KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kedua orang itu duduk dibawah pohon sebuah taman. Keduanya memegang buku dan alat tulis. Bedanya, yang satu hanya memegang selembar kertas dengan penuh rumus yang rumit, sedangkan yang satunya lagi memegang sebuah buku tebal tak berjudul yang berisi curahan hatinya. Keduanya duduk tanpa bicara. Hanya sesekali saling mencuri pandang.

“Apa yang kau lakukan selama ini?” perempuan itu bertanya, dia pemilik buku tak berjudul itu. Dia membuka pembicaraan dengan senyuman yang hangat dan wajah yang ceria. Sang pria yang duduk disebelahnya hanya menjawab.

“Banyak. Aku mempelajari dan mempraktekkan segala yang kuketahui tentang ilmu logika, aku yang tau bagaimana cara kerja sebuah mesin dan memperhitungkan kestabilan dan kelayakan pakainya, aku yang tau bagaimana menganalisis segala perihal dengan logika.”

Sang pria diam lagi dan tak banyak bicara. Hanya sesekali diliriknya jam dan memperbaiki posisi duduknya. Sesekali tak lupa dia menaikkan kacamatanya yang melorot. Tak ada pertanyaan dari sang wanita. Sang pria hanya memperhatikan tingkah dari wanita itu. Wanita itu sedang memejamkan matanya dan menghirup udara yang saat itu bertiup sepoi-sepoi, sungguh indahnya pesona bathin alam semesta ini, pikirnya. Sesekali sang wanita membuka bukunya dan menuliskan sesuatu didalamnya. Bagi sang pria, tingkah laku wanita itu sangat aneh. Melakukan hal yang sia-sia, begitu pikirnya.

“Kau, kau adalah bagian dari orang-orang itu,” kata sang pria.

Sang wanita mengerutkan dahi dan bertanya kembali, “Orang-orang seperti apa yang kau maksudkan?”

“Orang-orang yang bekerja dengan otak kanan mereka, orang-orang yang tidak peduli dengan kebenaran 1×1 adalah 1. Orang-orang yang biasanya hanya mengoptimalkan otak kanan mereka. Orang-orang yang penuh dengan khayalan,” sang pria mengakhiri dengan wajah tanpa ekspresi. Seolah baru saja mengatakan bahwa hari itu adalah hari yang cerah. Tapi tidak bagi wanita itu, sang wanita berkerut dan mengatakan, “Bukankah kau bagian dari orang-orang seperti itu?”

“Orang-orang seperti apa?” giliran sang pria mengerutkan dahi

“Orang-orang yang tidak bisa membedakan warna-warni dimuka bumi ini, orang-orang yang hanya menghabiskan waktu dalam dinding 4×4 tanpa mempedulikan yang terjadi disekelilingnya, menghabiskan waktu untuk menghitung segala sesuatu yang memiliki simbol, angka dan kelayakan. Itulah orang-orang seperti kalian. Yang berkurung diri dan tidak bisa berkawan.”

Sang pria terdiam lama. Begitu pula sang wanita. Keduanya saling memahami pendapat masing-masing. Aku mungkin tak mampu berkhayal jauh seperti dia, pikir sang ilmuwan. Aku tak mampu menjangkau logika seperti dia, pikir sang wanita.

Sang pria dan wanita larut dalam renungan mereka masing-masing. Dalam pikiran sang pria, beginilah keadaannya. Tak banyak orang yang memahami kami seperti ini. Semua berpikir bahwa kami tidak mampu bersenang-senang. Tidakkah mereka tahu bahwa tiap orang memilki rasa kesenangan yang berbeda-beda? Jika mereka suka bekerja dengan tinta, buku dan mencurahkan segalanya dalam bentuk tulisan , kami pun suka bereksperimen dengan segala bentuk angka dan simbol. Dan disaat orang-orang bisa menikmati hasil analisis kami, itu adalah kesenangan yang tak ternilai harganya. Itulah yang kami kerjakan. Itulah bentuk kesenangan bathin bagi orang-orang seperti kami. Sang Ilmuwan. Sangat berbeda.

Di sebelah, sang wanita berpikiran lain. Beginilah cara dia menikmati hidup, dengan penuh tulisan dan bumbu-bumbu kalimat. Dengan mencurahkan segala yang dirasakannya dalam bentuk kalimat. Meresapi segala yang terjadi dan mencurahkan dalam bentuk tulisan dan dibaca banyak orang adalah kesenangan yang tak ternilai bagi dirinya. Itulah kami. Sang penulis. Sangat berbeda

Kemudian keduanya terpaku dengan tokoh idola mereka. Keduanya sama-sama mengidolakan Albert Einstein. Iya, Albert Einstein adalah manusia dengan cipta daya khayal yang sangat tinggi, pikir sang wanita. Einstein adalah manusia dengan ilmu logika yang mampu menciptakan ilmu gravitasi. Tak ada ilmu logika jika tak ada dirinya.

Namun, dia menggabungkan kedua otaknya untuk meciptakan segala sesuatu yang menjadi nalar pemikirannya. Bukankah dia menggabungkan otak kiri dan kanan nya untuk menemukan ilmu pemetaan fisika? Bukankah dia berkhayal tinggi dulu baru bisa mendapatkan rumus dunia yang luar biasa itu? Kali ini adalah isi dari pemikiran sang ilmuwan dan sang penulis. Mereka berpikir sama.
“Untuk itulah ada otak kanan,” kata sang ilmuwan

“Ya. Untuk itulah ada otak kiri,” kata sang penulis

Tuhan telah memberikan otak dengan kadarnya masing-masing.

“Tak ada gunanya perdebatan ini.”

“Ya, kau benar. Kami tetap membutuhkan orang-orang seperti kalian,” sang ilmuwan berusaha tersenyum dengan hangat.

“Dan tentu saja kami pun membutuhkan orang-orang logika seperti kalian. Untuk itu, tak ada gunanya masing-masing menyombongkan diri,” sang penulis balas tersenyum.

“Keduanya hebat dan itu pekerjaan hebat. Diantara kita tidak ada perbedaan.”

“Teruslah berekperimen, orang-orang pasti tetap menunggu temuan terbarumu.”

“Teruslah menulis, orang-orang pasti setia menunggu ceritamu.”

“Kalau begitu mari kita pulang.”

“Ya, mari kita pulang.” Dan setelah menyadari kekeliruan besar masing-masing, sang ilmuwan mengajak sang penulis meninggalkan tempat itu.

8 Responses to “Sang Ilmuwan dan Sang Penulis”

  1. on 21 May 2008 at 23:53dedeawan

    Penulis #ilmuwan. Penulis = ilmuwan = hebat!

  2. on 22 May 2008 at 13:00maylan st john

    Penuh Makna!

  3. on 22 May 2008 at 14:38Rianti

    pemikiran yang hebat banget bisa sampe ke penulis dan ilmuwan. coba aja ga cuma otak kanan dan otak kiri yang digunain lebih sempurna pasti juga tambah ok.sama sama kamu menggabungkan otak, perasaan, dan logika untuk nulis

  4. on 04 Jun 2008 at 13:06aan_intjelawara

    terimakasih sekali atas komentarnya yang berharga..

  5. on 11 Jun 2008 at 04:36Fauzan Masri. Z

    Data cerpennya kurang valid, agar lebih signifikan antara data dan cerita sebaiknya cari sumber-sumber tambahan dari buku atau google. Untuk mempertahankan strata reliabilitas sebaiknya gunakan bahasa atau penggambaran yang sudah baku, ini sangat perlu dilakukan agar tidak terjadi kerancuan dikemudian hari. Penting untuk diingat bahwa setiap kata-kata dalam cerita harus dipikirkan baik-baik jelek buruknya, cacat hancurnya….

  6. on 11 Jun 2008 at 12:57aan_intjelawara

    Terimakasih mas fauzan atas kritik dan sarannya : ada beberapa pertimbangan dalam penulisan ini dan beberapa hal yang tidak bisa saya jelaskan secara mendetail, setidaknya pesan saya sudah tersampaikan. terimakasih

  7. on 11 Jun 2008 at 13:02aan_intjelawara

    oh ya, bagi saya menceritakan itu adalah sesuatu yang keluar dari dalam hati, di situs ini kita ingin menceritakan pda dunia, dan saya menulis apa yang didalam hati saya, cerpen ini bukan untuk diikutsertakan di perlombaan untuk di nilai, tapi cerpen ini datang dari hati saya, itulah jalan ninja ku alias jalan hidupku. trimakasih ^_^

  8. on 21 Feb 2009 at 15:15folmer pardosi

    ceritanya bagus banget,…

    tapi aku pengen baca cerita lain yang lebih bagus

    yang lebih hot gitu..

Tinggalkan Komentar