Mampus Dimakan Bete
Mei 23rd, 2008 by didi roten
Sekedar menyibukkan diri, kuambil biola, lalu ciptakan sebuah nada. Apalagi yang bisa dilakukan, ini masih jam dua. Gesek dawai biola, aku rasa itu hal yang luar biasa. Pikir punya pikir, mainkan blues sepertinya ide yang gila. Ambil posisi, siap melaju dalam gelombang irama.
“Trrtt…,” getar handphone pertanda ada telepon memanggil.
“Yup, kenapa Bro? tanyaku pada ida yang ada di sana.
“Icha ngajakin nonton, Di. Tiketnya udah dibeli ma dia. Gimana?”
“Mm… film apa tuh?”
“Hantu-hantu gitu deh. Lo maunya dijemput jam berapa ma Icha?”
“Okeh. Bilang ma Icha, jemput gue jam tiga.”
Nada yang tertunda, kulanjutkan kembali hingga tiba pada jam tiga. Seperti biasa, tak perlu banyak gaya. Ini acara cuman nonton biasa. Cukup pakai T-Shirt, celana pendek , dan sepatu Vans putih sebagai bawahannya. Satu, dua, tiga… langkahkan kaki sambil tebar pesona. Siap melaju bersama teman-teman semua.
“Let’s go… binggo binggo ready to go.”
Di dalam mobil, musik hip hop kini berjaya. Para refer serentak berteriak dengan mulut yang menganga, hilangkan bosan pada pemandangan kota. Semua terlihat happy dan gembira. Personil pertama yang bernama Icha, duduk di depan kemudi layaknya juara satu mobil formula. Batak yang di sampingnya, sibuk sendiri kayak orang gila. Sementara aku dan Mikha, asyik ngerumpi soal wanita. Yo yo yo… ini weekend yang benar-benar gembira. pesta akhir pekan yang ceria.
“Woi… kecilin musiknya dong!”
“Cha, itu tiket yang jam berapa?” tanya Batak yang berambut botak.
“Jam setengah lima, Tak. Emangnya kenapa?”
“Perut gue laper berat nih. Gimana kalo kita makan dulu di Galeri?”
“Gak bisa ditahan lagi, Tak?”
“Yang boneng aja. Lo mau gue mati pingsan di bioskop? Gak keren dong.”
Parkiran yang penuh sesak, menandakan sore ini penonton tengah membludak. Untungnya, nih bioskop gak sampai meledak. Sambil geleng-geleng kepala, kumenatap penjualan tiket yang luar biasa membengkak. Antrian panjang penonton tak ubahnya prajurit yang mau masuk barak. Sikut kiri, sodok kanan, gedubrak…gedubrak…. Untungnya kita tak perlu merangkak demi tiket lima belas ribu perak. Reputasiku sebagai playboy MiniMart bisa rusak terkoyak-koyak.
“Fiuh…”
Dengan santai kita melangkah menuju resto dekat-dekat situ. Sekitar lima meter dari Twenty One tempat kita bakalan nonton film hantu. Beberapa mata terlihat heran sebab musabab kita tak masuk dalam antrian yang bikin badan bau. Rupanya mereka belum tahu. Ini gang punya nama tersohor di segala penjuru. Cukup anak gaul saja yang tahu. Kamu-kamu orang harap ngantri saja dengan lugu. Pandangan fokus ke depan dengan mata yang terpaku. Hati-hati dengan barang bawaanmu. Dompet di saku, jangan sampai kena sapu. Dan ingat, tangan jangan meraba pura-pura tak tahu. Bila ketahuan, bisa mampus digetok pakai kayau sama satpam punya badan penuh bulu. Cukup sekian himbauan dari Didi with the gang, pikirku dalam hati sambil berlalu.
Ruangan nyaman dan pelayanan yang sopan, cukup sebagai pertanda ini tempat punya harga yang gila-gilaan. Bagi kamu-kamu orang kebanyakan, yang punya isi dompet pas-pasan, jangan harap bisa makan dengan nyaman. Bisa-bisa makan tanpa minum, pulang tanpa pakaian.
“Gak makan, Di?”
“Lagi males makan nih, Cha. Lagian perut gue gak sanggup makan nasi goreng seharga 35 ribu. Ada alergi gitu deh ama makanan sini. Maklum penyakit orang kaya. Hehehe…”
“Hahaha… ada-ada aja lo, Di. Makan aja lah, gue yang bayarin.”
“Thankyu Cha.”
“Di, ada Syanti tuh.”
“Mana, Tak?”
“Tepat pada posisi arah jam tiga.”
Ternyata benar. Si Syanti, gadis binal paling nakal, tengah asyik menyedot jus semangkanya dengan penuh penghayatan. Cerita punya cerita, nih cewek pernah jadi piala bergilir antar teman-teman. Dan sekitar sebulan yang lalu, Syanti mencoba menjerat diriku yang tampan. Namun sayang seribu sayang, aku tak suka cewek yang kegatelan.
“Woi, udah jam setengah lima nih!” ucap Mikha dengan nada super kaget.
“Hah!” ekspresi kaget bagai menang lotere.
Serentak ucapan tak percaya terucap bagai paduan suara. Asyik ngegosip ternyata membuat kita lupa segalanya. Dengan sedikit rusuh, kita segera berlari mengejar film hantu yang segera bergentayangan di bioskop dua satu.
“Sorry Mbak, udah gak bisa masuk,” ucap penjaga tiket dengan belagu.
“Terus gimana dong?” tanya Icha pasang tampang lugu.
“Mbak terpaksa nunggu ampe jam 8:45,” masih aja belagu.
“Gila! Sekarang masih jam lima kurang lima. Masa harus nunggu selama tiga jam empat lima menit!” teriakku lantang pecahkan karang.
“Terus gimana nih?” Icha bertanya pada rumput yang bergoyang.
Rasa kecewa yang dalam, membuat kita semua mendekam dalam kebisuan. Icha, sebagai ketua rombongan tim hura-hura, sungguh merasa terhina atas insiden barusan. Alhasil, empat anak manusia terlihat membatu pada pojok luar bioskop. Lama dalam kegelapan tanpa solusi, ternyata memaksaku untuk segera unjuk gigi.
“Mm… gimana kalo kita liat-liat buku ke Gramed?”
“Akh… gila lo, Di. Gue suka pusing kalo liat banyak buku,” ucap Mikha tanda protes.
“Okeh, Gramed batal. Kalo kita ngopi di Starbucks gimana?”
“Gokil lo, gue dah pernah masuk rumah sakit gara-gara kebanyakan ngopi. Lo mau bunuh gue, Di?” ternyata kali ini Batak yang keberatan.
“Hmmm… terus, lo semua maunya kemana?”
Ucapanku yang bermuatan kekesalan, sedikitpun tak ada yang menghiraukan. Lalu aku terdiam, biarkan waktu berjalan dalam kesunyian yang membosankan. Akhirnya kita memutuskan, habiskan waktu nongkrong di taman. Sesampainya di sana, ternyata semua bangku taman telah dipenuhi ABG-ABG tolol yang lagi asyik pacaran. Karena enggan melihat adegan mesum tak bermutu, akhirnya kita melaju menuju taman depan.
“Shit! Kaki gue hamper mati keram nih. Istirahat bentar yuk,” pinta Batak memelas.
“Payah lo, Tak. Tinggal dikit ini juga,” protes Icha membalas.
Dengan penuh perjuangan akhirnya kita sampai pada tempat yang dimaksud. Pada taman depan terlihat ada dua bangku taman yang kosong. Dengan segera bangku itu kita bantai dengan serangan-serangan tubuh yang lelah.
“Jam berapa, Tak?”
“Enam lewat lima, Cha.”
“Huh… bosan juga nih, duduk bengong kayak orang bego gini. Mmm…. photo-photo yuk?”
“Mang lo bawa kamera, Cha?” tanya Mikha sedikit bergairah.
“Iya. Udah buruan atur pose biar gue jepret.”
Photo season pun berlangsung. Tak peduli dengan orang-orang. Cuek abis, yang penting girang. Banyak gaya yang telah ditampilkan. Gaya jungkir balik, salto belakang, manjat pohon, dan lain sebagainya. Segala bentuk ekspresi muka juga telah dilakukan. Namun tetap ujung-ujungnya berakhir pada titik kebosanan. Untuk acara selanjutnya, kita niatkan melaju ke toko sepatu. Kata si Batak, mau liat Nike SB terbaru.
“Ini harganya gak bisa kurang Mbak?”
“Gak bisa. Khan udah harga pas.”
“Akh… pelit banget seh Mbak. Cukup tau aja nih. Kapok gue belanja di sini. Yok cabut yuk.”
“Idih, sadis,” ucap mbak-mbaknya sambil meringis.
Ternyata di dalam toko sepatu hanya bisa bertahan lima menit saja. Dan seperti biasa, mentok boring abis. Alhasil setelah melangkah keluar dari sana, kini kita terdiam di tangga depan , dekat sebuah pameran mobil Subaru. Tanpa suara, semua sibuk sendiri menikmati kebosanan yang menggerutu.
“Cha, coba liat jam di HP lo.”
“Huh… masih jam tujuh, Di.”
“Balik yuk, Bete abis nih. Nontonnya kapan-kapan aja deh.”
“Yok yok yok…”
Kali ini sepertinya semua setuju dengan usulanku. Yah, mau giman lagi. Aku rasa ini jalan yang terbaik ‘tuk lari dari kebosanan yang hampir bikin sakit jiwa. Cepatnya langkah yang dikayuh, membuat parikiran serasa tak jauh. Semua wajah terlihat gembira, saat menatap parkiran tinggal selangkah.
“Gila, gimana cara keluarnya nih,” ucap Icha dengan moncong yang mencorong.
“Ini mobil siapa seh, bego banget parkir sembarangan.”
“Gimana nih?” tanya Icha penuh pasrah.
“Kita lapor ke informasi aja. Biar diteriakin tuh si pengemudi tolol yang parker seenak jidat.”
Atas usulan Batak, dengan dada penuh kesal, akhirnya kita berangkat menuju pusat informasi. Bicara dengan nafas lelah, kita langsung pada pokok masalah. Sang petugas informasi pun segera meneriakkan plat mobil yang tengah parkir sembarangan agar segera memindahkan mobilnya. Dengan tenang kita menunggu. Menit terlewati, jam pun terlalui, namun si pemilik mobil sepertinya tengah mati suri. Kita tetap bertahan menunggu sesuatu yang tak pasti. Tak peduli walau hujan dan badai tengah menakut-nakuti.
“Anjrit, bete juga nih nungguin si goblok.”
“Iya nih. Dah jam berapa seh?”
“Jam 8:40.”
“Gimana kalo kita nonton aja?” usul si Btak tawarkan solusi.
“Gimana seh lo. Hidup lo penuh kemunafikan. Bener-bener menyedihkan,” Mikha mulai mengeluarkan pantun barunya.
“Shut up! You know what? Gue dah gak mood buat nonton.”
“Iya Di, gue juga. Baiknya kita tunggu aja tuh si pengemudi goblok mindahin mobilnya. Terus habis itu kita langsung balik aja. Gue dah mau pingsan nih,” celoteh Icha.
Panjang waktu berselang, yang ditunggu tak jua kunjung datang. Jam dinding yang terpasang pada tembok ruangan, kini telah menunjukkan pukul 10 malam. Terhitung dari jam lima kurang sembilan, hampir lima jam sudah otakku dipenuhi kebosanan. Bagai bom waktu, amarahku kini siap meledak. Pada siapa lagi, kalo bukan pada si pengemudi goblok. Tunggu saja tanggal mainnya. Semprotan, makian, akan kuludahi juga wajahnya. Yah, anggap saja ember pelampiasan.
“Mbak, mobilnya belum dipindahin juga yah ma orangnya?”
“Belum Dik.”
“Kita tungguin di parkiran aja yuk,” ajak Icha.
“Gila lo, garing banget.”
“Huh…”
Aku mimpi apa semalam. Ini hari sungguh melelahkan. Adakah salah yang kuperbuat hingga karma begitu bertuah. Lalu lantah sudah akal sehatku. Aku muak. Perutku mulai mual dan mata pun terasa berkunang-kunang. Sepertinya aku pingin muntah. Wuekkk….
“Hah, ngapain tuh Pak Kepala Sekolah lari-lari ke sini?” ucapku ketakutan.
“Jangan-jangan gara-gara lo bolos seminggu Di,” sahut Mikha
“Lo seh, Di. Dah dibilangin juga, masih aja bandel.”
“Dia nyari lo kali, Tak. Lo khan kemarin godain Ibu Kimia.”
“Lo nakut-nakutin gue aja, Cha.”
Pak Kepala Sekolah dengan dandanan super mewah, dengan rantai blink-blink dimana-mana, terlihat kaget menyaksikan kita-kita. Lain halnya dengan kita, sungguh khawatir atas kedatangannya. Geli-geli basah alias gelisah.
“Lho, kalian-kalian pada ngapain di sini?”
“Gak Pak, lagi nongkrong aja.”
“Mmm… Mbak,” ucap Pak Kepsek pada petugas informasi.
“Itu mobil saya gak bisa keluar. Mobil yang parkir di sampingnya terlalu mepet. Tolong dong diumumin, biar yang punya mobil segera mindahin. Takut lecet juga. Hehe… maklum Mbak, mobil baru.”
Semua mendadak kaget. Petugas informasi terlihat schock berat dan kita hampir mati terkena serangan jantung. Amarahku yang membara, kini padam mendadak bubar. nyali tiba-tiba menciut setalah tahu kalau yang punya mobil ternyata Pak Kepsek yang punya kumis paling sadis. Ampun seribu ampun, bila harus ribut dengan si kumis. Daripada di sekolah dibantai abis, mendingan aku diam sambil duduk manis.
“Oh, itu mobil Bapak?” ucap Icha.
“Iya. Hmm… jangan-jangan mobil yang parkir di samping mobil Bapak, mobil kamu Cha?”
“Itu emang mobil saya Pak. Kita udah nunggu lima jam di sini gara-gara mobilnya gak bisa keluar.”
“Hehehe… Bapak tadi lagi nonton di bioskop. Beli yang satu karcis dua film.”
“Hmm… Benar-benar mampus dimakan bete nih,” ucapku sambil pergi diam-diam, tinggalkan malam yang kelam menuju tidur nyenyakku yang dalam.
hahahahahahaaaaa………. sam]pai mau ketawa geli nih baca cerita ini… enaknya dibuat film ja.. soalnya detil banget sih.
Mau nyemprot tapi orangnya kagak bisa di semprot.
ikut ngakak juga aaahh……
hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahah……
ahahahah . !
ksiian bgd tsii saai .
llo kan gga bss nymprot tu kepsek . knpa gga skllian di bnuh ajjh . kan klo lu k skllh tu kepsek dah wafat jdii gga dda ygs nymprot kllian .
jahahahahaha .
ha ha ha ………………………………………………………………………………
ne br bnr2 bete abiezzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
keren nih ceritanya.padahal kl dipikir cuman perkara kecil ya,menunggu
btw,penulisnya rapper ya? ato rapper wannabe? aku baca ini cerita spt lagi ngerap.padu padan kata2nya bagus,berbobot (u/ ukuran lirik rap).thumb up!