KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Nasi telur satu, Bu!”

“Dibungkus, apa makan di sini?”

“Dibungkus saja, Bu.”

Malam itu, sehabis isya, untuk kesekian kalinya percakapan itu terulang lagi antara Dulkarim dengan Bu Iyem. Kejadian ini tak ada bedanya dengan sebuah kaset yang direkam lalu diputar ulang. Nampaknya hidup memang diwarnai dengan sejumlah repetisi yang monoton.

Bu Iyem adalah penjual nasi telur di dekat kos-kosan mahasiswa di sudut kota Jogja. Nasi telur adalah nasi yang diberi sedikit tempe oseng dan telur dadar. Nasi telur Bu Iyem tidak terlalu enak. Kadang-kadang telurnya keasinan. Atau kadang-kadang hambar. Atau kadang-kadang separuh asin dan separuhnya lagi hambar. Karena itu, sebagian anak kos enggan makan di warung Bu Iyem. Tapi ada sebagian lain yang setia menjadi pelanggan tetapnya. Ini karena kelebihan Bu Iyem: murah dan bisa ngutang!

Pelanggan tetap Ibu Iyem tentunya adalah anak kos yang seringkali ditimpa penyakit KANKER alias Kantong Kering alias Kantong Keropos, dan Dulkarim adalah salah satunya. Ia adalah seorang mahasiswa yang terbilang nekat mengadu keberuntungan di salah satu kampus di Jogja. Dibilang nekat, karena secara ekonomi bakapaknya yang buruh tani tidak mungkin membiayai kuliahnya. Untuk memenuhi kebutuhannya ia bekerja part time di sebuah konter HP dan sesekali menterjemah buku berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.

Bu Iyem segera berlalu dan sibuk menyiapkan nasi telur di belakang. Segera Dulkarim menyambar remote control yang tergeletak di atas meja. Dipencetnya tombol on dan TV pun mulai menampakkan gambarnya. Dulkarim segera mencari chanel yang pas dengan seleranya.

Sebagai seorang mahasiswa, Dulkarim sangat suka dengan acara berita di TV. Ia pun segera memencet angka-angka pada remote control dan akhirnya ia hentikan di sebuah chanel yang sedang menyiarkan berita nasional.

Dalam berita itu disiarkan bahwa pemerintah sudah dipastikan akan menaikkan harga BBM sebesar 28,7 persen di akhir bulan ini. Hal ini karena dipicu melambungya harga minyak dunia yang melewati angka USS 130 per barel. Sebagai kompensasinya, pemerintah berencana akan mengucurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat miskin. “Pemerintah akan memangkas subsidi negara terhadap BBM yang selama ini konsumennya notabene adalah orang-orang kaya,” begitu penjelasan seorang pejabat yang diliput stasiun TV ini.

Sementara penolakan terhadap kenaikan harga BBM dan BLT terus menggema. Mulai dari tokoh nasional, mahasiswa sampai ibu-ibu rumah tangga. Di tengah safari politiknya, seorang mantan pejabat tinggi di negeri ini sedang sedang meninjau sebuah pasar. Tampak dia berdialog dengan seorang ibu pedagang sayur dan pedangang sembako. Lalu si pejabat berkata, “Saya dan partai saya akan selalu mendengar suara rakyat kecil. Karena itu, kami menolak kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM!”

“Jadi tidak jelas antara pencitraan diri dan kampanye dengan pembelaan terhadap kepentingan rakyat kecil. Menjelang pesta demokrasi di tahun 2009 ini memang banyak politisi yang turun ke daerah. Ya wawancara dengan rakyat miskin. Ya makan nasi aking bersama kaum papah. Ya turun ke pasar, sekedar bertanya harga-harga bahan pokok. Bermacam-macam dan berupa-rupa tingkah mereka. Tapi, ketika dulu mereka diberi kepercayaan oleh rakyat untuk memegang dan menentukan arah kebijakan negara, mereka tidak pernah berlaku seperti ini. Yah…mungkin mereka baru dibukakan pintu hidayah oleh Tuhan. Kesadaran yang sedikit terlambat. Tapi, mungkin mereka punya falsafah: lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” batin Dulkarim.

Di tempat lain, diberitakan sejumlah mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM hampir bentrok dengan petugas kepolisian karena dipaksa bubar kerena dianggap mengganggu arus lalu lintas dan belum mengajukan ijin untuk berdemonstrasi. Tampak mahasiswa yang saling dorong dengan polisi di depan gedung DPRD. Sementara di tempat berbeda ibu-ibu rumah tangga berkerumun di sebuah pangkalan minyak tanah. Jerigen-jerigen mereka yang kosong berbaris rapi memanjang. Antara satu jerigen dengan lainnya dijalin dengan tali rafia untuk menentukan urutan tertib pengisian, Sebuah ide kreatif yang menyembul di tengah keterhimpitan.

“Sudah berapa lama antre di pangkalan minyak ini, Bu?” tanya wartawan kepada seorang ibu setengah baya.

“Wah, Mas! Jeregen saya itu sudah dari kemarin diikat di situ,” jawab ibu dengan nada kesal sembil menyeka bulir keringat di dahinya dengan lengan baju kumalnya.

“Pemirsa, sejak kemarin pasokan minyak tanah belum sampai ke pangkalan ini, sementara antrean ibu-ibu setiap saat bertambah panjang. Demikian, Toni dan Tono melaporkan!” Reporter itu mengakhiri laporannya. Dan berita itu kini diselingi oleh iklan sponsor.

Tangan Dulkarim meraih rantang yang berisi beberapa bungkus rokok di hadapannya. Satu batang rokok segera pindah ke tangannya, ia nyalakan dan dihisap pelan-pelan.

“He, Dul! Pa kabar, kawan?” seru Asep yang juga jadi pelanggan setia warung Bu Iyem.

“Baik, Kawan! Eh..gimana Thomas dan Uber kita?”

“Kalah semua, Kawan! Tapi, prestasi Ubernya lumayan. Paling tidak ada peningkatan. Belum saatnya menang, kali!?”

“Sayang, jadi tuan rumah kok kalah.”

“Tuan rumah, khan tidak harus menang, kawan! Paling tidak bisa sukses menyelenggarakan.”

“Iya sich! Tapi khan mestinya: Indonesia Bisa! Eh, Sep…punya wakil Gubernur aktor laga sekarang ya?”

“Iya, semoga saja bisa mebawa kebaikan kepada rakyat yang dipimpinnya, bukan malah sebaliknya,” sahut Asep datar.

“Bu, 77 sebatang,” seru Asep kepada Bu Iyem.

“Iya, taruh saja uangnya di meja,” jawab Bu Iyem di sela-sela kesibukan memasaknya. Suara cess telur yang digoreng terdengar timbul lalu tenggelam pelan-pelan.

“Dul, duluan ya!?” pamit Asep setelah menyambar sebatang 77 di rantang rokok.

“Yoi!”

Asep segera berlalu bersama sebatang rokok di tangnan kiri yang ia jepit dengan telunjuk dan jari tengahnya. Rokok yang tak dinyalakan itu, sesekali ia pelintir ke depan dan ke belakang.

Kembali perhatian Dulkarim tertuju kepada TV. Sebuah chanel menyiarkan acara wisata kuliner dari sebuah restoran Hongkong di salah satu sudut Jakarta. Seorang aktor terkenal yang menjadi host tampak menikmati sajian La Mian di hadapannya. Lalu dengan sepenuh perasaan dan meyakinkan, si host tadi berucap, “Mmmm…ini baru makanan yang ‘ajiib jiddan! Very nice! Ini baru surga dunia.” Ia melanjutkan, “dan La Mian di sini pemirsa, benar-benar spesial karena La Mian di restoran ini dibuat asli dari tepung tanpa bahan-bahan pengawet atau mengandung formalin. Dan koki yang mengerjakannnya pun, adalah koki yang langsung didatangkan dari Shang Hai. Jadi benar-benar Master La Mian yang mengerjakan! Makanya, rasanya benar-benar mak nyus! Yahut! Mmmmm…myam…mmm!”

“Alaah, tidak menarik, hanya makanan segelintir orang di Indosesia, sementara sisanya hanya bisa menikmati makanan seperti itu melalui gambar di TV! Di daerah lain malah ada yang makan nasi aking atau nasi jagung atau kekurangan gizi! Malah kemarin di koran ada berita berjudul ‘Hidup di Zona Maut.’ Koran itu mengisahkan keadaan korban lumpur di Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur yang berjumlah 418 keluarga atau 1448 jiwa terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya karena tanggul yang mengelilingi desa mereka jebol. Mereka mengungsi yang tak tentu ke mana dan tak ada jaminan kesejahteraan bagi mereka. Aku rasa, mereka tak akan berani untuk sekedar bermimpi bisa menikmati La Mian seperti host di TV itu.” batin Dulkarim.

Ia hampir saja mengganti chanel, ketika mata dan perhatiannya tertuju kepada running text dengan huruf kapital yang bergeser dari kanan ke kiri di bagian bawah layar TV: BBM NAIK, HARGA BUKU NAIK 60%, LAHAN GAMBUT SELUAS 18 HEKTAR DI JAMBI TERBAKAR, RIBUAN PERANGKAT DESA SEMARANG TOLAK DILIBATKAN BLT, KEPOLISIAN NGAWI JATIM SITA 7,5 T0N PUPUK BERSUBSIDI, BPS: JUMLAH ORANG MISKIN DI INDRAMAYU MENCAPAI 169 RIBU, KPK TANGKAP ANGGOTA DPR YANG TERLIBAT KASUS SUAP PERALIHAN HUTAN LINDUNG DI BINTAN, WARGA BANYUMAS BEREBUT KUPON MINYAK TANAH MURAH, DI SURABAYA KARTU BLT DIBAGIKAN HARI INI…

“Mas Dul, ini nasi telurnya!” kata Bu Iyem yang tiba-tiba muncul dari dalam, memecahkan perhatian Dulkarim pada running text di TV.

“Mas Dul harga BBM belum naik, semua kebutuhan sudah mendahului naik. Minyak tanah belum dinaikkan pemerintah, sudah naik duluan. Jadi terpaksa, nasi telur ibu juga ikut dinaikkan sekarang. Sekarang tiga ribu lima ratus,” lanjut Ibu Iyem sambil menjulurkan kresek hitam berisi sebungkus nasi.

“Iya, tidak apa-apa, Bu! Oh ya, tambah 77 sebatang. Tapi saya cuma bawa uang tiga ribu. Sisanya dicatat dulu dengan bon bulan lalu, Bu!” jawab Dulkarim sambil meraih keresek dari Ibu Iyem.

“Iya, tidak apa-apa. Tapi, kalau sudah ada rejeki segera saya bayar ya!?” jawab Bu Iyem dengan senyum tipis di bibirnya yang mulai keriput.

Dulkarim mengangguk. Sebelum berlalu, ia berucap, “Mari, Bu!”

“Ya!”

Dulkarim menyusuri jalan dengan gontai ke arah kosnya. Ia membatin, “1 abad kebangkitan nasional, 63 tahun merdeka dan 10 tahun reformasi, , apa yang berubah pada negeri yang katanya keayaan alamnya melimpah ruah ini??”

Di langit, bulan dan bintang berselimut awan tebal. Sunyi dan kelam membalut malam. Angin mati menciptakan kesunyian paripurna dan menambah tempo panjang datangnya sang surya.

Pringgolayan, 06.48-23:5:08

3 Responses to “BBM dan Nasi Telur”

  1. on 23 May 2008 at 18:37D2 a1

    Top tenan…

  2. on 28 May 2008 at 11:25adib

    siiip. mahsiswa yang ironis!! Negeri yang tak kalh ironis!! Apik tenan!!

  3. on 06 Jun 2008 at 14:04DIAN (PEKANBARU)

    ceritanya apik- - - - - - - - -

Tinggalkan Komentar