KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Grasse Arini

Sesi Pertama

Sepertinya malam tak mampu lagi menuntaskan keheningannnya, dalam sebuah kamar sesosok tubuh mungil tengah merintih kelaparan, dia terbangun dari tidurnya sambil memegang perut dan menangis tersedu-sedu. Malam terasa begitu lama berganti pagi. Sepanjang siang tadi tangan dan kakinya gemetaran karena kelaparan, hanya menemukan sedikit remah-remah buah arbei yang berserakan di antara pohon-pohon perdu di belakang rumah, yang tak sanggup meredakan rasa lapar. Disulutnya sebatang korek api sambil merapatkan dua telapak tangan yang kecil dan mungil itu dan mengarah ke sepucuk lentera dari botol kaca yang berisi minyak tanah. Ditatapnya sekeliling ruangan dalam keremangan dan keheningan malam. Pada salah satu sisi dinding yang sudah usang, terpajang sebuah foto keluarga, mungkin tidak layak disebut keluarga karena hanya ada dirinya bersama satu orang laki-laki tua yang tersenyum tanpa gigi.

Dalam kamar itu matanya terpaku pada sebuah ranjang yang sedikit lebih besar dari ranjang tidurnya. Sekalingpun malam menjelang ranjang besar itu masih tetap kosong karena penidurnya sudah meninggal satu minggu yang lalu. Lama matanya menatap ranjang besar itu, untuk yang kesekian kali air matanya berlinang, mengalir melewati pipi kecil yang masih ranum belia.

Satu minggu yang akan datang usianya akan penuh empat tahun. Usia yang sangat kecil dalam kesendirian. Wajahnya memiliki hidung yang mancung dipadu dengan mata yang bulat dan bulu mata yang lentik, sekalipun kulit putihnya kusam dan kumal namun wajah mungil itu akan tetap membuat gemas setiap mata yang memandang. Tidak sedikit orang dewasa yang ingin mengasuhnya, malahan di antara mereka ada yang garang begitu bernafsunya untuk mengambil dan mengangkatnya sebagai anak.

Beberapa hari sebelum kematian kakeknya, si pemilik ranjang besar itu, sepasang suami istri tengah berbicara dalam bahasa yang mencoba merayu dan membujuk kakeknya.

“Ayolah Pak Malak, Bapak itu sudah tua, sudah selayaknya Bapak mendapatkan kemudahan dan keringanan hidup di hari tua, jika Bapak dan Arini mau tinggal bersama di rumah kami, tentu Bapak tidak perlu lagi bekerja di sawah, biarlah orang-orang suruhan kami yang akan menggarap sawah Bapak.”

Menyambung lagi seorang wanita muda di samping laki-laki itu, “Itu semua benar Pak Malak, tinggallah di rumah kami. Bapak tidak perlu lagi bertani, semua biaya hidup Bapak dan Arini kami yang tanggung jika Bapak dan Arini tinggal di rumah kami.”

“Jangankan untuk tinggal bersama kalian, melihat muka kalian berdua saja aku sudah jenuh, sudah muak!” sontak saja sepasang suami istri itu kaget mendengar jawaban pak Malak. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini muka pak Malak sungguh tidak ramah lagi, dari awal kedatangan mereka wajah tua keriput itu tidak pernah melebarkan bibirnya untuk tersenyum.

“Aku masih sanggup mencari makan dan membiayai kebutuhan sekolah Arini kelak, biarpun sedikit tapi halal, bukan dari hasil menjual pelacur, menjadi pelayan setan seperti kalian.”

Masih dalam keterdiaman mereka kakek tua itu melanjutkan kalimatnya, “Cucuku tidak akan makan dari hasil keringat haram yang kalian jual, karena aku sudah tua umurku sudah semakin pendek mungkin besok atau lusa aku mati tapi yang pasti suatu saat kalian akan menyusul. Tidakkah kalian menyadarinya? Tidak ada yang abadi di dunia ini, ada balasan….” Belum selesai orang tua itu menyudahi kalimatnya, memotong seorang wanita muda, “Sudah Pak Malak! Bapak tidak perlu menceramahi kami, Bapak kalau mau mati, mati saja!” dan keduanyapun berlalu pergi begitu saja dengan angkuhnya.

Keesokan hari setelah pertemuan dengan sepasang suami istri itu, Pak Malak si kakek tua yang ulet dan renta ditemukan warga terkapar tidak bernyawa dalam sebuah petakan sawah, karena tersambar sengatan listrik dari kabel PLN yang putus dan jatuh ke dalam saluran irigasi. Saluran irigasi yang pada hari itu dibuka agar airnya mengalir kedalam petakan sawah tempat Pak Malak bekerja menanam benih padi. Anehnya dari laporan petugas PLN, mengatakan kabel listrik itu seperti sengaja diputus oleh seseorang yang tidak diketahui, karena dari bekas potongan kabel terlihat rapi, seperti kain yang dipotong dengan gunting.

Kakek Arini sekarang benar-benar telah pergi untuk selamanya, meninggalkan Arini seorang diri. Tidak ada lagi orang yang akan membuatkan Arini boneka dari daun padi, tidak ada lagi orang yang akan dipeluknya ketika dia ketakutan dengan suara gemuruh, mendekapkan selimut hangat saat dia tertidur pulas.

Banyak warga di sekitar kampung tempat Arini tinggal ingin mengasuh, dan mengangkatnya sebagai anak, tapi semua itu urung mereka lakukan begitu mendapat surat kaleng yang bertuliskan, “Siapa saja yang ingin mengadopsi Arini akan menemukan ajalnya lebih cepat!!!”

Awalnya warga sekitar menganggap remeh ancaman surat kaleng itu, tapi surat itu membuktikan ancamannya ketika lurah mereka ditemukan tewas karena racun makanan di kantor kelurahan. Saat itu Pak Lurah dan tamu undangan sedang melangsungkan acara ulang tahun salah satu perusahaan perkebunan sawit. Padahal ketika itu, Arini baru tinggal satu hari di rumah Pak Lurah. Kecurigaan wargapun mengarah pada Juragan Kelapa Sawit yang beberapa hari sebelumnya sempat adu jotos dengan Pak Lurah karena memperebutkan Arini dan berakhir dengan memar di wajah kedua belah pihak. Namun Juragan Kelapa Sawit itu juga ditemukan tewas, dalam perjalanannya ke rumah Arini yang hendak mengantarkan makanan dan beberapa boneka untuk Arini.

Sambil menunggu kesepakatan warga dan hasil dari keterangan pihak kepolisian, tentang kematian beberapa orang di kampung itu, untuk sementara Arini ditinggal sendiri di rumah kakeknya tanpa satu orangpun yang ingin berkunjung melihat Arini, karena takut akan bernasib sama seperti orang-orang sebelumnya yang ingin mengasuh Arini. Bahkan muncul selentingan isu dari warga kampung yang mengatakan, bahwa jin penghuni rumah tua itu tidak ingin si mungil Arini yang jelita menjauh dari rumah tua itu, karena para jin penghuni rumah tua itu juga ikut mengasuh dan menjaga Arini, sehingga mereka murka bila Arini dibawa jauh dan diasuh orang lain.

Suasana malam di sebuah rumah tua dari zaman peninggalan penjajah Belanda, hening membisu, gelap gulita, hanya sesekali percikan kilat dari langit yang menerangi suasana sekitar, sayup-sayup terdengar jeritan suara jangkrik yang mendendangkan jeritan kesakralan malam. Sementara di dalam rumah, seorang anak perempuan tertidur seorang diri, sambil bersandar pada sisi dinding di samping sebuah lentera kecil dari botol kaca. Matanya yang centil sudah lelah menangis, perutnya yang kosong sudah berhenti menuntut untuk diisi. Wajah mungil itu begitu tenang dalam tidurnya.

Tiba-tiba langit menggelegar dalam gemuruh yang bergema sangat keras. Seketika itu juga Arini terbangun dari tidurnya dan langsung memanggil kakeknya.

“Kakek,Kakek di mana? Arin takut Kek,” ucapannya lirih dalam ketakutan sambil membekap kedua telinga dengan tangan-tangan mungilnya. Dalam kamar yang redup dengan cahaya dari lampu sumbu botol kaca, dan sesekali kilatan cahaya dari langit menerangi kamar, dilihatnya ranjang besar itu kosong, tidak ada kakeknya. Sekali lagi gemuruh berdentum sangat keras, diapun berlari kebawah kolong ranjang, sambil membekap kedua telinga erat-erat.

Di langit awan hitam dengan deras mencurahi bumi dengan air hujan, masih disertai kilat bergemuruh dan angin yang bertiup kencang, dari kolong ranjang sayup-sayup terdengar olehnya percakapan beberapa orang di luar rumah. Si kecil Arinipun senang hatinya, untuk memastikan suara itu dibukanya daun telinga yang sedari tadi dibekab hingga memerah. Ternyata benar, beberapa orang sedang berdialog di teras rumah. Rasa takut Arini hilang seketika, ternyata masih ada orang yang mau berkunjung. Tergesa-gesa tubuh kecil itu keluar dari kolong ranjang, dengan riang setengah berlari dari kamar menuju pintu depan. Begitu tangan mungil itu hendak menggapai handel pintu, tiba-tiba pintu rumah terdengar seperti dihantam benda keras dari luar, wajah jelita itu terperanjat kaget dengan mulut setengah terbuka.

“Bunuh siapa saja yang kalian temui! Yang memergoki kalian membawa Arini!” suara itu berasal dari teras rumah diiringi dengan percikan kilat dan gemuruh dari langit. Tanpa sadar kedua tangan Arini menutupi setengah wajah dengan mata membelalak terperangah. Perlahan-lahan tubuh kecil itu melangkah mundur menjauhi pintu utama di rumah itu. diulanginya suara itu dalam benaknya yang lugu.

“Bunuh siapa saja yang kalian temui, bunuh siapa saja yang kalian temui!” kata-kata itu mengingatkannya pada kematian Kakek, Pak Lurah, dan Juragan Sawit yang dikatakan istri pak lurah, “mereka sengaja dibunuh oleh orang jahat yang belum tertangkap.”

Sekali lagi pintu itu dihantam sangat kuat, menimbulkan suara keras berdentum, menggema di sekeliling ruangan rumah. Naluri seorang anak kecil muncul untuk menyelamatkan diri, menyimpulkan orang-orang di teras rumahnya itu adalah orang-orang jahat. Dia balik berlari sangat cepat ke kamar kakek, mencari tempat persembunyian, namun tidak ditemukannya tempat yang aman dan tertutup untuk bersembunyi. Berulang-ulang bunyi hantaman suara pintu depan yang dibuka secara paksa gagal diterobos. Padahal Arini tidak mengunci pintu depan itu, hanya dengan dua kali memutar handel pintu berlawanan arah, maka pintu depan itu akan terbuka dengan mudah.

Dua mata mungil mengintip di balik pintu kamar yang sedikit dikokang oleh jari-jari tangan Arini, dengan raut muka murung ketakutan, terlihat bayangan beberapa orang di balik kain gorden sedang memecah kaca jendela di ruang tamu. Arinipun berlari, menggapai, mencoba membuka pintu jendela di kamar kakeknya, tapi tangannya terlalu pendek untuk menggapai, ditariknya korsi goyang kakek, lalu digeser mendekati jendela, memanjat kursi goyang, melepas kunci, dan berpijak pada bibir jendela yang sudah terbuka lebar. Sekilas terdengar suara langkah-langkah kaki yang sudah berada di dalam rumah.

Tubuh kecil itu terjun dan tersungkur di tanah, setengah merangkak lalu berdiri dan berlari dalam derasnya air hujan, menyelusup masuk kedalam rimbunan pohon-pohon perdu. Rasa takut yang menggetarkan detak jantungnya telah menjelmakan orang-orang itu seperti hantu jahat yang harus segera dijauhi. Sesaat langkah-langkah kakiknya terhenti, menoleh kebelakang, dari celah-celah ranting pohon, dalam kilatan cahaya petir, terlihat sebuah mobil berwarna biru tua diparkir di halaman depan rumah. Mobil itu sama persis seperti mobil dua orang suami istri yang dulu sering membujuk dan merayu kakek untuk tinggal bersama mereka.

“Itu dia…!” suara itu muncul dari jendela tempat Arini terjun.

“Arini jangan lari!” seseorang memanggilnya, sambil melompati jendela dan berlari mengejar Arini. Kaki-kaki mungil itu dengan gesit berlari dalam rimbunan pohon-pohon perdu, karena sudah hafal celah-celahnya.

“Sial, kemana anak itu pergi?” kata seseorang di antara mereka yang semuanya berjumlah enam orang, bertubuh besar, dan keenamnya sudah berada di luar rumah.

“Cari sampai dapat, jangan sampai gagal!” seorang lagi memberi perintah yang bertubuh paling besar dan tegap.

Langkah-langkah mereka menjadi lamban karena sibuk menepis ranting-ranting pohon yang menghalangi jalan mereka. Dan pada akhirnya mereka menyerah untuk mencari, begitu melihat hutan lebat yang sangat luas, yang dipenuhi pohon-pohon perdu. Mereka terhenti di sebuah bukit di perbatasan kampung, dalam pandangan mereka sama saja dengan mencari sebutir tepung di atas karpet hijau.

Dalam pekatnya malam, derasnya hujan, Arini berlari secepat mungkin, sesekali tangan-tangan mungil itu menyapu mukanya yang tersiram air hujan. Diabaikannya duri-duri putri malu yang begitu mesra menusuk kaki-kaki mungilnya yang lembut, dibantahnya angin dingin di malam itu, tubuhnya yang basah kuyup, rumahnya yang tertinggal, dia tidak peduli. Lari sejauh mungkin meninggalkan rumah dan orang-orang jahat itu, hanya itu yang terpikir oleh Arini dalam benaknya yang masih polos dan lugu.

Pelariannya benar-benar jauh dari rumah, melewati perkebunan sawit, hingga sampai di pinggir hutan perbatasan kampung, dan akhirnya jatuh tergelincir di sebuah tebing landai di pinggir sungai. Arini jatuh berguling bersamaan dengan guguran dedaunan yang sekaligus menjadi selimut tidur malam harinya yang melelahkan.

Sesi ke Dua

Ketika pagi itu datang Arini terbangun, raut wajahnya kebingungan dengan dahi sedikit mengkerut, melihat suasana sekitar yang sudah sangat terang. Didapatinya seekor berang-berang yang tertangkap basah sedang mencoba membunuh seekor ikan di tepian sungai, yang hanya berjarak dua langkah dari Arini. Melihat Arini berdiri, berang-berang itu langsung kabur, terjun kedalam sungai dengan meninggalkan ikan hasil buruannya, ikan itu menggelepar dan masuk lagi kedalam sungai.

Di atas sebuah batu besar di tengah sungai, berang-berang itu menatap Arini dengan tatapan seperti keheranan melihat sosok mahluk yang tiba-tiba saja berdiri di dekatnya dan menggagalkan sarapan pagi harinya. Dengan wajah jenakanya Arini melambaikan tangan ke arah berang-berang itu sambil tertawa cekikikan, merasa geli melihat tingkah dan tatapan sok serius berang-berang itu. Melihat sungai yang jernih dan dangkal Arinipun menyusul ketengah sungai, lagi-lagi berang-berang itu bersusah payah untuk kabur, karena terpeleset pada bagian batu yang licin. Arinipun tertawa girang melihat berang-berang itu terpeleset dan jatuh lagi ke dalam air.

Berkecimpung di sungai, mencipratkan air, kadang berguling-guling mengikuti arus sungai. Air sungai yang bening berkilauan diterpa cahaya mentari pagi. Bibir mungilnya mengurai senyum, berdecak tawa mengiring kicauan burung-burung yang menyambut datangnya pagi. Terlupakan sudah dalam ingatannya satu peristiwa tragis tadi malam. Sesaat wajahnya tepana, terpesona begitu melihat warna merah ranum buah arbei yang bertaburan di pinggir sungai, dan lebih dari cukup untuk memenuhi tuntutan perutnya yang sangat lapar. Tanpa pikir panjang tubuh kecil itu keluar dari sungai dengan riang membuka bajunya untuk dijadikan pembungkus buah arbei. Tanpa disadari Arini dua pasang mata sedang memperhatikan tingkah lakunya dari atas tebing tempat dia tergelincir.

“Anak siapa itu Pak?” tanya seseorang yang lebih muda.

“Masyaallah cantiknya!” orang yang lebih tua kaget begitu melihat Arini yang sedang duduk sendirian di atas batu sambil tertawa cekikikan menikmati manisnya buah arbei dan sesekali melempar buah arbei itu ke angkasa lalu disambut dengan mulutnya.

“Itu anak demit mungkin Pak!”

“Nggak mungkin, mana ada demit keluar di terang bolong gini.”

“Lantas anak siapa? Setahuku nggak ada orang kampung sini yang berkulit seputih itu, coba perhatikan aik-baik,” kata seseorang yang lebih muda sambil menatap serius Arini dari balik ranting pohon.”

“Apa mungkin itu cucunya.”

“Iya benar, itu pasti Arini cucunya cucunya Pak Malak,” kata seseorang yang lebih muda yang seenaknya saja memotong perkataan orang yang lebih tua.

5 Responses to “Grasse Arini”

  1. on 03 Jun 2008 at 09:05adeline

    Mana sambungannyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ??????????

  2. on 04 Jun 2008 at 14:30santi

    sengaja nggak dilanjutin atau emang buwat penasaran ni…hehehe

    sori baru sempat baca sekarang, Zan

    bagus lho, apalagi klo bisa lebih panjang, bisa dideskripsikan tentang si arini, tentang kakeknya, tentang desanya, dll

    masih bisa panjang tuh (semangat… semangat!)

    btw, arti judulnya apaan seh?

  3. on 05 Jun 2008 at 14:19Fauzan Masri. Z

    Maaf, sebenarnya cerita ini belum ditampikan seluruhnya, tapi nggak tau kenapa, malah ditampilkan oleh pihak kolomkita. Ok, jgn kauatir sambungannya udah kelarkok pada Grasse Arini Sesi ke Dua

  4. on 11 Jun 2008 at 05:02Fauzan Masri. Z

    Terima kasih buat yang udah baca, untuk melihat sambungan Grasse Arini sesi berikutnya sialahkan klick nama pengarang.

  5. on 29 Aug 2008 at 09:57dEsi

    ngomong2 bUaH ArBeI iTu gImAnA????!!!!!??????

Tinggalkan Komentar