Sebuah Lingkaran
Juni 1st, 2008 by annisa_haryono
“ Bu, jigana hirup di kota teh enaknya, “ Windie berkomentar di sela-sela kesibukannya membantu Ibunya di dapur. Entah berulang untuk yang keberapa kalinya pertanyaan itu ia lontarkan.
“ Ari Neng teh kunanon ? Hoyong pisan kitu ka kota? “ tanya Ibunya yang mulai bosan menanggapi dengan senyuman.
Windie mengangguk. “ Bu, banyak atuh orang-orang dari desa kita teh yang pada sukses di kota. Ibu ge hoyong kan ningali Neng jadi jalmi sukses ? “
Ibu menghela nafas. “ Neng, ari neng teh perempuan, Ibu mah sanes alim ningali neng sukses, tapi Ibu mah khawatir. Bapa tos teu aya, bade kumaha deui Ibu ngabiayaan neng hirup di kota ? Tur mun eta bae, lamun aya naon-naon kumaha ? “
“ Ibu mah, Neng mah henteu nyarios Ibu kudu nyabiayaan neng di kota. Neng tiasa milarian artos nyalira. Puguh eta niat neng ka kota, “ Windie berusaha meyakinkan Ibunya.
“ Neng… “
“ Ibu, Neng tos dewasa, tos tiasa ngabedakeun nu bener jeung nu salah atuh Bu, “ Windie memotong kalimat Ibunya, “ A Ridwan ge di kota kan Bu ? Kan jadina aya nu tiasa ngajaga neng di kota “
“ Ari Ridwan teh gaduh gawean nyalira. Sibuk. Neng cuma bakal jadi beban buat si Ridwan “
“ Ibu, Neng mohon Ibu mau ngertiin Neng. “
“ Neng, kalo nasi udah jadi bubur, semua hal artinya sudah terlambat ! “
“ Neng tiasa jaga diri atuh Bu. Neng mohon pisan ka Ibu. “
Ibu berdiri dari kursinya. Tanpa debat ia meninggalkan dapur dan pergi ke kamar.
Windie tetap terduduk. Namun harap belumlah padam dihatinya.
Beberapa hari kemudian…
“Neng, kata Ibu kamu teh pengen pisan ke kota yah? ” tanya Ridwan memastikan.
”Muhun, tapi da Ibunya alim ngertiin Neng. Padahal kalo Ibu terang mah, semuanya teh kanggo Ibu oge, ”Windie merajuk. Setelah beberapa hari yang lalu baru kali ini ia mengungkapkan keinginannya lagi, ” A Ridwan tiasa ngabantu Neng, kan?”
Ridwan tersenyum. ”Tapi kamu beber-bener yakin sama pilihan kamu?”
”Iya A, Neng mah udah sepenuh hati pisan.”
”Ya udah atuh, Ibu juga sudah restuin kamu, walaupun kelihatannya masih berat,” Ridwan tersenyum sambil mengusap puncak kepala adiknya.
”A Ridwan serius ?” kedua mata Windie terbelalak saking senangnya.
Ridwan mengangguk.
Windie langsung memeluk kakaknya sayang. ”Nuhun pisan A! Hatur nuhun pisan, ” Windie menangis haru.
”Tapi Neng… ”
”Kenapa lagi A ?” Windie menyeka air matanya.
“Belajar bahasa Indonesianya yang bener ya. “
“Idih, kirain teh bade nyarios naon. Neng sampe reuwas.”
”Tuh kan Neng, belajar yang bener yah. Kalau sudah di kota, logat dan bahasa itu penting, apalagi kalau kamu mau kerja di sana,” Ridwan berusaha serius.
”Iyah atuh A, Neng pasti berusaha ko. ”
”Ya udah, sekarang kamu temuin Ibu, Ibu pasti udah nunggu kamu.”
***
Sepanjang perjalanan, Windie merasa bak rumput liar di tengah hutan pinus yang menjulang. Bedanya, ini begitu gersang. ” A, beda banget ya sama Desa kita? ” tatapan Windie lapar menjelajah sejauh matanya bisa memandang. Kini bahasa Indonesianya sudah lancar meski terkadang masih dalam logat Sunda.
Ridwan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adiknya. Ingat waktu pertama kali dirinya hijrah ke kota.
Beberapa jam kemudian mereka tiba dikontrakan Ridwan.
” Kenapa Neng ? Gak suka ya? ” tanya Ridwan ketika melihat ekspresi wajah adiknya yang kuyu.
” Bukan gitu, tapi rumah ini lumayan bagus ya A. ”
Ridwan tersenyum. ” Terus kenapa muka kamu kayak yang gak seneng gitu? ”
” Eum… bukan, awalnya neng kira di kota itu gak ada rumah-rumah yang kayak di desa kita, kenyataannya banyak yang lebih bobrok dari lingkungan di desa kita ya A. Kayak tadi di gang-gang sebelum masuk sini, makanya begitu lihat rumah ini, Neng jadi inget lagi, ” Windie menggigit bibirnya prihatin.
” Itulah kota, makanya kita harus bisa bertahan hidup. Paling tidak berusaha hidup layak. Disini cuma yang kaya dan pintar juga yang punya kekuasaanlah yang bisa bertahan dan hidup enak, ” komentar Ridwan sok pintar.
” Yah, tapi kita juga mesti punya keterampilan lebih kalau mau hidup di kota, iya gak Wan ? ” celoteh seorang cowok yang keluar dari kamar mandi, logat jawanya masih cukup kental.
” Siapa A ? ” tanya Windie terkejut.
” Yang punya andil besar buat nyewa rumah ini! A ngontrak di sini cuma bayar 25% yah sisanya sama Pranoto itu, tapi kamu tenang aja, A udah dapet kosan buat kamu kok, ” kata Ridwan sambil menarik cowok Jawa yang disebut Pranoto itu.
” Windie ya? Masmu ini sering ngomongin looh, ” kata Pranoto sambil mengulurkan tangannya sekedar perkenalan, ”panggil aja Noto, umur kita gak beda jauh ko.”
Windie menyambutnya ragu. ”Iya,” Windie mengernyit sedikit sebal. Sedetail itukah kakaknya menceritakan tentang dirinya?
” Jangan macem-macem lo sama ade gue,” bisik Ridwan sambil berlalu ke kamar mandi setelah menoleh pada Windie , ”kamu santai ya Neng, nanti Aa anter ke tempat kamu.”
Windie mengangguk.
” Kenapa enggak kuliah aja sekalian? ” tanya Pranoto sambil menghisap rokok bermerk mahal.
Windie menggelengkan kepalanya, ” Enggak ada biaya. Ini juga ke Jakarta modal nekat.”
Pranoto terbahak-bahak, ”Yang bener aja lo, di Jakarta tuh gak ada yang gratis !! Air buat mandi aja susah ! ”
Windie berdecak sebal, ” Tapi aku juga punya keterampilan kok! Aku bisa jahit, masakanku juga enak ! ”
Pranoto menyadari sikapnya yang agak keterlaluan, ” Sory sory, gue gak maksud, sory ya kalo kata-kata gue tadi bikin lo tersinggung.. ”
Windie membuang nafas. Ia melihat ekspresi menyesal di wajah Pranoto. Windie mengangguk. ”Ng… kamu udah lama di Jakarta ? ” tanya Windie beberapa menit kemudian, kekakuan membuatnya sadar untuk mengembalikan suasana.
” Hampir setahun lebih. Gue kuliah di universitas deket sini,” jawab Pranoto sambil menggesekan ujung rokoknya yang menyala ke dasar asbak setelah asapnya membuat Windie batuk, ”makanya tadi gue nanya, kenapa lo gak sekalian kuliah aja.” Pranoto bangkit dan meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
” Neng, ayo kita ke tempat kosan kamu, ” kata Ridwan. Penampilannya kembali segar. ” Deket sini kok. Chuy lo gak usah ikut,” kata Ridwan mewanti-wanti Pranoto.
Windie heran dengan polah kakaknya. ” Eng, permisi ya, ” Windie tersenyum sambil menganggukan kepala untuk pamit pada Pranoto.
Sedikit jauh dari rumah, Ridwan menatap adiknya. ” Kamu jangan deket-deket sama si Pranoto itu ya ? ”
” Kenapa sih A? Kok kayaknya Aa panik gitu.”
” Pokoknya jangan banyak tanya! Kamu turutin aja apa kata Aa. Ya?” Ridwan berbisik meyakinkan adiknya.
Windie mengangguk. ”Eum, masih jauh nih A ? “
“ Sebentar lagi, tuh tempatnya!“ kata Ridwan sambil menunjuk ke arah sederetan kamar-kamar yang bertipe sama di balik sebuah pagar di ujung gang.
” Wah, udah nyampe nih ya?” tegur seorang peremuan cantik yang kelihatannya baru pulang kuliah.
” Neng, ini Awang, temen Aa yang juga sahabat deketnya Pranoto,” jelas Ridwan memperkenalkan perempuan cantik yang tengah menatap Windie girang.
” Akhirnya ada juga temen kosan yang seumuran sama gue ! Hehehe… ” celoteh Awang sambil menjabat tangan Windie.
Oh mungkin ini alasan A Ridwan kenapa aku gak boleh deket-deket Pranoto. Tinggal bilang aja susahnya minta ampun, yang satu cowok ganteng, satunya lagi cewek super cantik! Serasi deh !! Windie berkomentar sesukanya dalam hati.
” Jagain ade gue ya Wang ! ” kata Ridwan sambil mengusap puncak kepala Windie. ” Neng, Aa mesti berangkat kerja sekarang, takut telat ! ”
” Iya atuh A, makasih ya. ”
Ridwan tersenyum sambil lalu.
” Yuk,” Awang membantu Windie mengangkat tas besar yang dibawa Windie, ”gue mesti manggil lo apaan nih ? ”
” Terserah Teteh aja. Eum, terserah Kakak aja.”
Awang tersenyum. ”Gak usah pake pangkat deh! Kayaknya gue tua banget!” pinta Awang ramah. ”Eh, tadi udah ketemu Pranoto ? Dia lagi apa ? ”
Windie tersenyum geli. ” Udah, tadi sih abis mandi keliatannya. Kamu pacarnya Pranoto ya ? ”
Awang tersenyum malu-malu. ” Gue sekampung sama Pranoto. Karena dia milih kuliah di sini jadi gue mulai lagi dari awal dan pindah ke sini deh, ” kisah Awang terbuka, ” tapi sampai saat ini ya kita cuma sahabat. Pranoto selalu menekankan itu.”
Windie sedikit menyesal telah bertanya. ”Kamu kuliahnya jurusan apa?” tanya Windie mengalihkan pembicaraan.
” Ekbang. Eh, gue tunjukin gimana caranya nata kamar lo supaya keliatan lega deh! Ayo!” kata Awang kembali bersemangat.
***
Setelah melewati training selama 3 bulan, akhirnya Windie jadi pekerja tetap di Mc. Donald. Yah, penghasilannya cukup buat menghidupi diri sekaligus bayar uang kosan tanpa bantuan Kakaknya lagi.
” Cape ? ” sapa Pranoto di suatu sore.
” Loh ? Noto? Kok kamu ada disini? ” tanya Windie. Kata aku-kamu nya masih melekat.
” Yaah jemput lo, mumpung gue senggang. Ayo,” tawar Pranoto sambil menepuk jok belakang motornya.
Windie langsung teringat Awang. ” Eng.. Enggak usah deh, biar aku naek mikrolet aja.”
” Ayo dong, gue udah cape-cape dateng ke sini, masa lo acuhin sih,” Pranoto memasang tampang memelas.
” Ya udah iya,” putus Windie akhirnya. Maafin gue ya Wang, tapi sejujurnya, gue mulai ada hati sama Noto. A, apa ini maksud kata-kata A Ridwan, takut neng jatuh cinta sama Noto? A, Neng kudu kumaha atuh?
” Win, pegangannya yang bener dong,” tegur Pranoto sedikit mengeraskan suaranya.
” Eh? I..Iya, ” Windie setengah memeluk pinggang Pranoto. Rasa hangat menjalari pipi hingga telinganya. Neng bener-bener udah jatuh cinta sama Noto, A…
Setengah jam berlalu…
” Makasih ya, ” Windie tersenyum .
” Sama-sama. Jawabannya gue tunggu ya ? ”
Windie mengangguk.
” Ya udah, gue balik ya, ” kata Pranoto. Kemudian ia memutar balik motornya. Deru motor Pranoto membuat Awang melongok keluar.
”Pranoto ya ?” tanya Awang di pintu kamarnya.
Windie menelan ludah, ”Iya.”
Awang menarik lengan Windie hingga ia terduduk di tempat tidurnya.
”Kamu suka Pranoto ya?”
”Enggak.”
”Sing jujur kowe!”
”Teu! Saha sih nu bogoh ka lalaki hideung, irung gede jeung nu boga panon opat jiga si pranoto kitu !“ teriak Windie tanpa jeda. Saking terdesaknya, hanya kata-kata itu yang keluar.
“Hah?“
“Ng… maksudnya, siapa sih yang suka sama laki-laki yang item, hidungnya besar juga punya mata empat kayak si Pranoto itu. Gitu, “ ulang Windie berusaha tenang.
Awang tertawa lega.
“Syukur deh kalau kayak gitu. Hm… elonya aja yang buta! Cowok ganteng kayak Pranoto lo bilang gitu. Ya udah deh, sory ya Win, hehehe…, “ Awang menepuk lengan Windie yang sedikit memerah karena cengkramannya, “elo boleh ke kamar lo gih. “
Windie tersnyum kecut dan keluar dari kamar Awang sambil mengusap lengannya yang masih perih. Apa maunya Awang ? Aku jawab gitu, komentarnya gini. Tapi kalau aku bilang sebaliknya, aku gak yakin kalo situasinya bakal datengin keberuntungan kayak gini. Berlebihan…
***
Beberapa bulan berlalu…
Meski kentara, Windie bisa mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia melongok jam dindingnya. Jam 9. Nyaris seperempat jam lalu ia baru berbaring setelah membereskan kamarnya. Itu juga karena ia libur kerja.
”Sebentar.” Windie memutar kunci pintunya.
”Neng, ada yang mau Aa omongin sama kamu,” kata Ridwan tiba-tiba. Ia langsung ngeloyor masuk ke dalam.
”Kenapa sih A?” Windie menutup kamarnya. ”Kayaknya penting yah?”
”Neng, Aa udah ngomong berkali-kali sama Neng, kalo Neng tu jangan deketin Pranoto. Apa omongan Aa gak Neng anggep?”
Windie menghela nafas kesal.
”Aa kenapa sih? Apa salah kalau Neng jatuh cinta?”
”Tuh kan, jadi bener kamu udah punya hati sama Pranoto!”
Windie menutup mulutnya. Terpaksa ia harus jujur. Susahnya punya cinta.
”Bukannya salah kamu jatuh cinta, tapi yang salah sama siapa kamu jatuh cinta !” tegas Ridwan mulai keras.
”Aa kenapa sih? Udah jelas Noto sama Awang cuma sahabatan, kenapa Kakak segitu sewotnya sih?”
”Aa Cuma gak pengen kalo Neng kenapa-napa.”
”Kenapa-napa gimana sih maksud Aa?”
Wajah Ridwan tampak merah padam menahan emosinya.
”Awang itu histerya. Aduh namanya apa sih, pokoknya suka histeris gitu deh.”
”Maksud Aa apaan sih?”
”Emh… gimana ya. Mentalnya sedikit keganggu, dan itu bisa berakibat fatal.”
Windie masih tidak mengerti, pastinya juga tidak percaya.
”Gak usah bikin kebohongan deh A.”
”Aa harus ngomong dengan cara apalagi sama kamu. Ini juga Pranoto sendiri yang bilang, ” Ridwan mulai putus asa.
Windie terdiam sejenak. Ia kembali pada dirinya seminggu lalu.
”Aku gak bisa nerima kamu,“ Windie tertunduk menyesal.
“Pasti karena Awang kan ? Please dengerin gue,” Pranoto menarik Windie hingga berhadapan. “ Awang itu cuma sahabat gue. Lo juga tahu kan ? SAHABAT !!! Yang gue sayang itu, ya cuma elo.”
”Tapi buat Awang gak kayak gitu. Awang selalu beranggapan kalo kamu tuh kekasihnya dia meski kentara, meski kamu selalu ngebatesin diri sebagai sahabat dia.”
”Itu karena semuanya beda. Yang ada di hati gue cuma lo, please ngertiin gue? Percaya sama gue? Kita bisa backstreet di depan Awang.”
”Loh? backstreet? Aku makin gak ngerti deh sama kamu, kenapa juga harus kayak gitu. Jujur deh, kamu sayang sama Awang? Kenapa kamu gak pengen hubungan kita diketahui Awang?” tanya Windie tak habis pikir.
”Bukan gitu. Ada hal-hal yang gue pikir elo gak pantes untuk tahu.”
”Tapi apa? ” Windie mendesak. ”Oke, aku mau sama kamu, asal kita jujur sama Awang. Awalnya Awang pasti bakalan ngerasa sakit, tapi aku yakin lambat laun dia bisa nerima. Daripada kita nutupin yang akhirnya bakal lebih nyakitin dia, aku gak mau….”
”Gak segampang itu,” Pranoto benar-benar merasa bimbang.
Windie menatap Pranoto penuh harap.
Setelah lama akhirnya Pranoto menghela nafas dalam.
”Ya udah, nanti biar gue yang ngomong sama Awang.”
”Neng? Kamu kenapa?”
”Eh?” Windie tersadar dari lamunannya. Namun pikirannya belum kembali. Logikanya, apa hubungannya sama Awang ? Sahabat. Apakah seorang sahabat serumit ini sampai harus backstreet ? Awang tahu gimana perasaan Noto, Awang juga bilang sama aku, terus? Aduuh bingung….
”Windie,” panggil Ridwan dengan sebutan nama.
”A, kita ke sebelah ya!”
Ridwan mengernyit. Tapi ia tetap mengikuti langkah adiknya yang terburu-buru. Berulang kali Windie mengetuk kamar Awang. Tak ada jawaban.
”Awang?“ tanya Ridwan.
Windie mengangguk.
“Tadi Aa papasan sama dia waktu mau kesini,“ kata Ridwan bodoh.
“Iiiih, bukannya bilang dari tadi sih!” Windie berdecak sebal. ”Terus dia kemana?“ tanya Windie panik.
“Kontrakan gue ma Pranoto,“ Ridwan baru sadar.
Keduanya tunggang langgang berlari menuju rumah itu. Terdengar isakan yang hampir memudar namun datar.
Windie membuka pintu depan perlahan. Kaca bening berserakan. Seisi ruangan tak karuan. Banyak titik darah membentuk bercak bak bayangan bunga, namun bukan keindahan. Windie menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan. Dilihatnya Pranoto terbaring lunglai dalam dekapan Awang yang tengah menangis pilu. Darah. Darah itu mengalir dari puncak kepala Pranoto, masih segar. Dan mata itu terpejam. Tak ada tanda ia akan kembali sadar. Kemudian wajah itu semakin pucat, dialiri aliran sungai kecil berwarna merah pekat.
”Noto, tresno kowe gedhe nandingin sagala,” Awang mengucapkan kata itu berulang-ulang.
Windie berusaha mendekat, tapi Ridwan menahannya.
”Terlambat,” Ridwan berbisik ketika melihat sumber darah dari puncak kepala Pranoto yang nyaris remuk.
”Tapi A,” Windie berbalik ketika mendengar gaduh di belakangnya. Ternyata warga mulai berdesakkan memenuhi seisi rumah. Wajah mereka beragam. Seakan ada yang berteriak ” Pembunuhan!! ” atau hanya melongok dengan cuek ” Ada apaan sih?”
Sedangkan Windie merasa tubuhnya ringan, dan kesadarannya mulai melayang….
***
Windie berjongkok di samping gundukan tanah merah yang bertabur bunga tujuh rupa. Matanya masih sangat sembab. Hanya tinggal beberapa orang, sepeninggal rombongan keluarga yang kembali pulang.
”A, Neng pernah sesekali membayangkan bakal dateng ke kota kelahiran Noto, tapi bukan dengan cara seperti ini A.”
Ridwan merangkul pundak adiknya.
”Aa tahu Neng.”
”Semuanya salah Neng. Seharusnya Neng turutin apa kata Aa. Niatnya Neng pengen ngerangkai hidup Neng, tapi nyatanya gak semudah merangkai sebuah lingkaran dengan sebuah pena. Neng gak tahu Neng harus kayak gimana lagi A.”
”Udah, ini memang udah jalannya. Seharusnya Aa juga lebih terbuka sama Neng dari awal, tapi emang udah jadi kehendak yang di atas. Kita mau gimana lagi. Ayo Neng, travel Jakartaannya udah nunggu. ”
”A, Neng gak akan kembali ke Jakarta.”
”Apa?”
”Neng mau sama Ibu aja, Neng mau pulang ke kampung,” Windie memastikan hatinya. “ Keberatan hati Ibu akan restunya buat Neng, gak akan pernah memuluskan jalan hidup Neng. Lagipula Ibu juga udah tua, gak ada yang nemenin. Siapa lagi yang nemenin kalau bukan Neng?“ Windie menyeka air matanya. Pedih dalam gundahku harus kukikis hilang. Tapi Noto, kamu bakal tetep ada di hati aku. Windie mengelus dadanya yang terasa sesak.
Ridwan tersenyum pilu.
“Iya atuh. Aa juga mau sekalian silaturrahmi sama Ibu,“ Ridwan merangkul adiknya di bawah mendung yang mengikis awan.
Suster itu menatap dengan ekspresi tak karuan, sedang yang ditatap merasa terganggu.
”Heh! Sampean iki! Arep njuput Noto ti kowenya! Hayoh ngaku !” Awang berteriak galak.
Ia mencekik Suster itu dengan garang. Suster-suter lain segera melerai dan menarik Awang menjauh. Suster yang merasa seperdetik lalu nyawanya akan hilang memegangi lehernya yang nyeri.
”Dasar gila.”
ih,,,,,,,,,,,,,,, gila ne cerita………..
msk hmpr sebagyan pke bhsa sunda,,,,,,,,,,,,,
plizzzzzzzzzzzzz dehh coy!!!!!!!!!!!!!!!!1
2008 ne…..!!!!!!!!!
Kalo bikin cerita yang bener donk..masa ngawur gitu,ga masuk di akal ah,,sory gw bener2x ga suka ma in cerita.judulnya apa ceritanya apa……….