Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi, Jeritan on Mei 24th, 2008 1 Comment »
aku..
bukanlah manusia hina
yang dapat diinjak seperti rumput liar
yang dihindari seperti angin ribut
yang bisa disakiti sekejam pusaran badai
aku juga manusia
sama sepertimu, sepertinya
dan seperti mereka
tak ada yang bisa menghakimiku
seperti mereka yang slalu menyerangku
lihatlah
aku adalah manusia
aku punya darah dan daging
jika kamu bertemu dengan mimpi
katakan padanya aku akan menjemputnya
dan jika kamu bertemu dengan waktu
katakan padanya untuk tak mengaburkan mimpi
karena mimpi masih menaruh harapnya pada waktu
dan jika kamu bertemu dengan hidup
katakan padanya masih banyak yang ingin kuceritakan
Tuhan,
Akankah ia tahu
Bahwa aku selalu berdoa untuknya
Bahwa aku selalu menantikan sosoknya
Bahwa aku selalu melamunkan senyumnya
Karena Tuhan,
Mungkin aku sedang jatuh cinta padanya
Dan Tuhan,
Aku pun masih berharap
Bahwa ia akan berdoa tentangku
Bahwa ia akan menantikan sosokku
Bahwa ia akan melamunkan senyumku
Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah
pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus
ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama
pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu
kepastian dari seorang bidan; “positif”.
Beragam makna cinta…
Apalagi cinta dalam Islam
Cinta dalam islam itu, suci…
Suci dari dosa dan suci dari zina
Cinta itu, buta…
Buta untuk berbuat sesuatu yang hina
Cinta itu, lumpuh…
Lumpuh untuk menuju ke jalan yang sesat
Cinta itu, tidak ada…
Tidak ada kata zinah untuk percintaan Islam
Seribu burung kertas
terukir dalam warna
seperti pelangi di tengah rintik hujan sore hari.
ia terbang tinggi,
mencari cinta dan harapan,
menembus awan kelabu,
meraih kerajaan Cinta.
Hingga akhirnya ia menemukanmu.
Namun tak berani mendekat,
hanya dapat memandang sosokmu:
Terik matahari siang, membuatku makin basah kuyup oleh keringat, sementara aktivitas ku belum juga usai. Yah, mencoba untuk menyambung hidup, aku memutuskan untuk menjadi petani. Sebuah profesi yang bagi orang di kampungku kurang cocok dan dipandang sebelah mata lantaran aku anak kuliahan, apalagi di fisip, tambah gak nyambung. Yah begitulah, setelah lama kuliah di ibukota, aku sudah dikenal tetanggaku sebagai anak kuliahan, sarjana gitu. Namun hatiku kadang tersenyum sekaligus miris apabila mengingatnya, aku ini hanya lulusan SMA, bukan lulusan S1 seperti yang diasumsikan para tetangga kepadaku. Memang sih, aku sempat kuliah, namun lantaran “kebandelanku”, aku memutuskan untuk berhenti kuliah.
Aku tidak tahu mengapa, setiap kali orang itu tertawa dan tersenyum kepada temannya, hatiku bergetar. Setiap kali dia memasukki kamar ini, perutku memberikan gejolak yang aneh. Orang itu gendut, rambutnya keriting, mukanya lucu mirip seperti tokoh drama anak yang sering aku tonton di theater dulu, sewaktu aku masih hidup.
Sekedar menyibukkan diri, kuambil biola, lalu ciptakan sebuah nada. Apalagi yang bisa dilakukan, ini masih jam dua. Gesek dawai biola, aku rasa itu hal yang luar biasa. Pikir punya pikir, mainkan blues sepertinya ide yang gila. Ambil posisi, siap melaju dalam gelombang irama.
“Trrtt…,” getar handphone pertanda ada telepon memanggil.
kekasihku, kau bukan sebuah pikiran yang mengitari kepalaku saat aku dalam kesunyian malam…
bukan pula sebuah hiburan dalam imaginasi dan kenyataan tatkala aku berada dalam suasana hati yang tak menentu…
bukan…bukan seperti itu!