KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

2070

Maarschkaff, 12 Maret 2070

Perlahan senja mulai menyelimuti ibukota Maarschkaff. Malam yang gelap pun semakin menghantui kota kecil tersebut. Matanya masih awas untuk berjaga di posnya. Revolver di tangannya terus siaga. Sesekali ia menyeka peluh yang bercucuran di dahinya. Suasana malam itu sangat mencekam. Sudah dua hari terakhir ini tiga belas orang rakyat sipil mati tertembak. Ia sendiri nyaris tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi di kota itu. Satu-satunya yang ia sadari hari itu adalah ia harus siaga penuh di posnya.

“Lapor Kapten Rizaad! Anda dipanggil ke pangkalan! Terjadi penyerangan di distrik A titik A2.” Seorang prajurit dengan terburu-buru datang menghampirinya.

“Berikan balasan, saya segera berangkat!” jawabnya.

Sepanjang jalan kota Maarschkaff terlihat mati. Jalan yang ia susuri sangat gelap. Tak ada lampu listrik untuk penerangan jalan. Padahal setidaknya ia butuh waktu empat jam dengan berjalan kaki untuk sampai ke pangkalan udara. Kendaraan darat semacam mobil atau motor menjadi barang langka yang mahal sampai militer pun tak sanggup untuk menyediakan armada tersebut dalam jumlah banyak. Karena energi untuk bahan bakar kendaraan tersebut sangat terbatas.

Dua orang prajurit ikut mengawalnya di belakang. Setelah lelah berjalan selama satu jam. Ia memberi kode untuk berhenti beristirahat sejenak. Diamatinya sekeliling untuk memastikan mereka berada di tempat yang aman. Setelah dirasa cukup aman lantas ia duduk berselonjor. Melemaskan otot-otot kakinya yang sedikit tegang.

Beberapa meter dari hadapannya berdiri sebuah bangunan yang sudah setengah hancur karena dibom. Bangunan yang dulu tinggi menjulang itu sepuluh tahun yang lalu dikenal sebagai Monumen Nasional. Namun, kini tak lebih dari puing-puing kehancuran. Andai bangunan itu bisa bicara. Tentu dia akan mengutuk orang yang telah menghancurkan dirinya. Ia kembali melamun, membisu dalam diam. Cerita kakeknya berpuluh tahun lalu kembali membayang di ingatannya.

Enam puluh tahun yang lalu …

Terjadi kerusuhan hebat di Jakarta pasca penembakan presiden. Penembakan terjadi tepat tanggal 17 Agustus 2010 saat presiden menghadiri upacara kemerdekaan RI. Isu mengenai konspirasi pembunuhan presiden yang melibatkan beberapa suku dan etnis di Indonesia semakin membuat keadaan bertambah genting. Perang antar suku pun tak bisa dielakkan. Adanya intervensi asing yang konon katanya hendak membantu memulihkan konflik di Indonesia malah membuat keadaan jadi tak menentu. Masalah yang dihadapi Indonesia menjadi semakin kompleks.

Belum selesai dengan masalah politik. Indonesia kembali diuji dengan masalah lain. Bencana alam yang dialami dunia tahun 2018 membuat negara-negara di dunia kelabakan. Resesi ekonomi dunia pun terjadi. Tak terkecuali di Indonesia. Gempa 9,0 skala ritcher yang terjadi di sepanjang Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara membuat negara benar-benar berada di ambang kebangkrutan.

Lambatnya penanganan pasca gempa serta penyalahgunaan dana bantuan gempa membuat para korban protes. Aksi turun ke jalan mendemo pemerintah kembali marak. Isu perbedaan suku dan wilayah pun semakin gencar setelah melihat Pulau Jawa mendapat penanganan ekstra ketimbang pulau-pulau lain yang mengalami kerusakan lebih parah dengan korban yang lebih banyak.

Dana bantuan asing yang diterima pemerintah juga makin membuat negara terjepit. Hutang luar negeri terus membengkak. Alternatif pemerintah dengan menjual beberapa pulau kecil serta beberapa aset negara untuk menutupi hutang luar negeri mendapat kritikan keras dari masyarakat dan para kritikus ekonomi.

Kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari yang disiarkan di televisi. Angka kriminalitas di Jakarta dan kota-kota besar lainnya meningkat tajam. Di wilayah-wilayah terpencil, kasus busung lapar banyak ditemukan. Adapun kaum-kaum berduit memilih untuk lari dari Indonesia setelah melihat keadaan negara yang makin menyedihkan.

Kondisi sosial, politik, dan ekonomi Indonesia yang terus-menerus tak menentu memicu terjadinya kerusuhan. Intervensi-intervensi asing di bidang ekonomi semakin membuat Indonesia terpuruk. Hingga akhirnya sepuluh tahun kemudian kaum-kaum separatis memaksa pemerintah daerah untuk memisahkan diri dari Indonesia. Satu-persatu pulau-pulau terbesar di Indonesia membentuk pemerintahan sendiri. Sampai akhirnya membangun negara sendiri.

Satu-satunya pulau yang masih bertahan ialah Pulau Jawa. Namun, Jawa pun ikut mengalami pergolakan. Perlahan nama Indonesia terkubur dan berganti nama menjadi Republic of Java. Ibukota negara yang dulu bernama DKI Jakarta diganti menjadi Maarschkaff. Diambil dari nama seseorang berkebangsaan Belanda, Edwin Johan Maarschkaff yang berjasa membangun kanal banjir di Jakarta.

Sayangnya walau kini nama Indonesia hanya tinggal kenangan. Konflik di wilayah bekas negara tersebut belum juga berakhir. Perang masih terus berlangsung hingga kini.

“Kapten Rizaad! Kita sudah hampir lima menit di sini. Waktu kita tak banyak!” seorang prajurit menyadarkan lamunannya.

“Oh iya… maaf. Mari kita berangkat sekarang!” ujarnya. Ia segera bangkit meneruskan perjalanannya.

Suasana di Pangkalan Udara Militer Halim tampak hiruk-pikuk. Satu batalyon pasukan berjaga penuh di gerbang depan. Beberapa pesawat tempur juga tampak siap di landasan. Setelah beristirahat sebentar. Ia pun segera diantar menuju ruang komando. Ia melewati rumah sakit kecil yang berada di pangkalan militer tersebut. Puluhan prajurit tergolek lemah di bangsal-bangsal rumah sakit. Tak sedikit dari mereka yang kehilangan anggota tubuhnya akibat perang. Ia menatapnya dengan miris.

Ia terus berjalan menuju ruang komando militer yang berada di lantai dua. Di ruangan berukuran enam puluh meter persegi itu, dua orang pria yang tampak seperti pejabat militer sedang berdiskusi panjang lebar. Satu orang lagi sedang mengawasi keadaan dari layar plasma berukuran 40”. Ia menatap ketiganya dengan bimbang.

“Rizaad!!! Akhirnya kau sampai juga, Nak! Tenaga dan otakmu sangat dibutuhkan saat ini,” sapa salah satu pria yang tadi sedang berdiskusi.

“Ada apa, Ayah?” tanyanya.

“Ayah sedang mencoba menyusun strategi dengan Jendral Rahardian dan Mayjend. Maurisman,” ujar pria tersebut sambil tersenyum.

Ia menatap pria yang berdiri di hadapannya itu dengan tatapan kosong. Pria yang ia panggil Ayah tersebut tak lain adalah sang pemimpin negara, Presiden Rizael Dimar. Dua orang yang bersamanya adalah menteri pertahanan dan panglima AU. Raut wajah ketiganya terlihat sedikit gelisah. Ia mencoba memahami mengingat peperangan yang tak kunjung usai.

“Kau akan memimpin penyerangan ke wilayah Utara, Nak! Kita akan kirim empat pesawat tempur Shutter X untuk menggempur Borneo!” seru ayahnya.

“Ayah…,” desisnya.

“Sementara kau dan pasukanmu menyerang ke wilayah Utara, Letkol. Suharman dan pasukannya menyerang ke Timur,” lanjut ayahnya.

“Ayah…,” desisnya lagi.

Namun ayahnya terus bicara menyusun strategi-strategi baru untuk penyerangan ke negara-negara musuh. Bantuan militer dari Uni Eropa cukup untuk membantu pertahanan militer negara. Ia terus menatap ayahnya penuh harap.

“Ayah!!!” teriaknya. Sang ayah langsung berbalik menatapnya heran.

“Kapan perang ini akan berakhir?!” ia bertanya lantang.

“Sampai mereka tunduk pada kita!!! Kau ini kenapa, Nak?! Kau adalah prajurit pilihan yang memiliki potensi besar. Kenapa pada saat genting seperti ini kau malah bertanya kapan perang akan berakhir?!” ujar ayahnya keras.

“Aku sudah bosan hidup seperti ini! Banyak rakyat yang mati sia-sia, kerusakan di mana-mana, anak-anak yang harus menyandang status yatim piatu. Apa Ayah sadar kalau ini bukan lagi negara tapi neraka!!!”

“Ya!!! Ini memang neraka! Ke mana saja kau setelah hidup dua puluh tahun di negeri ini? Harusnya kau yang sadar, siapa yang membuat negeri ini menjadi neraka!!!” seru ayahnya gusar.

“Apa tak ada jalan damai untuk mengakhiri ini semua?” ia mencoba menenangkan diri.

“Jalan damai macam apa? Kau ingat, Nak, usaha perundingan damai yang ketiga? Lima tahun yang lalu? Siapa yang menjadi korbannya? Ingat itu, Nak!” desis ayahnya tajam.

Ia menunduk dengan mata berkaca-kaca. Bayangan sang Ibu kembali hadir di benaknya. Ibunya seorang diplomat yang ditunjuk untuk mewakili negaranya dalam perundingan damai di Sydney, Australia. Namun, belum selesai ibunya menandatangani surat kesepakatan damai. Sebutir peluru dengan cepat bersarang di jantungnya. Seorang teroris tampaknya berhasil menyusup dan menghancurkan semuanya.

“Jika Indonesia masih bersatu, apa keadaannya akan seperti ini juga?” tanyanya untuk kesekian kali. Sang ayah tak menjawab matanya menerawang jauh ke luar jendela.

“Ayah tak tahu, Nak! Yang Ayah tahu, Ayah hanya ingin mempertahankan negara kita dari kehancuran.”

Hari ini ia memimpin penyerangan ke Utara. Walau hatinya ragu, toh ia tetap harus berangkat malam itu juga. Pesawatnya siap take off lima menit lagi. Pesawat Shutter X-7 yang akan diterbangkannya adalah pesawat tempur dengan sistem navigasi tercanggih dengan persenjataan lengkap yang diimpor langsung dari Jerman.

Hanya dalam waktu sepuluh menit ia dan pasukannya sudah memasuki wilayah Borneo. Negara yang dulu penuh dengan hutan-hutan lebat kini nyaris tak satu pun pohon yang tumbuh. Kalaupun ada hanyalah rumput-rumput dan tanaman-tanaman kerdil. Istilah perang gerilya di hutan-hutan seperti zamannya Jenderal Sudirman, tampaknya sudah tidak dapat lagi dipraktikkan di sini.

“Shutter X-1 siap meluncurkan misil.”

“Shutter X-3 siap!”

“Shutter X-5 siap!”

Tiga pesawat lainnya melapor ke pangkalan lewat radio. Bersiap untuk penyerangan. Sedang ia sendiri terus menerbangkan pesawatnya hingga ketinggian 300.000 kaki.

“Kapten Rizaad harap melapor!” suara operator terdengar dari radio.

“Saya ulangi, Kapten Rizaad harap melapor!”

“Apa yang anda lakukan, Kapten? Anda terbang melebihi batas normal!”

“Jawab kapten!”

Suara-suara dari radio di kokpit pesawat tak mampu menyadarkannya. Yang ia inginkan sekarang hanya terbang setinggi mungkin ke angkasa. Mencoba menghindarkan diri dari perang yang harus dihadapinya. Sayang ia tak menyadari kalau pesawat tempur yang diterbangkannya tersebut bukanlah roket luar angkasa. Pesawat tersebut memiliki batas ketinggian tertentu.

Bau hangus tercium dari mesin pesawat. Asap mulai mengepul di udara. Ia pun tersadar pesawat akan meledak. Lantas berusaha untuk segera keluar dari kokpit. Namun, usahanya sia-sia ia terjebak di dalamnya. Dalam hitungan lima detik pesawat akan meledak. Ia mulai tak sadarkan diri karena kehabisan oksigen.

Sampai akhirnya…

Jakarta, 20 Mei 2010.

“Mas Rizaad!!! Bangun! Kuliah nggak? Tidur kok kayak orang mati!”

Perlahan ia membuka mata, tampak seorang anak laki-laki sedang berdiri tegak di hadapannya. Ditariknya nafas panjang lalu mencoba bangkit sambil memegangi kepalanya yang pusing tujuh keliling. Ia melirik ke lantai lantas diambilnya buku berjudul “Indonesia 2070” yang terjatuh dari tempat tidurnya.

“Huhhh… mimpi gue nyata banget, Dek!” ujarnya.

“Mimpi apaan, Mas?” tanya adiknya penasaran.

“Mimpi… jadi anaknya presiden!!! He…he…he..”

One Response to “2070”

  1. on 16 Jun 2008 at 19:03hozarc

    Wuiidihhh… Menyedihkan sekali klo ini bener2 terjadi di Indonesia.
    Salut for the writer…

Tinggalkan Komentar