KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pagi itu terasa cerah, tak terlihat langit mendung menutupi langit biru, sang surya menyapa seolah tertawa girang, kicau burung terdengar sahut-menyahut seolah mengisaratkan alam telah terang, seiring orang-orang berkemas memulai aktifitas. Dari sebuah rumah terdengar samar alunan musik, mengiringi beribu kaki memulai hari.

Di rumah itu nampak laki-laki dengan senyum ramah, telah siap berangkat memulai harinya dengan baju lengan panjang lengkap dengan sepatu hitamnya, lelaki itu melangkah menuju sepeda motor yang telah siap menemaninya menyusuri jalan aspal. Beberapa saat kemudian sepeda motor pun melaju di jalanan, di antara keramaian kendaraan lain yang lalu-lalang. Sekitar 25 menit lelaki itu sampai tempat tujuan, tempat untuk memulai harinya, “tempat kerja.” Sesampainya di tempat kerja, seperti hari-hari biasa dia mengisi daftar hadir di urutan kedua dan di urutan pertama rekannya yang selalu datang lebih awal, sebut saja “Amay”. Amay adalah sahabat dekat lelaki itu. Setelah mengisi daftar hadir, lelaki itu menuju sebuah meja. Di atas meja nampak kertas dan buku-buku masih berantakan. Satu persatu lelaki itu menyusun buku-buku dan kertas tersebut. Tiba-tiba tangannya terhenti, matanya tertuju pada sebuah amplop. Diraihnya amplop, di luar amplop tertulis “PANGGILAN DIKLAT.
“Jo, itu panggilan diklatmu. Hari ini pembukaanya,” tiba-tiba di belakang Jo, telah berdiri Amay menerangkan isi amplop.

“Hi, May, kirain siapa,” Jo sedikit kaget.

“Kok mendadak kayak begini diklatnya dan kenapa aku tidak di kasih tahu dari kemaren?” Jo melanjutkan kalimatnya.

“Kemarin itu, Jo pulang lebih awal, sedangkan suratnya sampai hampir jam duaan.”

“O gitu ya. Terus jam berapa pembukaannya ?” tanya Jo lagi, yang masih ingin tahu banyak tentang info yang di sampaikan Amay.

“Coba buka saja amplopnya supaya lebih jelas,” pinta Amay seraya tersenyum ramah.

Jo berlahan membuka menyobek ujung amplop, dikeluarkannya isinya yang sudah tercantum jadwal dan tempat diklatnya, selama sembilan hari, mulai dari jam 07:00 hingga 22:00 malam di gedung ibukota propinsi. Jo menggeleng melihat jadwal yang begitu padat, tidak dapat di bayangkan bagaimana capeknya duduk seharian.
“Wah May, pembukaannya jam 16:00 sore ini,” tegas Jo menatap Amay yang masih berdiri di hadapannya. Jo kelihatan risau tidak menentu karena pekerjaan di tempat kerja masih menumpuk, belum lagi hari ini harus berangkat diklat.

“Jo, begini saja, sekarang minta ijin pada atasan untuk pulang lebih dulu untuk mempersiapkan diklatnya,” Amay mencoba memberikan solusi untuk memperingan pikiran Jo yang tidak menentu. Jo tersenyum, seolah senyumnya menunjukkan jawaban setuju sekaligus pujian buat Amay, sahabat yang selalu memberikan masukan, usul ketika Jo menghadapi kesulitan.

Tanpa berfikir panjang, Jo mengajak Amay ke ruang pimpinan untu minta ijin, dan beberapa saat kemudian, merekapun keluar dari ruang pimpinan. Nampaknya mereka diberikan ijin.

“Aku antar Jo?” Amay menawarkan jasa.

“Boleh, jika Amay tidak keberatan,” jawab Jo tidak menolak tawaran Amay.

”Jo, kok rumahmu sepi, istrimu kemana?” tanya Amay penasaran.

”Lagi di rumah mertua,” dengan santai Jo menjawab.

”O gitu,” Amay pun tak banyak tanya, karena sedikitnya dia tahu bagaimana kehidupan Jo yang selalu tidak ambil pusing dengan keadan di rumahnya, bahkan Jo rela meninggalkan anak istri demi pekerjaan dan masa depannya.

Jo terlihat sibuk mempersiapkan perlengkapan diklatnya sementara Amay dipersilahkan duduk di halaman yang telah disiapkan tempat duduk. Memang rumah Jo tidak ada ruang tamunya. Rumah tua yang sederhana peninggalan keluarga letaknya pun jauh dari keramaian kota atau tepatnya desa pinggiran ibukota kabupaten. Dari luar rumah, sesekali Amay melihat Jo mondar-mandir di dalam kamar.

“Ada yang bisa saya bantu Jo?“ suara Amay menyela kesibukan Jo yang lagi berbenah.

“O iya ada, tolong masukkan buku-buku saya dalam tas.”

Sebisa mungkin Jo berusaha untuk tidak menolak setiap tawaran Amay karena Jo tahu Amay cepat tersinggung jika niat baiknya ditolak. Begitulah Amay membantu Jo. Keduanya memang sahabat yang seolah tak terpisahkan oleh siapapun dan oleh apapun, karena kemanapun mereka selalu berdua, dimana ada “Jo” disitu ada “Amay” begitupun sebaliknya, sehingga rekan kerja ataupun setiap mata yang memandangnya, beranggapan mereka pacaran, teman kencan, selingkuhan dan lain sebagainya. Namun keduanya tak menghiraukan semua itu, hanya mereka berdualah yang lebih tahu bahwa di antara keduanya tak ada hubungan istimewa, tak lebih dari sahabat akrab, itu saja.

Sementar itu, Jo telah siap untuk berangkat membawa semua perlengkapan diklatnya dibantu Amay.

“Kita berangkat May?” tanya Jo.

“Oke Boz,” canda Amay sedikit menghibur Jo.

Keduanya kembali melaju. Jo melirik jam tangannya, jarum jam telah mendekati jam 15:30. Langit terlihat mendung yang nampaknya sebentar lagi akan turun hujan.
“Jo, lumayan lama ya kita tidak ketemu?” tanya Amay dalam perjalanan.

”Untuk sementara May,” jawab Jo singkat.

”Apa perlu saya besuk?” Amay kembali bertanya.

”Ah gak usah. Mau besuk kayak orang sakit saja.”

Di sela perbincangan mereka berdua, di atas jalan aspal nampak percikan-percikan air membasahi di beberapa titik, hujan mulai turun. Jo kebingungan karena sebentar lagi pembukaan diklat sementara di perjalanan mulai turun hujan. Lebih celakanya lagi Jo lupa bawa jas hujan.

”Jo, hujan makin lebat,” sela Amay.

”Ya, May. Begini, bukan maksud apa-apa, tapi karena ini hujan, kamu tidak usah antar aku sampai tempat diklat. Lebih baik sekarang aku antar kamu pulang saja, bagaimana?”

”Oke dah, bagaimana baiknya,” jawab Amay. Untuk kali ini Amay mengerti kenapa Jo menolak tawaran jasanya. Akhirnya di sebuah perempatan jalan, Jo berbelok ke arah rumah Amay. Beberapa saat kemudian keduanya sampai depan rumah Amay.

”Aku gak mampir ya May.”

”Ya, tidak apa-apa. Hati-hati ya,” Amay melambaikan tangannya. Seraya mengucapkan terimakasih, Jo berlalu dari hadapan Amay.

Tepat jam 16:00, Jo sampai di gedung tempat diklatnya, acara pembukaan segera dimulai. Jo sedikit bergegas memasuki gedung dimana acara pembukaan tersebut. Jo mencari tempat duduknya yang telah dibagi berdasarkan kabupaten/kota masing-masing. Setelah beberapa saat sempat keliling, Jo pun menemukan tempat duduknya. Ditemuinya teman-teman dari kabupaten yang sama, berkenalan, basa-basi dengan teman di sekitar tempat duduknya. Beberapa susunan acara pun telah dilalui, kini telah sampai pada puncak acara, yaitu acara pembagian kelompok dan sekaligus pembagian kunci kamar masing-masing. Kelompok dibagi 40 orang dari sekitar 300 peserta dari 8 kabupaten/kota. Panitia menyebut nama lengkap Jo. Jo bergegas menuju panitia untuk mengambil kunci kamar.
“Aduh! Maaf Mbak!”

Karena sedikit terkopoh, Jo membentur lengan wanita berjilbab dengan tinggi 165-170 cm. Jo terperangah.

“Wao tinggi sekale!?” bisik jo dalam hati.

“Ah gak apa-apa, maklum orang banyak,” sambut wanita itu seraya tersenyum. Lagi-lagi Jo terperangah dengan wajah yang ada di depannya. Suaranya lembut, senyumnya minta ampun, hidungnya bak bintang film India.

“Maha sempurna ciptaanMu Tuhan,“ puji Jo dalam hati. Wanita itu berlalu dari hadapan Jo. Sementara itu Jo mengambil kunci kamar di panitia, lalu Jo menaiki tangga menuju lantai dua. Di depan kamar no 37, langkah Jo terhenti dan memasuki kamar itu. Kini Jo sedikit lega karena acara inti untuk hari ini telah selesai dan ada perubahan jadwal dari panitia, bahwa setelah pembukaan hari ini, maka, kegiatan akan dilanjutkan keesokan harinya dengan alasan peserta dapat istirahat untuk malam ini, khususnya peserta dari kabupaten/kota yang jaraknya jauh dari tempat diklat bahkan ada peserta yang harus menyeberangi lautan.

Malam pun tiba. Karena tidak betah dalam kamar sendirian, Jo bermaksud keluar kamar. Namun begitu pintu kamar terbuka, Jo tersentak seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baru saja lewat di depannya seorang wanita cantik, berjilbab, tinggi dengan hidung yang sangat indah, dan wanita itu memasuki kamar nomor 38 yang berhadapan dengan kamar Jo. Wanita itu tidak lain adalah wanita yang hampir ditabrak Jo saat acara pembukaan tadi sore. Jo mengurungkan niatnya untuk mencari udara segar di luar kamar, dia seolah baru saja melihat bidadari jadi-jadian. Jo masuk kekamarnya dengan wajah tak menentu, bingung dengan perasaannya sendiri.
”Apakah karena aku gampang jatuh cinta?” ungkap Jo dalam hati yang tak habis-habisnya, ”ataukah karena wanita itu terlalu cantik? Entahlah.”
Ditatapnya langit-langit kamar berhayal tentang wanita itu, tak lama kemudian, ia pun terlelap.

Keesokan harinya di pagi buta, Jo mempersiapkan diri untuk kegiatan hari ini yang di sesuaikan dengan jadwal dari panitia. Begitu semua terasa sudah siap, Jo menuju ruang sarapan yang telah disiapkan, setelah itu baru menuju ruang kelas, layaknya pelajar atau mahasiswa yang siap menerima pelaajaran dari guru atau dosen. Begitu sampai di kelas, hati Jo seolah Berteriak girang karena ternyata wanita yang di kagum-kaguminya itu berada di kelas yang sama dengannya. Jo merasa seperti murid baru saat di bangku SMA, tidak ada teman akrab semua teman baru. Tidak lama menerima materi dari instruktur diklat, waktu istirahat pun tiba dan di saat semua peserta keluar kelas Jo mencari-cari kesempatan supaya bisa mengenal sang bidadari pujaannya itu.

”Hi! Kenapa tadi di kelas kamu lirak-lirik saya?” tanya wanita itu. Jo tengak tengok kiri kanan, tidak ada orang selain mereka berdua.

”Mbak bicara sama saya?” Jo balik bertanya pada wanita yang ada tepat di belakangnya.

”Ya iyalah, sama siapa lagi!” tegas wanita itu. Jo seolah tak percaya jika wanita itu tiba-tiba bicara dengannya. Keduanya menuju pohon yang rindang di halaman gedung yang telah disediakan tempat duduk serta minuman bagi peserta.

”Oya dah Mbak, kenalkan, saya Jo” Jo memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya seolah tidak sabaran ingin mengenal sang pujaan.

”Namamu bagus ya. Nama saya Endang,” Wanita itu pun menyebut namanya.

”Namaku bukan Bagus tapi,” Jo sedikit melawak. Endang hanya tersenyum.

Perkenalan pun berjalan lancar, tanya alamat sampai saling tanya nomor ponsel. Keduanya begitu cepat akrab, saling berbagi canda dan tawa seolah teman SMA kemudian bertemu di acara reuni. Begitu selanjutnya, pertemuan mereka menjadi lebih sering, keduanya saling mencari apabila ada tugas dari insruktur.

Pada suatu hari semua peserta diklat diistirahatkan lebih awal dan malamnya tidak ada kegiatan. Sehabis magrib, Endang mengetuk pintu Jo.

”Jo!” teriak Endang.

”Ya sebentar!” sahut Jo dari kamarnya. Tak lama kemudian Jo muncul dari balik pintu kamarnya, Jo terpaku, matanya tak berkedip.

”Ya Tuhan! Sempurna ciptaanMu,” bisik Jo dalam hati karena di depan pintunya telah berdiri Endang dengan anggunnya, seolah akan pergi ke pesta.

”Jo, kok bengong begitu?” tanya Endang heran. Jo tersentak dengan suara lembut Endang.

”Ah gak, cuman kagum saja,” pujian jo membuat Endang tersipu.

”Kagum kenapa?” Endang seolah tidak mengerti dengan pujian Jo.

”Malam ini, gedung ini mendapat anugrah yang indah, dihuni oleh bidadari,” gombal Jo makin menjadi membuat Endang risih dan hampir lupa apa tujuannya mengetuk pintu Jo.

”Eh, Jo, kita ke mall yuk,” ajak Endang, ”antar saya beli sendal,” lanjut Endang dengan harapan Jo mau mengantarnya.

”Boleh, dengan senang hati,” jawab Jo tak menolak ajakan Endang. Hati Jo berbunga-bunga karena waktu yang ditunggu-tungu akhirnya datang juga. Ia mengambil jaketnya dan langsung mengajak Endang ke tempat parkir, kemudian keduanya pun melaju di jalan menuju mall.

Di perjalanan mereka tak banyak bicara. Tak lama mereka pun sampai di pelataran parkir mall. Jo mengajak Endang keliling mall untuk mencari sendal, karena panggilan diklat yang mendadak membuat Endang lupa membawa sendal cadangan. Sementara jika Endang pulang untuk mengambil sendal, jarak tempat diklat dengan rumahnya butuh sekitar 15 jam, itu pun jika arus gelombang laut normal serta mendapat kapal ferry yang bagus. Tampaknya mereka tidak mendapatkan apa yang dicari, karena keduanya keluar dari mall dengan tangan tak membawa apa-apa, tidak ada yang sesuai dengan selera. Kini giliran mereka mencari makan, mereka bosan makan di gedung, ikannya yang itu-itu saja. Tapi sayang sesampainya di pelataran parkir, ban motor Jo gembos. Keduanya kelihatan resah, seketika wajah Endang yang bak bidadari itu berubah menjadi muram. Jo dan Endang berjalan beriringan mencari tukang pres ban. Setibanya di pintu samping mall, Jo kaget karena beberapa tetes air mata mengaliri pipi mulus Endang.

”Kamu nangis?” Jo menghentikan langkahnya, heran kenapa Endang tiba-tiba menangis. Sementara Endang tak menjawab, ia hanya terus menangis di belakang Jo dan mengikuti langakah Jo yang menggeret motornya. Kini senyum Endang telah pudar. Mata yang tadinya bening laksana embun pagi yang menyejukkan setiap mata yang memandangnya kini berubah memerah, air mata Endang membuat pikiran Jo makin tidak karuan.

”Endang, mau naik taksi?” Jo menawarkan solusi.

”Gak berani,” jawaban Endang di sela isak tangisnya yang makin menjadi karena terasa malam makin larut, ”aku kan gak kenal daerah sini,” sambung Endang lagi sambil sesekali mengusap air matanya yang mengalir di pipi mulusnya.

”Aku pernah kerja di taksi, jadi aku banyak kenal pengemudi taksi. Kamu tidak bakalan diganggu atau dibawa kabur,” kembali Jo berusaha menenangkan Endang walaupun pikirannya juga tak menentu, Jo ingin Endang tersenyum lagi, bercanda lagi.

”Pokoknya aku gak mau!” kembali tawaran Jo di tolak Endang, namun Jo tak putus asa.

”Kalau begitu aku temani naik taksi dan motorku aku titip di tukang pres ban, bagaimana?” desak Jo lagi. Untuk yang ketiga kalinya tawaran Jo ditolak Endang. Kepala Jo terasa mau pecah, harus bagaimana lagi, semua usahanya sia-sia.

”Pergi dah tambal bannya, aku tunggu disini,” kini giliran Endang mencoba menawarkan jalan keluar. Jo tak menolak karena tak tahu mesti bagaimana lagi.

”Kalau begitu, tunggu aku di PKL itu,” Jo menunjuk PKL yang tidak jauh dari tempat mereka berdua. Jo berlalu dari hadapan Endang sambil menggeret motornya. Begitu sampai di tukang pres ban, Jo mencoba menghubungi ponsel Endang berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Jo memutuskan untuk menjemput Endang dengan jalan kaki. Jo sedikit berlari, ia tak ingin Endang lama menunggu dan melakukan hal-hal yang di luar dugaannya. Begitu dekat PKL, hati Jo lega ternyata Endang masih menunggunya.

”Saya telpon kok tidak di angkat?” tanya Jo yang masih ngos-ngosan. Endang seolah tak menghiraukan pertanyaan Jo, malah dia balik bertanya.

”Dimana tambal bannya?” suara Endang lirih menggugah hati Jo. Ingin rasanya Jo memeluk tubuh indah itu dan memanjakannya supaya tidak menangis lagi, namun apa daya ini baru permulaan.

”Tak jauh kok, kita bisa jalan kaki.” Jo menjelaskan. Endang beranjak dari tempat duduknya mengajak Jo kembali ke tukang pres ban. Yang terdengar hanya langkah mereka. Keduanya hanya diam, hanyut oleh pikiran masing-masing. Sesampainya di tukang pres ban, motor Jo telah siap, Jo langsung menyodorkan ongkos dan langsung mengajak Endang kembali ke gedung. Tak sepotong katapun keluar dari bibir mereka, keduanya hanya diam. Setelah sampai di gedung, Endang turun dari boncengan Jo.

”Jo, terimakasih banyak dan maafkan saya,” hanya itu kalimat yang keluar dari bibir tipis indah Endang, dan berlalu meninggalkan Jo. Jo semakin tidak mengerti.

”Tadinya dia kesal, tidak mau bicara dan hanya menangis. Tapi sekarang malah berterimakasih, mohon maaf dan tersenyum,” gumam Jo tak habis pikir. Jo menaiki tangga menuju kamarnya, dia linglung. Tenaga dan pikirannya malam ini telah terkuras habis. Di kamarnya dia hanya bengong ditemani sahabat setianya, sang pengurang usia (tokok). Tiba-tiba HP Jo berbunyi, satu SMS masuk. Jo membuka SMS dan nampak di layar, ”Jo… Aku tunggu di ruang tengah, kita bikin rujak”. SMS itu ternyata dari Endang. Jo berjalan ke ruang tengah dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Sesampainya di sana, ia disambut dengan tawa renyah Endang dan beberapa teman lainnya. Jo mengernyitkan alisnya tak percaya. Kini Endang telah tertawa girang dengan mata yang masih bengkak. Begitu Jo duduk di hadapan Endang, di teras ruang tengah, teman-teman yang lain meninggalkannya satu persatu.

”Endang ada apa ini?” tanya Jo masih penasaran.

”Sekali lagi saya minta maaf ya Jo,” suara Endang sedikit serius, ”aku telah membuat Jo resah,” sambungnya lagi di sertai ciri khasnya dengan senyum indah seolah menambah stamina Jo, yang tadinya terkuras gara-gara menggeret motor.

”Gak apa-apa. Aku paham kamu takut.”

”Ya memang aku takut, tapi aku gak marah kok. Hanya saja aku khawatir kamu meninggalkan aku di mall dan aku gak kenal daerah sini, daaan… aku kira kamu sengaja nggembosin ban motormu dan menculik aku.”

”Ha haha..!” giliran Jo yang tertawa terbahak setelah Endang menjelaskan kenapa dia tiba-tiba menangis di mall.

Kini tibalah hari terakhir bagi peserta diklat, acara penutupan pun digelar dengan acara riang ria, hiburan musik, tarian daerah dan ada pula wakil peserta yang menyampaikan pesan dan kesan kala diklat. Di sela acara, Jo duduk di belakang Endang.

”Endang, sudah pesan tiket?” tanya Jo di sela hingar bingar hiburan.

”Sudah, itu busnya sudah nunggu di depan.”

“O begitu,” jawab Jo singkat.

“Emang kenapa, Jo?”

” Ah gak. Aku hanya tidak ingin kamu melupakan kenangan semalam,” suara Jo seolah memberatkan langkah Endang untuk pulang, ”dan aku tidak akan lupakan rasa rujak tengah malam itu,” sambung Jo lagi.

”Ha haha… Aku juga takkan melupakan rasa rujak itu karena ini adalah ngidam anak pertamaku,” Endang menjawab dengan tenangnya.

”Apa, Ngidam!!!?” tanya Jo tak percaya, ”kan kita tidak pernah ngapa-ngapaen?” Jo menyambung kalimatnya.

”Ya iyalah aku gak ngapa-ngapain sama kamu, tapi aku ngapa-ngapain dengan suamiku di seberang sana,” jawaban Endang membuat Jo lupa diri. Tatapannya kosong, telinganya seperti tuli, tak mendengar dan menghiraukan hiburan yang ditampilkan panitia. Jo seolah menyesali pertemuannya.

”Kenapa aku tidak tanya dari awal ya?” tanya Jo dalam hati. Di penghujung acara, Endang bersalaman dan mencium tangan Jo.

”Jo, aku takkan melupakan sahabat yang baik sepertimu,” ucap Endang dengan tangan Jo yang masih digenggamnya.

”Salam buat istrimu, Jo” lanjutnya lagi.

”Salam juga buat suamimu,” Jo pun titip salam buat suami Endang. Jo berbisik seraya berbalik berangkat pulang, ”Cintamu sebatas diklat.”

Itulah kalimat terakhir mereka berdua, kalimat perpisahan. Mereka kembali kekeluarga masing-masing, Lautan membentang menjadi jarak di antara mereka namun bukan berati mereka putus hubungan. Terakhir kali Jo menghubungi ponsel Endang, Endang memberinya kabar bahwa kandungannya telah sembilan bulan, tinggal menunggu hari.

Banyumulek Desember 2007

Tinggalkan Komentar