KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Jendela

Hujan baru saja berhenti, jalanan basah memantulkan sinar lampu jalan seperti cermin kusam , angin kencang juga mulai reda, udara malam itu kini jadi dingin sekali. Vira masih asik menikmati sepinya malam itu, dari balik jendela kamarnya dihitungnya orang yang lewat di jalanan, Vira berjanji pada dirinya sendiri akan tidur pada jam sepuluh malam. Sesekali diusapnya kaca jendela kamarnya yang berembun karena udara dingin, tapi dari tadi tidak ada satu orang pun yang lewat. Vira merubah janjinya, kalau ada lima orang saja yang lewat di jalan depan rumahnya, Vira akan pergi tidur. Biasanya jalan raya itu ramai, tapi mungkin karena hujan deras, baru jam delapan malam sudah sepi. Suara tetesan air dari genting ke selokan membuat Vira ngantuk juga, apalagi sambil tiduran di kasur, tapi Vira penasaran masak nggak ada yang lewat sih, satu orang aja deh, terus Vira mau tidur.

Vira hampir saja menyerah sama janjinya sendiri ketika didengarnya ada suara sepeda motor melintas. Sambil berbaring, dilebarkannya satu matanya mau menghitung apakah satu atau dua orang yang akan lewat ini. Gubrak !!!! Mamaaaaaaaa…..!!! Mata Vira seketika terbuka lebar sekarang. Dilihatnya seorang ibu dan anaknya terjatuh terpeleset persis di depan rumahnya. Ibu dan anak itu terseret meluncur bersama motor mereka dan kini berhenti tergeletak persis di depan jendela kamarnya. Ibu itu berusaha meraih anak kecilnya yang terhimpit motor. Wajahnya yang basah nampak menahan sakit ketika menarik tangan anaknya. Belum lagi hilang kagetnya Vira, tiba-tiba sebuah truk trailer besar menderu dengan cepat dan melindas ibu dan anak itu. Terdengar suara gemeretak tulang ketika truk itu menginjak mereka. Roda-roda trailer itu lalu menderit keras sekali membuat trailer itu meliuk-liuk hilang arah dan akhirnya berhenti di depan teras sebuah wartel setelah menghancurkan kaca jendela dan tembok depannya.

Jendela Vira kini memberi sebuah gambar seram sekali. Ibu dan anak itu sudah nggak ada lagi, kini tinggal sobekan baju, pecahan helm dan yaaaa ampuuunnn sisa-sisa potongan tubuh manusia. Darah merah dengan cepat menyebar terbawa air dari sisa –sisa potongan tubuh itu membentuk pola-pola yang menyeramkan. Dari pantulan sinar jalan, Vira bisa melihat ada tangan mungil diantara benda-benda yang berserakan itu. Sepeda motor itu sendiri nggak keliatan lagi, mungkin terseret trailer tadi. Pemandangan di jendela itu kini membuat Vira mual sekali, kaki dan tangannya terasa dingin sekali, dan rasa kantuknya kini hilang sama sekali berganti rasa ketakutan. Vira gemetar menangis sambil menggigit bibir menahan rasa takut.

Masih dari jendelanya, Vira kini melihat orang bermunculan dari dalam rumah, berteriak-teriak histeris, berlarian dan dalam beberapa menit kemudian, suasana di tempat itu mendadak ramai sekali, kumpulan orang-orang itu kini mengelilingi serpihan tubuh itu. Vira masih merasakan kakinya lemas dan dingin ketika abangnya berteriak-teriak memberi tahu ada kecelakaan di depan rumah dan mengajaknya melihat keluar, dibiarkannya abangnya menggedor-gedor pintu, mengiranya sudah tidur pulas dan sesaat kemudian Vira melihat abangnya sudah berlari keluar rumah menghilang di antara kerumunan orang-orang.

Jendela kamarnya kini melanjutkan kisahnya, Vira melihat orang-orang mulai menepi dan beberapa orang datang mendekat. Ooooooh….tak kuat Vira menyaksikan kelanjutannya ketika Vira melihat beberapa orang itu berjongkok memunguti serpihan sisa tubuh ibu dan anak itu. Dibenamkannya kepalanya dalam-dalam di bawah bantal, ditutupinya telingannya dengan earphone HP-nya, dipejamkannya matanya rapat-rapat. Tapi derit roda-roda truk itu terdengar lagi di telinganya, wajah basah ibu dan anak itu terlintas lagi di matanya. Rasa ngeri dan takut menemani Vira hingga subuh. Wajahnya sembab, badannya dingin, kaki dan tangannya masih gemeter ketika mamanya masuk membangunkan Vira shalat subuh.

Ketika sarapan, abangnya bercerita panjang lebar tentang kejadian tadi malam. Ternyata truk itu berjalan terlalu kencang dan ketika nampak ada ibu dan anak terbaring di jalan. Supirnya panik nggak bisa lagi menghindarinya. Supir, dan dua orang penumpang truk itu kini ditahan di kantor polisi. Oooh jadi tadi malam ada 5 orang, ibu dan anaknya dan 3 orang di dalam truk itu, iiiihh serem sekali, kenapa sih kok seperti janjiku tadi malam. Mama membentak abangnya untuk berhenti ketika abangnya mulai bercerita detil tentang bagaimana orang-orang itu membersihkan jalanan dari serpihan korban. Ingin sekali Vira tinggal di rumah dulu, kaki dan tangannya masih gemeter, tapi Vira pikir kalau di rumah malah ingat terus.

Di sekolah, teman-temannya semua ngobrol membahas kecelakaan di rumahnya tadi malam, rata-rata mereka sok tau seolah mereka berada di tempat kejadian ketika kecelakaan itu terjadi. Vira diam saja, Vira masih berusaha mencari akal menghapus rekaman peristiwa seram itu dari otaknya. Seharian ini nggak ada makanan yang bisa masuk, perut Vira masih mual kalau ingat peristiwa semalam.

Hal pertama yang dilakukan Vira ketika pulang sekolah adalah menutup gorden jendelanya. Tapi rasanya sia-sia, seolah jendela itu tembus pandang dan mengulang lagi peristiwa seram tadi malam di matanya. Untungnya mama Vira baik mengijinkan Vira tidur sama mama dan papanya. Pagi-pagi ketika Vira mengambil buku di kamarnya, Vira marah-marah ke Mbok Saropah ketika jendela kamarnya mau dibuka. Abangnya cerita tadi malam orang kampung berkumpul di pinggir jalan memanjatkan doa buat ibu dan anak itu. Setelah dua malam, Vira baru berani tidur dikamarnya lagi, gorden jendela itu tetap harus tertutup. Vira trauma sekali dengan jendela itu.

Malam itu hujan turun lagi dan angin bertiup lagi persis ketika kecelakaan itu terjadi beberapa malam yang lalu. Suara musik dari kompo sepertinya nggak bisa mengalahkan suara gemericik air jatuh dari atap ke selokan. Dahan pohon yang terayun-ayun tertiup angin berubah menjadi bayangan yang bergoyang-goyang di balik korden jendela itu, mirip bayangan tangan yang melambai-lambai memanggil-manggil Vira untuk membuka gorden jendela. Vira seperti mendengar suara anak kecil itu lagi…Mamaaaaaaa……!!! Suara itu kian lama kian jelas, membuat Vira kian penasaran untuk membuka gorden jendela kamarnya. Cuma rasa ngeri dan gemetar saja yang bisa menahan tangannya untuk tidak membuka gorden itu. Malam itu, Vira tidur dengan kepala terbenam tumpukan bantal.

Di musim hujan seperti ini, hampit tiap malam hujan turun terus, membuat Vira selalu merasa ngeri dan takut sendiri di kamarnya. Dan ketika kakinya mulai gemeter, suara jeritan anak kecil itu selalu terdengar lagi…Mamaaaaaaaa…..!!! Ada perkelahian antara rasa takut dan rasa penasaran di dalam hatinya. Ketika rasa penasaran itu akhirnya menang, tak terasa tangannya mulai menarik gorden jendela itu perlahan-lahan. Jalan itu nampak sepi dan basah, tiada orang lewat. Mamaaaaaaa….!!! Dan ketika jeritan anak kecil itu terdengar lagi, Vira melihat seorang anak kecil berlumuran darah sedang merangkak di tengah jalan ditempat kecelakaan. Dari remang-remang pantulan sinar lampu jalanan, Vira melihat kepala anak itu berdarah banyak, kakinya bengkok-bengkok, bajunya koyak dan yaaa ampuun tangan kanannya kiwir-kiwir, tangan kirinya putus ….. dan anak itu memandang ke jendela Vira. Jantung Vira serasa berhenti ketika mata anak itu bertatapan pandangan dengannya, anak itu merangkak ke arah Vira. Tangannya reflek menutup gorden jendela itu. Vira menangis lari ke kamar Mama, bercerita apa yang baru dilihatnya. Mama mencoba buka gorden jendela itu, nggak ada apa-apa selain jalanan sepi.

Malam berikutnya, hujan turun lagi. Mamanya menemani dikamarnya sampai Vira tertidur. Dalam mimpinya Vira didatangi anak itu, wajahnya rusak dan bersedih , matanya berdarah, bibir bawahnya yang robek menangis dan bilang ke Vira kalau tangan kirinya hilang. Vira kaget terbangun dari tidurnya ketika Vira mendengar ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendelanya. Sebuah bayangan mungil tergambar dari balik gorden jendela. Vira belum sadar betul dari mimpi buruknya, tapi bayangan itu kian lama kian jelas, sebuah bayangan anak kecil sedang berdiri dekat sekali di balik jendela. Suara anak kecil itu kini terdengar lagi….Mamaaaaa…!!! Dengan jantung berdegup kencang, tangan gemeter dan keringat dingin di dahinya, Vira mencoba membuka gorden jendela itu. Vira kaget sekali, jantung dan nafasnya rasanya berhenti, badannya dingin dan mulutnya serasa terkunci nggak bisa lagi memekik berteriak. Ketika korden jendela itu dibukanya, Vira melihat wajah seorang anak menempel di kaca jendelanya, dekat sekali, hanya dipisahkan kaca. Nampak jelas, wajah mungil itu hancur bersimbah darah, mulutnya robek, kulit kepalanya terkelupas kesamping, bibir bawahnya robek tergantung-gantung memuntahkan darah. Pundak kirinya buntung nggak bertangan lagi bersandar di kaca jendela. Vira bisa melihat patahan tulang mencuat dari pundaknya yang koyak hancur itu. Wajah berdarah itu kini menangis sedih persis didepan Vira… Mamaaaa…. mana tanganku Maamaaa…… Kalau boleh memilih, ingin sekali Vira jatuh pingsan aja biar nggak sadar dan nggak tau apa yang sedang dilihatnya. Tapi rasa ngeri dan takut Vira perlahan berubah menjadi rasa iba. Ditatapnya lagi dalam-dalam mata mungil berdarah itu, kini Vira benar-benar merasa kasihan sekali dengan penderitaan anak kecil itu. Kakinya yang gemeter mengantar Vira keluar kamar. Air hujan segera membasahi rambut dan baju Vira ketika dia sampai di halaman depan. Vira melihat anak kecil itu masih menangis di depan jendela kamarnya. Anak kecil itu menoleh ketika Vira sudah dekat, tangan kanannya yang hancur kiwir-kiwir diangkatnya minta dituntun. Dengan penuh rasa iba, Vira memegang tangan mungil yang hancur itu dan diikutinya langkah pincang anak itu ke tengah jalan yang sepi. Dibiarkannya anak kecil itu menuntunnya kian kemari mencari-mencari sepotong tangan kirinya yang hilang. Vira ikut melihat tepi jalan, ke pinggir pagar dan beberapa tempat lainnya siapa tau potongan tangan itu ada disana. Vira masih membiarkan anak kecil itu mondar-mandir di tengah jalan basah yang sepi malam itu sampai tiba-tiba…Brak !!!!! Sebuah sedan yang melaju kencang menghantam Vira persis di kepala ketika Vira sedang menunduk di tengah jalann. Vira merasakan kepalanya seperti ditinju dengan keras, lalu badannya terlempar melayang dan akhirnya terhempas di aspal lagi. Vira masih sempat mendengar suara ban mobil berdecit sebelum semuanya menjadi gelap dan dingin.

Tiba-tiba Vira merasa silau sekali, banyak sekali cahaya putih mengelilinginya. Vira merasa melayang-layang ringan sekali. Vira melihat beberapa orang mengelilingi dirinya yang terbaring di sebuah kamar putih, kepalanya dibalut perban tebal. Mamanya menangis keras sekali, papanya menciumi pipinya. Vira juga melihat ada dokter yang dengan panik memeriksa dadanya dibantu oleh beberapa perawat. Menit-menit berikutnya, Vira melihat dokter itu sudah nggak panik lagi, tampak rasa putus asa di wajahnya ketika berbicara dengan Mama dan Papa. Setelah itu Vira melihat Papa menutup wajah Vira dengan kain putih setelah mencium kedua pipi Vira. Vira melihat Mama menjerit histeris menangis dan pingsan di pelukan Papa. Esok paginya Vira melihat lebih banyak orang datang ke rumahnya, semua nampak menangis sedih. Vira nggak tega melihat Mama menangis semalaman sampai matanya bengkak dan mukanya sembab.

Vira melihat beberapa ibu-ibu memandikan badannya dan nggak lama setelah itu sebuah iring-iringan panjang mengantar Vira ke tempat Kakek. Vira sempet mendengar seorang bapak bilang dia melihat Vira sedang berjalan sendirian mondar-mandir di tengah jalan tadi malam sebelum tertabrak mobil. Vira melihat orang-orang memasukkannya ke dalam lubang kubur, menimbunnya, menaburi bunga di atas makamnya dan melihat mamanya menangis lagi, tapi Vira nggak bisa merasakan apa-apa. Vira cuma bisa melayang-layang di atas kerumunan orang yang bersedih itu.

Malam harinya, Vira melihat banyak tamu datang kerumah, mereka duduk berdesak-desakan di ruang tamu bergumam membaca doa. Vira memilih duduk di kamarnya aja, mamanya masih sembab wajahnya waktu mengambil foto Vira di kamarnya. Vira memanggil mamanya tapi kok mama nggak liat sih dan nggak jawab waktu Vira manggil-manggil. Kini Vira mulai merasa sedih.

Nggak tau kenapa, tapi Vira kini merasa bebas sekali, asyik sekali ketika Vira bisa menembus tembok masuk ke kamar abangnya atau pergi jauh ke atas untuk melihat atap rumah-rumah yang padat. Kalau malam, Vira masih tetap berbaring di kamarnya seperti biasa, memandangi jendela kamarnya sambil berbaring. Tapi kini Vira merasa heran sekali, setiap kali Vira menengok keluar jendela, jalan itu ternyata nggak pernah sepi seperti sebelumnya. Vira melihat banyak sekali orang yang berseliweran di jalan itu kalau malam hari, cuma bentuknya kok aneh-aneh ya. Ada seorang kakek yang badannya bongkok sekali tapi kepalanya terbalik melihat kebelakang. Ada juga perempuan berpunggung busuk lebar sekali. Ada orang berbadan gendut dengan perut yang bendol-bendol kembang kempis. Ada yang jalannya ngesot, ada yang terbang dan ada juga yang cuma diem aja memamerkan muka serem mereka. Vira juga melihat anak kecil itu lagi bermain ayun-ayun dipohon dengan tangan satu. Ketika Vira keluar kamar lewat jendela, mereka menyambut Vira sebagai teman baru. Ada yang bilang enak ya kamu rumahnya dekat, ada yang langsung ngajak berteman tapi banyak juga yang berusaha ngusir Vira jauh-jauh dari kelompoknya.

Vira asyik sekali mengamati kegiatan teman-teman barunya ini. Perempuan berpunggung busuk itu tiba-tiba sudah di dekat Vira, dia bercerita kehidupan di depan rumah Vira itu. Dia juga pesan jangan mau kalau di ajak melakukan penampakan untuk menakut-nakuti orang yang lewat di jalan itu. Dia cerita anak kecil yang bertangan buntung itu juga habis dibujuk oleh kelompok demit jahat untuk melakukan penampakan untuk mengajak Vira dan berhasil. Kelompok demit jahat ini melambaikan tangan mereka ketika perempuan berpunggung busuk ini menunjukkan ke Vira siapa mereka. Yaa ammpun, ternyata kelompok demit jahat itu terdiri dari 6 orang, cuma satu aja yang masih berkepala, itupun tergelantung kebawah. Perempuan berpunggung busuk itu cerita kalau kelompok demit jahat itu dulunya adalah sekawanan perampok yang dibunuh oleh warga desa puluhan tahun yang lalu. Kepala mereka dipenggal oleh algojo jawara desa dan mayat mereka dibuang deket jembatan nggak jauh dari rumah Vira sekarang. Lama-lama Vira menjadi akrab juga dengan kuntilanak ini, diajaknya kuntilanak ini main ke kamarnya melihat foto-foto keluarga Vira.

Ada perasaan sedih setiap kali Vira melihat mamanya, kenapa sih sekarang Mama nggak pernah menyapa aku. Tapi dari pergaulan dengan teman-teman barunya, kini Vira sadar bahwa memang Vira kini sudah nggak terlihat lagi oleh keluarganya. Karena kasihan, si Kuntilanak itu akhirnya mengajari Vira bagaimana melakukan penampakan agar bisa terlihat oleh orang yang ingin kita jumpai. Suatu malam ketika mamanya nonton TV sendiri, dicobanya menyapa mamanya dari sudut kamar yang gelap, Vira kuatir bikin kaget kalau langsung muncul di depan Mama.

“Mamaaaa… ini Vira Mama…Vira kangen sekali sama Mama …,”pelan-pelan dipanggilnya mamanya. Diluar dugaannya, mamanya bukan datang memeluknya tapi malah ketakutan pucat lari ke kamar memeluk papanya. Vira menangis sedih sekali dan betapa kagetnya ketika melihat bayangannya dicermin. Ternyata perban tebal itu masih dikepalanya dan wajah Vira masih berlumuran darah. Vira menyesal sekali sudah membuat Mama tercintanya ketakutan seperti itu. Tapi Vira tetep ingin menjadi bagian dari keluarganya yang sangat dicintainya.

Suatu pagi Mbok Saropah lari terbirit-birit ketika Vira membantu Mbok Saropah melepas kain gorden jendelanya yang sudah kotor untuk dicuci. Dengan nafas tersengal-sengal sambil minum air putih, Mbok Saropah cerita ke Mama kalau kain gorden jendela kamar Vira tau-tau lepas sendiri dan masuk ke keranjang kain kotor di dekat kakinya. Abangnya juga pernah jatuh terjerembab terbentur meja ketika mau lari setelah Vira merapihkan foto-foto di atas lemari hias di ruang tamu. Abangnya cerita ke Mama kalau dia melihat foto-foto itu bergerak sendiri. Vira sering ketawa geli sendiri kalau lihat mereka ketakutan. Vira juga masih suka membolak-balik buku-buku cerita koleksinya, ada cerita horror ada juga cerita petualangan. Ingin sekali Vira memberi tahu ke pengarang cerita horror itu kalau mereka itu sok tau. Dari seisi rumahnya cuma adik kecilnya Vira aja yang nggak pernah merasa takut sama Vira. Di saat adiknya kesepian, Vira sering ngajak adiknya bermain-main. Pernah mamanya kaget ketika adiknya menunjuk-nunjuk ke sudut kamar di tempat Vira duduk. Mamanya nggak melihat apa-apa.

Kini Vira mulai merasakan asiknya jadi mahluk yang nggak nampak, tapi Vira nggak jahat kok, Vira baru akan nakal kalau memang perlu. Suatu malam Vira melihat ada seorang tukang becak yang tiba-tiba berhenti di depan rumahnya. Setelah tengok kiri kanan sebentar, tukang becak itupun langsung kencing di depan pagar halaman rumahnya. Oooh makanya pagarnya sering bau pesing, pikir Vira. Karena nggak rela rumah papanya dikencingi, Vira menggoyang-goyang becak kosong itu sampai bunyi kriet-kriet, dan ketika si tukang becaknya kaget melihat becaknya bergoyang sendiri, Vira menampakkan dirinya lagi mendelik sambil duduk di becak itu. Kasihan si tukang becak itu, dia langsung lari tunggang langgang sambil kencing ninggalin becaknya. Tiga hari kemudian si tukang becak itu baru berani kembali ngambil becaknya siang-siang sambil ditemenin beberapa rekannya.

Ternyata kejadian-kejadian aneh akibat ulah Vira di rumahnya, membuat mamanya kian sedih dan kian ketakutan. Untuk menghapus kenangan pahit ini, Papa akhirnya memutuskan untuk menjual rumah ini dan mengajak keluarganya pindah ke daerah lain yang lebih jauh. Vira sedih sekali ketika memperhatikan Mama dan Papa berunding serius mencari rumah baru. Akhirnya saat itu tiba juga, Papa memboyong Mama sekeluarga ke rumah baru di pinggiran kota. Rumah Vira kini kosong menunggu pemilik baru. Kini Vira gentayangan sendirian di rumah kosong itu, Vira bisa bebas tertawa ngikik semalaman membuat tetanggnya merinding ketakutan tapi sebenernya Vira sedih sekali.

Selang dua minggu, datanglah sebuah keluarga melihat rumah Vira. Keluarga ini punya dua anak cowok yang mulai besar, kakaknya umur 17 tahun bernama Wawan dan adiknya umur 15 tahun bernama Deden, jauh lebih tua dari Vira yang baru berumur 12 tahun. Ternyata mereka senang dengan rumah Vira dan akhirnya mereka membelinya. Si kakak memilih tinggal di kamar Vira, uuuhhh sebel banget, anak itu jelas-jelas kelihatan jorok dan brandal, awas ya…

Suatu malam di saat hujan reda, Vira sedang asik melayang-layang di dalam kamarnya mengamati si penghuni baru sedang tiduran di kasur memandang keluar jendela memandangi jalan yang sepi. Tiba-tiba Vira melihat temannya si Kuntilanak memanggil-manggil dari luar jendela kamarnya. Karena penasaran ada apa, Vira langsung melesat lewat jendela kamarnya menghampiri si Kuntilanak itu. Kuntilanak itu cerita kalau malam ini kelompok demit jahat akan melakukan penampakan untuk menjebak pengendara yang lewat malam ini. Ingin sekali Vira menghalangi niat jahat para demit itu, tapi Kuntilanak bilang mereka terlalu kuat. Vira jadi ingat beberapa tahun lalu pernah ada seorang paranormal juga muntah-muntah ketika berusaha mengusir roh jahat di sekitar situ, pasti dulu itu ulah si demit jahat itu. Ketika sebuah mobil melaju kencang dari kejauhan, Vira yakin inilah korban yang akan diincar demit jahat itu. Ingin sekali Vira menyusup ke mobil itu dan memberi tahu agar mereka balik arah saja, tapi si Kuntilanak bilang jangan sambil memegangi tangan Vira. Ketika mobil itu hampir sampai di depan rumah Vira, tiba-tiba salah satu demit itu menampakkan diri sebagai seorang penyebrang jalan tanpa kepala. Vira miris sekali melihat supir mobil itu kaget, membanting setir ke kanan dan ke kiri, dan akhirnya mobil itu ringsek menabrak tiang listrik. Dari 5 orang penumpang mobil itu, 2 meninggal dan 3 luka parah. Tak lama orang pun berhamburan keluar menolong.

Di antara kerumunan orang itu, Vira mendengar Wawan bilang ke adiknya, dia tadi nggak bisa tidur dan baru aja bilang dalam hati, kalau ada yang lewat satu aja dia akan pergi tidur.

Tinggalkan Komentar