KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Dear Diary..

Dear diary …
Sore ini gerimis mulai basahi bumiku, satu persatu ia menetes tak ubahnya air mata yang mengalir di pipi adikku. Aku tak mampu berkata apapun untuk hentikan gerimis ini, dan aku jua tak mampu berbuat apapun tuk redakan tangis si kecil yang sedang kudekap. Irama dan bau tanah basah yang khas ingatkan aku pada dirinya. Ah.. sebuah masa lalu yang ingin aku hapus untuk selamanya, kalau saja adikku tak menangis sekeras ini.
“Cup cup sayang, Ibu bentar lagi datang kok,” rayuku.
“Wha ooah oooah ..” tangisnya makin menyanyat relung hati yang memang telah sendu.

Diary…
Pada saat yang tepat, Ibu kembali. Sang adikpun telah dengan nyaman berpindah dalam pelukan hangatnya. Tapi engkau sedang tak berada di sini ketika kelebatan bayangnya mengiris kalbuku. Ia kembali.. ia kembali diary! Kembali dalam kehidupanku yang penuh dengan mimpi dan luka, aku tak sanggup lagi diary! Untuk menatap semua potongan-potongan kehidupan yang telah aku jalani selama ini. Bagai sebuah film yang layak di tonton untuk menguras airmata.
“Tidaaaaaaak!” Aku teriak hingga parau suaraku, tapi ia tak mau tahu dan tak mau mengerti keadaanku! Ia terus saja memutar kepingan-kepingan itu hingga ke dasar relung jiwaku yang t’lah hancur.
“Diary.. aku lelah!!” ucapku.
Tapi kau juga hanya diam membisu. Seperti pasir putih yang malu-malu terselip di sela-sela jemari kakiku yang telanjang. Aku harus kemana lagi diary??

Diary..
Sepersekian detik kulihat bayangnya dalam keremangan malam. Tapi aku tak yakin akan pandanganku. Kukerjapkan mataku yang telah lelah menangis ini, hanya untuk pastikan aku tak salah lagi. Dan aku tahu, aku tak salah! Kulihat dia terseok-seok berjalan menjauhi pantai dengan kruknya. Aaah… benarkah ia…???? Aku tak sanggup diary!! Aku tak sanggup menatap pemandangan di depanku. Ingin rasanya aku berlari mengejarnya, dan memberikan pelukan hangat yang biasa aku berikan pada adikku, tapi.. kakiku seakan terpaku di sini, seperti halnya bibirku yang hanya bisa ternganga. Delapan tahun telah berlalu, namun kini.. Tuhan… benarkah ia…..????

One Response to “Dear Diary..”

  1. on 22 May 2008 at 13:36maylan st john

    Chapcha, I know you! Pintar dan dalam! Harus dibaca lebih dari satu kali nih ….

Tinggalkan Komentar