KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Restu Bumi

Aku bergidik. Ibu itu manis sekali dan jarang senyum, matanya lebar agak mengerikan dan pandangannya tidak bersahabat. Kutarik nafasku dalam-dalam.

”Saya itu Mbak, kalau merawat Restu itu sudah mati-matian. Apapun yang ia inginkan pasti kesampaian. Dan tidak akan Ibu izinkan punya pacar tanpa restu Ibu, ini yang paling penting.”

Aku mengangguk dengan senyum yang aku paksakan. Memang tidak heran kalau keinginan Restu selalu tercapai, rumahnya saja sebegini mentereng, berbagai perabot mahal bertengger di mana-mana. Duh….untung aku bukan pacarnya, andai aku pacar Restu, pasti saat ini mukaku sudah merah padam. Dan seseorang yang duduk di sampingku perlahan menggeser mendekat, merapat denganku, dia pacar Restu. Aku merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan.

Kami berdua kebetulan bareng Restu pulang, arah kami sama, dan sekalian Restu mau ambil gitarnya buat latihan nge-band. Mampirlah istilahnya. Dan mungkin maksud Restu mau ’memamerkan’ gaya ibunya yang bikin aku mau lari saja. Kupegang tangan Anri, menyalurkan keberanian agar dia ikut merasakannya. Lagian Restu belum juga keluar setelah sekian lama masuk. Padahal keberanian Anri hanya pada saat Restu di sampingnya, aku tahu itu.

”Pelajaran Restu gimana Mbak di sekolah ? Kemarin sudah diprivat lho. Ada kemajuan ?”

Kembali aku mengangguk, padahal sekelas saja tidak.

”Syukur kalau gitu, nggak sia-sia ibunya usaha.”

Kali ini beliau menerawang sambil tersenyum bangga. Dilihatnya foto Restu yang terpampang berbagai pose, dari kecil hingga foto terakhir. Aku ikut-ikutan melihat. Restu anak tunggal, amat manis, matanya seperti ibunya dan tingginya mungkin seperti bapaknya. Apalagi ibunya ?. Aku, yang hanya teman pacarnya saja udah amat bangga bisa mengenalnya. Dan sebenarnya aku amat mengagumi klakustiker berbakat itu. Tapi…. aku tersenyum sendiri. Aku sadar di mana posisiku.

”Restu berangkat, Ma.”

Dadaku selalu berdebar kalo melihat cowok jangkung itu, apalagi baju kebesarannya sedang dipake gitu. Sang ibu menyambut sosok yang menyembul dari korden tengah dengan dua buah gitarnya.

”Hati-hati lho.”

Ibu Restu membenarkan kerah kemeja Restu yang sudah bener.
Fiuh !!! Mungkin kalo aku jadi ibunya, nggak bakal aku melepas Restu pergi.

”Yok! Anri, Mega.”

Aku dan Anri berdiri.

”Kami pulang, Bu.”

Ucapku sambil menyalami tangan beliau yang halus.

”Oh ya, makasih lho.”

Secepat kilat aku berlalu dari depannya dan buru-buru memakai sepatuku. Anri kelihatan amat lelah. Di dalam mobil dia sesenggukan, matanya merah dan tubuhnya disandarkan pasrah di kursi mobil. Aku amat iba.

”Sudahlah Ri, jangan diingat-ingat lagi, yang penting Restu mencintaimu. Anggap saja yang diomongin ibunya angin lalu.”

Anri masih sesenggukan. Rupanya ucapanku yang dianggap angin lalu.

”Berarti Restu belum cerita apa-apa ke mamanya.”

Anri mendesah, berkata lirih seakan pada dirinya sendiri. Matanya lurus tak tentu arah dan air yang menggenang itu menetes pelan-pelan. Aku tahu Anri amat mencintai Restu dan itu sudah umum bahkan seluruh lapisan keluarga Anri telah mengenal Restu dengan baik, dan tentu saja Anri kecewa mengetahui ibu Restu sendiri belum tahu siapa dia. Mataku turut berkaca-kaca, tak tega aku menyaksikan kondisi Anri. Tikungan demi tikungan kulalui. Jalan Kartini adalah rumahku.

”Aku ke rumahmu Ga ! Biar entar aku dijemput aja.”

Aku menurut, kubelokkan mobil ke halaman rumahku, rumah yang mungil, penuh dengan tatanan bunga dan teramat sejuk. Pagarnya saja dari bunga sepatu yang terpangkas manis. Aku menyayangi rumahku. Maklum, belum genap setahun aku dan keluarga tinggal di sini. Dulu kami berada di pedalaman Kalimantan dikarenakan tugas Bapak.
Kubuka jendela kamar, hawa sejuk menerpa wajahku, pelan-pelan dari tape recorder menyenandungkan lagu Restoe Bumi-nya Dewa 19.

Kuyakinkan restu bumi
Bangunkan jiwaku
Basuhi raga kita
Restu bumi leburkan hati
Sucikan dari debu dunia…

Bayangan Restu melintas sesaat. Aku tahu kalau di sekolah ada yang namanya Restu. Ketika aku di kelas II, Restu dengan sempurna menyanyikan lagu Kasih Jangan Kau Pergi-nya Bunga di Malam Kesenian. Wajahnya yang manis tanpa senyum memetik gitar dengan perasaannya. Dan sejak saat itu hatiku terbawa, sampai ketika Anri mengabarkan bahwa dia telah resmi jalan dengan Restu. Rasa yang ada di jiwaku belum berubah. Aku tetap menyayanginya walau berkenalanpun belum sempat terjadi. Anri yang membawa aku lebih mengerti tentang diri Restu yang ternyata lebih menyenangkan ketimbang mengenalnya dari jauh. Anri baik, Restu berotak encer. Pasangan yang serasi, dan aku amat mendukung itu walau dalam hatiku menolak mentah-mentah. Ada air yang bertelaga di pelupuk mataku, sejak saat itu aku tak pernah membuka pintu hatiku untuk siapapun. Aku cukup bahagia dengan keadaanku saat ini, bebas memandang wajahnya tanpa ia tahu dan membayangkan wajahnya kala kurindu. Ada embun jatuh dari kelopak mawar ketika Ibu memanggil sambil mengetuk pintu kamar pelan.

”Mega, ada temanmu, dia di teras samping.”

Kuusap mataku sambil berjalan menuju kaca rias dan menyisir rambutku.

”Iya, Bu! Sebentar!!”

Kubenarkan daster pink-ku sambil berjalan gontai menuju teras samping yang kutempuh lewat jalan pintas. Aku selalu bahagia melihat tatanan rumahku yang penuh dengan bunga, sejuk rasanya. Dan kalau sudah di teras samping yang sedang ditempati Anri saat ini, pasti enggan beranjak. Fresh banget.

Seseorang yang berselonjor di kursi panjang itu amat mengagetkanku. Berani sumpah, aku menyangka yang datang itu Anri, lagi pula dari mana Restu tahu rumahku ? Tiba-tiba aku tidak pe-de dengan penampilanku. Ketika aku berjingkat masuk kembali, Restu membuka matanya yang tadi terpejam. Ah!! Aku tersenyum.

”Ada apa Re ?” tanyaku akhirnya. Aku duduk di kursi yang terbuat dari pohon berakar.

”Rumahmu sejuk, perasaan ini dulu rumah Pak Robby deh.”

Restu duduk dan mengangkat kedua kaki panjangnya ke kursi kemudian mendekapnya. Sempurna banget manisnya.

”Bener, bulan November kemarin kami pindah dari Kaltim, tapi aku nge-kost sejak kelas satu kemarin.”

Restu cuma memanggut-manggut, dipandanginya bunga teratai yang tumbuh di kolam depannya, airnya beralun ketika seekor ikan berkejaran manja.

”Tumben pagi-pagi ke sini, mo cari sarapan ?”

Restu terkekeh, giginya yang berbaris rapi tampak nyata saat ini. Aku amat bahagia menyaksikannya.

”Kalo ada, boleh dong !”

”Maunya !! Tapi ada kok, aku bisa memastikannya.”

Restu kembali tertawa

”Ngomong-ngomong udah mandi belum ?”

Kali ini pertanyaan Restu bikin aku malu.

”Ah kamu, tahu aja kalo aku belum mandi. Aku tinggal dulu yah !”

Ketika aku beranjak meninggalkannya, Restu berujar, ”Eh, aku juga belum mandi. Boleh numpang?”

Kukerutkan dahiku, heran. Apa anak ini tadi malam nggak pulang? Kok sekarang belum mandi? Lagian kok ya aneh-aneh, sarapan belum keluar udah minta mandi. Aku duduk kembali.

”Kamu ada apa sih, Re ? Kok aneh-aneh kelakuanmu ?”

Restu cuma tersenyum, dipandanginya wajahku sambil berkata, ”Pusing !”

Dan ketika manik matanya menampar bola mataku, aku merasa tersengat.

”Ya udah, mandi sana, biar aku nyiapin sarapan.”
Dengan malas Restu berdiri. Ketika melewatiku, dadaku berdebar. Dari belakang aku mengantarnya menuju kamar mandi yang amat eksotis, persis kamar mandi jaman dulu.

”Aku suka semua yang berada di rumahmu.”

Komentarnya saat mengetahui lekuk-lekuk rumahku yamg semuanya tersentuh aliran seni.

”Anggap aja rumah sendiri, makanya nanti abis makan piringnya cuci sendiri, and kalo beras kurang beli sana!”

Restu tertawa renyah, diambilnya handuk putih dari tanganku, setelah itu aku ke dapur membantu ibu menyiapkan sarapan buat kami bertiga, bapak dinas luar kota sementara Mbak Yuli lagi menyelesaikan skripsi di Jakarta.

Senyum Anri menghilang saat aku masuk kelas, ini pasti ada hubungannya dengan kedatangan Restu kemarin. Sebelumnya aku sudah merasa nggak enak dengan keanehannya, tapi kemarin aku belum mampu mengorek keterangan apapun dari Restu kecuali kata ’pusing’. Meski aku amat mengagumi Restu, tapi aku tak akan bisa melukai hati sahabatku. Duh Anri, tahukah kau akan hal itu ?

”Pagi Anri,” sapaku sambil meletakkan tas di sebelahnya.

”Pagi !!” jawabnya pelan. Aku mencoba bersabar. Semoga ini nggak ada kaitannya dengan kejadian kemarin, dan kalau toh ada, semoga aku tidak melakukan kesalahan fatal yang tidak aku sadari. Amin.

”Nanti datang ke markas SMUSA Band. Restu nunggu kamu !”

Aku terhenyak. Disamping isi beritanya yang nyeleneh, nada suara Anri juga tidak begitu merdu terdengar di telinga.

”Apa urusanku ?” tanyaku mencoba nggak ambil pusing dan tidak terbawa suasana yang Anri ciptakan.

”Tau !” jawabnya enteng

”Eh, sepulang sekolah aku udah nyiapin acara buat kita berdua. KFC bo, baru dapat rejeki nih !”

Kali ini mata Anri berbinar. Aku harus bisa membahagiakannya meski dalam hati aku pengen ketemu Restu, seperti waktu-waktu lalu, aku tetap merindukannya.

”Bener ?” Anri berseru.

”He-eh!” jawabku lebih seru.

Anri tertawa, sejenak kulihat bebannya berkurang, dan itu membuatku bahagia. Maaf Restu.

”Restu sekarang dingin Ga. Dia nggak main ke rumah kemarin. Pas aku telfon, dia nggak ada di rumah.”

Aku mencoba tenang, sibuk yang aku buat-buat dengan mengeluarkan buku-buku di pelajaran pertama. Sementara air mataku menggenang. Aku merasa bersalah, aku bingung. Teman-teman sudah lengkap ketika bel masuk berbunyi.

Kucorat-coret kertas HVS yang sekarang kabarnya mahal. Tapi apa perduliku ? yang penting keruwetan dalam hatiku bisa berkurang sedikit. Barusan aku pulang bermain dengan Anri sekedar menghiburnya, dan Ibu bilang Restu udah menelpon tiga kali, tepat jam empat nanti dia menelpon lagi. Terus terang aku bahagia, tapi pada hatiku yang lain ada Anri yang sedang berduka. Sekali lagi aku bingung.

”Tuut…tuut…”

Aku berjingkat kaget, kulihat wekerku menunjukkan angka 4 tepat. Aku berdiri mendekati meja telpon dan duduk di lantai sekenanya.

”Hallo…”

”Empat kali ini ? Sori deh, lagi main sama Anri.”

”Udah disampein kok, tapi kemarin aku udah janji nraktir. Kan nggak enak”

”Sekarang masih di Markas ?? Ngapain?”

”Jangan gila kamu. Aku udah di rumah sekarang, ngapain kamu tinggu di situ ?”

”Udah deh Re, jangan aneh-aneh. Mendingan kamu dateng dan kita omong-omong, juga masalah Anri. Dia bingung kamu cuekin gitu. Kamu nggak usah ke sini lagi kalo nggak clear-kan masalah”

”Ok, aku tunggu. Aku telpon Anri biar ke sini juga ya ?”

”Lho !”

Telpon ditutup. Aku amat sedih. Restu melarangku menghubungi Anri, dan aku musti gimana ?? Emang nggak mungkin Restu senang aku, tapi aku sendiri yang nggak bisa mengkondisikan isi hatiku, aku gampang berbunga-bunga, walaupun aku sukses menyembunyikannya. Ibu datang membawa pisang goreng.

”Dari Bu Mi.”

Jelasnya sembari melangkah menuju vas bunga yang tergeletak dan membenarkannya

”Bu Mi siapa, Bu ?” tanyaku penasaran sambil menggigit pisang yang sudah ada di tanganku, Ibu cuma tersenyum menjawab pertanyaanku.

”Bumi yang kamu injak ini.”

Aku terkekeh, ibu ada-ada saja. Padahal aku udah mikir yang neko-neko, nama ibu Restu kan ada Mi-nya di belakang. Chintami Prayoga.

”Ibu ada, aja !” seruku sambil berdiri mendengar suara motor Restu berhenti di depan rumah.

”Restu, Nduk !”

Aku mengangguk, Ibu ikut-ikutan menyambut kedatangan Restu. Eh, di belakangnya ada Anri. Aku tersenyum, ini lebih membahagiakan dari apapun. Bukankah aku sudah bahagia dengan keadaan ini? Walaupun benih-benih harapan yang ditaburkan Restu harus aku kubur kembali sedalam-dalamnya. Dan aku nggak boleh mengenangnya. Hhh, inilah hakku.
”Hallo !” sapaku ramah. Restu dan Anri bergantian salaman dengan Ibu. Ketika aku ikut-ikutan salaman, beliau malah menjewer telingaku. Restu tertawa.

”Kau ada-ada saja.”

Berempat kami duduk di ruang tamu yang mungil, udah gitu Bonsai Kaliandra masih sempet bertengger di pojok ruangan. Ibu permisi masuk. Hehehe, Ibu tahu aja urusan anaknya.

Kupandangi mereka sesaat. Aku iri Tuhan. Aku ingin juga kayak mereka. Tapi dengan begini aku udah bahagia kok. Tak terasa air mataku menetes tanpa kusadari.

”Bentar, aku ambil minum,” akhirnya aku berlalu dari hadapan mereka. Ini bahagia atau sedih aku sendiri nggak tahu. Aku merasa ada yang hilang bila menyaksikan mereka, tapi juga ada kebahagiaan yang menyusup pelan-pelan. Ini pasti kebahagiaan Anri. Tahu-tahu Ibu sudah di belakangku membawa tiga orange juice.

”Biar Mega yang bawa.”

Aku menggantikan tangan ibu membawa nampan dan berjalan kembali ke ruang tamu.

”Minum dulu biar nggak tegang,” ucapku pada mereka, lalu aku duduk di tempatku semula, menyaksikan halaman luar.

”Udah beres, Re ?” tanyaku setelah mereka minum. Restu diam, hanya Anri yang mengangguk berbarengan dengan derasnya air mata. Aku terkejut.

”Ada apa, An?” tanyaku heran. Anri berhamburan memelukku dan membawaku masuk kamar. Aku merasa terhipnotis. Sampai di kamar, aku menyabet HVS yang penuh dengan nama Restu. Tapi telat! Anri menariknya dan aku dipandanginya dengan senyum yang terpaksa.

”Ingat pertama kali ke rumah Restu?”

Aku mengangguk ditanya Anri begitu.

”Ingat kata-kata ibunya?”

Kembali aku mengangguk. Mana mungkin aku melupakannya.

”Dan kaulah yang ia maksudkan, kau mendapat restunya, kau…kau…sudah ditunangkan sejak bayi!”

Kali ini Anri histeris. Hatiku juga berteriak histeris, antara bahagia dan duka. Ya Tuhan… Hamba harus berterima kasih atau…?

Anri tertelungkup di ranjang, tangannya mengepal HVS itu. Kembali aku dilanda kebingungan yang teramat sangat. Lalu aku keluar menuju kamar Mbak Yuli. Menyandarkan tubuhku pelan-pelan, mencermati perjalanan hidup yang diciptakan Tuhan. Kembali air itu menggenang untuk kemudian menetes.

”Mega, di tunggu Restu dan Anri, mereka mau pamit,” Ibu memegang pundakku kalem.

”Biarkan mereka pergi Bu, Mega masih ingin sendiri.”

Wajahmu selalu terbayang, dalam setiap angan
Yang tak pernah bisa hilang walau sekejap
Ingin s’lalu dekat denganmu enggan hati berpisah
Larut dalam dekapanmu setiap saat, setiap saat….

Air mataku meleleh, sementara bibirku menyampaikan seulas senyum. Kutatap Restu yang memainkan gitarnya, tepat di depanku, di teras samping rumahku. Wajahnya bersinar dengan senyum manisnya, matanya menatapku lekat sembari menyanyikan lagu favoritnya. Dan aku ikut bernyanyi…

Oh kasih janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu di sini
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepi….

One Response to “Restu Bumi”

  1. on 19 May 2008 at 21:06achmad darwis sutejo

    Bagus!!! Renyah dibaca, n yang pasti: romantis abiss!!!Tingkatkan ya!!! kasih motivasi aq tuk belajar menulis kya kamu ya!! kirim di: darwis_gapura@yahoo.co.id

Tinggalkan Komentar