Beku Membatu
Mei 7th, 2008 by wastatama
lalu hidupku pun membeku, lalu membatu
begitu dingin, begitu keras menyapaku
naluri hampir mati kedinginan
menimbulkan prasangka dan asa yang bimbang
apakah kau tidak merasakan?
prasangka yang dilahirkan oleh mata
yang menangkap teriakan kelaparan di tengah ladang gandum
dan hamparan padi yang tengah membingungkan dirinya
telinga pun menangkap rintihan bisu petani kepada Tuhan
negeri ini benar-benar telah berpindah tangan
tangan-tangan itu bukan lagi tangan kecoklatan
tapi tangan yang berwarna seperti campuran darah dan nanah
aku diam membungkam hatiku yang meronta
hendak melemparkan kutukan atas nama manusia teraniaya
pada puncak kelaparan di gudang roti dan anggur yang terkunci
mata para pemilik sah itu memerah dan membatu seperti hidupnya
evolusi hati manusia menjadi gugusan karang.
lalu gudang-gudang itu akan terbuka
memberi jalan kepada salah satu dari kematian dan kemenangan
dan mereka berhamburan keluar mencari batu-batu
yang hendak dipukulkan pada hidupnya.
naluri melarikan diri dari hati, keluar melalui mulut menyerupa rintihan
rintihan sudah menjelma menjadi teriakan,
teriakan hendak menjadi pekikan,
lantas pekikan akan membahasakan perlawanan!!
Ahsvakarsa, 120408.