KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mungkin pertemuan itu bagi dia biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu diingat-ingat. Tak ada yang harus dikenang. Bagaikan kertas tisu yang dia pakai untuk menyeka titik keringat-keringat di lehernya yang jenjang itu, lalu dia buang ke tempat sampah begitu saja. Buat apa diingat-ingat. Rugi!! Memakan waktu saja!! Lebih baik membaca materi kuliah!! Mungkin begitu pikirnya. Aku hanya mereka-reka dalam angan. Benar atau tidak, aku tidak tahu. Entahlah..Tapi bagiku tidak begitu. Pertemuanku dengannya di halte siang itu, sungguh mati tak bisa aku lupakan. Selalu mengisi ruang dan waktuku. Dan yang paling berkesan adalah saat kutanya namanya. Lalu ia melirik dan menoleh. Oh… Sungguh bibirnya itu adalah maha karya Tuhan yang luar biasa. Bibir yang tipis, sensual dan berwarna merah tanpa lipstik. Bibir itu melempar senyum tipis. Menghembuskan angin penuh karisma ke dalam dada. Bergetar. Ah…ada desir lirih mengusik kalbu. Lalu bibirnya mulai terbuka pelan tapi sempurna. Aku perhatikan dengan seksama setiap geriknya sampai ada suara yang menerobos di antara bibir indah itu.

“Delima, tapi temen-temen kampus biasa memanggilku Elim.” Delima. Sebuah nama yang indah. Seindah bibirnya yang memerah, semerah delima.

Sayang, bis yang datang, terlalu cepat mengakhiri pertemuan itu. Terlalu terburu-buru membuat pertemuan singkat ini menjadi sebuah kenangan. Aku hanya tertegun melihat roda bis yang terus berputar membawa Delima dan bibir manisnya. Jauh. Semakin jauh, dan akhirnya hilang di tikungan jalan. Semakin mempertegas, bahwa pertemuan ini telah menjadi sebuah kenangan. Bisakah aku kembali melihat bibirnya? Semoga!

Besok harinya, saat matahari memanggang muka kota ini, aku kembali duduk di halte itu. Kuharap Delima datang membawa sekuntum senyum yang tersaji lewat indah bibir ranumnya. Mengobati rindu yang hampir karatan ini.

Kulekatkan mataku ke tikungan di ujung sana, mengaharap ia segera datang. Dua orang anak jalanan melintas, satu memanggul gitar, satunya lagi bertangan kosong. Di belakangnya seorang kakek duduk di pinggir trotoar dengan setumpuk kemucing terbuat dari bulu ayam di depannya. Tangan kakek itu telah mengalihfungsikan topi bututnya menjadi kipas yang ia gerak-gerakkan di depan dadanya.

Lalu kulempar pandanganku ke gang kecil di sebrang jalan, berharap Elim muncul dengan bibir merah yang ia persembahkan hanya untukku. Tak ada. Yang kulihat hanya seorang laki-laki berdasi dan berkepala botak bergegas memasuki sebuah sedan yang menunggu di samping muka gang. Sedan itupun segera berlalu.

Lama dan pelan-pelan harapanku mulai memudar bersama lampu-lampu kota yang mulai membuka mata. Kini aku dihadapkan pada sebuah kenyataan getir, Delima tidak datang!! Aku tak bisa menatap bibirnya. Lampu-lampu jalan dengan selaksa warna dan model itu tak bisa menjadi madu dalam kegetiran ini. Semua terasa hampa dan hambar tanpa ada bibirnya. Tambah lama, lampu-lampu itu kian buram kekuningan dan kian sayu saja.

Dengan langkah satu-satu, kuayunkan kakiku menuju rumah. Kutinggalkan halte itu. Menyusuri jalan yang ramai tapi terasa sunyi. Berpapasan dengan tembok-tembok yang mulai kehilangan arti. Melewati anak-anak kampung yang nongkrong sambil mencari jati diri. Melintas di depan rumah-rumah pengusaha yang dermawan hanya di koran-koran dan televisi. Tapi tak toleran terhadap tetangga kanan-kiri. Mungkin popularitas telah membunuh nurani. Bermuka Musa, tetapi sebenarnya adalah Fir’aun tersembunyikan dalam hati. Aku serasa mau mati. Apalagi bibir Delima tak datang sebagai pengobat hati yang sedang menanggung rindu yang semakin tebal ini.

Malam ini aku tak bisa pejamkan mata. Bibir Delima terus membayang di pelupuk mataku. Berkali-kali aku bangun untuk minum air agar aku cepat bisa tidur. Tiga gelas air telah melewati tenggorokanku. Dua potong roti di atas meja juga tak bisa membuat mataku terpejam. Jam di dinding sudah berdentang dua kali sejak tadi. Akhirnya kurebahkan tubuhku di atas kasur. Kunikmati bayangan bibir Delima. Kupandang. Kuresapi. Alangkah indahnya, kalau saja bibir itu dapat kumiliki.

Akhirnya malampun menjemput mimpiku. Aku melihat Delima dengan senyum mengembang. Menaburkan keindahan yang tiada tara. Tapi pelan-pelan bibir itu tersenyum sinis. Sinis sekali. Terasa memisau hati. Dan tiba-tiba bibir itu meludah, tepat mengenai dua mataku. Aku tak dapat melihat apa-apa.

“Delima…Delima!!” Ah ternyata aku hanya mimpi. Sekujur tubuhku basah oleh keringat. Tapi mengapa kelopak mataku tak bisa aku gerakkan. Aneh, kelopak mataku sudah terbuka, aku tapi tak bisa melihat apa-apa. Sepertinya ada yang menempel di korneanya.

Dengan malas, kugerakkan tangan kiriku, mencoba meraba dan menyingkirkan apa yang mengganggu pandanganku. Kelopak mata kanan dan kiri sama. Kenyal. Basah, empuk dan memanjang. Kutarik pelan-pelan dengan kedua tanganku. Oh…sakitnya terasa ke ubun-ubun. Korneaku panas. Tapi aku paksakan. Aku mau tahu benda apa ini.

Lambat laun benda itu mulai terlepas. Menyisakan perih di kedua mataku. Meninggalkan teriakan tertahan di pangkal tenggorokanku. Kuletakkan benda itu sembarangan di sampingku. Kupegangi kedua mataku yang terasa terbakar. Kupejamkan rapat-rapat beberapa saat. Menunggunya menjadi agak lebih baik. Berlumbung tanya mengisi dada: benda apa tadi?

Setelah beberapa saat kubuka mataku yang masih menanggung perih, tapi kini mulai sedikit menipis. Sinar mentari yang memaksa masuk dari celah jendela menyilaukan mataku. Kucari benda yang tadi kuletakkan sembarangan di sampingku.

“Bibir!!” aku berteriak tertahan, ketika mataku tertumbuk kepada dua benda yang tergeletak di atas bantal guling. Aku pungut kedua bibir itu, dua bibir, atas dan bawah. Indah sekali. Aku yakin ini adalah bibir Delima. Kutimang-timang, kuperhatikan, kupadukan antara bibir atas dan bawah. Betapa memukau keindahan ini menjelma di hadapanku.

“Munir,bangun Nak!! Sudah siang. Ada yang nyari tuh, di depan!” suara Makku mengagetkan aku.

“Ya Mak.”

Aku taruh kedua bibir indah itu di atas piring bekas tempat roti. Kusimpan di dalam laci, lalu keluar.

***

Dengan tergesa-gesa aku masuki kamarku, lalu kubuka laci, ternyata bibir Delima masih di sana. Masih tergolek begitu saja di atas piring, tapi tetap tidak mengurangi keindahannya. Aku ambil piring itu dan aku letakkan di atas meja, di samping ranjangku. Untung tidak ada semut yang menemukannya kemudian membawanya. Jangan! Jangan sampai hal itu terjadi! Ini adalah milikku. Ini adalah anugerah Tuhan kepadaku, karena aku sangat mengagumi ciptaan-Nya.

Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dari masjid sebelah menyapa telingaku. Memasuki kamarku. Lewat celah-celah jendela. Lewat lubang fentilasi di atas pintu kamarku. Menyerap melalui pori-pori tembok kamar. Kini resmilah sang raja kegelapan bertahta di muka bumi. Mengajak manusia melepaskan kepenatan di dunia mimpi. Menyuguhkan dingin sebagai pelengkapnya. Menyajikan sepi yang mati sebagai bumbunya.

Kuambil bibir Delima di atas meja. Aku rebahkan tubuhku. Kutimang-timang. Kupandangi. Kuresapi dalam hati setiap garis keindahan yang tersaji. Lekuknya. Basahnya. Warnanya merah delimanya. Guratan-guratan tipisnya yang putus-putus. Sungguh telah bersemayam di puncak keindahan rasaku. Membawaku terlelap bersama senyumku.

Dentang tiga kali dari jam dinding bangunkan aku. Aku terhentak, karena lagi-lagi mataku tak bisa dibuka. Sama seperti semalam. Pasti bibir itu menempel di kornea mataku lagi. Ya, benar saja. Aku tarik dengan kedua tanganku, bersama perih yang mendera mata dan kepala. Kupegang erat-erat dengan tangan kananku.

Beberapa saat aku buka mataku, kulihat yang kugenggam. Yah benar, ini bibir Delima.

***

Sudah seminggu ini malam-malamku diganggu oleh bibir yang dulu aku anggap indah itu. Mataku semakin bengkak saja. Pandanganku mulai dan terus bertambah kabur. Kalau Makku bertanya, aku menjawab, “Biasa Mak, sakit mata, ketularan teman di kampus”. Makku pun percaya. Bahkan Beliau kemarin membelikan aku obat tetes mata. Aku jadi merasa sangat berdosa. Tapi tak mungkin menceritakan yang sesungguhnya. Aku ceritakanpun, ia takkan percaya.

Berbagai cara telah aku lakukan, agar bibir itu tidak kembali menempel di mataku. Dengan menyimpannya di almari terkunci. Menindihnya dengan kaki meja. Meletakkannya di dinding dengan lem alteco. Membuangnya di atas bis antar kota. Melemparkannya ke tempat pembakaran sampah yang masih mengepulkan asap. Bahkan mengiris-irisnya tipis-tipis, lalu membuangnya melalui saluran kamar mandi. Tapi tetap saja usahaku sia-sia. Setiap kali aku terlelap, pastilah bibir itu menempel di mataku. Aku sangat tersiksa dengan keadaan ini.

Malam ini sudah aku putuskan semuanya. Mungkin orang-orang akan menganggap ini adalah keputusan gila. Bodoh. Tak berpikiran panjang dan berbagai cemoohan lainnya. Apalagi mereka tak tahu sebabnya. Tapi inilah keputusan dan pilihanku. Bukankah hidup itu memilih? Dan aku siap mempertanggungjawabkan pilihan ini. Mungkin inilah takdirku. Aku akan membuat takdirku sendiri. Bukankah takdir itu adalah akibat perbuatanku sendiri?

Aku memang sengaja tidak membuang bibir Delima setelah aku cabut dari mataku tadi pagi. Bibir itu aku letakkan di depan cermin. Dan kini aku sedang duduk di depan cermin itu. Kuperhatikan mataku yang sangat memprihatinkan, setidaknya begitu bagiku. Tangan kananku mengenggam sebuah pisau dapur yang telah aku asah dan cuci bersih. Kuangkat. Lumayan mengkilat.

Tangan kiriku, kudekatkan ke mataku. Kubuka lebar-lebar kelopaknya lalu kucongkel dengan pisau di tangan kananku. Kutarik, kuletakkan di atas meja. Aku masih bisa melihat darah yang sedikit merembes di bola mata itu dengan sebelah mataku. Bola mata itu berkilauan ditampar sinar lampu kamar. Sekarang tinggal satunya. Segera aku congkel juga. Semuanya menjadi gelap. Sakit memang terasa, tapi tak aku hiraukan. Inilah konsekuensi dari sebuah keputusan.

Tapi ada yang lain yang kini aku rasakan. Bibir itu sepertinya telah pindah. Meskipun aku tidak dapat melihat, tapi aku bisa merasakan, ia kini bersemayam di dadaku. Benar, ia kini mengisi dadaku. Pasti ia menempel di dalam hatiku. Segera kutikamkan pisau di genggaman ke dadaku. Kutikamkan berkali-kali. Tak akan aku biarkan bibir Delima mengisi dadaku.

***

Pagi harinya, aku melihat Makku sedang meraung-raung di sisi tubuh kakuku yang tak bermata dan dada tergorok. Bercak-bercak darah yang mengering di muka dan dadaku. Di depannya tergolek dua bola mata seperti dua buah gundu. Muka dan mata Mak memerah. Air matanya hampir mengering. Tubuhnya terguncang-guncang mengiringi isak tangis yang tak mau berkesudahan. Tetangga-tetangga berkerumun. Memegangi Mak. Menenangkan. Menundukkan kepala. Ikut bersedih. Pura-pura ikut bersedih. Berbisik-bisik. Menghisap rokok dalam-dalam dan berucap pelan-pelan, “Kasihan!!”

Yogyakarta, 2006-2007

3 Responses to “Mataku dan Bibir Delima”

  1. on 10 Jun 2008 at 06:04dede

    Bagus,, idenya bagus!

  2. on 11 Jun 2008 at 07:57mkhoirul

    huuuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………………………………………………………………….!!!!!!!!!

  3. on 13 Sep 2008 at 12:58restu

    aku agak bingung cerpenmu bercerita tentang apa ya….?
    aku ga bisa tangkap maknanya

Tinggalkan Komentar