KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Karena Flu Burung

 

Pada suatu senja, entah kenapa aku ingin sekali berjalan-jalan ke kebun belakang rumah. Kebetulan sore itu begitu cerah, sehingga aku tak punya alasan untuk menolak keinginanku.

Aku beranjak dari dudukku, menuruti keinginan yang sebenarnya agak aneh. Sebab kenapa aku harus ke kebun belakang rumah jika aku tak punya alasan apapun untuk datang ke sana kecuali hanya karena ingin. Tapi sebentar kemudian aku bisa menghilangkan pertanyaan-pertanyaan itu, percuma…, sebab aku sudah sampai di kebun belakang rumahku.

Kebun itu masih tampak seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya rumput-rumput liar yang semakin meninggi dan tidak terkendali yang membuat kebun itu nampak tak terurus dan angker. Memang, sebelum Kakek meninggal, beliau rajin sekali datang ke kebun. Setiap hari beliau selalu datang ke kebun meskipun sekadar untuk melihat-lihat atau mungkin juga hanya itulah satu-satunya kebun yang kami miliki. Tapi begitu Kakek meninggal, kebun itu tak pernah didatangi oleh siapapun kecuali oleh Ayahku. Itupun hanya sesekali dan tanpa pernah ada niat untuk menyiangi rumput-rumput liar itu. Mungkin Ayahku terlalu sibuk dengan pekerjaan yang lain. Aku tak berani mengatakan bahwa Ayahku seorang pemalas.

Beruntung pohon-pohon yang ditanam Kakek sekarang sudah besar, bahkan beberapa diantaranya sudah berbuah. Jadi Ayah ataupun aku tak perlu lagi merawatnya.

Sayup-sayup seperti terdengar suara anak angsa yang berteriak-teriak seperti memanggil induknya. Aku pun mencari sumber suara itu. Sampai kemudian aku menemukannya di bawah pohon nangka. Dia seperti ketakutan melihat kedatanganku, tapi aku tak peduli, bahkan kemudian aku menangkapnya. Sejenak dia meronta-ronta dalam genggamanku. Tapi sebentar kemudian diapun tenang. Aku perhatikan anak angsa itu, masih terlalu kecil untuk hidup sendiri. Akupun tak bisa membayangkan jika nanti malam dia akan menjadi santapan anjing-anjing liar. Kata orang-orang, kebunku selalu dikunjungi anjing-anjing itu setiap malam.

Anak angsa itu aku bawa pulang, aku kurung dia dengan keranjang setelah sebelumnya aku beri makan dari sisa-sisa makananku.

Bersama dengan berjalannya waktu, anak angsaku pun tumbuh menjadi angsa dewasa. Suaranya kini bukan lagi seperti suara anak angsa yang cengeng, melainkan angsa dewasa yang siap menunjukkan eksistensinya. Suaranya juga seperti ingin mengabarkan bahwa dia adalah angsa sebatangkara, bahwa dia angsa yang tidak dibesarkan oleh induknya, tapi seekor angsa yang besar oleh tangan manusia.

Setiap pagi dan sore hari, aku beri dia bekatul yang dicampur dengan sayur cincang kesukaannya. Tidak jarang pula aku memberinya nasi sisa makananku atau Ayahku atau Ibuku. Dengan senang hati angsaku melahapnya sampai habis. Mungkin itu salah satu ungkapan terima kasihnya.

Setiap pagi angsakulah yang membangunkan tidurku dengan suaranya yang parau. Aku memakluminya, sebab angsaku tak pernah belajar olah vokal, tak pernah mengenal tangga nada yang mungkin bisa membuat suaranya menjadi merdu.

Saat aku pulang sekolah, angsaku telah menyambutku di halaman rumah. Kepalanya terjulur ke arahku. Aku pun tak ingin mengecewakannya, aku belai kepala angsaku yang waktu itu tampak manja. Sampai saat aku pergi untuk sekedar ganti baju, angsaku berteriak-teriak. Sepertinya dia masih ingin berlama-lama denganku. Dia baru berhenti ketika aku menatap matanya, sepertinya dia tahu kalau aku akan segera kembali.

Sampai pada suatu ketika aku tak sengaja melihat siaran berita di televisi. Aku terkejut ketika disiarkan bahwa beberapa unggas di Indonesia terjangkit virus Flu Burung. Tapi keterkejutan itupun lambat laun mereda setelah aku sadar bahwa angsaku tak pernah berhubungan dengan unggas lain. Aku tahu hal itu karena aku melihat ketika setiap ada unggas lain yang mencoba mendekati halaman rumahku, angsaku selalu mengusirnya dengan suaranya yang parau atau dengan posisi siap menyerang.

Berita tentang wabah itu semakin lama semakin gencar. Di warung-warung, di halte-halte dan di setiap tempat yang dibicarakan orang-orang hanya seputar wabah itu. Berbagai dugaan muncul dari situ. Ada yang menduga bahwa ini memang murni wabah, tapi sebagian menolak dugaan itu. Mereka malah menduga bahwa ini hanya wabah biasa yang sengaja dibesar-besarkan agar orang-orang tak lagi memikirkan apa yang sedang dilakukan para penguasa.

Memang, berita tentang wabah itu semakin gencar bersama semakin maraknya demonstrasi-demonstrasi yang menuntut mundurnya salah seorang pembesar negeri ini. Mungkin untuk mengimbangi agar orang-orang tidak terpengaruh atau setidaknya tidak membicarakan demonstrasi itu terus menerus. Tapi aku tak peduli dengan hal-hal yang berbau politik seperti itu karena aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya seorang pelajar yang hanya dipacu untuk memikirkan ujian nasional. Di sekolah tak pernah diberitahu apalagi diajarkan hal-hal yang bersinggungan dengan politik. Seandainya sekarang diajarkan pun mungkin aku tak peduli. Doktrin yang mengatakan bahwa pelajar hanya belajar lebih menguasai pikiran dan hatiku.

Beberapa hari kemudian, diberitakan adanya manusia yang tertular virus itu, bahkan ada yang meninggal. Berita tentang kematian seseorang akibat Flu Burung kini lebih mendominasi berita-berita nasional maupun local, baik televisi, Koran atau radio. Disusul dengan pemusnahan ribuan ayam pedaging dan petelur yang membuat petani lokal gulung tikar. Beberapa peternak ayam di kampungku mengeluh karena rendahnya harga daging. Sepertinya masyarakat sudah sangat ketakutan untuk makan daging ayam.

Semula aku biasa saja dengan kabar itu, meskipun sesekali aku juga merasa takut. Tapi aku berubah menjadi sangat ketakutan begitu terdengar kabar bahwa itu sudah mulai melanda daerahku. Yang aku takutkan bukan karena aku akan kesulitan mendapatkan daging, tapi yang aku takutkan adalah bahwa angsaku akan mengalami nasib yang sama dengan ribuan unggas lain yang seperti terlihat di televisi. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana aku bangun tidur, siapa lagi yang akan menyambutku ketika aku pulang sekolah dan siapa lagi yang akan menghabiskan sisa-sisa makananku?

Dan yang aku takutkan benar-benar terjadi, seorang pejabat desa datang ke rumahku, maksudnya memintaku menyerahkan angsaku untuk dimusnahkan bersama unggas-unggas yang lain. Aku hanya terdiam tanpa mengiyakan ataupun menolak. Aku tak sanggup untuk mengatakan dua hal tersebut. Sampai kemudian orang itu pergi. Mungkin tugasnya belum selesai, sebab jika sudah selesai orang itu pasti akan berlama-lama di rumahku. Orang itu sahabat Ayahku dan Ayahku ada di rumah waktu itu.

Pagi itu aku menyempatkan diri untuk memberi makan pada angsaku. Sengaja aku memberinya nasi yang bukan sisa siapapun. Aku merasa inilah terakhir kalinya aku memberi makan pada angsaku. Dan ini terakhir kali aku bercengkrama dengan angsaku. Dengan bahasa kami yang tak mungkin dimengerti oleh siapapun. Seperti biasa aku belai kepalanya dan dia kelihatan sangat manja.

Sepulang aku dari sekolah, angsaku masih menyambutku. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. Suaranya yang parau tidak pernah berhenti meskipun aku menatap matanya, meskipun berkali-kali aku meyakinkan bahwa aku akan segera kembali setelah mengganti seragamku. Dia bahkan mengikutiku sampai aku masuk ke rumah, sebuah kelakuan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Mungkin dia tahu bahwa hari ini adalah akhir dari kebersamaan kami, barangkali dia tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di dunia ini. Aku mengatakan hal itu karena aku pernah mendengar dari guruku bahwa insting hewan lebih kuat daripada manusia.

Waktu yang ditentukan pun tiba, terlihat orang-orang pergi ke tanah lapang dengan membawa unggas-unggas mereka. Ibuku menyuruhku untuk membawa angsaku bersama orang-orang itu. Aku hanya diam, tidak menolak ataupun mengiyakan. Sampai akhirnya aku membawa membawa angsaku ke tanah lapang. Sepanjang perjalanan, angsaku hanya diam sesekali menatapku.

Sampai di tanah lapang, telah berkumpul orang-orang lengkap dengan unggas-unggas mereka. Suara binatang-binatang itu riuh rendah, mungkin ingin mengatakan bahwa mereka tidak terkena virus apapun. Tapi orang-orang tidak tahu bahasa mereka.

Para pembunuh sudah siap dengan tugas mereka. Satu persatu unggas-unggas itu mulai disembelih dan dilemparkan begitu saja ke dalam liang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sampai terakhir kali giliran angsaku yang akan disembelih dan aku segera menjauhkan diriku dari kerumunan itu. Aku tak tega, mungkin juga tak rela jika angsaku diperlakukan seperti itu. tapi aku tetap mendengar suara parau angsaku ketika pisau para pembunuh itu memotong urat-urat lehernya. Dan itulah terakhir kali aku mendengar suaranya.

Pembantaian telah selesai, tapi angsaku masih tetap berjalan-jalan diatas bangkai-bangkai unggas yang lain dengan leher yang setengah terputus. Mungkin para pembunuh terlalu tergesa-gesa hingga penyembelihan angsaku tidak sempurna. Dia memandangku, aku palingkan wajahku darinya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya terkena sayatan pisau di leher.

Yang terakhir mereka lakukan adalah menyiram bangkai-bangkai itu dengan bensin. Kemudian mereka mereka membakarnya tanpa mereka mau tahu kalau angsaku masih hidup. Aku sempat melihat angsaku meronta-ronta kepanasan. Aku yakin ketika api itu berkobar, angsaku masih hidup.

Inilah pertama kalinya aku menangis untuk seekor binatang. Aku tak berhenti berpikir kenapa mereka tega membiarkan angsaku terbakar hidup-hidup. Apakah karena dia hanya seekor binatang? Aku rasa binatang pun pasti punya rasa sakit.

Aku pun kembali ke rumah dengan perasaan yang bercampur aduk antara marah, kecewa, kasihan dan berbagai perasaan yang tidak dimengerti oleh siapapun. Diam-diam aku berharap semoga tidak ada berita pemerintah akan mengimpor daging dari Amerika.

Wonosobo, 270208.

 

 

3 Responses to “Karena Flu Burung”

  1. on 07 May 2008 at 22:18Rianti

    Iya aq jg sdih pas ad pembantaian unggas masal shrsny pemerintah ga trburu2 dlm brtndk kan kasian hewanny.pr pembesar aj ga mau klo hewanny dbntai tp mlh ga ngertiin prasaan yg udah ngerawat pkkny salut deh tlsanny

  2. on 11 May 2008 at 07:47thendy

    emg yg namanya orang besar macam gitu gk pernah tau gimana rasanya ngerawat, yg mreka tau pembantu mereka yg ngerawat, jadinya ya mati pun tak masalah. bisanya cm marah doang.

    tulisannya sendiri bagus.. ceritanya menarik dan menyentuh

  3. on 24 Jun 2008 at 11:33Maulidian Amri

    kehilangan sesuatu yang sangat kita sayangi pasti sangat menyedihkan. Tapi inilah hidup kawan
    kita mesti kuat menghadapi apapun yang akan terjadi esok hari

    Tulisan lo keren abizz
    gw seneng banget bacanya
    sukses truzz ya

Tinggalkan Komentar