Amanda Mirella 2
Mei 23rd, 2008 by wittz
Cuaca hari ini tampak mendung. Hampir jam empat sore, beberapa karyawan sudah bersiap-siap pulang. Aku sendiri masih duduk di meja kerjanya Mas Daffi. Sang empunya sendiri sedang tugas lapangan. Kulihat Mbak Tiana sedang berdiskusi dengan Bu Catherine di ruangannya. Sampai mereka berdua keluar pun aku tak berhenti menatap mereka.
“Lho? Mirell? Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu masih ijin sakit?” sapa Mbak Tiana seperginya Bu Catherine.
“Eh, nggak kok, Mbak. Cuma lagi males aja di rumah terus.”
“Yang lain udah pada pulang lho! Kamu nunggu Daffi?” tanya Mbak Tiana. Aku hanya menggeleng.
“Kalo gitu temenin Mbak aja yuk, kita refreshing hunting makanan.”
Perlahan mobil Mbak Tiana keluar dari parkiran gedung berlantai sepuluh ini. Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Sesekali kujawab pertanyaan-pertanyaan Mbak Tiana yang tak henti-hentinya bicara. Aku pun baru tahu kalau ternyata Mbak Tiana itu asli cerewet banget. Soalnya setahuku dia jarang bicara panjang lebar. Biasanya sekalinya bicara isinya kritikkan semua. Satu jam kemudian ia memarkirkan mobilnya di salah satu kafe di bilangan Jakarta Selatan.
Kami berdua duduk berhadapan. Setelah memesan makanan aku masih setia pada aksi diamku. Mbak Tiana menatapku aneh membuatku risih.
“Kamu tuh aneh ya?”
“Apanya yang aneh, Mbak?”
“Kamu lihat sekelompok cewek di sudut itu?” Mbak Tiana menunjuk segerombolan cewek yang sedang asyik bergosip.
“Harusnya kamu berada di tengah-tengah mereka. Tapi kalo Mbak perhatiin kamu malah lebih suka menyendiri. Malahan kamu rela ngabisin waktu dengan kerja freelance. Padahal Mbak yakin honor yang kamu terima lebih kecil dibandingkan uang saku kamu sebulan. Iya kan?”
Aku tak menjawab pertanyaan Mbak Tiana. Dari segi ekonomi keluargaku memang hidup berkecukupan. Papa adalah pebisnis dan Mama sendiri salah satu pejabat di departemen luar negeri. Uang ratusan ribu sampai kartu kredit berbagai jenis pun selalu tersedia di dompetku. Mataku pun terus tertuju pada sekelompok cewek yang masih asyik bergosip tersebut. Yahh… mungkin memang seharusnya aku memiliki teman banyak seperti mereka. Sayang… Amanda telah menghancurkan semuanya.
“Hei… kok malah bengong?! Kata-kata Mbak ada yang salah?”
“Ahh… gak kok, Mbak!” aku mengelak.
“Kalo Mbak perhatiin kamu tuh mirip ya sama kakak kamu,” lanjut Mbak Tiana.
“Kakak? Maksudnya?” dahiku berkerut.
“Kemarin waktu kamu masuk rumah sakit ada gadis yang cemas banget nungguin kamu di luar. Kata si Daffi gadis itu kakak kamu. Tapi Mbak gak sempat ngobrol sama dia. Soalnya Mbak juga lagi buru-buru,” jelas Mbak Tiana.
“Ohh…bagus deh…” ujarku pelan
“Kenapa? Apanya yang bagus?”
“Ohh gak… maksud saya baju Mbak hari ini bagus… bagus banget, iya begitu!!!” aku meralat ucapanku. Sepertinya Mbak Tiana tidak tahu kalau Amanda itu idiot. Mbak Tiana pun hanya mengangguk-angguk saja.
Hampir dua jam kami berdua menghabiskan waktu di kafe tersebut. Jam delapan malam kami baru bersiap-siap pulang. Aku benar-benar merasa sedang jalan dengan kakakku sendiri. Sesekali aku melirik Mbak Tiana yang berjalan di sampingku. Aku tersenyum simpul, membayangkan kalau yang berjalan di sebelahku ini adalah Amanda.
Kadang aku kasihan pada Amanda. Dia sering berdiri dibalik pagar rumah. Biasanya pagi atau sore hari. Menatap orang yang kadang lalu lalang di depan pagar rumahku. Mungkinkah dia membayangkan dirinya ada di tengah-tengah mereka? Apakah dia berpikir kalau dia ingin seperti orang lain yang normal?
“Amanda, awas!!!” refleks aku menarik tangan Mbak Tiana saat sebuah sedan nyaris menabraknya. Gila! Di tempat parkir kayak gini kok bisa-bisanya bawa mobil ngebut.
“Kamu bilang apa tadi, Rell? Amanda? Siapa?” tanya Mbak Tiana.
Oh God, aku keceplosan! Kenapa aku malah panggil Amanda? Aku langsung kikuk antara mau menjawab atau tidak.
“Gak kok, bukan siapa-siapa!” akhirnya aku buka suara.
Sepanjang perjalanan pulang kami berdua diam. Aku jadi tidak enak juga sama Mbak Tiana soal kejadian tadi. Mbak Tiana pun seolah tidak berani bertanya macam-macam lagi padaku. Ia pun lebih memilih mendengarkan musik dari CD yang diputar di mobilnya.
Aku diantar sampai depan pintu pagar. Kebetulan rumahku dan rumah Mbak Tiana searah jadi dia tidak perlu memutar balik untuk pulang. Aku keluar dari mobilnya setelah berbasa-basi mengucapkan terima kasih. Namun, saat aku hendak membuka gerbang Mbak Tiana memanggilku.
“Ada apa, Mbak?” tanyaku.
“Thank you for saved my life! Kalau gak ada kamu mungkin kaki dan tangan Mbak udah lecet-lecet sekarang,” ujar Mbak Tiana. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Senyum datar tanpa ekspresi. Padahal waktu menarik tangan Mbak Tiana, aku membayangkan Amanda yang nyaris tertabrak.
Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju kamarku. Satu-satunya tempat di rumah yang bisa membuatku merenung. Karena hanya kamarku saja yang jarang ”terkontaminasi” tangan-tangan jail Amanda.
Duduk dekat jendela sambil memandang langit malam yang penuh dengan bintang-bintang adalah kebiasaanku sejak kecil. Tak jarang aku melihat bintang-bintang yang kerlap-kerlip dengan lucunya. Tanpa sengaja mataku menangkap salah satu bintang yang tampak tersisih dari bintang-bintang yang lain. Aku menatapnya dengan miris.
Bintang itu tak jauh berbeda dengan diriku. Tampaknya mbak Tiana benar. Aku jarang bergaul dengan teman-teman sebayaku. Aku bahkan tak berani membuka identitasku di depan teman-teman kampusku. Bagi mereka aku hanyalah seorang gadis pendiam yang berotak cerdas. Aku sudah cukup merasa dilecehkan sewaktu SD dulu. Dilecehkan karena memiliki seorang kakak yang idiot!
Hal itulah yang membuatku enggan berbaur dengan anak-anak seusiaku. Aku malah bertekad dalam hati kalau aku mampu hidup sendiri tanpa harus memiliki segudang teman di sekelilingku. Rasa sakit itu pula yang membawaku pada hobi menulis. Entah sudah berapa puluh artikel yang kutulis dan kukirim ke media-media.
Jadilah hingga kini yang ada di otakku hanya belajar dan menulis. Menulis hal-hal yang sering kulihat di sekelilingku entah itu argumen atau sekedar kritikan. Maka tak heran bila aku selalu menjadi juara umum saat sekolah dulu. Bahkan semester lalu aku berhasil meraih IP tertinggi di fakultasku. Namun bagiku itu semua tragis! Aku, seorang anak yang memiliki prestasi akademik di atas rata-rata ternyata memiliki seorang kakak yang cacat mental!
Aku tersadar saat mendengar ringtone lagu Only One-nya Yellow Card dari handphoneku. Kurogoh kantong jaketku berusaha meraih handphone yang terus-menerus menyanyikan lagu kesukaanku itu. Aku hanya tersenyum simpul saat kulihat nama Mas Daffi di layar LCD handphone.
“Halo? Kenapa, Mas?!”
“Hai… Mirell sorry ya tadi baliknya gak bareng. Gue sibuk ngejar-ngejar narasumber nih. Susah banget ditemuin tuh orang!”
“Gak papa kok, Mas. Lagipula tadi Mirell bareng Mbak Tiana.”
“Heh?! Mbak Tiana? Bareng kamu?” nada suara Mas daffi terdengar heran.
“Emang kenapa, Mas?”
“Gak papa sih, ya udah deh. Udah malem nih istirahat ya… bye!!!”
Klik…
Mas Daffi mengakhiri pembicaraannya. Aneh! Tumben banget tuh orang bela-belain nelpon cuma buat minta maaf doang.
Whoaaammm…
Aku menguap lebar, daripada mikirin Mas Daffi mending aku tidur.
Dokkk… Dokkk… Dokkk…
Aku terbangun saat mendengar gedoran keras dari jendela kamarku. Ahh… sial aku tertidur di depan jendela. Kukumpulkan sisa-sisa nyawa yang terbang dibawa mimpi.
Dokkk… Dokkk…. Dokkk…
Huahhh… siapa sih yang gedor-gedor jendela kamarku pagi-pagi gini? Dengan malas aku bangkit membuka jendela kamarku. Sontak mataku melotot saat tahu siapa yang menggedor-gedor jendela kamarku di luar.
“Amanda!!! Ngapain lo di balkon kamar gue? Gimana caranya lo naek ke atas?”
“Udah siang, Mirell ke kampus gak?” Amanda tak menggubris pertanyaanku.
Dasar anak ini! Ditanya apa jawabnya apa. Aku pun celingak-celinguk sendiri. Ya ampun ternyata anak ini manjat pake tangga. Kalo Papa tahu bisa-bisa malah aku yang diomelin.