KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Juni 2008

Tak pernah kualami rasa seperti ini
Kala kurasa kebahagiaan yang hakiki
Ada sesuatu yang menyayat hati
Pedih, bagai tertusuk ribuan duri

Mungkin matamu telah buta
Mungkin telingamu telah tuli
Atau mungkin perasaanmu yang telah mati
Hingga kau tak rasakan hadirku ini

Lelaki itu berdiri di altar menatapku. Tersenyum. Senyuman paling indah yang pernah kulihat. Matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Dan aku disini, berjalan dengan lambat, mencoba menenangkan degup jantungku. Keraguan itu kembali datang, haruskah aku terus berjalan, ataukah aku berhenti dan lari meninggalkan tempat ini. Bepergian kemana angin membawaku. Semua terlintas kembali di hadapanku.

Aku hanyalah kepingan-kepingan jiwa yang berserakan di lantai tempatmu menapak
Tak bernilai jika dibandingkan kilauan cahaya yang tersimpan di sudut matamu
Aku hanyalah senyuman pahit pada kopi hitam pagi harimu
Mencoba merangkak dari pinggir gelas untuk menyentuh bibirmu yang ranum

Sekali lagi, aku ingatkan! Aku hanya ingin tahu apa itu sepi. Di mana sepi? Sejak lahir aku tak pernah mengetahui keberadaannya, bahkan ketika aku termenung sendiri. Bahkan masih ada dengung lirih di telingaku saat mereka pergi, yang menandakan bahwa sepi masih segan untuk menampakkan batang hidungnya di depanku. Aku pergi ke laut, ketemu debur. Aku panjati gunung tinggi, ketemu semilir. Aku jelajahi sahara, ketemu desir. Aku rebah di kasur, ketemu suara berisik. Dari mana berisik itu? Ternyata dari mataku. Mataku masih liar bergerak meraba-raba mencari cahaya atau sekedar fantasi. Kata orang, itu namanya kita sedang memasuki fase rapid eye movement, disingkat REM. Konon, itu sebuah fase sebelum kita memasuki fase tidur nyenyak.

burung hitam mengembang sayap di langit malam

mencanda awan kelam

mengepak menyapa rembulan, mencandu bintang

burung hitam melarung bumi di gelapnya malam

menyendiri dalam langit hitamnya

makhluk kesepian pengembara tanah asing

tertempa sinarnya bulan dan dingin angin kala malam

burung hitam terbang sendiri di langit malam

Hari ini Hati disemayamkan. Tak akan ada lagi gadis cantik berambut ikal yang menghabiskan sorenya dengan memandangi langit senja di bibir pantai. Sayap mungilnya tak lagi bisa menerbangkan sepuluh orang ke langit, hanya demi membuktikan bahwa awan lebih halus dan lembut ketimbang kapas dan gulali.

Tiba-tiba aku berada di gurun tandus. Hanya berteman bayanganku sendiri yang tegak lurus ke Timur. Langit merah senja membakar kulit, menyengat hingga rongga pori-pori. Tak biasanya matahari begitu senyap. Kupingku tak menangkap sesuara apapun. Hanya deru debu terkoyak angin. Rumput kering. Ilalang kering.

“Di dalam hatiku ada sebuah kidung yang tak mampu mengalir seperti tinta diatas kertas, hanya dapat terucap lewat kata untuk cintaku yang selalu membalut tubuhku dengan kasih. Kekasihku ada dalam jiwa hatiku, bersemanyam yang lamat-lamat pecah menjadi bongkohan rindu, selalu…”

Kalimat itu mengalir dari jemari dalam lembar pertama diary hatiku, kata-kata yang mengalir dari perasaan terindah dalam hidupku.

Langit mendung
Mungkin mendung juga hati ini

Sulit meraba angan jiwa
Teman
Berikan aku satu cerita tanpa duka
Berikan tawa dalam canda kala bersama
Berikan indah dalam keabadian
Berikan luka sekali saja
Di saat mata ingin berlinang
Di kala senja telah mengunadangkan pudarnya
Di masa tua akan menjelma
Dirasa raga telah goyah

Hati ini serasa senja
tak terperikan oleh bidadari malam
bulan berkicau menantang alam
apa mungkin??

sejak pergi,
tak pernah termiliki…

gundah itu punya siapa?
asa ini milik siapa?
rindu itu menjadi dua
entah siapa yang punya

Next »