KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Dan Aku Bisa Bicara

“Kepada bunda.”
Sudah terlalu sering perkataan itu terucap, sudah terlalu lama untuk tidak dilupakan, sudah terlalu sakit untuk terus dikenang. Hanya sebuah kata tidak bermakna, hanya selentingan suara tidak pernah terdengar, atau mungkin tidak pernah terucap. Seperti sebuah arti tentang kenyataann tanpa ungkapan, dan dianggap khayalan meski sekuat kerongkongan mencoba berteriak. Hingga gelegarnya dianggap seruling merdu dari melodi sepi.

“Semua gilaa…..!!!”
“Bunda……!!!!”
“Apakah fajar harus terus berlalu, pergi manjauh, berlari mempermainkan angan?”

“Kepada bunda.”
“Ah….kenapa terucap lagi?”
Aku terus mencoba rangkai kejengahan menjadi permainan seperti masa kecil dulu. Setiap waktu berlalu tanpa beban selain melewati tawa dan tawa.

Aku bangun ketika mentari pagi menggedor-gedor pintu kayu yang menghitam, lapuk terkena kabut setiap hari. Seluruh alam terpekur menyambut sunrise datang dengan sejuta harapan dan sejuta kenangan pengantar tidur. Tetes embun menelusup lewati celah dinding rumah, di langit-langit kamar terlukis gambaran oleh bocoran air hujan dari musim kemarin.

“Bunda,” masih teringat suatu pagi aku pergi meninggalkan lembaran kumal di rumah tua ini. Aku terus melangkah menyeret kaki melalui lorong-lorong kelam. Hingga suatu hari senja datang, menjabat tanganku dan mengajaknya mampir di gubuk reot. Gemerisik suara atap ilalang kering terbuai angin malam yang lelah setelah tempuh perjalanan. Aku duduk beralaskan daun kering. mencoba melepas lelah dan kantuk.

“Silahkan duduk. Mungkin kita semua berbeda tetapi tidak adakah yang cukup berbahagia dengan perbedaan?” aku tetap terdiam, memandang keluar gubuk. Di luar hari semakin gelap, kelelawar berparade menyanyikan lagi kebebasan. Terbang secepat mungkin dan saling mendahului, seekor burung menutup mata menyesali hari yang telah terlewati dengan keserakahan.

“Aku harus meneruskan perjalanan.”
“Demi apa dan demi siapa, atau hanya untuk harimu yang sepi, untuk malam yang sunyi?”
“Tidak sama sekali, aku harus terus berjalan. Kemarin, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, setahun yang lalu…, entahlah..? Aku sudah pamit pada ibuku.”

Banyak sisi dunia yang telah kutemui, dan semua seolah menempatkan pada relung kehinaan, sedangkan aku sangat berharap suatu waktu terus dihina, dicaci maki. Selaksa keluhan kupendam dalam kuburan jiwa, menyatukan hati pada rasa sakit mendalam.

“Ketika sakit kita harus bersyukur,” sudah lama orang seseorang katakan itu, aku bisa menerimanya meski tidak tahu alasanya. Bukan misteri yang kutemui, perjalananku semakin jauh menembus ruang kisi.

“Bunda.., maafkan anakmu.”

Tinggalkan Komentar