KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sri Minggat (ke Bulan)

 

Namanya Sri, nama yang begitu banyak dimiliki oleh perempuan-perempuan Jawa yang lain. Wajahnya pun tidak jauh berbeda dengan mereka. Terdapat hidung, mata, mulut dan semua yang ada pada perempuan-perempuan lain. Tapi hidungnya seperti hidung bangsa Arya di India. Matanya seperti mata gadis Timur Tengah. Bibirnya seperti bibir orang Latin. Kulitnya seperti kulit bangsawan Jawa. Dan pribadinya adalah pribadi perempuan Indonesia tempo dulu. Ya, tempo dulu. Sekarang sangat jarang ada gadis dengan kepribadian mulia di negeri ini, seperti Sri. Pendeknya, dia adalah percampuran dari kesempurnaan dunia. Mungkin hanya goresan di dagunya yang sedikit mengurangi kecantikan wajahnya. Tapi tidak akan cukup membuat seorang laki-laki untuk tidak berfantasi ketika memandangnya. Tubuhnya, tubuhnya ramping. Sangat proporsional dengan tinggi badannya yang juga di atas rata-rata perempuan Indonesia. Apalagi rambutnya yang bergelombang dibiarkan tergerai. Ah…, aku tak kuat lagi. Aku tak kuat lagi untuk tidak memuji penciptanya. Aku ingin tahu bagaimana orang tuanya dulu berproses untuk menghasilkannya. Aku ingin belajar dari mereka. Agar kelak aku punya anak seperti dia, Sri.

Kekagumanku cukup berdasar. Maka aku tidak malu ketika ada seorang yang mengatakan bahwa aku sedang tergila-gila. Justru laki-laki yang tidak merasakan apa-apa jika memandangnyalah yang pantas disebut orang gila. Mungkin maksud orang itu aku mencintainya. Padahal demi Tuhan, aku hanya kagum. Tapi aku tetap tidak menolak jika dia mengajakku bercinta.

Beberapa hari aku tak melihatnya melintas di depan rumahku. Aku ingin berfantasi dengan kecantikannya bahkan mungkin sebelum melihat wajahnya, hanya dengan memandang cara berjalannya, mungkin sudah cukup untuk sekadar fantasi. Tapi aku tetap tak melihatnya beberapa hari yang lalu.

Entah karena kecantikannya atau karena apa, aku tanpa rasa malu mulai bertanya-tanya tentang kemana perginya Sri. Tapi tak ada yang mampu membuatku untuk tidak mencarinya. Setiap orang memberikan jawaban yang berbeda bahkan bertentangan. Aku butuh kepastian. Sampai pada suatu waktu aku berhasil menemukannya tengah mematut di tepi kali. Sendirian. Aku mendekatinya, menyapanya dan pura-pura tidak sengaja sedang mencarinya.

Saat aku bertanya kenapa tak pernah kelihatan oleh mereka, dia menjawab dengan jawaban yang hampir membuatku berubah pikiran tentang Sri.

“Aku ingin ke bulan…”

Sebuah jawaban konyol yang sama konyolnya dengan alasanku yang tak sengaja menemuinya. Tadinya aku menyangka dia sedang bergurau. Tapi saat aku menatap matanya yang indah itu, aku yakin dia bersungguh-sungguh. Yang ada dimatanya hanyalah sebuah keyakinan dan mungkin keinginan yang terlalu kuat. Hatiku tertawa.

“Kau ingin menjadi astronot?” tanyaku.

“Tidak, aku tidak ingin kembali ke bumi. Aku akan tinggal selamanya di sana. Memberikan terang kepada kehidupan malam. Memberi petunjuk kepada mereka yang tersesat.”

“Apakah kau tidak tahu? Jaman sudah berubah. Mereka tak perlu sinar bulan. Lagipula apa yang akan kau makan di bulan?”

“Masih ada. Masih banyak mereka yang terjebak oleh kegelapan. Cahayaku akan menembus masuk ke dalam hati mereka. Aku akan menerangi hati mereka. Dan kekuatan cinta akan mengalahkan apapun. Apalagi hanya karena rasa lapar. Kebahagiaan…. Rasa bahagia karena memberikan terang. Itulah makananku. Disana aku akan bercinta dengan bulan.”

Dan sesudah itu, aku tak berniat lagi menemuinya. Tapi sejak niat itu lahir dari hatiku, aku malah selalu menemukannya. Entah karena memang kebetulan, entah karena aku punya niat lain sehingga aku menjadi begitu penurut kepada ibuku atas perintahnya yang sebelumnya selalu aku tolak (ibuku selalu menyuruhku membawakan makanan untuk ayahku di ladang yang kebetulan harus melewati sungai itu). Masih dengan kecantikan yang sama, sedang duduk terpekur diatas batu kali. Kakinya bergoyang, selalu bergoyang memainkan air kali yang seperti berebut ingin menyentuhnya, kemudian beronani secara air kali. Matanya memandang, menerawang ke langit yang kadang cerah kadang mendung. Dari bibirnya selalu tersungging senyum. Sardulo yang dulu begitu menggebu-gebu ingin mengawininya pun kini raib entah kemana. Sepertinya dia menduga bahwa Sri telah gila. Sama seperti dugaanku.

Tapi dugaanku seperti meleset. Sejak tersiar bahwa kabar bahwa Sri telah gila, Sri bahkan memanggilku ketika kebetulan aku melihatnya sedang duduk di pinggir kali seperti biasa.

“Kau juga mengira bahwa aku sudah gila? Apakah salah punya keinginan mulia seperti itu? Barangkali mereka yang sudah gila, menuduhku sebagai orang gila. Kelak kau akan tahu siapa sebenarnya yang gila. Sebab sebentar lagi aku akan pergi ke bulan,” kata Sri tanpa memberiku kesempatan untuk bicara.

“Sri, hal-hal seperti itu hanya ada dalam dongeng. Sedangkan yang katanya sudah memakai alat canggih pun masih ada yang memperdebatkan,” kataku mencoba menyadarkannya.

“Itu karena kau tidak percaya! Apakah kau juga menuduhku bahwa aku sudah gila? Kau yang gila!” Sri membantah lagi.

Aku pun segera meninggalkannya ketika dia kembali dengan kebiasaannya yang ganjil. Seperti tak menganggapku tak ada di situ. Pikirku percuma saja berbicara dengan orang yang benar-benar gila.

Tapi sejak peristiwa itu aku justru selalu mengawasi kebiasaannya meskipun secara diam-diam. Seharian dia berada di sana dan baru pulang ketika matahari terbenam, seharian pula aku menungguinya sampai matahari terbenam (yang tanpa aku sadari kemudian aku sadar jika aku menjadi orang yang kurang kerjaan). Dan kini dia sudah mulai bicara sendiri.

Pagi itu, seperti biasa aku kembali hendak mengintai kebiasaannya yang semakin ganjil. Tapi tak kudapati seorang pun disana. Batu yang biasa digunakannya untuk duduk pun masih kosong. Tak ada siapa-siapa. Mungkinkah dia sudah sembuh?.

Dan pagi itu pula, tersiar kabar melalui mulut ke mulut orang desa. Sri hilang. Entah diculik entah dibunuh, entah minggat. Tak ada yang tahu. Yang ada hanya gunjingan-gunjingan tak sehat tentang kelakuan Sri yang tidak wajar yang membuat panas telinga keluarganya. Ada yang menduga bahwa Sri diguna-guna oleh Sardulo lantaran Sri menolak lamarannya. Bahkan ada yang menduga bahwa Sri dijadikan sebagai tumbal pesugihan oleh orang tuanya.

Semuanya masuk akal. Setidaknya dalam pandangan orang-orang desa yang masih begitu percaya pada hal-hak yang berbau klenik.

Tapi itu kata orang-orang yang tidak tahu persis apa yang dilakukan Sri. Tentang keinginannya pergi ke bulan dan bercumbu dengannya. Mungkin jika mereka tahu keinginannya yang sebenarnya, mungkin mereka akan mengatakan bahwa Sri telah pergi ke bulan. Lagi-lagi soal klenik.

Jangan-jangan Sri benar-benar pergi ke bulan. Aku mulai terbawa arus pemikiran mereka. Bukankah ada kekuatan lain yang lebih besar yang tidak disadari oleh manusia? Tapi pergi ke bulan?!.

Malam-malam beikutnya adalah malam-malam keraguan tentang kemana perginya Sri. Terutama di hatiku. Dengan kemungkinan-kemungkinan yang aku simpulkan sendiri yang membuat aku semakin bingung. Sampai saat ini Sri belum ditemukan. Dalam keadaan hidup ataupun mati. Atau dia benar-benar pergi ke bulan?.

Untuk meyakinkan pertanyaan itu, aku membuka jendela kamar dan menatap langit malam yang kebetukan sedang purnama. Bulan malam ini memang kelihatan hidup. Sepertinya ada senyum pada wajah bulan. Sebuah senyum yang tidak aku temui pada purnama-purnama sebelumnya. Mungkinkah Sri benar-benar ada di sana? Memberikan terangnya kepada mereka yang tersesat. Seperti keinginannya sebelum dia menghilang.

“Sri benar-benar pergi ke bulan,” kataku dalam hati yang kemudian menjadi kesimpulan terakhirku.

Tiba-tiba aku menggigil. Inikah yang dinamakan Sri bahwa aku yang gila? Dengan diawali oleh pikiran-pikiran yang tidak rasional seperti itu? Ketakutanku semakin menjadi-jadi. Aku takut menjadi gila.

Beberapa hari kemudian, terdengar kabar lagi, yang mungkin lebih menggembirakan. Sri minggat bersama Toyib. Kekasihnya yang pertama. Tapi teka-teki tentang bulan seperti yang dikatakan Sri masih belum terjawab dengan pasti. Hanya semacam reka-reka.

2 Responses to “Sri Minggat (ke Bulan)”

  1. on 22 May 2008 at 14:48wandi rafael

    Ha ha ha….
    Sebuah cerpen yang unik, asing banget nuansanya… tapi imajinatif..
    I Like with your story.

  2. on 23 May 2008 at 20:13endha

    jjjjjjjeeeeeeeeeeeeeeeeeeellllllleeeeeeeeeeeeeeeeeeek aaaaaammmmmaaaaatttttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1

Tinggalkan Komentar