KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Mei 2008

Aku

Menjejak pada bumi langkahku

Meniti arah jalan berpaku

Tak seorangpun dapat menahanku

jiwaku kini daging busuk

Tak sedikit pun dapat kureguk

Hanya anyir ku peluk

Selama jua roh merasuk

Walau petir menyayat kulitku

Aku akan tetap berdiri dan berlari

Tak peduli raga membeku

Kurasakan angin bertiup semilir

Menerbangkan debu-debu yang perlahan menyapu wajahku

Menyusup hingga ke sela mataku

Hingga kurasakan pedih dan perlahan kurasakan air mata mulai menggenang dipelupuk mata

Mengalir melewati pipi, meninggalkan jejak basah

Mungkin air mata ini mewakili perasaan sedih yang tengah kurasakan

“Nasi telur satu, Bu!”

“Dibungkus, apa makan di sini?”

“Dibungkus saja, Bu.”

Malam itu, sehabis isya, untuk kesekian kalinya percakapan itu terulang lagi antara Dulkarim dengan Bu Iyem. Kejadian ini tak ada bedanya dengan sebuah kaset yang direkam lalu diputar ulang. Nampaknya hidup memang diwarnai dengan sejumlah repetisi yang monoton.

Cuaca hari ini tampak mendung. Hampir jam empat sore, beberapa karyawan sudah bersiap-siap pulang. Aku sendiri masih duduk di meja kerjanya Mas Daffi. Sang empunya sendiri sedang tugas lapangan. Kulihat Mbak Tiana sedang berdiskusi dengan Bu Catherine di ruangannya. Sampai mereka berdua keluar pun aku tak berhenti menatap mereka.

“Kepada bunda.”
Sudah terlalu sering perkataan itu terucap, sudah terlalu lama untuk tidak dilupakan, sudah terlalu sakit untuk terus dikenang. Hanya sebuah kata tidak bermakna, hanya selentingan suara tidak pernah terdengar, atau mungkin tidak pernah terucap. Seperti sebuah arti tentang kenyataann tanpa ungkapan, dan dianggap khayalan meski sekuat kerongkongan mencoba berteriak. Hingga gelegarnya dianggap seruling merdu dari melodi sepi.

Dalam Kegelapan Malam

Hujan deras menerpa bumi
Berpacu dengan petir yang menyambar
malam makin mencekam
Tak seorangpun yang keluar
Di kegelapan malam

Seorang gadis berkaca mata
Menagis tiada henti
Menanti datangnya bantuan
Sang ibu terkapar tak berdaya

Makin lama airmatanya seakan kering
Namun tak seorangpun yang mendekat
Tuhan tolonglah kami
Lirih dan permintaan hatinya

Kedua orang itu duduk dibawah pohon sebuah taman. Keduanya memegang buku dan alat tulis. Bedanya, yang satu hanya memegang selembar kertas dengan penuh rumus yang rumit, sedangkan yang satunya lagi memegang sebuah buku tebal tak berjudul yang berisi curahan hatinya. Keduanya duduk tanpa bicara. Hanya sesekali saling mencuri pandang.

Diamlah
Izinkan aku berbicara di hadapan kalian
Dengarkanlah suara-suara kami
suara orang-orang diam
Menarik diri dari peradaban
dari hiruk pikuknya dunia
aku hanyalah seorang pemimpi
seorang penghayal
menganggap yang semu itu nyata
yang nyata itu semu
kahlil gibran bilang
setiap lelaki mencintai dua orang perempuan
satu dalam khayalannya yang begitu sempurna
dua adalah wanita bernafas yang penuh dengan kekurangan
sehingga dia bilang
haruskah aku menggantikan kedudukannya yang sempurna itu dengan wanita tanah liat yang bernafas ?
pernahkah kalian dengar
cerita sekawanan kupu-kupu yang ingin mengetahui seperti apa nyala lilin itu
mereka utus satu diantara mereka untuk menyelidiki
tetapi ia hanya melihat dari kejauhan dan pulang kembali untuk bercerita kepada kawannya
kurang puas, mereka utus satu lagi
ia melihat lebih dekat dan membakarkan sedikit sayapnya pada lilin yang menyala itu
akhirnya ia kembali dengan sedikit luka di tubuhnya
ternyata ada yang belum puas dan ingin serba tahu
ia kesana dengan penuh rasa keingin tahuan
ia dekap lilin yang menyala itu
ia tahu seperti apa nyala lilin itu
menyala bersama tubuhnya yang turut serta
dari kejauhan ada kupu-kupu bijak yang sedari tadi mengamati
ia berkata
dia telah mengetahui apa yang ingin diketahuinya
tapi hanya dia sendiri yang tahu tak ada yang dapat menuturkannya

Jari - jemari ini seolah telah menyatu dengan tuts piano. Mungkin kini cahaya lampu yang bulat benderang mengarah padaku yang berada di sini sendiri, di atas panggung ini. Aku berusaha membawa perasaan mengikuti alunan irama. Aku menyukainya. Tiada suara selain suara piano yang tengah kumainkan. Kuhentikan permainan pianoku dan terdengarlah suara riuh tepuk tangan ratusan orang yang sejak tadi ikut terbawa suasana. Aku berdiri dan menunduk sesaat. Kuhiasi wajahku dengan senyuman malam ini.

Kalau aku boleh memilih, aku ingin tetap disini. Di sini bersama kenangannya. Kenangan aku dengannya. Aku tak ingin pergi dari masa laluku bersamanya. Bukan ingin terus tinggal dalam dunia yang tak nyata namun aku hanya ingin bahagia sementara karena usia yang hanya tinggal menjemput masa.

« Prev - Next »