KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

SMS Nyasar

”Assalamualaikum. Maaam, aku pulang!” teriak sang suami yang baru pulang kerja. Dengan wajah cerah sang suami memasuki halaman rumahnya yang di tumbuhi beberapa macam bunga. Tak nampak kelelahan di wajah sang suami, maklum tanggal muda. Sang suami pulang dengan membawa amplop.

”Wa’alaikumsalam. Tunggu sebentar Pi!” teriak sang istri dari dalam kamar. Sementara menunggu sang istri membukakan pintu, sang suami masih berdiri di depan pintu kamar sambil menyanyikan lagu yang tak jelas liriknya. Tak lama kemudian muncul sang istri dari balik pintu.

”Dah pulang, Pi?” sapa sang istri.

”Ya dong sayang. Ini kan sudah waktunya,” sang suami sedikit menerangkan dan mengecup kening sang istri tersayang sebagai ucapan selamat datang.

”Ada apa Pi, kok senyam-senyum sendiri?” tanya sang istri sambil meraih tas sang suami.

”Ya tahulah, Mam, sekarang sudah tanggal berapa,” jawab sang suami menyodorkan amplop pada sang istri tercintanya.

”O iya ya. Aku lupa Pi,” sang istri membuka isi amplop dan menghitung isi amplop yang berisi honor sang suami. Jari lentik sang istri dengan lincahnya menghitung dan mulut komat kamit.

”Kok segini, Pi?” tanya sang istri heran melihat isi amplop tak sesuai dengan angka yang tertera di luar amplop.
”Kan honorku memang segitu, Mam,” jawab sang suami singkat.

”Tapi ini, tak seperti bulan-bulan kemaren?” tanya sang istri lagi dengan alis yang di kerutkan.

”Oya Mam, saya lupa ngasi tahu, tadi di jalan ada sekelompok pemuda yang minta sumbangan maulid untuk sunatan masal,” sang suami menjelaskan kenapa honornya berkurang untuk bulan ini.

”Kok tumben, Papi gak bilang dulu?” tanya sang istri masih belum mengerti.

”Ah Mami, apa semua-semua harus aku bilang dulu?” sang suami balik tanya pada sang istri yang sepertinya mengintrogasinya.

”Sudahlah Mam, besok kita cari lagi. Rizki takkan kemana,” sambung sang suami menyabarkan istri. Sang suami melangkah ke kamar membuka pakaian seragamnya dan hendak melentangkan tubuhnya, setelah seharian bergumul dengan pekerjaan yang bertumpuk seolah tak ada habisnya.

”Pi, gak makan dulu?” tanya sang istri, khawatir penyakit Mag sang suami kambuh lagi.

”Sudah kenyang Mam. Tadi di tempat kerja ada demo masak dari perusahaan yang mempromosikan alat masaknya,” jawab sang suami seraya melentangkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Sementara sang istri menuju ruang tamu, uring-uringan sendiri karena si buah hati juga belum bangun dari tidurnya. Sang istri meraih HP sang suami, sang istri doyan main game. Namun tangan sang istri belum sempat menyentuh HP, HP itu bersuara.

”SMS siapa ini Bang?”

Ternyata nada SMS dari HP sang suami. Sang istri pun terkejut karena tak disangka dalam waktu yang bersamaan, ada SMS masuk. Sang istri meraih HP dan membuka isi SMS itu. Jari lentiknya pun mulai bergoyang di atas keypad HP. Beberapa saat kemudian sang istri tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas, kepalanya pusing dan akhirnya tergeletak di lantai, setelah membaca SMS di HP sang suami.

”Brrugg!!!” Suara yang mengagetkan itu jelas membangunkan sang suami dari istirahatnya. Sang suami keluar dari kamar sambil mengusut matanya yang masih malas untuk melek. Begitu sampai di ruang tamu sang suami tersentak melihat istri tergeletak dengan HP masih di tangan dan kain sedikit sobek sampai di atas lutut. Sang suami mencoba membangunkan dan memanggil-manggil istrinya berkali-kali sambil membopongnya ke atas tempat tidur. Sang suami mengusap kening dan hidung istrinya dengan minyak kayu putih.

”Mam, Mam, kamu kenapa?”

Selang beberapa waktu kelopak mata dengan bulu lentik sang istri pun perlahan terbuka. Bola mata indah sang istri pun mulai menatap sang suami, seketika sang istri menangis.

”Mam, kamu kenapa?”

Berkali-kali sang suami melontarkan pertanyaan yang sama, namun bibir tipis, seksi nan memerah sang istri, sedikitpun tak bersuara. Sang suami membelai rambut hitam panjang sang istri dan sesekali menciumnya. Beberapa saat, sang istripun mulai angkat bicara dan berusaha bangun dari tempat tidurnya.

“Papi,” suara yang indah itu seolah menggerogoti sukma sang suami.

“Ya Mam,” sahut sang suami dengan senyum ramahnya.

”Jawab pertanyaan saya dengan jujur ya,” sambung sang istri.

”Masalah apa?” tanya sang suami masih penasaran.

”Kenapa gaji Papi kali ini kurang?”

Sang suami terbahak mendengar pertanyaan sang istri.

”Hahaha…Mami pingsan gara-gara honor Papi yang kurang ya?”
Sang suami mencoba menjelaskan ulang tentang honornya yang kurang karena menyumbang untuk acara sunatan masal, tapi ternyata anggapan sang istri, itu bukan jawaban.

”Berarti jawaban Papi salah,” tegas sang istri, lalu terdiam sejenak. Dipandangnya sang suami dengan tatapan yang dalam.

”Papi sudah baca SMS di HP Papi?” kembali sang istri melontarkan pertanyaan terakhir.
“Kenapa Papi gak makan di rumah?”

”Mam, pertanyaan terakhir sudah aku jawab, kecuali yang ke dua, masalah SMS aku belum baca,” jawaban sang suami dengan tenang.

”Kalau begitu, supaya Papi bisa menjawab dengan benar, coba baca SMS di HP Papi,” pinta sang istri.

Sang suami pun mengambil HPnya dan membaca SMS yang ada. Ternyata ada nomor yang tanpa nama alias nomor baru yang berisi ”Mas, sudah sampai rumah? makaci ya makan siangnya juga pulsanya. Oya Mas, kenangan kita siang ini adalah yg trindah dalam hidupku. Sudah dulu ya… I LV U….”

Isi SMS itu membuat sang suami tertekun, kini dia tahu apa alasan sang istri pingsan dan memburunya dengan berbagai pertanyaan. Sementara sang istri tidak berkata apapun dia langsung menuju kamar mandi setelah itu menuju kamar mengenakan celana jeans dan mengenakan baju agak ketat. Badan yang aduhai itu kini telah berdandan rapi, sehingga setiap mata pasti akan terpesona melihatnya. Sang suami yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik sang istri tak tahu mesti ngomong apa dan mulai darimana. Setelah selesai berdandan, sang istri langsung mengambil tas pakaian dan mengeluarkan pakaian dari lemari.

”Mam, ada apa sih?” suara sang suami berlahan.

“Kok Papi nanya lagi. Kalau SMS itu sudah dibaca, berarti jawabannya ada disana,” jawaban sang istri ketus.

“Boleh aku jelaskan, Mam?” sang suami berusaha menenangkan sang istri.

”Mau jelaskan apalagi!!?” teriak sang istri, suaranya kedengaran sampai tetangga sebelah.

”Semuanya sudah jelas!!!” sambung sang istri sedikit kalap.

Teriakan sang istri membuat wajah sang suami berubah merah. Tubuh dan wajah sang istri kini terlihat menyeramkan. Jari jemari sang suami terkepal seolah siap menyerang, namun seketika sang suami sadar bahwa sekarang telah ada Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU.KDRT) yang membuat para suami-suami seperti pengecut dan membuat istri-istri tidak kenal takut. Sang suami mengurungkan niatnya dan berusaha mencari jalan keluar yang baik. Sementara sang istri masih menggerutu.
“Pantas saja honor Papi kurang dan tidak mau makan di rumah,” gerutu sang istri, “wong di luar ada simpanan.”

Sang suami membiarkan sang istri menggerutu sepuasnya.

“Aku mencintaimu lebih dari apapuuun, walaupun tiada seorang pun yang tahu” (Ungu red). Tiba-tiba nada panggilan dari HP mengagetkan kedua suami istri itu, seketika itupula sang istri terdiam dan secara bersamaan keduanya menuju HP yang diletakkan di atas meja tamu. Sesaat keduanya saling pandang, karena ternyata dari nomor yang mengirim SMS yang membawa malapetaka itu yang kini memanggil. Sang istri meraih HP dan menyodorkannya ke sang suami.
“Neh terima,” pinta sang istri. Sang suami menggeleng.

”Mami saja yang terima, supaya jelas siapa penyebab semua ini,” sang suami menolak keinginan sang istri. Akhirnya sang istri pun menerima panggilan itu.

”Hallo,” suara wanita yang lembut di kejauhan itu menambah merah muka sang istri.

Sang istri tak mau menjawab suara di kejauhan itu, malah kembali menyodorkan HP pada sang suami. Sang suami pun penasaran, diraihnya HP dari tangan lembut sang istri dan kemudian menekan keypad HP menggunakan spiker supaya keduanya bisa mendengar.

“Hallo,” suara di kejauhan itu seolah menunggu jawaban.

“Hallo, dengan siapa ya?” tanya sang suami.

“Saya Wulan. Saya salah tekan satu nomor, akhirnya terkirim ke nomor Bapak,” suara di kejauhan itu menjelaskan dengan suara manja.

”Tadi saya cek di kotak keluar ternyata saya salah tekan,” sambung suara itu dari kejauhan sementara sang suami dan istri sesekali saling pandang, tak nampak lagi wajah memerah sang istri.

“O gitu. Lain kali cek-cek dulu ya Mbak,” sang istri menjawab suara di kejauhan itu.

“O iya Bu, Pak, sekali lagi saya minta maaf,” suara di kejauhan pun hilang.

Sang istri memandangi sang suami dan tak lama kemudian memeluknya seolah tak mau di lepaskannya lagi.

“Maafkan Mami, ya Pi”

Banyumulek, Maret 2008

7 Responses to “SMS Nyasar”

  1. on 03 Jun 2008 at 08:49adeline

    Masih perlu banyak belajar …… kaku banget penyampaiannya!

  2. on 04 Jun 2008 at 13:00odim

    datar……

  3. on 04 Jun 2008 at 17:18echa

    ;)

  4. on 10 Jun 2008 at 15:35mkhoirul

    wah… kayaknya pengarangnya ini argumentasinya kurang yah…………

  5. on 16 Jun 2008 at 12:14Satriawan37

    Terimakasih telah memberikan komentar. Memang sangat saya akui masih banyak kekurangannya dalam cerpen ini. Pengarang mesti banyak belajar. Maklum saya penulis pemula dan jika berkenan tolong di koreksi dimana harus di tambah dan di kurangi baik penulisan, tanda baca maupun kalimatnya. sekali lagi terimakasih banyak untuk semua.

  6. on 04 Jul 2008 at 07:55nunuz

    Subjeknya masih minim. Penyebutan untuk tokohnya juga masih kurang bagus. Maaf ya (Jgn Tersinggung), hanya sekedar mengomentari!

  7. on 05 Jul 2008 at 14:09pensi_jambi

    belajar lagi coyy….

Tinggalkan Komentar