KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Nasihat Mama

Aku berada dalam gua yang gelap. Tak ada cahaya terang di sekelilingku. Satu-satunya sumber penerangan yang membantu penglihatanku adalah seberkas cahaya dari sebuah titik lubang di sudut langit-langit mulut gua yang angker di mana kini aku berada. Aku menangis, berteriak histeris sekeras-kerasnya. Tak adakah seorang pun yang mendengarku. Kupanggil keras mama dan papaku. Berharap mereka segera menolongku. Karena hanya ibu dan ayahlah yang selalu kusayangi.

“Ha…ha…ha,” suara keras nan menyeramkan mendirikan seluruh bulu kudukku. Suara horror yang lebih menyeramkan dari suara Mak Lampir ataupun Buto Ijo yang sering kusaksikan dari sinetron misteri.

Aku bingung, berlari kesana kemari seperti orang linglung tak tahu jalan pulang, pulang ke rumahku yang nyaman, yang tentram dan menentramkan hatiku. Aku kembali tertegun, dari balik sudut gua itu muncul bayangan hitam yang di awali dengan segumpal asap putih. Sosok itu tepat berada dalam tatapanku, persis hanya beberapa langkah saja di depanku. Aku menjerit, meraung-raung laksana anak ayam yang hendak diterkam serigala. Laksana mangsa yang berada tepat menganga di depan mulut buaya.

Suaranya semakin keras, menggema, membahana, jauh menelisik masuk ke seluruh saraf-saraf tubuhku. Meruntuhkan seluruh keberanianku, dan aku kini benar-benar berada dalam ketakutan yang teramat sangat takut. Belum pernah aku takut setakut ini. Aku adalah anak paling besar, paling berani, paling suka mengerjai temanku sendiri hingga mereka menangis cengeng di depanku, dan saat itulah saat kemenangan yang membanggakanku. Apakah saat yang kualami saat ini adalah berada di hari pembalasan seperti yang sering diceramahkan oleh Pak Ustadz Hasan, bahwa setiap manusia di akherat akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya. Jika banyak kebaikannya, maka surgalah tempatnya. Dan jika banyak kejahatannya, nerakalah tempatnya.

Kini sesosok bayangan hitam itu semakin mendekat, tampak jelas sudah bentuknya, besar, hitam tinggi, dan ketika kulihat ke atas, tanpa kepala. Tiba-tiba saja, kepalanya yang seram, bergigi tajam, mata besar merah menyala, tepat berada satu inci saja di depan wajahku. Aku pun spontan memutar haluan berbalik arah, berlari sekuat-kuatnya selama aku masih bisa berlari. Menerobos dinding-dinding gelap gua yang nyaris tak ada cahaya.

“Hai kamu anak nakal, kenapa kau lari ha! Takut? Ha…ha…ha…,” makhluk itu mengejekku persis seperti saat aku menertawakan temanku, Bahrun, saat aku menakutinya dengan cara mengagetkannya sesaat setelah dia pulang sehabis mengaji.

Aku terus saja berlari, dengan bertumpuk perasaan bersalah pada semua orang yang kukenal. Pada Mama yang sering kuacuhkan ketika disuruh membeli gula di warung Pak Hadi, pada Papa yang kubohongi karena memberiku uang untuk beli buku iqra malah kugunakan untuk jajan mie ayam Mas Somad yang terkenal lezat itu. Pada mama dan papaku yang tak pernah kudengarkan nasehat-nasehatnya. Kepada Dinda, adikku yang sering kubuat menangis. Pada teman-teman sekolah dan teman mengaji yang sering kukerjai. Pokoknya kepada semuanya saja yang pernah kusakiti. Andai masih ada waktuku untuk meminta maaf, ingin segera aku meminta maaf kepada semuanya.

Aku terus saja berlari, makhluk menyeramkan itu terus saja mengikutiku sekuat apapun aku berlari. Aku semakin keras menangis, tubuhku berkeringat, badanku lelah. Aku berhenti, aku berdiri di sekeliling tulang belulang yang berserakan. Sepertinya ini adalah tempat pembantaian. Apakah aku giliran berikutnya? Menjadi mangsa yang siap untuk dirajam, dilenyapkan. Kini makhluk-makhluk menyeramkan itu tidak hanya satu. Kini puluhan, ratusan, oh tidak, ternyata ribuan, mungkin jutaan, oh aku tak bisa mengira-ngira lagi berapa jumlah mereka. Yang jelas mereka mendekatiku. Aku takut. Hingga takutnya, aku merasakan hangat, celanaku basah. Mereka semua mendekatiku, dekat, dan semakin dekat, menjulurkan lidah menjijikan, menandakan bahwa mereka kelaparan.

“Mama!” aku berteriak sekeras-kerasnya sambil memejamkan mata. Hingga gelap yang kurasakan.

“Bangun Anton! Ayo bangun, kamu kenapa? Mimpi buruk ya?”

Aku tersadar. Bahagia karena Mama berada di sampingku, karena aku terlepas dari mimpi burukku.

“Istighfar Nak, asaghfirullahhal’adzim,” Mama membimbingku beristighfar.

Sementara aku sendiri masih ngos-ngosan dan berkeringat. Mama memelukku sepenuh kasih. Setelah dipeluknya, aku merasa tenang.

“Makanya, sebelum tidur itu sholat Isya dulu, dan berdoa supaya tidak mimpi yang aneh-aneh. Sampai teriak-teriak segala,” mamaku berujar menasihatiku.

“Iya Ma!” jawabku singkat. Mama masih membelai-belai kepalaku yang berkeringat.

“Mas Anton kenapa Ma!” tanya Dinda, adikku yang tiba-tiba saja masuk ke kamarku.

“Kang masmu mimpi buruk Nak!” jawab Mamaku.

“Idih, Mas Anton udah besar kok masih ngompol!” ejek adikku yang serta merta memperhatikan celanaku. Dia terus saja menggodaku.

“Awas kamu ya!” sahutku sambil memegang bantal guling hendak melemparkannya.

“Sudah, sudah, jangan ribut!” kata Mama melerai.

“Dinda, sana mandi duluan, nanti terlambat sekolah, kamu juga Anton! Buruan sana cepat” ujar Mama.

Dengan langkah gontai ku menuju kamar mandi. Aku ngeri membayangkan apa yang kualami dalam mimpiku tadi. Dalam hatiku aku berjanji akan bersikap baik. Akan meminta maaf kepada semuanya. Aku tidak mau dihantui rasa bersalah, hingga mimpi-mimpi itu membayangi tidurku lagi. Dan selalu ingat untuk sholat Isya dulu sebelum tidur malam.
Purworejo, April 2008

One Response to “Nasihat Mama”

  1. on 15 Aug 2008 at 20:49Lintang

    Tema nya ap tugH?critanya lumayan bguz koQ. . . .

Tinggalkan Komentar