur dari seorang gadis Spanyol berdarah Catalonia. Dan saat itu pula, aku berbisik ke telinganya, “Te quiero (Aku mencintaimu).”
Suara gemericik air membangunkan lamunanku. Aku begitu terbuai sampai-sampai tak ingin beranjak lagi dari padang lavender yang sekarang menjadi permadani tempat dudukku. Aku tak tahu mengapa. Mungkin kenangan yang terukir di hati ini yang membuat padang lavender menjelma menjadi Alcazar istana Reyes Cristianos tinggal, seolah-olah aku telah menemukan singgasana untuk menikmati sisa hidupku.
Siempre y cuando el río llevar el agua, kalimat itu terus berdengung di kepalaku.
Tiba-tiba otakku tersentak. Ada yang janggal dari kenangan yang telah diberikan oleh gadis belia berparas latin itu. Aku memejamkan mataku erat-erat. Kalimat yang tadi sempat singgah di benakku kupaksa masuk kembali untuk menganalisisnya, “Te quiero, siempre y cuando el río llevar el agua“. Aku mencintaimu sejauh sungai membawa airnya. Sepertinya aku tahu apa maksud dari semua itu.
Seraya tubuhku digerakkan dengan remote control, aku langsung bangkit dari ribuan lavender berwarna ungu dan menghambur turun ke jalan setapak sejajar sungai. Sebisa mungkin aku berlari menyisir angin sore yang bergerak berlawanan arah denganku. Yeah, aku tahu apa maksud dari kalimat itu. Begitu bodohnya aku hingga bisa membiarkan pesan itu terkungkung lama di dalam botol yang berlaku sebagai tempurung kepala yang berisi otak bodohku ini.
Dia menyampaikan pesan bahwa dia mencintaiku sejauh sungai membawa airnya. Tentu saja! Sekarang dia ada di suatu tempat yang tidak jauh dari sini. Tapi yang jelas aku tahu bahwa air yang dibawa sungai ini berujung di suatu desa bernama Bonanza. Di sanalah dia menungguku.
Napasku naik turun ketika sungai itu mengarahkanku pada beberapa gunduk bukit, memaksaku untuk mendaki, lalu turun, dan mendaki lagi. Las Marismas* telah menungguku di sana, dan aku akan mencari cintaku yang sudah lama aku pendam.
“Esperar de mí, mi amor! Voy a estar allí. Te quiero!! (Tunggu aku , Sayang! Aku akan menjemputmu. Aku mencintaimu),” teriakku lantang ditemani arus Guadalquivir yang tenang, “TE QUIEROOOOO!”
* Area rawa-rawa di ujung sungai Guadalquivir
Good…
Alur ceritanya mengalir dengan indah, serasa bisa membayangkan nuansa alam di Spanyol. Overall, keren banget pokoknya…
Kereen..^^
alur ceritanya simple sebenarnya tapi cara membawakannya bagus banget. Cara gambarin suasana alamnya dapet banget feel-nya.
sayang koq critanya cuma sampe sana..setidaknya sampe d gambarkan akhir kisah dua orang itu. Apa bener cinta mereka akan bersambung lagi….? ato malah sang gadis telah d nikahkan oleh orang lain? Heheehhe ^^
tulis lagi yang lain, Riek!! Mungkin bisa dikumpulin di satu blog khusus cerpen? Huehehehe…
Btw, sungai itu bukannya berujung ke laut? Trus, ngambil dari mana kalimat2 spanyolnya?
Riek, romantis…
Teruskan kegiatan mu Amigo, gunakan ke-2 belah otakmu buat work & art… and you’ll find peace.. ganbatte
Kereeeeeeen ….
Two thumbs up deh pokoknya!
Pembawaan dan kosakatanya indah, juga kaya akan vocab.
Kayanya ceritanya emang sengaja dibikin ngegantung gitu ya??
Dan aku juga suka cerita yang ngegantung, it means endingnya bisa diimprovisasi sama pembaca sendiri, bukan penulisnya…
Jadi ga cuman penulisnya yang kreatif bikin cerita, pembacanya juga ikut diajak kreatif supaya bisa mengira-ngira gimana ya ending yang bagus dan keren???
riekkkkkkkkkkkkkk…
gila banget tulisanmu…
bener2 g geje..
romatis banget…
g nyangka, bisa romatis juga,
tulisannya bisa gambarin negara spanyol.
kerennnnn…
jd pingin ke spanyol.
btw, Akhirnya ceritanya gimana?
pertanyaan selanjutnya : itu pengalaman pribadi ya??????????
puitis banget… very romantic

soal geografi nya berapa lama dipelajari?
Mmmm …. ada sedikit pengalaman juga sih, tapi aku lukiskan ke dalam kehidupan lingkungan Eropa, makanya jadi terinspirasi untuk membuat ide cerita ini, hehehehe
Wow. Deskripsinya sangat mengena. Hanya saja agak rancu mengenai masalah akhir. Bukankah si gadis dijodohkan dengan lelaki lain? Lalu bagaimana nasib si aku?
Overall, tulisan ini top dah
lah kok nggantung…..
hiks….ga suka cerita nggantung…
tapi romantis loh……
ih … eriek geje bisa ternyata romantis juga…..
aq akui
yang ini keren
bisa juga ya kaw….
jadi ingin menulis….
hiks2….
deng deng deng
bagus sih…
kalau kata aku sih…ringkas…dan compact
hmmm….
apa ya…
gitu deh
hehehe, tapi oke koq
Woww.. Masterpiece Eriek, keep writing, deskriptif n soo..romantic .. eniwei.. ini pengalaman pribadi kah ? kayaknya bukan deh .. kalo yang ini >> Bandung Got Me Crazy!, kayaknya iya.. heheh, Piss..:D
haha,,,,
bahasanya,,,ga kuat dehhh,….
jangan dipraktekin ya,,,bisa muntah ntar..
hehe,,pizz yooo….
heuu,,jadi penasaran sama endingnya itu lho,,,
kamu bisa bahasa spanyol juga niy??
yang koment banyak juga,, aku ikutan yah… ceritanya tentang apa???
wah kereeeeeeeeeeen,
jadi pengen kesana…….
btw, emang bahasa Spanyol tuh bahasa yang paling seksi dan romantis dueh ….
aaaah, tyt eriek romantis jugaaa.. gak nyangka deeeh :p
aku paling suka cerpen yang ini rieeek :p tapi.. yeah.. nggantung lagi. ugghhh… >.
nambahin lg ah.. ga sengaja keputus tuh yg di atas :p
jadi pengen baca novel buatanmu nih ^^ hehehe…
(buset, kamu bisa brapa bahasa, riek? atoooo mengandalkan altavista nih. wkwkwkwkw…)
www.yahoo.com