PS. I Love You
Mei 18th, 2008 by Black Trooper
11 April 2005
Priska baru saja kembali dari mengantar anak-anaknya ke sekolah. Kehidupan kota besar sungguh membuatnya tidak berani melepas anak-anaknya berangkat sekolah sendiri. Dia sendiri juga belum hapal rute dari rumah ke sekolah. Walaupun sudah dua bulan dia pindah ke Surabaya, rasanya kota ini belum bisa menerima kehadiriannya. Lalu lintasnya semrawut, udaranya gerah, orangnya tidak ada yang ramah, dan harga barang kebutuhan juga lebih mahal. Kini baru terasa betapa enaknya tinggal di kota kecil, kota tempat Priska dibesarkan , sekolah , bekerja, dan menikah. Dengan berat hati, Priska terpaksa menyetujui rencana suaminya pindah kerja ke Surabaya demi sebuah posisi yang lebih menarik dan gaji yang lebih tinggi. Priska pun mengajukan pengunduruan diri dari kantornya dengan alasan ikut suami. Kini Priska tidak punya kegiatan lain selain mengantar dan menjemput sekolah anak-anaknya. Sisa hari-harinya cuma bisa dihabiskannya berdua dengan pembantunya yang malas dan jorok.
Dibacanya koran yang tadi dibelinya di sekolah anaknya. Tidak ada berita yang istimewa sampai akhirnya matanya tertuju ke sebuah berita pembunuhan seorang wanita. Diberitakan di koran itu ada seorang wanita muda yang dibunuh semalam. Mayatnya yang dimasukkan ke dalam karung, ditemukan seorang gelandangan menjelang dini hari di Jalan Papandayan. Mayat wanita itu dalam keadaan telanjang, ada bekas cekikan di lehernya, dan yang paling sadis, ada huruf P besar sekali memenuhi punggungnya yang ditulis dengan sayatan sebuah pisau. Dibawah huruf P itu masih ada lagi tulisan PS. I Love You yang ditulis dengan olesan darah wanita itu. Koran itu memampang jelas foto punggung mayat wanita tersebut yang membuat Priska merinding sendirian. Wanita malang itu bernama Pramesti Saraswati. Diperkirakan dia dibunuh pada tanggal 10 April dini hari, di hari ulang tahunnya. Kini wajah kejam Kota Surabaya semakin jelas nampak di mata Priska.
Dari pembantunya, Priska baru tahu bahwa Jalan Papandaya itu tidak terlalu jauh dari rumahnya.
“Itu lho Bu, di perempatan yang ada pompa bensinnya, belok kanan itu Jalan Papandayan,” kata pembantunya. Tulisan PS. I Love You itu rasanya mengingatkan Prika akan sesuatu, tapi susah sekali mengingatnya, rasanya jauh sekali dari ingatan. Ah, lupain aja, pikirnya sendiri. Hari demi hari berlalu, pembunuhan itu belum juga terungkap, dan orang-orang pun muali melupakannya.
Minggu-minggu berikutnya terasa begitu membosankan. Tetangga kiri dan kanannya , apalagi yang di depan tetap saja menjadi mahluk-mahluk asing yang tidak punya ekspresi. Mereka datang dan pergi dengan siklus masing-masing secara kontinu seolah kehidupan ini cuman mesin waktu saja. Tidak pernah ada tegur sapa, walalu sekedar senyum atau anggukan kepala. Sebenarnya rumah kontrakan Priska ini tidak termasuk kawasan elit, tetapi penghuninya bersikap individualis semua. Nama-nama jalan di sekitar sini diambil dari nama-nama gunung. Karena rumah-rumah di wilayah ini kebanyakan bangunan lama, wilayah ini relatif cukup sepi dibanding wilayah kota lainnya. Di awal kepindahannya, Mas Bayu pernah mengajak Priska mengelilingi daerah ini, lewat Jalan Bromo, Lawu Arjuna , dan lain- lain.
“Enak wis, sekali naik mobil bisa keliling gunung macem-macem,” kata Mas Bayu bercanda. Nggak lucu, pikir Priska.
Tidak punya teman dan kegiatan membuat Priska cepat stres. Priska rindu dengan suasana kota asalnya dulu. Orangnya ramah , segala sesuatu terasa begitu mudah, aman, dan serba dekat. Namun ada hal yang paling membuat Priska merasa kehilangan. Priska merasa sangat kehilangan Rudi , sahabatnya. Priska teringan betapa cinta Rudi kepadanya. Tiap hari selalu saja ada hal yang dilakukan Rudi untuknya, yang membuat Priska senang. Priska teringat juga bagaimana Rudi dengan penuh kesabaran mencurahkan perhatian dan cinta kasihnya kepada Priska. Tak terasa air mata Priska menetes. Bagi Priska, Rudi cuma sekedar sahabatnya saja, walaupun dia tahu, Rudi sangat mencintainya. Bahkan Rudi pernah bilang, tidak akan pernah menikah kalau tidak dengan Priska. Saat-saat kangen pada Rudi, Priska kembali membaca buku-buku novel pemberian Rudi sambil mendengarkan lagu-lagu romantis yang direkamkan khusus untuknya.
Tapi lagu-lagu itu kini sangat menyiksanya. Kenangan Priska kembali ke saat waktu Priska menyampaikan berita bahwa ia akan pindah ke Surabaya mengikuti Mas Bayu.
“Bener kan, ketakutanku itu kini jadi kenyataaan,” kata Rudi sedih.
“Kan kita masih bisa telpon dan sekali-sekali ketemu?” kata Priska mencoba menghibur, walaupun dia sendiri juga sedih dan berat hati.
“Yaah…terserah sayangku aja deh, kamu pasti tahu betapa hancurnya hatiku sekarang, nggak usah dipikirin deh. Aku cuma bisa pesen jangan pernah lupa kalau aku sangat mencintaimu,” kata Rudi sambil memeluk dan membelai mesra Priska.
Itulah terakhir kalinya Priska bertemu dengan Rudi. Setelah itu Rudi hanya menelpon sesekali, itupun singkat, tidak ada lagi pembicaraan penuh canda. Priska merasa separuh hatinya telah hilang. Apakah Rudi sudah tidak mencintainya lagi, atau memang sebenarnya dia tidak pernah mencintainya, atau Rudi memang sudah benar-benar hancur hatinya karena ditinggal pergi, pertanyaan-pertanyaan itu membuat Priska sering melamun di kala sendiri. kini baru disadarinya bahwa ia ternyata juga mencintai Rudi.
Satu lagi yang membuatnya kian bersedih adalah perubahan pada suaminya. Kalau dulu di kota kecil, mereka selalu pulang kantor bersama di saat matahari sore masih terang bersinar, kini suaminya sering pulang cukup larut malam dalam keadaan capek dan stres.
“Yaah…. namanya juga masih masa percobaan, nanti kalu sudah lancar juga akan enakan kok,” begitu kata suaminya kalau ditanya kenapa sering pulang malam. Tidak ada lagi tawaran mengantar pergi belanja atau potong rambut, juga ajakan untuk makan keluar bareng. Kelihatannya tenaga suaminya sudah terkuras habis untuk pekerjaannya. Kasihan juga Priska sebenarnya melihat suaminya pulang dalam keadaan stres dan capek.
11 Mei 2005
Koran pagi itu kembali membuatnya bergidik. Sebuah berita pembunuhan kembali menjadi headline. Mayat seorang wanita muda ditemukan telanjang terbungkus karung oleh seorang tukang becak di Jalan Rinjani. Wanitu itu bernama Pamela Sinaga, diduga korban mati dicekik. Di punggungnya ada sebuah huruf R yang cukup besar yang ditulis dengan sayatan pisau. Di bawah huruf R itu ada atulisan PS. I Love You yang ditulis dengan olesan darah wanita itu. Diduga korban dibunuh pada malam sebelumnya, di hari ulang tahunnya. Koran itu juga menampilkan foto punggung wanita dengan tulisan huruf R bertinta darah itu. Diamatinya tulisan PS. I Love You di punggung wanita itu, Priska kembali teringat akan sesuatu yang jauh terpendam dalam ingatannya, tetapi tetap saja sulit buat Priska untuk mengambil sesuatu itu dari ingatannya. Diamatinya lagi wajah korban yang malang itu. Dari ekspresinya nampak bahwa wanita itu dicekam sesuatu yang sangat menakutkan dan menyakitkan sebelum ajalnya tiba. Priska tahu, Jalan Rinjani tidak jauh dari rumahnya, Mas Bayu pernah mengajaknya melintasi jalan ini menuju ke pusat kota. Seperti pembunuhan sebelumnya, hari demi hari, belum juga terungkap, dan orangpun mulai melupakannya.
Hari-hari berlalu dengan lambat. Ingin rasanya Priska melihat matahari segera terbenam agar suaminya segera pulang, tapi kekosongan ini serasa menghentikan semua jam di rumahnya. Di saat-saat seperti ini, lamunannya kembali kepada Rudi, betapa rindunya Priska akan belain, cerita-ceritanya, kenakalannya, dan semua perhatian dan kasih sayangnya. Dimana ya Rudi sekarang, ingin sekali Priska menelponnya tapi ia kuatir mengganggu. Hari-hari berikutnya dilaluinya dengan lesu. Sesekali Mas Bayu mengajaknya makan di mall yang gemerlap, tapi kepalanya serasa pening sekali. Priska lebih senang melamun sendiri di rumah.
11 Juni 2005
Tayangan berita kriminal di sebuah stasiun TV lokal itu kembali membuatnya terkejut. Ditemukan lagi mayat seorang wanita dalam keadaan telanjang terbungkus karung. Seorang warga yang sedang jogging kaget setengah mati ketika melihat ada jari-jari kaki yang keluar dari ujung karung yang terikat dan segera melaporkannya ke polisi. Karung yang tergeletak di Jalan Ijen ini ternyata berisi mayat wanita muda bernam Pauline Sentosa, umurnya sekitar 30 taun. Diduga korban dibunuh kemarin malam di tempat lain dan mayatnya dibuang di Jalan Ijen. Seperti korban sebelumnya, ada bekas cekikan di lehernya dan juga tulisan sebuah huruf yang dibuat dengan sayatan pisau. Di punggung korban kalin ini tertera sebuah huruf I yang ditulis denga darah wanita itu sendiri. Diberitakan juga dalam tayangan itu bahwa wanita ini dibunuh di hari ulang tahunnya, 10 Juni. Tulisan PS: I Love You kembali mengusi Priska tapi tak juga bisa diingatnya, penasaran sekali rasanya.
Ketakutan muali melanda Priska. Sudah tiga pembunuhan terjadi di dekat rumahnya, rasanya Priska sudah semakin tidak betah tinggal di kota ini. Suaminya tidak banyak berkomentar ketika Priska mengeluh soal suasana hatinya, malah menganggapnya rewel dan manja. Suaminya cuma berpesan untuk hati-hati jika keluar rumah. Waktu Priska menanyakan tentang tulisan PS. I Love You, suaminya menjawab, ” Oh, itu kan lagunya The Beatles. Nggak usah mikirin yang enggak-enggak deh.”
Namun di sisi ingatannya yang lain, tayangan berita itu membawanya kembali ke kenangan indahnya bersama Rudi ketika mereka berjalan-jalan ke Gunung Ijen berdua. Masih ingat betapa bahagianya ketika Rudi memeluk dan menyayanginya di lereng Gunung Ijen yang indah itu. Kenangan indah itu membuatnya menangis, betapa rindunya Priska pada Rudi. Ingin sekali Priska mengulang masa itu lagi. Dulu waktu Rudi bertanya apakah Priska mencintainya, Priska cuma menjawab, “Hhhmm, mungkin. Kita jalanin aja deh.”
Seandainya sekarang Prisaka bisa mengulang kenangan itu lagi, Priska akan menjawab, “Iya, aku mencintaimu.”
Dari pembantunya, Priska mendapat kabar bahwa penghuni wilayah tempat tinggalnya muali resah karena sebelumnya tidak pernah ada pembunuha atau kejahatan yang mengerikan seperti ini. Untuk mengusir kekosongannya, Priska bertanya pada suaminya apakah dia boleh bekerja lagi. Suaminya merasa keberatan. “Sebaiknya Sayangku di rumah saja,” katanya.
Minggu-minggu selanjutnya kembali dilalui Priska dengan hampa ditambah lagi rasa takut juga mulai menghantuinya.
11 Juli 2005
Seandainya pembantunya tidak berteriak-teriak memanggilnya, Priska tidak akan tahu jika ada penemuan mayat lagi. Tayangan TV lokal itu kembali memberitakan sebuah pembunuhan lagi, kali ini di Jalan Semeru. Seorang pedagang martabak dorong yang mau pulang dikagetkan oleh seonggok karung berisi mayat perempuan tergeletak di pinggir jalan. Mayat itu juga dalam keadaan telanjang, ada bekas cekikan di leher, dan sebuah huruf besar di punggung. Sebuah huruf S ditulis dengan sayatan pisau yang cukup dalam plus sebuah tulisan PS. I Love You dengan olesan darah. Wanita malang itu bernama Paduma Santini, seorang wanita muda berumur 25 tahun yang baru saja berulang tahun. Jalan Semeru hanya berjarak dua kilometer dari rumah Priska.
Ketakutan Priska kini semakin menjadi. Kota ini bukan saja tidak bersahabat, tapi sudah seperti kota horor baginya. Diceritakan soal pembunuhan ini pada suaminya, betapa dalam waktu empat bulan sudah terjadi empat pembunuhan di sekitar rumah mereka. Dari pola pembunuhan, sepertinya pelakunya sama, karena selalu menulis huruf di punggung korbannya dengan pisau dan menulis PS. I Love You denga darah korbannya. Suami Priska cuma menanggapinya dengan berkata, “Makanya jangan kebanyakan baca novel detektif, tuh jadi ketakutan sendiri sekarang.”
Priska mencoba melawan rasa takutnya dengan berbagai kegiatan. Kini ia sering keluar walaupun cuma ke toko buku. Dibelinya beberapa novel ringan untuk mengisi waktu luangnya yang sangat panjang. Novel demi novel dihabiskannya setiap minggu, tapi sia-sia saja. Novel-novel itu cuma membawanya kembali ke kenangan indahnya bersama Rudi.
11 Agustus 2005
Dengan tangan gemetar dibacanya berulang-ulang berita koran pagi itu. Pembunuhan itu terjadi lagi. Sebuah karung berisi mayat wanita ditemukan lagi, sekarang di Jalan Krakatau. Sama persis dengan korban-korban sebelumnya, mayat itu juga dalam keadaan telanjang, ada bekas cekikan di leher dan ada sebuah huruf K di punggungnya. Nampak juga tulisan PS. I Love You di bawah huruf K, yang juga ditulis dengan darah wanita tersebut. Nama wanita itu adalah Paramita Swasdini, umur sekitar 30 tahun, dan juga baru saja berulang tahun tanggal 10 Agustus.
Sebuah TV lokal juga mengulas pembunuhan ini lebih jauh. Dalam tayangan itu dipaparkan semua kesamaan para korban itu, semua korban berinisial PS, dibunuh pada hari ulang tahunnya, dan pada punggung semua korban ditulis sebuah huruf yang merupakan huruf pertama dari nama jalan dimana mayat mereka dibuang. Selain itu, di punggung korban juga ditulis PS. I Love You dengan olesan darah korban. Presenter menyebut si pembunuh sebagi pembunuh sadis romantis karena menulis PS. I Love You di punggung korbannya.
Sejak korban pertama samap kelima ini, polisi masih juga belum emenmukan titik terang siapa kira-kira pembunuh kejam ini. Tak satu pun saksi yang menyaksikan kapan dan siapa yang membuang mayat-mayat itu di jalan. Kasus pembunuhan berantai ini kini menjadi berita besar yang semakin dibesar-besarkan oleh koran dan media lainnya.
Berita itu benar-benar membuat Priska ketakuan, kini ia bahkan merasa nyawanya terancam, entah kenapa. Priska merasa kasus pembunuhan berantai itu ada hubungannya dengan dirinya, tapi entah apa hubungannya. Diungkapkannya lagi perasaannya ini kepada suaminya, “Aku takut sekali Mas, kita balik aja yuk.”
“Aduh, masak gara-gara berita begituaja, kita harus merubah rencana masa depan kita?” kata suaminya.
Priska menuruti saran suaminya untuk lebih bersosialisasi. priska mendaftar ke sebuah klub fitnes dimana ia mulai mendapat beberapa teman. Yah cukuplah untuk sedikit belajar bergau dengan orang kota. Tapi tak satu pun temannya itu yang benar-benar bisa dijadikan teman dekat untuk curhat. Hari-harinya tetaplah kosong dan sepi di tengah-tengah hiruk-pikuknya kota besar ini.
10 September 2005
Hari ini Priska berulang tahun, kebetulan hari ini hari Minggu. Mas Bayu mengajaknya pergi ke mall untuk bersenang-senang, membeli baju baru, makan di restoran, dan mengajak anak-anak mereka beramain game sepuasnya. Setalah masa masa yang sangat membosankan, hari ini Priska merasa begitu bahagia, luruh semua stres dan beban pikirannya.
Beberapa SMS ucapan selamat ulang tahun juga masuk ke HP-nya, kebanyakan dari teman-teman di kota asalnya dulu. Ada satu SMS yang sangat membuatnya bahagia, sebuah ucapan selamat ulang tahun dari Rudi yang diakhiri ucapan kata-kata ‘aku cinta kamu’. Setelah puas membacanya, dihapusnya SMS itu dengan berat hati, takut Mas Bayu tahu.
11 September 2005
Disambarnya koran hari ketika Priska ingat bahwa hari ini tanggal 11 September. Lega sekali rasanya ketika Priska tidak menemukan berita mayat wanita dalam karung lagi. Yang ada cuma berta peringatan serangan teroris ke WTC New York empat tahun silam. Dihabiskannya pagi itu dengan menata taman di halaman depan ketika sebuah sedan berhenti di depan rumahnya. Seorang pria berpakaian rapi mebawa seikat bunga dan sekotak bingisan kecil nampak menghampiri pintu gerbang dan menekan bel.
“Ya ampun, Mas Agus!” seolah tak percaya, Priska berlari membukakan pintu gerbang.
“Duhh, gimana kabarnya? Sekarng di mana? Maafin ya, aku nggak ngabarin kalo pindah. Tau dari siapa kalau sekarang aku di sini?” tanpa sadar Priska nyerocos karena gembiranya kedatangan teman lamanya.
“Waduh kayak kereta barang aja nanyanya. Aku baik-baik aja, masih kerja di bank yang dulu. Iya nih curang, pindah nggak ngabarin, bilang aja kalu mau lari dari aku. Aku sampe cari ke rumahmu. Kata kakakmu kamu sekarang di sini,” kata Agus sambil menaruh bingkisan yang dibawanya di atas meja.
“Kok pakek repot-repot segala, apaan sih isinya?” kata Priska penasaran.
“Buka aja,” kata Agus.
Pelan-pelan dibukanya kertas kado itu, lalu nampak ada sebuah kartu ucapan yang sangat indah. Di amplopnya tertulis namanya, Priska Sofianti. Lalu dibukanya kartu itu, di dalamnya ada ucapan selamat ulang tahun dengan tulisan tangan Agus. Jantung Priska serasa berhenti seketika ketika Priska membaca sebuah tulisan kecil di sudut bawah kartu itu, PS. I Love You. Jangan-jangan…..Priska bergidik sendiri, tapi dicobanya untuk tenang.
“Kok kotaknya gak dibuka?” tanya Agus lagi. Priska lalu membuka kota kecil itu. Ada setumpuk foto polaroid yang terbalik. Priska sempat merasa heran karena di ujung foto-foto itu ada noda merah, seperti darah. Jantung Priska kembali berhenti rasanya ketika Priska membalik foto-foto itu. Ada lima lembar foto polaroid yang masing-masing adalah foto korban pembunuhan. Urutan huruf dalam foto itu adalah P, R, I, S, dan K. Foto-foto itu baru saja menyadarkan Priska bahwa ia tinggal di Jalan Argopuro dan namanya juga berinisial PS. Bila dia mati hari ini, makan akan ada sebuah mayat lagi dengan huruf A di punggung, maka lengkaplah sudah enam punggung wanita membentuk kata PRISKA, namanya sendiri.
Agus bercerita betapa sakit hatinya ketika cintanya ditolak Priska. Sejak itu Agus ingin membuktikan bahwa ia bisa mendapatkan wanita lain dengan mudah dan memperlakukan wanita itu dengan sesuka hatinya. Priska memang pernah menolak cinta Agus dengan cara terhalus yang ia bisa. Priska juga masih bersedia menjawab telpon Agus, namun sejak Priska menikah dengan pilihan hatinya, ternyata Agus sakit hati.
Agus juga bercerita betapa ia selalu teringat akan Priska, termasuk juga hari ulang tahunnya. Tetapi setiap kali Agus teringat pada Priska, sakit hatinya semakin menjadi-jadi, sampai akhirnya Agus memutuskan untuk menghilangkan sakit hatinya termasuk sumbernya. Agus yang tersenyum di depannya kini nampak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap mencekiknya lalu menyayat punggungnya atau mungkin terbalik. Disayatnya dulu punggung Priska agar rasa sakit itu semakin terbalaskan baru dicekiknya leher Priska.
Kini Priska hanya bisa pasrah, tangan dan kakinya dingin, lemas tidak bisa bergerak, dan jantungnya berdegup kencang. Ketakutan itu kian lama kian mencekam membawa Priska kian dekat ke detik-detik kematiannya. Dilihatnya Agus menggeser duduknya agar lebih dekat lagi dengan Priska. Inilah saat kematianku, pikir Priska.
Cuit…cuit…cuit!!! Suara alarm mobil itu tiba-tiba memekik keras mengagetkan Agus. Dia segera berlari keluar menghampiri mobilnya, nampak olehnya kaca belakang pecah berantakan. Ketika Agus memeriksa kerusakan dan barang apa saja yang hilang, tiba-tiba sebuah tendangan keras menghantam dagunya yang langsung membuat Agus terlempar ke belakang. Belum lagi sadar apa yang terjadi, sebuah pukulan telak menghantam ulu hatinya. Seketika semuanya gelap. Ketika sadar, Agus mendapati dirinya terikat kuat, mulutnya disumpal dengan plester, dan dia berada di sebuah tempat gelap dan sempit, yang ternyata adalah bagasi mobilnya sendiri.
Dengan penuh kasih sayang diambilkannya segelas air putih untuk Priska, disekanya keringat dingin di dahinya, dibelai-belainya rambut Priska yang lembut terurai, diciuminya kening dan pipi Priska agar tenang kembali.
“Terima kasih Mas,” kata Priska pada Rudi.
“Sama-sama, sekarang gak usah kuatir lagi ya,” kata Rudi. “Sekarang telpon aja suamimu, biar dia yang menyelesaikan semuanya. Aku pamit dulu ya Sayangku.”
“Jangan pergi Mas, cerita dong gimana kok bisa tau aku dalam bahaya,” kata Priska sambil memeluk Rudi.
“Aku ingat kisah kita waktu pergi ke Bromo, Ijen, dan lain-lain. Jadi waktu ada berita pembunuhan berantai ini, aku coba pelajari polanya, tapi aku hampir aja terlambat, maafkan aku ya,” kata Rudi.
Setelah memeluk dan mencium wantita yang sangat dicintainya ini, akhirnya Rudi pun pamit, “Jangan pernah lupa ya, aku selalu mencintaimu.”
Derai air mata Priska membasahi kemeja Rudi, “Aku juga mencintaimu Mas.”
Tak lama kemudian, rumah Priska menjadi ramai, suaminya kerepotan mengawasi orang yang memenuhi rumah mereka. Ada polisi, wartawan, warga sekitar, dan banyak orang yang tak dikenal lainnya. Esoknya, paras ayu Priska muncul di TV dan koran-koran.
Dari mobil Agus, polisi menemukan kertas berisi daftar nama-nama wanita berinisial PS. Sebagai insinyur informatik sebuah bank besar, tidak terlalu sulit bagi Agus untuk mengakses database nasabahnya, baik yang berada di kotanya sendiri maupun di Surabaya. Di luar dugaannya, databas nasabah itu memberinya lebih dari 70 nama wantita berinisial PS walaupun banyak di antaranya yang bernama sama. Setelah disortir, ternyata ada lebih dari 20 orang wantita berinisial PS yang berulang tahun tanggal 10, padahal Agus cuma membutuhkan 6 orang untuk dijadikan korban secara berurutan untuk membentuk kata PRISKA. Priska memang akan dibunuhnya palik akhir, semuanya sudah disiapkan dengan teliti dan matang termasuk bagaimana dia menculik, membunuh, dan membuang korbannya. Rencananya berjalan mulus sapai akhirnya Rudi datang mengacaukannya.
J
gambaran suasana yang diinginkan penulis sangat bagus, kata-katanya pas, membantu pembaca mengembangkan imaginasi mereka. tapi sayang sekali, ketika masuknya tokoh Rudi di beberapa bagian akhir cerita menyebabkan cerita kurang klimaks, demikian juga dengan penyelesaian cerita/ending cerita
buat aq ceritanya bagus banget, untuk ukuran penulis junior seperti aq, aq bs ambil trik2 penulisan crt ini agar si pembaca bs memasuki crt trsbt..
sukses trs y,,..
crtnya bgs…
cm d bag ending kerasa ad yg kurang..
tp secara keseluruhan udh bgs kq..
sukses y bwt penulisnya…
Bagus.T O P B G T
yup..stuju ma yg laen crita-y baguss..n bner kta yg laen, ending-y gimana gtu…cz yg dtng rudi….tp good lh..
ceritanya bagus, endingnya kurang, karakter priska aneh soalnya milih bayu jadi suami karena pilihan hati tapi cintanya sama rudi???