Orang yang Tidak Punya Nyali
Juni 1st, 2008 by danisha15
Orang yang tidak punya nyali, sepertinya julukan itu tepat buat aku. Hhhhh…. Sejak SMP, sifat ini sudah tergambar dengan jelas. Contohnya aja, waktu aku ikut ekstrakurikuler vocal group. Awalnya, aku memang punya niat, punya tekad untuk jadi seorang penyanyi terkenal. Makanya, aku ikut vocal group. Tapi baru satu kali aku ikut konser vocal group di aula untuk mengisi acara para guru, aku langsung merasa tidak betah. Ditambah dengan penampilan berikutnya untuk mengikuti lomba vocal group se-Surabaya. Persiapannya saja membuat aku sangat tidak betah. Latihan tiap pulang sekolah, belum lagi pelatih yang sangat killer. Entah kenapa, itu membuatku stress. Aku ingin berhenti saja. Bahkan untuk berhenti pun, aku takut dengan pelatih yang sangat killer itu, mengingat pelatihku selalu memanggil siapapun yang bolos latihan dan mencecar agar anggota vocal group tidak keluar dari vocal group itu. Parahnya, aku frustasi sampai menangis berhari-hari. Mungkin ibu tidak tega melihatku tertekan hanya karena vocal group. Akhirnya, Ibu turun tangan berbicara kepada pelatih killer untuk merelakan aku keluar dari vocal group. How fool…. Tapi aku hanya tertegun melihat temanku yang selalu bersama denganku saat mengikutiku vocal group itu, ternyata sudah menjadi dirijen atau konduktor atau pemimpin vocal group.
Selanjutnya, aku mengikuti ekstrakurikuler volley. Bertepatan dengan temen dekatku yang juga ikut ekskul volley terlebih dahulu, aku dengan riang mengikuti volley. Namun selang empat kali latihan fisik, keliling lapangan kesekian kalinya, naik tangga kesekian kalinya, aku berhenti. Bukannya aku tidak tahan dengan latihan fisik itu, aku lebih tidak tahan dengan teman-temanku yang ternyata lebih bisa dari aku. Hhhh… Aku tahu ini aneh. Bukankah wajar bila aku lebih tidak bisa dari teman-temanku. Aku kan baru jadi anggota. Jelas wajar. Namun entah mengapa, satu bulan kemudian, aku malah menyuporteri teman-temanku bertanding dengan sekolah lain, dan dalam hati aku ingin bertanding bersama mereka. How fool….
Lalu, aku beralih ke science. Aku ikut lomba Matematika. Beberapa kali, aku mendapatkan pelatihan mengerjakan soal-soal lomba tahun lalu bersama teman kompetisi lainnya. Yang membuatku lega, aku bisa mengerjakan beberapa soal. Sebenarnya aku tahu, aku tidak sepintar teman-temanku yang ikut kompetisi ini. Mungkin aku yang tertidak pintar. Sebenarnya aku juga tahu, kemenagan bukanlah tujuanku. Aku hanya ingin mengetahui sensasi mengikuti lomba Matematika. Dan rasanya memang aneh. Aku melihat temanku yang pintar itu selalu bertanya kepada pembimbing latihan soal dan selalu berdiskusi dengannya. Sedangkan aku, aku hanya mengerjakan soal yang aku bisa. Dan bila aku tidak bisa mengerjakan suatu soal, aku meninggalkannya tanpa ingin mencari jawaban soal tersebut. Saat hari pengadaan kompetisi itu tiba, jelas saja aku hanya mengerjakan beberapa soal yang hanya bisa dihitung. Untuk soal yang tidak bisa kukerjakan, aku tidak ambil pusing. Setelah kompetisi usai, sekolah penyelenggara kompetisi mengadakan serangkaian acara untuk mengisi kekosongan menunggu pengumuman babak penysihan awal. Dalam hatiku, aku sungguh berharap aku lolos, dan herannya, aku lolos. Tapi untuk soal selanjutnya, aku tidak dapat menjawab satu soal pun.
Aku melewati masa SMP-ku dengan biasa-biasa saja. Begitu pula dengan masa SMA-ku. Maksudku memang aku mengikuti beragam organisasi ataupun lomba. Namun, itu hanya terhenti di tengah-tengah. Karena memang aku orang yang tidak punya nyali. Aku memang mengikuti berbagai macam lomba namun ada beberapa lomba yang aku hindari. Sebenarnya aku sangat ingin mengikuti lomba jurnalistik yang diadakan suatu koran terkenal di kotaku. Aku benar-benar ingin. Tapi saat aku mendapatkan tawaran tersebut dari kakak kelasku, aku bingung, takut akan risiko yang aku hadapi, takut akan kegagalan yang aku hadapi.
”Aduh Mbak, gimana ya? Aku…”
Lalu tiba-tiba teman satu angkatanku datang dan aku berkata, ”Ah, Heni aja Mbak! Dia kan pinter motret, pinter wawancara!”, sahutku tiba-tiba.
”Ada apa?” tanya Heni.
”Ini lomba jurnalistik yang diadain ama koran Teks itu. Kamu mau ikut?” tanya kakak kelasku ke Heni.
”Oh, mau, mau!”
Dan mereka berangkat untuk mendaftar menjadi peserta lomba jurnalistik itu. Beberapa minggu kemudian, aku melihat foto mereka terpampang di halaman depan harian terkenal itu. Pemenang !!!! Lalu aku juga melihat mereka maju ke hadapan para murid dan guru saat penyerahan trofi dan hadiah seusai upacara bendera. Aku tertegun. Bila aku mengatakan ’iya’ saat kakak kelasku menawarkan padaku, apakah aku akan menang? Kalau iya, how fool….
Aku mengikuti lomba baca puisi, lomba menulis artikel, lomba mading, namun hanya kegagalan yang aku dapatkan. Nyali. Aku tidak punya nyali untuk menang.
Selanjutnya aku pun hanya menjadi anak SMA yang biasa-biasa saja. Tidak punya prestasi yang membanggakan karena aku hanya bermimpi saja. Walaupun aku mengikuti segala bentuk kegiatan dari acara baksos, MOS, agustusan, sampai class meeting, aku hanya begini-begini saja.
Aku pun kuliah dan tetap tidak punya nyali. Aku mengikuti ekstrakulikuler fotografi. Itu karena tidak ada ekskul jurnalistik. Aku mengikuti fotografi namun tidak ada yang aku dapat karena aku tidak punya nyali untuk belajar fotografi. Untuk membawa kamera dan memotret sekeliling saja, aku tidak berani. Bagaimana mungkin aku bisa memotret dengan leluasa kalau seperti ini? Akhirnya aku banyak mengikuti sisi organisasi di ekskul fotografi saja. Menjadi sekretaris, ke rektorat, dan sebagainya. Lalu aku melihat temanku, yang juga satu teman perjuangan, ia berkembang pesat bahkan menjadi ketua ekskul fotografi, menenteng kameranya dan berani mengambil angle dari tempat-tempat yang terlihat. Aku juga ingin tapi aku tidak berani. Lebih tepatnya malu. How fool…
Begitu banyak tawaran untuk memotret, namun aku tidak melakukannya. Sudah kuberi tahu bahwa aku merasa tidak bisa.
Lalu tiba-tiba kakak kelasku mengajakku ikut lomba karya tulis mahasiswa. Sebenarnya aku tidak punya nyali untuk menang. Kuberitahu, aku hanya mengikuti apa kata kakak kelasku saja. Bila aku disuruh mencari bahan, aku mengerjakannya. Bila tidak, aku diam saja tanpa inisiatif untuk melakukan sesuatu yang membuat kelompok kami menang. Dan yah, kegagalan lagi yang kudapatkan.
Sekarang, hari ini, aku terdiam. Apa yang dapat dibanggakan pada diriku? Aku melihat kakakku. Dia bisa bermain piano lalu menjadi guru piano yang menghasilkan tabungan berjuta-juta. Dulu aku les piano di tempat yang sama dan guru yang sama dengan kakakku. Namun aku berhenti karena ada suatu kejadian yang membuatku ingin berhenti. Lagi-lagi karena aku tidak punya nyali untuk melawan teman-teman yang mencemoohku.
Padahal aku telah mendapatkan piala kemenangan di kompetisi piano setempat kursus yang besar itu. Tapi toh aku tidak merayakan kemenangan itu. Bukankah dengan aku mendapatkan piala itu berarti aku punya bakat yang mungkin dapat membawa masa depan berbeda di kemudian hari? Namun aku meninggalkannya.
Telah banyak kesempatan yang aku lewatkan. Hidup itu pilihan. Aku tahu itu. Sebenarnya aku memiliki sejumlah impian yang terkubur begitu saja. Aku ingin kerja sambilan menjadi penyiar radio saat aku kuliah, lalu aku ingin menghasilkan novel di umurku yang kedelapan belas. Tapi rasanya itu hanya khayalan saja karena aku yang menganggapnya seperti itu. Aku menanggap bahwa aku tidak bisa menjadi orang yang aku impikan. Aku menganggap diriku tidak cukup untuk menjadi seseorang yang aku impikan. Jadi aku kubur dalam-dalam impianku dan aku hanya berkhayal meraih impianku. Lebih parah lagi, aku tidak ingin mengambil risiko. How fool…
Kini apa yang harus kulakukan? Usiaku terus bertambah. Apakah aku orang yang terlalu merasa tidak puas dengan apa yang telah aku dapatkan? Atau apakah aku adalah orang yang hanya terlalu ingin menjadi nomor satu tanpa melakukan sesuatu yang berarti? Aku rasa jawaban terakhir yang benar. Sekali lagi, kukatakan aku adalah orang yang tidak punya nyali.
Danisha I like it! Tulisannya bagus dan hahahaha ………
Mengapa Tak Mencoba Sedangkan Mencoba Tak Mengapa…
Mau Gagal or Berhasil bukan ukuran… Tapi Berikan yang terbaik bagi diri sendiri.. Itulah keberhasilan yang hakiki n bisa menghasilkan kebahagiaan dalam diri… n Insya Allah bisa membawa bermanfaat bagi orang lain