KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Salahku

Rintik hujan turun membasahi hari semenjak pagi. Entah pertanda atau kebetulan saja. Aku berharap ini pertanda, ini pasti pertanda. Manusia seringkali mengandalkan pertanda. Tapi pertanda itu datang terlambat atau mungkin tidak. Bagiku tidak ada lagi pilihan lain. Mungkin ini takdir. Ah tidak, aku tidak percaya hidup yang digariskan semenjak lahir. Aku mencoba untuk tidak percaya.

Dan inilah saatnya, ini saatku. Waktu ini milikku dan akan kutentukan nasibku sendiri. Persetan semua orang, semua undangan, semua famili, Mas Yunus, aku tidak peduli lagi semua. Kuletakkan amplop warna kelabu itu. Kubayangkan hari-hari semua orang yang akan sama dengan warna suratku. Satu kisah tragis di hari Minggu. Sebuah roman picisan yang dibuat olehku. Tentang pilihan hidupku.

Sebuah surat bersama amplop kelabu. Kubuka dan kubaca kembali.

Entah apa yang aku pikirkan.

Seandainya semua bisa seindah dulu. Ketika aku tidak ingin mempertanyakan apapun. Ketika semuanya sama saja bagiku. Tahun-tahun awal, hidup yang menyenangkan dan aku begitu penurut. Dan semua orang akan berbahagia karena aku adalah anak yang baik. Kebanggaan keluarga, kesayangan. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada. Mengapa aku harus melakukan apa yang mereka katakan demi kebaikanku jika aku tidak merasakan kebaikan itu sedikitpun.

Dan sesungguhnya aku adalah anak kecil penurut yang munafik. Aku mulai membenci diriku sendiri karena aku hidup dalam kebohongan yang aku sadari dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

Kemudian seseorang datang dalam hidupku dan untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan ini. Aku rasa aku bahagia ketika Mas Yunus datang. Dan seperti semua dongeng yang pernah aku baca ketika aku mencoba melupakan pertanyaan-pertanyaan dalam otakku, aku rasa dia datang untuk menyelamatkanku dari semua ini.

Aku bahagia, aku selamat. Ini yang dinamakan cinta, aku yakin ini cinta. Cinta indah yang membebaskan. Aku melalui hari-hari penuh cintaku bersama Mas Yunus tahun demi tahun. Dia tahu apa yang kuinginkan dan yang tidak aku inginkan. Sesuatu yang ganjil, karena aku tidak tahu apa yang kuinginkan dan bahkan tidak tahu apa yang tidak kuinginkan. Dia membuatku tahu. Dan kemudian semua terulang kembali.

Hari-hari penuh kebohongan itu menghampiriku sekali lagi. Seperti suatu dejavu bagiku. Anak kecil munafik yang sama ada di dalam tubuhku. Dan aku menyadari di dalam kebenaran ini, tidak ada yang pernah berubah.

Hari itu, tahun lalu ketika aku pulang dan mencoba membuka semuanya, aku tidak akan melupakan sebuah kejutan yang menungguku. Dan pesta pertunangan yang indah berlanjut tahun itu. Lidahku kelu, tubuhku kaku. Hari itu aku merasakan mati rasa, lebih daripada sebelumnya. Karena aku tahu, semua orang tahu sebuah kenyataan dan semua orang diam dan aku diam. Karena itu, semua ini adalah salahku.

Bertahun-tahun aku membungkam mulutku sendiri dan hatiku tahu, jauh di dalam hatiku tahu. Entahlah,tetapi aku benar-benar merasakan semua orang tahu. Tahu jika aku membungkam mulutku sendiri. Dan ketika keputusanku menguat, semua sudah terlambat. Karena ternyata, kejutan itu datang. Semua dengan penuh kasih sayang telah melakukannya untukku.

Semua telah diatur dengan sempurna, di tempat yang sempurna dan sesuai dengan kesukaanku. Undangan berpita emas dan dekorasi bunga-bunga favoritku. Mawar-mawar putih itu sangat indah. Dan gaun putih gading yang ada di hadapanku ini, aku tidak percaya Mas Yunus mengingat sketsa gaun pengantin yang pernah kutunjukan dua tahun yang lalu. Mas Yunus sangat mencintaiku, aku tahu itu. Terima kasih, Mas. Aku ingin Mas Yunus tahu, ini semua salahku.

Aku butuh waktu, hanya itu yang pernah keluar dari mulutku. Dan semua tersenyum manis menganggukan kepala lalu kemudian pergi. Saat itu aku tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti. Tulikah mereka? Aku kehilangan arti diriku sendiri. Aku berada ditengah orang-orang tuli. Aku terombang-ambing dalam hidupku sendiri. Aku tidak percaya ini. Inikah takdirku? Inikah yang seharusnya terjadi?

Mereka bilang aku bernasib baik, takdirku adalah bersama Mas Yunus. Kata-kata itu selalu keluar dari mulut semua orang. Aku bahagia, aku percaya karena Mas Yunus sungguh lelaki yang baik hati. Dia mau melakukan segalanya untukku, hanya dan demi aku. Sungguh bodoh melepaskan seseorang yang sangat mencintaiku, begitu dalam, begitu buta. Aku seharusnya adalah wanita yang sangat beruntung. Karena itu, semua ini adalah salahku.

Ya, ini semua salahku. Karena aku terlalu bodoh untuk mensyukuri apa yang diberikan semua orang padaku. Karena aku bahkan saat ini tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku tidak sakit, aku tidak benci, aku tidak bahagia. Tapi aku takut, karena lingkaran ini terus berlanjut dengan cerita yang sama. Karena aku memilih untuk tidak menuruti apa yang bukan kata hatiku, aku bahkan tidak tahu apakah ini benar-benar kata hatiku. Karena itu, semua ini salahku.

Tapi aku akan menghentikan semua ini. Semua kebodohanku, kebohonganku, kemunafikanku.

Mungkin aku gila atau terlanjur putus asa. Alasan itu bisa kalian gunakan untuk semua orang yang aku jamin akan menanyakanku paling tidak satu tahun kedepan. Ini semua salahku, jadi aku harap kalian tidak saling menyalahkan karena aku tahu itu hal pertama yang akan kalian lakukan. Jadi ini semua salahku. Katakanlah ini semua akibat jalan sesat yang kutempuh atau bacaan yang ekstrim mempengaruhi otakku yang lemah. Carilah sebuah alasan hebat dan salahkan aku.

Setelah semuanya, setelah aku percaya takdir.Setelah aku percaya akan semua yang sudah digariskan semenjak awal, dari hari pertama aku dilahirkan. Setelah aku dibuat percaya. Kali ini aku ingin mencoba sekali saja, menantang takdirku. Dan hari ini saatnya. Hari dimana akan kubuktikan semua takdirku adalah milikku dan hanya milikku seorang. Dan jika hidup ini bukan pilihanku, ketahuilah jika sebenarnya aku telah lama mati.

Maafkan aku

Dan hidup adalah pilihan tapi bukan pilihanku.

Tinggalkan Komentar