KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Keajaiban

 

 

Setapak itu temaram oleh berkas sang malam.
Keajaiban apalagi yang mungkin kudapat ?
Aku dapat menghirup sang udara,
menapak pada datar, tinggi atau menjejak dalam gelombang tanah sang bumi,
aku dapat merekam segala bentuk yang terlihat dan tertangkap oleh dua bola yang begitu penting…
Hamparan hitam bertabur titik-titik cahaya itu keajaiban lain dari lainnya yang lain…
Begitu megah meski tak banyak yang sadar…
begitu Indah meski tak banyak yang memaknainya,
begitu kaya meski banyak yang memagutnya tanpa hati,
karena hanya mengucap dan merasa sampai kerongkongan,
bukan dengan hati ataupun jiwa dan bukan pula dengan hangat segenap raga…

Padahal siang begitu indah.
Berteman lingkar cahaya terang keemasan,
ditemani renda-renda lembut yang memberi teduh.
Namun hanya sedikit yang sadar, meski kasat mata.
Belenggu biru cerah, memudar.
Datanglah kembali sang hitam yang ditemani pemuja malam dan prajurit-prajurit kecil dalam kilau cahaya yang terus berpendar.

Waktu berlalu, bias keemasan mulai nampak di ufuk timur,
memuaskan dahaga cakrawala yang tak berbatas.
Dengan hangatnya ia tersenyum pada dunia.
Dan beraraklah sang renda dunia menghampirinya.
Rembulan, menjadi sepasi dan menghilang di telan cahaya.
Namun semua itu, belumlah usai. Ada hitam ada cerah.
Adapula kalanya langit bersedih dan menangis,
memberikan mata air berharganya pada bumi dengan cuma-Cuma.

Keajaiban apalagi yang belum kudapat ?
semua yang ada, adalah keajaiban untukku.
Apa perlu kita pinta lebih dan lebih lagi ?
Sang lingkaran cahaya saja tak pernah mengeluh akan tugasnya.
Pemuja malam pun tetap datang meski tanpa bayaran.
Pernahkah kita membayang sang raksasa hijau yang terus tertidur ?
Ia memang tidur, tapi tetap hidup, dan bahkan dapat memuntahkan kemarahannya.
Hingga kita, tak punya daya upaya…

Tinggalkan Komentar