Kucinta Dia
Juni 1st, 2008 by sweet magician
Tuhan..
perlihatkan padaku
Wajah dia yang sangat kucintai
Tolong buat dia merasa
Bahwa aku sedang memeluknya
Ku takkan tenang
Sebelum dia tahu
Kucinta dia…..
Dengan perasaan
Sepenuh hatiku
Walaupun nanti
Tak bertemu lagi
Kuhidup di hatinya
Hatinya……
Entah mengapa cinta datang
Saat sudah terjadi perpisahan
Ku takkan tenang
Sebelum dia tahu (ASTRID, Kucinta Dia)
Aurel kembali melantunkan lagu itu dengan gitarnya. Lagu inilah yang menjadi saksi cinta Aurel. Saksi bahwa Aurel sedang jatuh cinta. Saksi bahwa cintanya itu datang setelah dia berpisah dengan orang yang dicintainya. Tidak ada satu pun yang mengetahui tentang perasaan Aurel, tidak sahabat-sahabatnya tidak juga mamanya yang biasanya selalu menjadi tempat curhatnya. Aurel sebenarnya malu mengakui perasaannya itu. Jangankan memberitahukan kepada orang lain, kepada dirinya sendiri saja Aurel membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menyerah kalo dia benar-benar sedang jatuh cinta.
Nama cowok itu Raka. Dia teman satu sekolah Aural saat SMP. Sebenarnya Raka adalah mantan pacarnya Aurel. Pacar yang pada awalnya terpaksa diterima Aurel demi sahabatnya, Penty.
“Hayolah, Rel!! Terima aja. Demi Penty nih,” bujuk Vera, salah satu sahabat Aurel. Penty menganggukkan kepalanya bersemangat.
“Iya Rel, demi gue,” Penty ikut membujuk Aurel. Aurel memandang kedua sahabatnya itu sebal.
“Kenapa harus gue coba? Kenapa gak lu aja, Ver? Diakan sebelumnya naksir sama lu.”
“Ya elah gue gak suka kali sama dia,” jawab Vera.
“Nah, gue juga gak suka. Lu kan tau kalo gue belum mau pacaran. Kita masih kelas 3 SMP guys. Don’t you remember that,” Aurel memandang Vera bete. Vera mengerlingkan matanya sebal melihat sahabatnya yang keras kepala ini.
“OK. Kalopun gue mau nerima Raka, dia gak bakalan lagi suka sama gue. Raka nembak gue waktu kelas 1 kali. Inikan sudah kelas 3. Masalahnya sekarang demi jadiannya Penty dengan Adit. Si Adit itu setia kawannya tinggi, dia gak mau pacaran sebelum sahabatnya sendiri punya pacar. Nah, saat ini sahabatnya itu naksir sama lu, bukan sama gue lagi,” jelas Vera panjang lebar.
“Rel, lu kan tau gue suka sama Adit. Selagi gue gak bertepuk sebelah tangan gini,” Penty kembali membujuk Aurel.
“Pen, itu tandanya Adit gak beneran suka sama lu. Kalo dia suka sama lu peduli amat dia temennya punya pacar ato gak,” Aurel berusaha meyakinkan Penty. Dasar orang kalo lagi jatuh cinta, otaknya ditaroh dimana sih.
“Masa sih lu tega bikin sahabat lu sendiri patah hati,” Vera memandang Aurel sinis. Aurel jadi serba salah.
“Bukan itu maksud gue.”
“Trus apa??!! Apa salahnya sih lu coba aja jadian sama dia. Mana tau aja lu jadi suka sama dia. Jaman sekarang peduli amat pacaran kelas 3 SMP, anak SD aja ada yang udah pacaran,” Penty mulai emosi, “lu gak mau banget berkorban demi gue.”
“Bukan begitu Penty manis,” Aurel memandang Penty, “gue bener-bener belum pengen pacaran sekarang. Ngerti apa itu pacaran aja gue nggak.”
Penty mendengus sebal. Aurel memang kepala batu.
“Pokoknya kalo lu gak mau nerima Raka, gue juga gak bakalan jadian sama Adit. Lagian Adit juga gak bakalan mau pacaran sama gue. Jangan-jangan dia malah jadi benci sama gue,” Penty mulai terisak. Vera memandang Aurel menyalahkan. Aurel jadi keki.
“OK, OK,” Aurel berusaha menenangkan Penty, “gue mau nerima Raka demi lu.”
Vera dan Penty bersorak senang. Aurel menghela nafasnya berat. Si Penty ini kok cepat amat sih pubernya.
“Thanks, Rel. Lu emang the best deh pokoknya.” Penty memeluk Aurel, diikuti oleh Vera. Aurel hanya tersenyum pasrah melihat kebahagiaan sahabat-sahabatnya itu. Kebahagiaan di atas penderitannya. Hah…… nasib.
Kejadian itulah yang pada akhirnya membawa penyesalan yang begitu dalam bagi Aurel. Masalahnya sekarang dia justru jadi suka beneran sama Raka. Tapi, perasaan sukanya itu mulai muncul sejak dia selesai SMA dan kuliah di kota lain. Bayangkan berapa lama tenggang waktunya. Setelah Aurel bersedia menerima Raka, Penty dan Adit pun ikut jadian. Jadilah Aurel korban nafsu Penty yang pengen banget jadian sama Adit.
Raka cowok yang baik sebenarnya, tapi tetap aja perasaannya ke Raka tidak berubah. Dia tetap menganggap Raka bukan siapa-siapa. Aurel dan Raka jadian selama satu tahun, demikian juga Penty dan Adit. Penty dan Adit lebih dulu putus karena Adit akan pindah ke kota lain. Sementara Penty maunya mereka tetap melanjutkan di SMA yang sama. Aurel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu yang jelas-jelas kekanak-kanakan banget.
“Trus sekarang gue gimana?” Aurel menanyakan nasibnya kepada Vera dan Penty. Saat itu liburan panjang dan Penty benar-benar sudah putus dengan Adit. Penty mengangkat bahunya. Dia mengelap ingusnya dengan tisu. Dia baru selesai menangis karena putus dengan Adit.
“Terserah lu,” jawab Penty singkat. Aurel memandang Vera meminta jawaban yang lebih bermutu. Tapi, Vera membuang mukanya dan sibuk dengan urusan mengecat kukunya. Aurel memandang kedua sahabatnya itu.
“Kalian gimana sih. Gue pacaran sama Raka kan demi Penty. Sekarang kalian lepas tangan gitu aja,” Aurel melipat tangannnya di dada. Sebenarnya mereka ini sahabat atau apa sih.
“Lu suka gak sama dia?” tanya Penty. Aurel mengerling sinis kepada Penty.
“Perasaan gue ke dia masih sama dengan perasaan gue ke dia saat kalian paksa gue buat jadian sama dia,” jawab Aurel berapi-api. Vera menghentikan kegiatan mengecat kukunya.
“Masa sih gak ada perasaan suka sedikitpun yang muncul?” tanyanya heran.
“Nggak,” jawab Aurel singkat.
“Nah.. kalo gitu apa susahnya, lu putusin aja dia,” Penty memberikan idenya.
Sebenarnya itu bukan ide yang buruk. Tapi Raka itu begitu baik sama Aurel. Aurel juga bukan tipe cewek yang tegaan buat nyakitin perasaan orang lain.
“Iya, ide bagus tu,” timpal Vera kemudian.
Aurel memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Raka lagi sejak liburan kenaikan kelas itu. Raka juga nampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menanyakan sikap Aurel itu. Aurel mengira kalo seperti ini terus, Raka pasti akan lupa sama dia. Lebih-lebih jika mereka beda SMA.
Tapi, ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Raka masuk SMA yang sama dengan Aurel dan kedua sahabatnya. Mereka bertemu pada saat mendaftar ulang. Aurel kaget bukan main melihat Raka berdiri di hadapannya sambil tersenyum kepadanya.
“Ternyata kita satu SMA ya?” tanya Raka. Aurel hanya meringis. Dia memandang Vera dan Penty meminta bantuan.
“Eh Ka, Aurel harus ngukur baju dulu,” Vera menarik tangan Aurel dan mengajaknya pergi diikuti oleh Penty. Tinggallah Raka yang heran dengan perubahan sikap ketiga sahabat itu.
“Mampus gue. Gue harus ngapain???” tanya Aurel panik. Mereka sedang duduk di kantin sekolah. Penty menyeruput teh botolnya.
“Gue kan udah bilang, lu putusin aja dia. Kasihankan dia kalo digantungin kaya gini.”
Vera mengangguk setuju. Aurel menarik nafasnya.
“Tapi gue gak tega. Lu berdua tau ndiri gue gimana orangnya.”
“Gimana kalo gue aja yang sampein ke Raka kalo lu minta putus,” Penty mengajukan usulnya. Vera dan Aurel memandang Penty tidak yakin.
“Kenapa? Gue bisa kok ngomong baek-baek ke Raka,” lanjut Penty lagi.
“Lu setuju, Rel?” tanya Vera kepada Aurel. Aurel mengangkat bahunya.
“Terserah kalian aja deh,” jawabnya.
“Biar gue bantuin Penty ngomong nanti.”
Yah setidaknya Vera bisa membantu Penty untuk tidak ngomong yang tidak-tidak sama Raka.
Kejadian setelah hari itulah yang membuat hubungan Aurel dan Raka berubah 360 derajat. Aurel bersikap seolah-olah Raka tidak ada. Jika bertemu dia sama sekali tidak menyapa bahkan tidak melihat Raka. Sementara itu Raka hanya diam saja. Mungkin karena dia juga marah dengan sikap Aurel. Aurel tidak memikirkan soal itu, yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya dia bisa lepas dari Raka. Hal ini berlangsung selama 3 tahun. Selama 3 tahun Aurel menganggap tidak ada yang namanya Raka di sekolahnya. Bahkan sewaktu sekelas pun Aurel tidak pernah berbicara dengan Raka. Setiap berpapasan dengan Raka, Aurel selalu memutar balik badannya dan lari ngacir.
Tapi perasaannya itu berubah drastis ketika ia kuliah. Sejak dia putus hubungan dengan Raka, Aurel tidak pernah dekat dengan cowok lain. Hal itu berlangsung selama 3 tahun di SMA. Vera dan Penty selalu berusaha mencarikan Aurel pacar. Tapi, tidak ada satupun dari cowok yang disodorkan Vera dan Penty bisa bikin Aurel suka.
“Jangan-jangan lu lesbi lagi, Rel?” tanya Penty tiba-tiba.
“Heh… lu jangan macam-macam ya. Enak aja bilang gue lesbi. Gue masih normal kali,” semprot Aurel.
“Trus kok sampe sekarang lu gak pernah suka sama cowok? Gue sama Penty aja udah ada lima kali ganti cowok,” Vera memandang Aurel heran.
“Mana gue tau,” jawab Aurel singkat. Vera dan Penty hanya memandang Aurel takjub. Heran mereka lihat sahabat mereka yang satu ini.
***
Saat libur kuliah Aurel selalu pulang ke Bandung. Sejak kuliah, Aurel berpisah dengan Penty dan Vera. Aurel kuliah di Jakarta. Mereka hanya bisa bertemu saat liburan.
“Rel, jalan yuk!!!” ajak Vera. Saat itu dia sedang main di rumah Aurel. Aurel menganggukkan kepalanya.
“Kita jemput Penty?” tanya Aurel.
“Ya iyalah. Bisa ngambek berat tu anak kalo gak kita ajak jalan,” Aurel tertawa. Iya juga sih.
Mereka pergi jalan-jalan ke mal. Disanalah pertemuan tidak terduga itu terjadi. Ketika sedang melihat-lihat komik di toko buku, Aurel bertabrakan dengan seorang cowok.
“Eh sorry,” Aurel membantu mengambil buku-buku cowok itu yang terjatuh, “gue gak sengaja.” Aurel menyerahkan buku-buku itu dan betapa kagetnya dia setelah mengetahui siapa cowok yang ditabraknya itu.
“Raka???” pekik Aurel.
“Aurel??” Raka pun tidak kalah kagetnya. Aurel langsung berdiri. Cuma ini hal yang ditakutkannya kalo dia pulang ke Bandung, ketemu sama Raka.
“Rel,” Penty memanggil Aurel.
“Lu kemana aja sih???” Vera memandang Aurel geram. Dicariin dari tadi, eh… rupanya sedang asik-asiknya ngobrol sama cowok.
“Raka?????” teriak Penty histeris. Aurel menginjak kaki Penty.
Penty langsung berteriak, “Sakit bodoh.”
Penty mencubit pinggang Aurel. Aurel meringis kesakitan.
“Lu kesini sama siapa?” tanya Vera kepada Raka. Gak nyangka banget dia bisa ketemu sama Raka disini secara mereka sudah lama banget gak ketemu.
Raka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia memandang Aurel sejenak.
“Sama cewek gue,” jawabnya singkat.
“Cewek????” tanya Vera dan Penty berbarengan. Raka menganggukkan kepalanya. Dia memperkenalkan mereka dengan pacarnya yang ternyata bernama Rani.
“Hebat si Raka ya. Cepet banget dapet pacarnya. Kalah lu, Rel!!” Vera menyenggol bahu Aurel. Mereka sedang makan ice cream. Penty cengengesan memandang Aurel. Aurel tidak menanggapi ejekan Vera dan Penty. Dia hanya memakan ice creamnya dalam diam. Setelah hampir beberapa lama baru sekarang dia bertemu lagi dengan Raka. Bisa ngobrol lagi, yah walaupun cuma sebentar.
Malam harinya Aurel mendapatkan ada missed call di HPnya. Dia tidak mengenali nomor telpon yang tercantum disana. Dia ragu untuk menelpon balik.
“Jangan-jangan orang iseng lagi,” gumamnya. Sekarang kan banyak orang yang hobinya cuma mengganggu ketenangan orang lain saja. HPnya berbunyi lagi. Kali ini SMS masuk ke HPnya. Lagu There’s Gotta Be More to Lifenya Stacie Orico terdengar. Aurel membukanya dan terkejut ketika mengetahui siapa yang mengesmsnya. Nomor yang masuk ke HPnya tadi ternyata adalah nomor Raka.
Hei, Rel lg ngapain? Ni gw Raka. Udh lm bgt gw gak ngobrol sm lu. Dgr2 lu kul di jkt y skrng?
Aurel bengong. Darimana Raka dapat no HPnya??? Aurel cepat-cepat mengetik SMS balasan.
Hi, jg! Gak ada. Gw bru plng dr main sm Vera dan Penty. Ia… udh lm qt gak ngobrol. Ia, gw skrng kul dJkt.
Aurel menarik nafasnya. Kok bisa ya dia semangat banget membalas sms dari Raka.
“Hah, mungkin karena gue sudah lama gak jumpa kali sama dia,” gumam Aurel. Dia menepis semua kemungkinan termasuk kalo dia emang kangen sama Raka. Jadilah malam itu malam Aurel dan Raka bersms ria.
***
Setelah malam itu, Aurel dan Raka kembali putus hubungan sampai sekarang. Sebenarnya berkali-kali Aurel berharap Raka mengesmsnya, apalagi kalo Aurel lagi gak ada kerjaan apa-apa di kostnya. Aurel selalu menepis keinginannya untuk mengesms Raka duluan.
“Guekan cewek, masa mau ngesms cowok duluan. Mang gue cewek apaan?” ujar Aurel suatu ketika.
Aurel menarik nafasnya. Setelah sekian lama, kok baru sekarang dia merasakan perasaan itu. Dia juga tidak mengerti kenapa dia jadi menyukai Raka padahal selama dia berdekatan sama Raka sewaktu SMA, perasaan itu sama sekali tidak pernah muncul. Kenapa justru sekarang setelah mereka berpisah dan Raka sudah punya pacar. Aurel kembali memainkan gitarnya, lagu Astrid itu benar-benar mewakili perasaannya. Dia benar-benar malu untuk mengakui perasaannya itu sama ke dua sahabatnya. Aurel itu tipe cewek yang punya harga diri tinggi, setelah mewanti-wanti mengatakan kalo dia tidak punya perasaan apa-apa sama Raka, dia malu jika harus mengakui kalo pada akhirnya dia justru jadi merasa kehilangan Raka. Sebenarnya apa maksud Raka mengesmsnya pada malam itu dan kemudian menghilang begitu saja setelahnya.
Aurel memandang jam dinding kamar kostnya. Siang ini dia mau pulang ke Bandung. Dia sudah kangen sama orang rumah. Mungkin dia akan bolos kuliah dulu beberapa hari. Aurel beranjak dari tempat duduknya. Dia meletakkan gitarnya begitu saja di lantai kamarnya dan segera bersiap-siap.
***
“Hoi Rel, bengong lu!!!” Vera menyenggol tangan Aurel. Mereka sedang makan ice cream di rumah Penty. Mama Penty baru membeli ice cream dan mereka dengan senang hati memenuhi undangan untuk menghabiskan ice cream itu. Aurel gelagapan.
“Eh… nggak! Siapa yang bengong,” jawabnya membela diri.
“Rel, kapan pulang ke Jakarta??” tanya Penty.
“Mungkin minggu depan,” jawab Aurel.
“Kami gak bisa lho nemenin lu sering-sering minggu ini. Gue sama Penty udah kebanyakan bolos. Lama-kelamaan kami gak bisa ikut ujian kalo bolos terus.”
Aurel tersenyum.
“Makanya bolos itu kalo ada gue aja, jangan gara-gara ngejar cowok.” Vera dan Penty tersenyum keki.
“Cowok itu karunia Tuhan Rel, jadi perlu disyukuri,” Vera membela diri.Penty mengangguk mantap.
“ Iya. Lunya aja yang gak ada cowok sampe sekarang,” goda Penty. Aurel hanya mencibir.
“Eh, Rel emang di Jakarta gak ada cowok cakep ya?” tanya Vera kemudian.
“Banyak,” jawab Aurel singkat.
“Nah, terus kok lu gak gaet mereka satu-satu?” tanyanya lagi.
“Gue sih mau. Tapi, merekanya aja yang gak mau sama gue,” jawab Aurel lagi. Penty tertawa.
“Kasihan ya lu. Pas lagi mau-maunya pacaran aja gak ada cowok yang mau. Eh… waktu lagi belum mau pacaran malah dateng Raka.”
“Eh, itu semua gara-gara lu, Kunyuk,” Aurel melempar bantal ke Penty. Penty hanya cemberut sambil merapikan rambutnya
“Rel, umur lu itu semakin lama semakin bertambah. Jangan sampe lu jadi perawan tua deh,” Vera menasehati Aurel.
“Pokoknya jangan bahas soal itu lagi. Soal cowok ntar dia juga dateng sendiri,” lanjut Aurel lagi. Vera dan Penty hanya mengangkat bahunya. Kenapa sih kalo sudah ngomongin soal cowok Aurel selalu aja jadi bete. Terutama akhir-akhir ini, Aurel jadi semakin sensi. Padahal Vera dan Penty kan cuma penasaran aja. Jangan-jangan Aurel malah sudah punya cowok di Jakarta dan dia sama sekali tidak mau memberitahukan sahabat-sahabatnya.
***
Aurel sedang berjalan-jalan sendiri di mal. Vera dan Penty sedang ada kuliah. Aurel juga gak enak hati menyuruh kedua sahabatnya itu bolos kuliah. Nanti mereka semakin lama tamatnya. Aurel lagi ada keperluan makanya dia mau pergi ke mal sendiri. Ada buku yang mau dibelinya. Dia gak sempat beli di Jakarta, sementara buku itu diperlukannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang mau dikumpulkan sewaktu dia masuk minggu depan. Setelah mendapatakan buku yang diinginkannya, Aurel berkeliling sebentar. Sudah cukup lama dia gak pulang ke Bandung. Jadi dia memutuskan untuk muter-muter dulu.Aurel memelotokan matanya ketika melihat siapa yang berjalan di hadapannya. Raka sedang menggandeng seorang cewek cantik berjalan menuju ke arahnya.
“Gila, tu anak ganti lagi ceweknya,” gumam Aurel ketika melihat cewek yang digandeng Raka berbeda dengan cewek yang dilihatnya beberapa waktu lalu ketika bertemu dengan Raka untuk pertama kalinya. Udah lama banget sih emang. Udah ada beberapa tahun. Raka semakin dekat berjalan menuju ke arahnya. Aurel tidak tau mau ngapain kalo bertemu dengan Raka. Dia lebih memilih memutar arahnya.
“Rel!”
Aurel menepuk jidatnya. Raka ternyata melihatnya. Aurel membalikkan badannya.
“Wah.. Raka!!!” Aurel pura-pura terkejut. Kalo soal bersandiwara Aurel memang jagonya. Dunia ini kan emang panggung sandiwara kaya lagunya Nicky Astria itu.Raka berjalan mendekatinya.
“Udah lama kita gak ketemu. Udah ada dua tahun??” Aurel menganggukkan kepanya.
“Ini kenalin cewek gue.” Aurel menyalami cewek yang sedang berdiri di sebelah Raka.
Aurel sedang duduk di sebuah café berdua dengan Raka. Pacar Raka sedang pergi sebentar, katanya sih ada yang mau dibelinya. Karena Raka sudah capek keliling-keliling, makanya ceweknya biarin Raka nunggu di café barengan dengan Aurel.
“Gimana kabar lu sekarang?” tanya Raka. Aurel tersenyum.
“Yah…. Gitu-gitu aja. Seperti yang lu lihat sekarang,” jawabnya kemudian. Selanjutnya mereka hanya diam. Memang gak ada bahan omongan. Garing banget rasanya.
“So,” Raka akhirnya membuka mulutnya, “udah punya cowok sekarang?” tanyanya. Aurel menggelengkan kepalanya. Raka mengernyitkan dahinya.
“Cowok Jakarta kan cakep-cakep, masa sih gak ada yang bikin lu kecantol.”
Aurel tertawa.
“Yang bikin gue kecantol sih banyak. Tapi yang kecantol sama gue itu gak ada,” jawabnya. Raka ikut tertawa.
“Sayang sekali, padahal lu semakin cantik lho,” canda Raka yang membuat pipi Aurel langsung memerah. Mampus, jantung Aurel mulai ketar-ketir gak karuan. Aurel memaksakan dirinya tertawa.
“Lu bisa aja. Lu sendiri gimana? Gue sudah melihat lu sama dua cewek yang bebeda,” Aurel tersenyum. Waduh… gimana sih cara dia menghilangkan dagdigdug jantungnya ini. Raka menggaruk-garuk kepalanya.
“Sejak kita ketemu terakhir itu, gue sudah beberapa kali gonta-ganti cewek.”
“Wah… jadi playboy nih ceritanya,” goda Aurel.
“Nggak ada niat sih. Cuma belum ada yang cocok aja,” jawabnya. Mereka menghabiskan waktunya mengobrol berdua. Setelah hampir satu jam mengobrol barulah ceweknya Raka datang.
“Hun, soory ya! Tadi aku lihat-lihat baju dulu. Soalnya ada baju lucu tadi,” pacar Raka mengelus pipinya dan duduk di sebelahnya. Dada Aurel memanas. Adegan yang benar-benar gak ingin Aurel lihat.
***
Aurel melempar semua barangnya begitu saja ke tempat tidurnya. Dia sudah ada di Jakarta lagi. Dia memutuskan pulang lebih cepat karena moodnya benar-benar lagi gak bisa diajak kompromi. Ini semua gara-gara ketemu Raka.
“Mungkin ini ya yang namanya karma karena sudah bikin orang lain kecewa.”
Aurel tahu pasti kalau Raka pasti sempat kecewa sama dia. Sama sikapnya dulu. Tapi sejak mereka bertemu akhir-akhir ini Raka juga gak pernah mengungkit-ungkit tentang persoalan kenapa Aurel dulu menghindarinya. Keputusan Aurel untuk pulang lebih cepat membuat mamanya mencak-mencak.
“Kamu ini ngabisin duit aja. Kenapa sih harus pulang sekarang??” tanyanya ketika Aurel menyampaikan keinginannya buat pulang.
“Itu Ma, ada tugas aku yang belum kelar. Aku lupa. Aku gak bawa bahannya,” jawab Aurel asal. Untung aja papa Aurel bisa meredam rewelan mamanya. Dasar ibu-ibu hobinya ngedumel aja.
Sementara itu Aurel juga merasa gak enak sama kedua sahabatnya. Mereka mengira Aurel buru-buru pulang ke Jakarta karena ngambek gak mereka temanin selama di Bandung. Susah payah Aurel meyakinkan mereka kalo bukan itu penyebabnya. Orang penyebabnya karena Aurel males kalo seandainya bertemu lagi dengan Raka dan ceweknya yang berikutnya, mungkin. Tapi, Aurel kan gak mungkin bilang kaya gitu ke sahabat-sahabatnya itu.
***
“Rel, ini catatan lu yang gue pinjem,” Fajar, teman Aurel dikampus menyerahkan sebuah buku kepadanya, “thanks ya!!!”
Aurel menganggukkan kepalanya dan tersenyum masam. Fajar memperhatikan Aurel.
“Lu kenapa sih, Rel ?” tanyanya heran. Kok Aurel semakin aneh aja dari hari ke hari. Semakin kalem gitu. Kaya lembu. Aurel memandang Fajar dan kembali tersenyum.
“Gak ada apa-apa kok. Gue lagi kehilangan mood aja akhir-akhir ini,” jawabnya.
“Wah… gawat tu. Hilang dimana. Jangan-jangan ketinggalan di Bandung lagi,” canda Fajar. Aurel memukul pundak Fajar.
“Gak lucu. Garing. “
Fajar duduk di samping Aurel.
“Masalah tu gak boleh dipendam terus, kalo gak bisa diselesain diomongin, buat ngurangin beban.”
Aurel mengernyitkan dahinya. Tumben temannya yang gila satu ini bisa ngomong lurus.
“Lu sakit, Jar?” tanya Aurel. Dia memegang dahi Fajar.
Fajar mencibir, “Ye… dibilangin baek-baek malah ngina. Gak tau bales budi lu.”
Aurel tertawa.
“Gue gak apa-apa kok. Lu santai aja lagi,” Aurel menepuk-nepuk bahu Fajar. Fajar hanya mengangkat bahunya.
“Tapi, yang gue bilang itu bener lho, Rel. Masalah itu kaya taneman, kalo dipendam terus dia bakalan numbuh dan kemudian akarnya makin kuat. Kalo udah kaya gitu susah buat menyelesaikannya.”
Aurel merenung.
“Gue kantin dulu ya. Mau ngopy,” Fajar menepuk bahu Aurel. Aurel hanya menganggukkan kepalanya.
Sepeninggalan Fajar Aurel kembali merenung. Apa yang dibilang Fajar bener juga sih. Tapi, apa yang harus dilakukannya coba. Bagaimana dia menyelesaikan masalahnya ini. Siapa sih yang mau punya masalah coba.
“Kalo kaya gini gue bisa gila nih,” Aurel mengucek-ngucek rambutnya. “Apes banget kisah cinta gue,” keluhnya.
Aurel sedang membuka pintu kostan ketika ada yang memanggilnya.
“Rel…” Aurel mencari suara yang memanggilnya dan darahnya langsung berdesir ketika tahu yang memanggilnya adalah Raka. Aurel gelagapan. Kunci yang dipegangnya hampir saja terjatuh saking kagetnya.
“Raka????” tanya Aurel takjub.
“Ngapain lu disini???”
Raka tersenyum.
“Ya.. ngapain kalo bukan mau ngejenguk lu,” jawab Raka. Dia bersandar didinding sambil melipat kedua tangannya ke dada. Aurel mengernyitkan dahinya. Melihat keheranan Aurel Raka hanya tertawa.
“Lu jangan gitu kali deh takjubnya. Gue kesini karena ada acara kampus beberapa hari ini disini. Karena lagi kosong gue kesini aja. Mana tau aja lu bisa ajak gue jalan-jalan. Gue kan gak gitu tau Jakarta,” jelas Raka panjang lebar. Aurel berOH ria. Kirain beneran karena dia. Hehehe… ngarep.
“Ooo…. Trus lu tau kost gue darimana?” tanya Aurel lagi.
“Rahasia,” jawab Raka.
“Wah… gawat ni gue ada secret admirer. Jangan-jangan lu tau lagi jadwal gue hari ini apa aja.”
“Setau gue habis ini lu emang gak ada kegiatan lain,” jawab Raka. Aurel manggut-manggut. Jadi tersanjung juga dia.
“Masuk dulu yuk!!!” Raka mengangguk dia berjalan masuk ke dalam kost Aurel.
“Gimana cewek lu, ikut?” Aurel memberikan minuman kaleng ke Raka. Biasa anak kost. Gak ada banget yang namanya kopi atau teh di kamar Aurel. Secara dia juga tipe cewek yang gak mau repot. Kalo dia mau teh dia tinggal pergi ke café yang ada di depan kostnya aja. Raka menggelengkan kepalanya.
“Gue udah cut.”
Aurel memandang Raka takjub.
“Dasar playboy cap duren lu,” ujar Aurel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa sih dia bisa naksir sama playboy tengik kaya Raka.
“Gue gak cocok sama dia,” jawab Raka.
“Jawaban basi tu. Bosen gue dengernya,” Aurel duduk di samping Raka. Sebenarnya berada di dalam satu ruangan seperti ini bikin Aurel deg-degan. Tapi, dia berusaha untuk menguasai perasaannya itu. Raka tertawa masam.
“Gue soalnya dibikin patah hati sama cewek yang bener-bener gue suka.”
Aurel memandang Raka ingin tahu. Ada juga rupanya cewek yang benar-benar disukai sama Raka.
“Siapa?” tanya Aurel penuh selidik.
“Lu,” jawab Raka. Mata Aurel membelalak.
“Eh, lu udah makan belum? Kita makan di café depan yuk. Pecel lelenya enak kok. Lu masih suka pece lelekan?” ajak Aurel. Daripada jadi salah tingkah mending diajaknya aja Raka makan toh dia juga belum makan siang. Raka tersenyum. Aduh… baru sadar Aurel kalo senyum Raka itu cakep.
“Buseeeett… kok gue nyadarnya gak dari dulu waktu masih pacaran sama dia,” Aurel komat-kamit stress.
“Lu masih ingat makanan favorit gue. Gue jadi tersanjung.”
Aurel jadi salah tingkah.
“Yuk,” Aurel mengambil tasnya dan pergi keluar kamarnya disusul oleh Raka.
***
Aurel senyam-senyum kaya orang gila di kamarnya. Pertemuan dia dengan Raka tadi siang benar-benar bikin moodnya kembali membaik. Apalagi ketika mendengar kalo tu cowok baru putus dengan ceweknya yang kemaren. Aurel menyandarkan kepalanya ke dinding. Dia sedang duduk di lantai kamarnya.
“Hah…, gini toh rasanya jatuh cinta. Gak jumpa rindu, waktu jumpa gak pengen pisah,” Aurel tersenyum. Dia mengambil gitarnya dan bernyanyi. Wajah Aurel yang sempat sumringah kembali ditekuk. Dia gak balakan sanggup kalo kaya gini terus. Dia seperti berharap sesuatu yang gak mungkin. Raka pasti sudah tidak menyukainya lagi. Gimana mau suka coba, Aurel kan sudah mencampakkannya. Siapa coba yang suka digituin.
“Patah hati lagi deh,” gumam Aurel. Aurel menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Gak boleh kaya gini terus. Gue harus mengubur perasaan gue sama Raka. Kalo kaya gini terus yang ada gue hanya nyiksa diri gue sendiri. Gue harus mengubur perasaan gue ini. Aurel wake up, lu sudah dewasa. Jangan hanya mengharapkan cinta yang gak mungkin lu raih. Umur lu bakalan nambah terus. Emang lu mau jadi perawan tua,” Aurel mengingatkan dirinya sendiri. Umurnya sudah 22 tahun, tapi dia sama sekali belum mendapatkan pacar.
HP Aurel berbunyi. Dia melihat nama Raka tercantum di layer HPnya. Aurel menarik nafasnya berat. Sebenarnya dia pengen banget ngangkat telpon dari Raka. Pengen banget denger suara Raka. Tapi, dia sadar dia gak boleh begini terus. Aurel melemparkan HPnya ke tempat tidur. Raka terus-terusan menelponnya, Aurel berusaha keras untuk tidak mengangkat telpon dari Raka.
“Udah deh. Jangan ditelponin terus,” teriak Aurel. Dia benar-benar jadi tersiksa.
“Oh.. my God. I’m so sorry…. Gue beneran minta maaf deh. Gue gak sanggup kalo kaya gini hukumannya,” Aurel meringkuk di lantai. Lama-lama dia jadi sesak. Sementara HPnya masih terus-terusan berbunyi. Aurel mengambil HPnya dan mematikannya.
“Mungkin kaya gini lebih baik,” gumam Aurel. “Pokoknya gue harus lupain Raka. Semangat!!!” Aurel mengacungkan tangannya ke udara. Misinya besok adalah melupakan Raka dan menghindari Raka. Tapi, semangat Aurel langsung luntur ketika sadar kalo Raka ada di Jakarta untuk beberapa hari dan dia sudah berjanji untuk menemani Raka jalan-jalan keliling Jakarta.
“Ah… bodo amat. Bilang aja gue lagi sibuk.”
***
“Rel!”
Aurel melengos ketika mendengar ada suara yang memanggilnya. Raka berlari mengejar Aurel.
“Mau ke kampus ya?” tanya Raka. Aurel menganggukkan kepalanya.
“Gue cabut dulu ya,” Aurel hendak pergi ketika Raka menahan tangannya.
“Lu kenapa sih, Rel?” tanya Raka.
Aurel menggelengkan kepalanya, “Gue gak kenapa-napa. Udah ya.. gue beneran harus ke kampus nih.”
“Pasti ada apa-apa. Beberapa hari ini gue telpon lu tapi gak pernah lu angkat. Lu marah sama gue?” tanya Raka. Aurel melepaskan tangannya dari pegangan Raka.
“Ka, gue mohon. Biarin gue pergi.”
Raka menarik nafasnya.
“Gue pulang besok ke Bandung. Gue tunggu lu di bandara. Kalo lu gak datang berarti lu emang gak mau ketemuan sama gue lagi.”
Raka pergi meninggalkan Aurel begitu saja. Aurel terduduk lemas di jalan. Dia memegang dadanya yang sakit
“Sekarang apa yang harus gue lakuin? Sakit banget rasanya,” Aurel terisak. Bodo amat diliatin orang. Dia cuma pengen nangis sejadi-jadinya hari ini.
***
Aurel berlari ke ruang tunggu. Aurel sedang di bandara. Awalnya dia ragu untuk menemui Raka. Tapi, akhirnya dia memutuskan untuk berterus terang dengan Raka tentang perasaannya itu. Tadi malam dia sudah berpikir masak-masak. Ini terakhir kalinya dia ketemu sama Raka. Pokoknya apapun yang terjadi dia bakalan jujur, terserah apa tanggapan Raka, mau marah kek mau benci kek peduli amat. Aurel melihat Raka yang sedang celingukan. Nampaknya dia sedang menunggu seseorang.
“Raka……”
Muka Raka yang nampaknya cemas langsung sumringah ketika menyadari siapa yang memanggil namanya.
“Rel, datang juga lu!”
Aurel langsung menarik tangan Raka begitu saja tanpa Raka sempat melanjutkan kalimatnya.
“Ka, gue mau ngomong sama lu. Tapi, lu harus dengerin aja. No comment, OK?”
Raka menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga mau ngomong sih sama Aurel. Tapi gak apa-apa toh dia berangkatnya masih lima belas menit lagi.
“Ka, gue mau minta maaf sama lu atas sikap gue ke lu dulu. Gue tau lu pasti marah sama gue waktu itu. Tapi, gue punya alasan. Gue bukannya mau mempermainkan perasaan lu. Saat itu gue mau nerima lu karena gue pengen Penty jadian sama Adit, sahabat lu. Tapi Adit gak mau jadian sama Penty sebelum gue jadian sama lu,” Aurel menarik nafasnya. Otaknya berpikir cepat merangkai kata yang harus diucapkannya kepada Raka.
“Selama kita pacaran gue gak pernah suka sama lu. Perasaan gue itu tidak pernah berubah sampai Adit dan Penty putus. Gue pengen mengakhiri hubungan gue sama lu tapi gue gak mau lu sakit hati karena lu begitu baik sama gue. Gue gak tega. Akhirnya Penty membantu gue buat ngomong sama lu. Sejak saat itu gue selalu menghindari lu. Gue tau saat itu lu pasti benci sama gue. Gue menghindari lu terus selama SMA karena gue takut lu memberondong gue dengan berbagai macam pertanyaan yang gak tau mau gue jawab apa.”
Raka memandang Aurel tajam.
“Gue kira masalah gue sama lu berakhir ketika kita masuk kuliah. Sejak liburan akhir SMA kita tidak pernah berjumpa dan gue merasa bersyukur banget gak harus ketemu sama lu. Walau bagaimanapun gue tetap gak enak sama lu. Tapi, setelah gak beberapa tahun gak ketemu sama lu kita malah ketemu disaat yang tidak terduga. Waktu itu lu sama pacar lu yang namanya Rani. Awalanya gue kaget banget waktu tau kalo cowok yang gue tabrak itu lu. Gue tambah kaget lagi ketika lu ngenalin cewek lu ke gue. Habis, gue kalah sih. Sejak kita gak berhubungan lagi gue gak pernah pacaran sama sekali,” Aurel tertawa hambar.
“Trus malamnya lu SMS gue. Gue gak tau kenapa gue semangat banget bales SMS dari lu. Padahal sewaktu kita pacaran dulu, gue males banget bales SMS lu apalagi ngangkat telpon lu. Tapi, setelah malem itu lu tiba-tiba ngilang gitu aja. Gak ada SMS gue, gak ada ngubungin gue. Kita lose contact gitu aja. Nah, sejak saat itu gue baru merasa kalo gue kehilangan lu. Sejak itu gue gak pernah jumpa sama lu. Sudah hampir dua tahun. Selama itu juga gue berperang sama perasaan gue sendiri dan akhirnya gue ngalah. Gue ngalah sama perasaan gue yang bener-bener sudah suka sama lu.”
Raka terperangah. Dia kaget. Suer deh.
“Gue mulai suka sama lu setelah gue kehilangan lu. Waktu gue jumpa sama lu kemaren lu udah sama cewek lu yang laen. Gue jadi ngerasa kaya orang bodoh banget yang kemana-mana cuma sendiri sedangkan lu udah beberapa kali gonta-ganti cewek. Dada gue sakit banget ketika ngelihat cewek lu mesra banget sama lu. Tapi, gue gak bisa ngapa-ngapain. Ini pasti hukuman buat gue karena sudah bikin lu kecewa,” Aurel menundukkan kepalanya, “gue minta maaf, Ka. Gue mohon maafin gue. Gue gak sanggup kalo gue dihukum seperti ini. Gue gak sanggup, Ka. Gue capek.”
Raka memandang jam tangannya. Dia harus pergi. Raka jadi kesal karena dia gak bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya.
“Rakaaaaa……,” teman Raka memanggil nama Raka.
“Ka, lu udah mau take off tu. Gue pulang dulu ya. Gue Cuma mau bilang itu doang kok. Maafin gue ya, Ka,” Aurel memegang tangan Raka dan mencium pipinya. Raka tidak sempat mencegah Aurel yang pergi meninggalkannya karena teman-temannya sudah memanggil-manggil namanya.
***
“Rel……..” Vera dan Penty berlari mendekati Aurel.
“Gue kangen sama lu,” Penty memeluk Aurel.
Sudah cukup lama Aurel tidak pulang ke Bandung. Sebenarnya dia menghindari banget buat pulang ke Bandung. Habis, dia takut bertemu Raka. Mau ngomong apa dia kalo ketemu sama tu cowok. Tapi, Aurel terpaksa pulang juga akhirnya karena saat ini dia lagi liburan panjang. Mamanya memaksanya pulang demikian juga dengan kedua sahabatnya. Lagian kalo dipikir-pikir mau ngapain dia di Jakarta. Semua temannya juga pada pulang kampung. Namanya juga liburan panjang. Siapa sih yang gak pengen jumpa dan berkumpul sama keluarganya. Apalagi bagi teman-teman cewek Aurel yang cowoknya ada di kampunganya. Wuihhh, liburan ditunggu-tunggu banget sama mereka.
“Iya nih, lama juga kita gak ketemu. Lu betah amat di Jakarta. Udah ketemu kecengan ya,” Vera menyenggol bahu Aurel. Aurel hanya cengengesan. Mereka janjian ketemu di café langganan mereka. Mereka memang biasa ngumpul di sana kalo lagi gak jemput-jemputan.
“Gue kan sibuk,” jawab Aurel. Sebenarnya Aurel mengajak kedua sahabatnya ini ketemu karena ada sesuatu hal yang ingin diceritakannya. Soal perasaannya selama ini dengan Raka. Dia merasa bersalah karena telah menyembunyikan semuanya kepada Vera dan Penty.
“Guys, ada yang pengen gue omongin ke kalian,” Aurel memandang ke dua temannya serius.
“Tunggu dulu,” Penty memotong omongan Aurel.
“Gue ngomong duluan ya. Dikit aja,” mohon Penty. Aurel berdecak.
“Ya udah duluan deh.”
Penty tersenyum senang.
“Gue sama Vera udah punya cowok sekarang.” Vera tersenyum lebar kepada Aurel.
“Lho kok gak ada cerita sama gue sih,” protes Aurel.
“Sorry, kita mau ngasih surprise sama lu,” jawab Vera.
Surpraise??? Pasti gak sesurpraise apa yang bakalan disampaikan Aurel.
“Nah lu mau cerita apa,” Penty memandang Aurel diikuti oleh Vera. Aurel menarik nafasnya. Kira-kira Vera dan Penty bakalan marah gak ya sama dia.
“Gue……, “ Aurel menarik nafasnya, “sebenarnya gue suka sama Raka.”
Mata Vera dan Penty melotot.
“APAAAAAAAAA????!!!” teriak mereka serentak. Semua pengunjung café memandang mereka heran. Aurel menceritakan semuanya. Kenapa dia sampai menyukai Raka dan sejak kapan dia menyukainya. Tidak ada satupun yang disembunyiin Aurel. Aurel udah capek main rahasia-rahasiaan. Termasuk tentang kedatangan Raka ke Jakarta dan juga tentang pertemuan terakhirnya dengan Raka di bandara.
“Eh, Rel sebenarnya ada yang gue rahasiain sama lu.”
Aurel memandang Penty ingin tahu. Ternyata diantara mereka banyak juga tersimpan rahasia.
“Gue sudah ceritain semuanya sama Raka. Alasan lu, kenapa lu menjauhi dia dan alasan kenapa lu menerima dia.”
Aurel tercengang. Trus ngapain coba dia cerita panjang lebar ke Raka tentang itu.
“Gue yang minta Raka buat tidak gangguin lu karena gue sudah sangat merasa bersalah sama lu. Makanya selama ini Raka tidak pernah menanyakan soal sikap lu itu ke dia. Dia hanya mengangguk pasrah ketika gue bilang kalo lu minta putus dari dia,” Vera memegang bahu Aurel.
“Sewaktu kita ketemu dia di mal waktu itu, gue sama Penty sebenarnya kaget kenapa Raka bisa mendapatkan pengganti lu. Mungkin itu bukan waktu yang sebentar sih. Saat itu Raka benar-benar terpukul dengan apa yang diketahuinya dari Penty. Dia sangat menyukai lu. Liburan panjang akhir SMA sebenarnya Raka terus-terusan menanyai kabar lu sama kita berdua. Nanya lu bakalan kuliah dimana. Tapi, kami menolak memberi tau karena kami gak mau Raka bertemu dengan lu lagi. Bukan apa-apa, itu hanya karena kami gak pengen Raka tambah terluka. Gue tau ini sebenarnya kesalahan gue sama Penty yang sudah maksa lu buat jadian sama Raka, padahal lu sama sekali tidak menyukainya. Tapi, walaubagaimanapun dalam posisi itu tetap saja Raka yang merasakan sakit. Jadi gue sama Penty mutusin buat menjauhkan lu dari Raka. Memutuskan hubungan lu dengan Raka.”
Aurel masih terpana dengan penjelasan Vera. Dia benar-benar tidak menyangka kalo kedua sahabatnya ini sudah menyusun rencana yang begitu rapinya buat dia.
“Kita minta maaf banget ya, Rel. Kita sama sekali tidak menyangka kalo akhirnya bakalan begini, bakalan bikin lu sakit juga. Padahal kita gak mau itu terjadi,” Penty menggenggam tangan Aurel. Aurel hanya diam. Tidak ada gunanya dia marah sama Penty dan Vera, toh semuanya sudah terjadi. Marahpun tidak bakalan ada yang berubah.
“Rel, lu marah ya??” tanya Vera. Aurel tersenyum.
“Nggak kok. Gue sudah nganggap ini hukuman buat gue. Gara-gara bikin sakit hati orang gue jadi kena hukum deh. Makanya sampe sekarang gue gak laku-laku,” Aurel tertawa. Dia mengira setelah jujur dengan Raka dia tidak bakalan merasa sakit lagi, tapi ternyata rasa sakit itu tidak pernah hilang sampai sekarang. Apalagi setelah dia mengetahui kalo Raka benar-benar kecewa sama dia.
“Tapi, Rel ngapain Raka masih nemuin lu. Sengaja lagi!!!!” Vera membuyarkan lamunan Aurel.
“Jangan-jangan Raka masih suka sama lu, Rel!”
“Ah.. lu jangan main-main deh, Pen. Gue males berandai-andai lagi,” jawab Aurel males.
“Trus ngapain dia nemuin lu di Jakarta. Mulai SMS lu, nelpon-nelpon lu, dan nyuruh lu dateng ke bandara.”
Aurel mengangkat bahunya. Mana dia tahu. Mana sempat dia mikirin soal itu lha wong dia lagi sibuk mikirin bagaimana menyelesaikan masalahnya.
“Feeling gue Raka masih suka sama lu. Lu gimana, Ver?” Penty memandang Vera.
“Gue juga ngerasa gitu sih,” Vera menyeruput orange juicenya.
Aurel mengibaskan tangannya.
“Ah.. udah deh. Udah berlalu juga. Gue gak bakalan ketemu sama Raka lagi.”
“Rel…,” Penty menggaruk-garuk kepalanya, “sebenarnya sebelum kesini tadi gue sempat ketemu sama Raka di pom bensin. Dia tanya sama gue mau kemana trus gue bilang gue mau ketemu sama lu disini.”
Aurel tersedak minumannya.
“WHAT?????!!!” teriak Aurel. Vera menepuk-nepuk pundaknya. Aurel segera mengatasi keterkejutannya.
“Forget it deh. Lagian dia juga gak bakalan dateng ke sini.” Kalo Raka mau datang pasti dia sudah datang dari tadi orang Penty sudah ada bersamanya dari tadi.
“Rasanya nggak deh, Rel,” Vera menggigit bibirnya. Dia memandang lurus ke belakang Aurel. Penty mendekap mulutnya dengan tangannya.
“Oh, my God!” gumamnya. Aurel membalikkan badannya. Dia tercengang ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya sekarang. Raka berdiri di sana. Dia memandang Aurel tajam dan berjalan ke arahnya.
“Hi, Rel lama gak jumpa!” Raka tersenyum kepada Aurel.
Aurel menundukkan wajahnya. Dia memang gak ada muka mau ketemu sama Aurel.
“Eh, Rel gue sama Penty mau beli pulsa dulu.”
“Trus gue gimana?” tanya Aurel cepat.
“Lu biar gue aja yang nganter pulang. Gue bawa mobil kok,” Raka membuka mulutnya.
“Ya udah kalo gitu. Kita cabut dulu ya,” Vera mengambil tasnya.
“Good luck ya,” bisiknya di telinga Aurel. Penty mengedipkan matanya kepada Aurel sebelum mereka pergi.
“Lumayan lama gue gak ketemu sama lu,” Raka duduk di hadapan Aurel. Aurel masih diam.
“Sejak di bandara,” lanjutnya lagi, “sayangnya gue gak sempat ngasih tau apa yang ingin gue sampaikan sama lu saat itu. Padahal penting banget tu,” Raka kembali tersenyum.
“Lama banget gue nahan diri buat gak ketemu lu. Gue yakin kalo gue telpon lu pasti gak bakalan mau ngangkat telpon gue,” Raka memandang Aurel tajam. Aurel jadi keder dibuatnya.
“Rel, sekarang giliran lu yang harus denger apa kata gue. OK!!!”
Aurel menganggukkan kepalanya. Baguslah, setidaknya dia tidak harus susah-susah memikirkan apa yang akan dikatakannya kepada Raka.
“Rel,” Raka memegang tangan Aurel, “gue serius waktu gue bilang cewek yang sangat gue suka itu lu dan perasaan itu tidak pernah berubah sampai sekarang.”
Mata Aurel membesar. Maksudnya?
“Selama ini gue takut nemuin lu karena gue takut kalo perasaan lu ke gue tidak berubah. Gue gak mau tersiksa dengan perasaan gue ini. Sebenarnya Penty sudah mengatakan semuanya ke gue. Gue hancur banget, gue sakit banget sewaktu mendengarnya. Gue gak nyangka kenapa lu begitu tega mainin gue.”
Aurel menggigit bibirnya. Dia jadi semakin merasa bersalah.
“Tapi gue gak bisa membenci lu karena rasa suka gue ke lu lebih besar daripada rasa benci gue ke lu. Untuk mengubur perasaan gue ke lu, gue biarin aja lu menghindari gue. Gue biarin lu nganggep gue gak ada. Gue berharap rasa suka gue ke lu segera pergi. Tapi, itu tidak pernah terjadi. Setiap saat gue selalu mikirin lu,” Raka tertawa serak.
“Lu first love gue yang benar-benar membekas di hati gue dan sangat sulit bagi gue buat menghilangkan bekas itu. Saat liburan panjang akhir sekolah gue selalu menanyakan kabar lu sama Penty tapi Penty tetap tidak mau berkomentar. Gue hargai usahanya itu karena gue tau Penty juga gak mau bikin gue tersiksa. Perasaan gue ga pernah berubah, Rel. Gue nyari cewek lain tapi tetap gak ada yang bisa menggantikan posisi lu. Sewaktu lu melihat gue bersama Rani, gue takut. Gue gak tau alasan rasa takut itu. Makanya gue langsung mutusin Rani. Gue seneng banget ketika lu bales SMS gue yang pertama ke lu. Tapi, gue gak bisa melanjutkan menghubungi lu karena gue gak mau tersiksa. Makanya gue mutusin buat menghilang lagi dari hidup lu. Gue sama sekali gak sadar kalo ternyata gue juga sudah bikin lu tersiksa. Sewaktu gue ketemu lagi sama lu dan mengetahui kalo lu belum punya pacar gue bersyukur banget. Setelah pertemuan kita di café itu gue langsung mutusin cewek gue saat itu. Dan saat itu juga gue mutusin kalo gue nyerah dengan perasaan gue dan gue mutusin buat ngejar lu. Sewaktu gue tau ada acara ke Jakarta gue langsung nyari alamat lu. Gue dapet alamat lu dari temen gue yang satu jurusan sama lu. Namanya Fajar.”
Mata Aurel membesar. Jadi Fajar dan Raka itu saling kenal. Kok dia gak tau sih. Fajar gak pernah cerita kalo dia punya temen di Bandung.
“Gue seneng banget ketika bertemu sama lu. Gue berharap perasaan lu ke gue mulai berubah. Tapi, ternyata lu gak pernah mau menanggapi telpon dari gue dan lu menghindari gue ketika bertemu sama gue. Saat itu gue mengambil kesimpulan kalo lu bener-bener gak suka sama gue. Untuk lebih memastikannya gue menyuruh lu dateng ke bandara. I’m so worry waiting for your coming. Gue takut lu gak dateng dan gue benar-benar harus mengubur perasaan gue ini. Tapi gue sangat senang ketika ternyata lu dateng dan gue lebih senang lagi dengan pengakuan lu itu. Tapi, gue gak sempat mengatakan apa-apa karena gue harus berangkat. Padahal yang mau gue sampein ke lu sama dengan apa yang lu sampein ke gue.”
“Sampai di Bandung gue pengen langsung menghubungi lu. Tapi rasanya gak akan cukup kalo gue hanya ngomong ditelpon makanya gue menunggu kedatangan lu, tapi lu gak dateng-dateng. Gue sebal banget nunggu. Entah mimpi apa gue tadi malam ketika bertemu dengan Penty tadi dia mengatakan kalo dia akan bertemu dengan lu. Hati gue langsung melompat kegirangan ketika mendengar kabar kalo lu ada disini. Gue cepet-cepet cabut dari sana buat nemuin lu. Tapi, tiba-tiba ban mobil gue bocor jadi gue harus nambalnya dulu. Makanya agak lama.”
Aurel masih terpana. This is really unbelievable.
“Rel,” Raka mengeratkan genggaman tangannya, “gue beneran suka sama lu. Gue rasa ini sudah menunjukkan seberapa besar rasa suka gue ini sama lu. Gue sudah lama memendam perasaan ini dan gue sudah gak tahan lagi. Gue butuh jawaban lu.”
Aurel salah tingkah. Giliran dia yang bingung mau ngapain.
“Rel jawab dong,” mohon Raka.
Aurel tersenyum, “Gue mau jawab apa lagi kan gue udah ngomongin semuanya sama lu di bandara.”
“Tapi bukan kalimat kalo lu mau jadi cewek guekan?”
Aurel mengangkat bahunya.
“Gue mau jadi cewek lu,” jawab Aurel. Raka bersiul.
“Akhirnya!” teriaknya. “Biar gue hitung dulu berapa tahun perjuangan gue,” Raka tampak berpikir, “hampir 7 tahun.”
Aurel menganggukkan kepalanya.
“Dan gue hampir 4 tahun,” lanjut Aurel. Raka tertawa.
“Pokoknya sekarang gue gak bakalan lepasin lu lagi. Susah payah gue dapetin lu,” Raka mengedipkan matanya. Dia mencium tangan Aurel.
“Gimana kalo kita ngedate?” tanyanya.
Aurel tertawa, “OK. Gue mau.”
Mereka sedang berjalan menuju mobil Raka tanpa menyadari ada dua makhluk hidup yang sedang mengintip semua gerak-gerik mereka. Vera dan Penty tertawa sambil bertos ria melihat Raka dan Aurel.
“Jadian juga mereka!!” gumam Vera dan Penty serentak.
Raka memeluk pinggang Aurel mesra.
“Lu beneran gak pernah pacaran ya sejak kita putus dulu?” bisik Raka.
“Iya. Nampaknya gue dikutuk karena sudah bikin lu kecewa,” jawab Aurel.
“Tapi lu gak bakalan bikin gue kecewa lagi kan? Karena saat ini gak ada sahabat gue yang naksir sama salah satu sahabat lu.”
Aurel tersenyum. Dia memeluk Raka.
“Nggak akan,” bisiknya. “Vera dan Penty sudah punya cowok.”
“Ooo….. Vera itu pernah gue taksir dulu, eh.. sekarang gue malah cinta mati sama sahabatnya sendiri,” Raka tersenyum jahil dia membuka pintu mobilnya untuk Aurel dan mempersilakannya masuk.
Makanya, perasaan itu jangan dipendam. Segala sesuatu harus dibagi dengan orang lain, baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan. Karena orang terdekat kita akan merasa kalo diri mereka lebih berharga jika kita mau berbagi dengan mereka.
Ok bgt critany top abs gw tunggu critany lg y
ne cerita ter the best yang pernah gw baca,,,,,,,,,,
py mslh nya ge udh bwt org yg gw syg sqt hati bgt,, klo blh ju2r gw msh syg sm dy…. tp gw tkt perasaan dy q gw udh brubah,,, jd gw ptsin bwt jauhin dy,,,, py y gtu deh,,, sm ky cerita ni,,, gw ttp 9 bs lupain dy,,,
ohhhhhhh god please help me!!!!!!!!!!!!!!