KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Maaf, itu yang pertama kali terbersit dalam hatiku saat aku melakukan sesuatu yang tak menyenangkan bagiku, bagimu dan mungkin orang lain. Jika semua merasa jijik dengan apa yang aku lakukan, apalagi aku.

Sebenarnya aku tak pernah menginginkan hubungan kita berakhir dengan antagonis. Aku masih terlalu sayang pada diriku. Artinya kau pantas mempertanyakan cinta yang selama ini aku gumam-gumamkan kepada semua orang. Kau pantas memaki dan menempatkan aku pada urutan pertama dalam daftar orang yang paling kau benci dan kau kutuk.

Aku melakukannya dengan sadar, bahkan belum pernah aku sesadar saat melakukan hal itu. Kenapa? Aku mengulangi kata-kataku sampai lebih dari satu kali. Pada awalnya aku memang hanya berniat sekadar menganggu pikiranku. Tapi aku merasa jika hanya dengan itu saja tak cukup untuk menjauhkanmu dari obrolan-obrolanku dengan kawan di sini. Maka aku melakukan sesuatu yang lebih, lebih menyakitkan buatku, lebih menguatkan pandanganmu tentang aku sebagai manusia yang lebih aneh dari yang pernah kau katakan padaku, lebih memberikan banyak kutukan untuk aku dari orang yang sebenarnya tak bisa terlibat dalam masalah ini. Aku minta maaf…

Kau pasti tidak percaya, seperti ketidakpercayaanku jika sampai saat aku menulis ini pun aku masih mencintaimu, masih mengharapkanmu, masih menyesali kenapa aku harus bertemu denganmu yang melahirkan kisah-kisah indah tapi tak menyenangkan ini. Mungkin sampai saat ini kau tidak percaya jika aku melakukan hal itu kepada orang yang begitu paham akan kau, yang kau begitu memahaminya. Mungkin saat ini kau sedang mencoba membangun keprcayaan jika aku benar-benar melakukannya. Mungkin kau juga sedang mereka-reka tujuanku melakukannya. Mungkin juga kau telah benar-benar menganggapku seperti yang kau lihat. Dan mungkin masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang aku pikirkan tentang apa yang kau lakukan dengan hal ini. Malah mungkin juga kau justru tidak pernah memikirkannya.

Ini yang paling aneh dari hal aneh yang ada pada diriku. Aku melakukannya tanpa aku mengatakan pada siapa pun jika aku akan melakukan hal ini, hingga kau dan orang-orang menganggapku bahwa ini adalah puncak dari kekurangajaranku padamu. Atau kau menyebutnya sebagai kegilaan yang utuh yang ada padaku. Biar! Biarlah untuk sementara waktu aku mengorbankan namaku di depanmu agar akhirnya kau benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak yang memungkinkan aku untuk mengikutimu kembali.

Kutub hatiku dan hatimu sangat berbeda, dengan sangat mudah kau akan membunuh dan memperlakukan aku dengan semaumu di hatimu. Tapi aku, jangankan membunuhmu, membawamu kepada hal-hal yang kurang ajar dalam imajinasiku saja aku hampir tak bisa. Padahal semua tahu, hanya imajilah ruang yang bebas nilai, kita bisa melakukan apa saja tanpa orang lain mampu melarangnya, bahwa hati adalah tempat yang paling aman menyembunyikan kebusukan kita. Aku minta maaf…

Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu! Meskipun bagimu hanya semacam cinta manusia tak tahu diri. Tapi setidaknya inilah yang aku percayai sebagai cinta. Sebuah kata dan sesuatu yang hanya kesetiaan dan tanggung jawab yang mampu mengalahkannya. Aku yang paling tahu atas diriku, begitu pula dengan hatiku, maka aku juga yakin atas pengakuan cintaku padamu dalam hatiku (dengan sedikit rasa percaya pada kata-kata kuno dan kampungan yang sama sekali tidak mirip dengan petuah bijak: “hidup tak sekadar hanya dengan/untuk cinta”).

Hendaknya jangan kau anggap pengakuan ini sebagai pencuci dosa dan rasa malu. Jangan! Apalagi kau malah menganggap ini sebagai kekalahan kedua setelah aku tak berhasil membuatmu membawaku masuk pada dunia dan hatimu. Justru karena itu aku melakukan ini, agar bisa kembali membuka mataku dengan sempurna, membuka dunia yang mungkin tak hanya selebar halaman rumahku. Aku bukan manusia cerdas sepertimu, tapi aku tak sedungu keledai. Aku anggap ini sebagai tawur bagi kemenanganku pada suatu hari, seperti tawurnya Anantasena kepada Pandawa untuk kemenangan di ladang Kurusetra. Aku sudah siap mati hari ini untuk kemudian hidup seribu tahun lagi. Suatu waktu aku pernah berbicara tentang kematian padamu, inilah kematian yang aku maksud. Sekarang bersiap-siaplah mencibir atas kekalahan dan kematianku. Aku minta maaf…

Dulu aku sempat berharap menjadi Romeomu tanpa aku harus mati, lalu aku sadar jika aku tak mungkin menjadi Aladin bagimu tanpa lampu ajaib dan permadani terbang (kalau tidak salah, aku pernah mengatakannya padamu).

Ini juga bukan buku putih yang berisi pembelaan atas perbuatanku, sama sekali bukan. Aku tak pernah ingin menjadi orang yang gagap terhadap penilaian orang terhadapku. Ini hanya semacam pengakuan cinta, penegasan kesalahanku pada orang yang aku cintai dan siapa saja yang merasa marah atas keterlaluanku (kebetulan yang aku cintai adalah kau).

Pada mulanya kau adalah harapan akan hari-hari segar dan penuh semangat. Tapi lambat laun menjadi semacam kutukan dan nasib yang harus ditanggung. Lalu aku sadar, seindah apa pun, senyata apa pun, mimpi tetaplah mimpi. Aku tetap tak ingin hidupku hanya berisi mimpi-mimpi yang membuatku semakin sakit saat aku terbangun. Aku lebih memilih hidup dalam alam sadarku yang memang tak seindah mimpi. Tapi setidaknya aku tidak gamang dan bisa berjalan lebih jauh. Hidup memang terdiri atas tumpukan mimpi dan harapan, tapi bukan mimpi yang terus-menerus tanpa realisasi. Semua orang memang perlu mimpi, tapi aku kira bukan mimpi seperti aku. Mimpiku hanya sebatas ilusi dan fantasi.

Mungkin kau akan berkata: “kenapa tidak kau sadari dari dulu?”

Itulah hal yang paling tidak aku inginkan dari tanggapanmu terhadap tulisan ini. Aku selalu kesulitan menjawab pertanyaan itu. Sebab bagaimana pun juga, ini pernah kita percakapkan berkali-kali meskipun kita membahasakan dalam bahasa yang berbeda. Dan pada kesempatan apa pun, aku selalu diam saat percakapan kita sampai di situ. Mulutku tak cukup kuat mengantarkan kata-kataku sampai pada telingamu.

Selasa, 13 Mei 2008 :19.17 WIB, kau marah dan mengatakan bahwa aku sialan! Untuk beberapa saat aku memang puas, itu yang aku harapkan dari apa yang aku lakukan kemarin. Aku bahkan berharap kemarahanmu akan mengerak, karena dengan kerak kemarahan yang ada pada hatimu dan kerak cinta di hatiku, aku akan berpikir bahwa tidak ada yang bisa menyatukan kita, atau lebih tepat aku tak lagi punya nyali buat mendekatimu. Lantas kau pergi… dan diam-diam menghayati arti sakit hati. Tapi jika kau sudah benar-benar pergi dan aku tetap tak bisa membunuhmu, sakit ini akan lebih menyakitkan. Aku tetap siap!

Dan aku juga bukan orang yang tanpa terima kasih. Aku tetap berterima kasih atas kedatanganmu beberapa waktu lalu yang dari kedatanganmu itu, aku tetap dipercaya sebagai laki-laki. Dan jika memang aku berhasil moksa dari hatimu dan aku berhasil membunuhmu dari hatiku, aku tetap memberikan penghormatan terakhir yang sederhana kepadamu sebagai salah seorang pahlawanku (tanpa tembakan salvo).

Aku bertanya kepadamu: “cintaku wajar bukan? sewajar kau minum jika haus, sewajar kau berbicara saat ada telinga yang mengharapkan kata-katamu.”

Mungkin kau akan menjawab: “yang tidak wajar adalah sikapmu yang mengekang dan berlebihan!”

Aku kira justru itulah bukti kewajaran cintaku. Siapa pun akan takut jika terjadi sesuatu pada yang dicintainya. Sesuatu yang dicintai bagi yang mencintai adalah gelas kristal yang jika gelas itu pecah, maka berarti kehancuran sebuah kebanggaan dan dosa besar, sekaligus membuktikan bahwa aku pun manusia juga. Lagipula seingatku (lagi), aku selalu memberi pilihan kepada siapa pun. Berkali-kali aku berkata bahwa kau yang berkuasa atas dirimu. Orangtua pun tak punya kekuasaan untuk membuatmu menjadi atau tidak menjadi sesuatu. Kau punya segalanya untuk lari, kau hanya butuh sedikit keberanian.

Aku menulis (semacam) surat ini juga karena aku tak bisa mengubah cinta menjadi persahabatan. Jika pada suatu saat aku mengaku kita bersahabat, maka saat itulah aku sedang berdusta. Aku sedang menipumu untuk sekadar menyenangkanmu, aku sedang menipu diri sendiri sekadar menahanmu agar kau tidak pergi. Ini sebagai bukti bahwa aku benar-benar lemah. Sebagai pernyataan penyesalan pelibatan orang lain dalam masalah ini. Aku minta maaf…

Dan aku teringat pesan yang juga kuno, “satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan yang lain.” Maka aku memilih menjadi seorang pengecut daripada menjadi seorang pendusta. Bukti kepengecutanku adalah, aku tak bisa menerima kenyataan bahwa kau pemilik hatimu dan aku hendak membunuhmu dari belakang.

Maaf, itu juga yang terakhir kali aku katakan sebelum aku mengakhiri mimpi ini. Yah…, setidaknya aku bisa bermimpi. Aku jadi punya keinginan membawa lari mimpi itu ke dalam sadarku. Sekali lagi aku minta maaf…

Terakhir kali aku ucapkan terima kasih atas semuanya. Sekali lagi maaf…

Mungkin suatu saat aku akan menangis jika mengingatmu… *.

Wonosobo, 140508 (00:31 WIB).

*) Do’akan aku, mudah-mudahan tidak.

7 Responses to “(Semacam) Surat Buat Kerak Hati”

  1. on 19 May 2008 at 13:28popay

    penyesalan tak berujung…. sebuah dilema kehidupan yang diramu dengan rajutan kata yang keluar dari hari seorang pecundang…. mencoba mengantarkan kita ke dalam dunia yang penuh dengan wajah kepura-puraan.
    that’s good

  2. on 19 May 2008 at 16:49aisyah

    wow….nice coment,thanks ya….

  3. on 08 Jun 2008 at 11:16Seorang Gadis Tak Dikenal

    Sabarlah…
    Yakinlah…
    Ambilah hikmah kejadian itu.
    Dirimu harus perbaiki diri.
    Okay…
    Semangat………..

  4. on 25 Jun 2008 at 17:41A. Masaswasana Soer

    Ho’oh…
    Emang bener
    Jika egomu telah binasa,
    itulah CINTA.
    Eh, ada nggak
    kata yg bisa mewakili
    perasaan lebih dari CINTA?
    ????????
    ???????
    ??????
    ?????
    ????
    ???
    ??
    ?

  5. on 13 Jul 2008 at 20:10ijahh

    boleh aku ambil kata2nya buat ku sendiri..
    karena sesama pecundang ,boleh saling berbagi kan????

  6. on 18 Aug 2008 at 12:01phiena

    makasih ito..makasih untuk persahabatan kita, makasih karena kamu adalah sahabat terbaikku sepanjang masa, maaf jika aku sempat menyakiti kamu..

  7. on 20 Aug 2008 at 11:21lestary

    Puisinya good bgt,,
    Tapi keadaannya berkebalikan dgn yg Q alami,,
    Q lg disakiti 5 shbtQ sendiri,skt bgt rasanya,,

Tinggalkan Komentar